Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Selamat Tinggal Sayangku


__ADS_3

Martin melempar berkas perceraian Karen dan Ray di depan mata Karen, yang sedang bersimpuh putus asa meminta kebaikan hati Martin untuk mau melepaskannya. Karen menangis sesenggukan setelah membaca berkas itu, tak menyadari jika Martin telah membanting keras foto pernikahannya yang terpasang di dinding.


“Kamu … Kamu sungguh biadab, Martin … “ raung Karen.


Martin melirik Karen dengan hatinya yang dingin. “Aku akan buat semuanya mudah untukmu. Tugasmu hanya menyerahkan berkas itu pada Ray,”


“Apa salahku? Apa salah Ray? Bukankah selama ini, kamu sangat terbantu dengan adanya Ray?” Air mata sudah membanjiri kedua mata Karen. Sambil memeluk berkas itu, dia enggan untuk berdiri dari tempatnya.


“Salahnya adalah kenapa harus kamu yang kucintai,” ucap Martin pelan, menatap lurus ke arah Karen.


Saat melihat tangis Karen yang tak juga mau berhenti, Martin yang mulai kehabisan kesabaran langsung berjalan cepat dan ikut bersimpuh di depan Karen. Dia mengguncang bahu wanita itu dengan kuat.


“Sadarlah, Karen!! Ini semua adalah akibat dari kesalahanmu sendiri! Kalau kamu memang setia dan mencintai Ray, harusnya kamu menolak segala ajakanku,” teriak Martin. “Harusnya kamu menolak di hari pertama aku datang dan mencumbumu! Kamu sama saja denganku, kamu tak pernah mencintai Ray!” Martin berkali-kali mengguncang bahu Karen, yang makin menangis kencang.


Karen menggeleng keras-keras, tak ingin mendengar segala ucapan Martin. Dia malu pada dirinya sendiri, malu pada seisi rumahnya yang seakan menjadi saksi bisu, betapa dia sangat tidak beradab karena telah mengkhianati kesetiaan Ray.


“Apa kamu pikir, kamu bisa menyembunyikan ini dari Ray dan menganggap tak pernah terjadi apapun diantara kita?” tanya Martin. Meski dia sudah berhenti mengguncang Karen, pria itu masih mendekatkan wajahnya pada Karen.


Maka Martin secara pelan menarik berkas yang dipeluk erat oleh Karen. Dia mengangkat berkas itu ke depan mata Karen.


“Ini adalah cara paling tepat untuk melepaskan Ray dari pengkhianat sepertimu,”


Karen terisak, meski sudah tak sekeras tadi. Lamat-lamat dia memandang Martin dengan pandangannya yang kabur dipenuhi air mata.


“Aku bukan pengkhianat … “ lirih Karen tak terima.


Martin segera bangkit berdiri, kembali melempar berkas yang dia pegang. Tatapannya sangat kesal, dan tampak lelah dengan segala sikap Karen yang dia anggap keras kepala.


“Kuberi waktu hingga lusa. Kalau kamu belum memberikan berkas ini pada Ray, aku akan mengutus orang untuk menghabisi kalian berdua,”


“K-kalian?” ulang Karen.

__ADS_1


Martin mengangguk dingin. “Kalau aku tak bisa memilikimu, tak ada orang lain yang bisa,”


Karen tiba-tiba tertawa getir. “Lebih baik kamu habisi aku saja, biar kamu ataupun Ray tak ada yang bisa memiliku,”


Ada nada putus asa dan depresi dari nada bicara Karen, yang membuatnya tampak menyedihkan. Tapi sepertinya Martin tak merespon, karena nyatanya, dia justru memilih pergi dari rumah Karen, tak lupa membanting pintu di belakangnya.


* * *


Ray balas memandangi pria tua yang sudah lima belas menit berada di ruangannya, duduk santai sambil menyeruput secangkir kopi buatan Sierra. Pria tua itu adalah Paul Willis, yang tiba-tiba saja datang. Bukan untuk menemui Martin, melainkan untuk menemui Ray berdua saja. Namun saat sudah bertemu Ray, bukannya mengajak bicara sesuai maksud tujuannya, Paul justru diam dengan tatapan tak lepas dari Ray. Hal ini tentu membuat Ray merasa terganggu dan pekerjaannya terhambat. Maka atas saran dari Sierra melalui chat Whatsapp, Ray pun memberanikan diri untuk menegur Paul.


“Maaf, Pak Paul. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ray.


“Sudah berapa lama Martin mengirimmu ke luar negeri?” tanya Paul balik.


“Sekitar enam bulan, Pak,” jawab Ray, sedikit bingung dengan arah pembicaraan Paul.


“Untuk apa dia mengirim pegawai terbaik sepertimu ke cabang kecil di luar negeri?” tanya Paul lagi, dengan raut curiga.


“Untuk mengawasi dan memberi arahan pada pegawai di sana, Pak,” jawab Ray, berusaha memasang wajah seramah mungkin. Meskipun dalam hati, Ray sedikit kesal karena tak mengetahui maksud tujuan dari pertanyaan Paul.


Paul bangkit berdiri, merubah posisi duduknya yang semula di sofa pojok ruangan Ray, kini berpindah ke kursi di depan meja kerja Ray. Pria tua itu menyilangkan kakinya, dengan tatapan tajam yang mendominasi pada Ray.


“Kalau kamu mau, aku bisa memberikan posisi paling tinggi di perusahaanku, asalkan kamu mau keluar dari sini,” tawar Paul. “Dan kamu tak perlu bertugas jauh dari istrimu,”


Ray terkesiap mendengar tawaran fantastis dari Paul. Untuk beberapa saat yang bisa dia lakukan hanyalah melebarkan bola mata dengan mulut sedikit ternganga, karena dia bingung harus menjawab apa.


“Tak perlu kamu jawab sekarang. Kutunggu jawabanmu hingga lusa nanti,” ujar Paul, menghentikan pembicaraan singkat mereka.


Tanpa permisi, Paul keluar dari ruangan Ray, yang meninggalkan Ray dengan perasaan bimbang dan galau luar biasa. Dia senang, karena tawaran posisi tinggi dari Paul, yang pastinya akan membuat Karen senang mendengarnya. Tapi di satu sisi Ray bimbang, karena bagaimana pun juga, Martinlah yang telah memberinya kesempatan.


“Ray, apa yang terjadi?” tanya Sierra, dengan kepala sedikit melongok masuk ke ruangan Ray.

__ADS_1


Ray mengisyaratkan pada Sierra untuk masuk. Wanita itu tak sabar ingin mendengar cerita Ray.


“Sierra, apa alasanmu mau bekerja untuk Martin sampai keluar dari perusahaan Paul?” tanya Ray.


Sierra sebenarnya tahu apa alasannya, namun mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Ray, yang pernah dia khianati, membuat Sierra merasa sedikit malu. Hingga detik ini pun, Ray tak punya firasat apapun tentang penyekapan Karen yang dilakukan Martin atas bantuan Sierra.


“Kenapa tiba-tiba kamu bertanya?” Sierra justru balik bertanya.


Ray menghela nafas panjang. “Dia … tiba-tiba menawari posisi tinggi di perusahaannya,”


Sierra terdiam. Dia tahu, sangat tahu apa yang sedang terjadi. Paul sepertinya telah mengetahui segala perbuatan Martin, hingga dia dengan berani menawarkan posisi itu pada Ray. Paul selangkah lebih maju, karena jika Ray tahu apa yang terjadi, Ray pasti akan pergi dari segala hal yang berhubungan dengan Martin. Dan Paul tak mau hal itu terjadi. Sebagai orang yang sangat mencintai perusahaannya, Paul tak akan rela kehilangan satu berlian untuk hal-hal sampah, apalagi itu ulah Martin.


Tanpa ingin terus berlarut dalam lamunannya, akhirnya Sierra menyahut dengan senyum. “Sebaiknya kamu berdiskusi dengan istrimu,”


* * *


Ray kebingungan saat melihat keadaan rumahnya yang berantakan, segala foto pernikahannya yang telah terbingkai rapi, jatuh pecah ke lantai dengan pecahan kacanya yang masih berserakan. Tak tampak sosok Karen dimanapun Ray mencari. Dia berteriak memanggil istrinya, namun Karen tak menyahut. Namun, tanpa dia duga, Karen keluar dari dalam kamarnya sendiri dengan sebuah koper besar di sampingnya. Istrinya itu mencengkeram sebuah berkas yang tampak kumal, namun sepertinya memiliki kekuatas magis yang besar.


“S-Sayang … apa yang terjadi?” tanya Ray terbata-bata. “Kamu mau kemana?” tanyanya lagi.


Karen berjalan gontai, dengan tatapan kosong yang lurus pada Ray. Kemudian wanita itu menyerahkan berkas yang dia genggam, tanpa bicara sepatah katapun.


“Karen, apa ini?” Ray menerima berkas itu dengan dada berdegup kencang. Seingatnya, dia tak berhutang pada siapapun. Seingatnya, dia tak menangguhkan harta bendanya pada rentenir manapun.


Pelan-pelan Ray membaca kata demi kata yang tertulis di sana, demi untuk menyadari jika berkas itu adalah berkas perceraiannya dengan Karen. Tangan Ray gemetaran, begitu pula bola matanya saat memandang Karen.


“Karen, apa maksud semua ini?” tuntut Ray.


“Kurasa kamu sudah tahu,” jawab Karen, berusaha mengontrol nada bicaranya yang terus tercekat. “Aku harus pergi. Jangan pernah mencariku,”


Karen menarik kopernya, berjalan melalui Ray yang masih mematung untuk mencerna segalanya. Semua tampak terjadi dalam sekejap. Segala kebahagiaan yang tak sabar dia bagi bersama Karen, harus musnah hanya dengan satu berkas yang tak bernyawa. Berkas yang hanya berisi goresan tinta, namun maha dahsyat efeknya.

__ADS_1


“Karen, tunggu … “ Ray memutar tubuhnya, namun sosok Karen telah menghilang. Wanita itu telah pergi keluar dari halaman rumah mereka.


Ray berlari berteriak memanggil nama Karen, mencegahnya untuk masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir dan seakan sengaja menjemput Karen. Mobil hitam yang tak asing bagi Ray. Karena, setelah mobil itu pergi cepat membawa Karen, Ray yang memiliki ingatan fotografis masih sangat ingat dengan nomor kendaraan yang tertera. Mobil itu adalah milik Martin. Ya, tak salah lagi. Mobil hitam yang membawa lari istrinya adalah mobil milik Martin, atasannya.


__ADS_2