
Karen terus berlari, sama sekali tak memalingkan pandangannya, bahkan untuk hal-hal kecil. Dia berjalan lurus, dengan air mata yang terus menggenang.
Setelah Sophie pergi dari rumahnya, dan melewati sepanjang hari yang memuakkan karena harus berpura-pura bahagia di depan Martin, kini Karen punya kesempatan untuk lari.
Dia menggunakan kesempatan ini, saat Martin kelelahan dan terlelap di tengah malam. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 12 dini hari, tapi suasana di sekitar apartemen mewah mereka tetaplah ramai penuh dengan gemerlap cahaya. Jadi Karen tak perlu cemas.
Dia segera mengambil mobilnya yang terparkir rapi di ruang parkir khusus penghuni, dengan dada yang sesak. Dia sudah tak bisa membendung air matanya lagi. Jadi, sebelum memutuskan menancap gas, Karen menunduk dalam, di atas setir mobilnya, dan mulai menangis.
Segalanya berubah runyam. Atau memang sejak awal, keluarga Willis sudah runyam. Dan Karen masuk ke dalam perangkap itu, yang ternyata lebih menyakitkan daripada harus menghadapi keluarga White dulu.
Meskipun ujiannya saat bersama Ray tak kalah berat, namun Ray selalu membela dan memperjuangkan hubungan mereka berdua, sekeras apapun. Dan kini, dengan kebodohannya sendiri, Karen menghancurkan segalanya. Dia memantik api kecil yang seharusnya dia diamkan saja.
Setelah mengemudi selama lima belas menit, mobil Karen sampai juga di rumah kecil dimana dia dan Ray dulu tinggal. Rumah itu tampak lengang dan gelap, seperti sudah lama tidak dihuni.
Karen keluar dari mobil, tak lupa menggenggam erat sebotol kecil tablet obat dosis tinggi, yang entah untuk apa. Dia berjalan tanpa hambatan masuk ke dalam halaman luas rumah itu.
Tanpa diduga, Ray belum mengganti lubang kunci rumah kecil itu, sehingga saat Karen iseng memasukkan kunci yang dia bawa, pintu rumah itu terbuka tanpa kendala.
Karen masuk dengan cepat, dan roboh bersimpuh di antara kedua lututnya. Dia menangis sekerasnya. Atmosfer, suasana, bahkan debu di dalam rumah kecil itu telah menyerap masuk ke dalam pori kulitnya, membangkitkan seluruh kenangan yang mati-matian berusaha Karen lupakan.
“Maafkan aku, Ray … “ ratap Karen, terus menangis dan tak menghentikan air matanya.
Dada Karen kembali sesak. Sesak akan penyesalan yang membuncah dan sangat besar, hingga menutupi tenggorokannya. Dia terus menangis, sedikit meraung dan sesekali memanggil nama Ray.
“Karen?” panggil sebuah suara dari arah pintu depan, yang Karen kenali sebagai suara Ray.
Spontan dia menoleh, kemudian bangkit berdiri dan tak lupa mengusap air matanya.
Ray pelan-pelan berjalan masuk ke dalam rumah, meraba-raba ke dinding mencari saklar lampu. Saat lampu dihidupkan, barulah Karen sadar, rumah itu tidaklah kosong. Rumah itu tetap rapi, nampak selalu dihuni tiap hari.
“K-kenapa kamu di sini?” tanya Karen salah tingkah.
Ray mengerutkan dahi. “Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu di dalam rumahku?”
__ADS_1
Karen menunjuk gagang pintu, tempat dimana kunci yang dia bawa tertanam. Ray mengikuti arah telunjuk Karen.
“Kamu belum mengganti lubang kunci,” ucap Karen.
“Untuk apa kuganti?” Ray masih terus mengerutkan keningnya.
Karen kembali salah tingkah. Benar. Ini adalah rumah Ray, dan tak ada alasan bagi Ray untuk mengganti kunci rumahnya.
“Harusnya aku yang heran, kenapa kamu masih menyimpan kunci rumah ini?” tanya Ray, menunjuk kunci Karen yang tertancap di pintu.
Karena tak ingin merendahkan harga dirinya sendiri, Karen buru-buru berdehem dan bergerak cepat menuju pintu. Namun tiba-tiba, Ray menahan tangannya.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu membawa obat itu?” cecar Ray penuh curiga. Dia bahkan buru-buru merebut obat dosis tinggi yang terus digenggam Karen.
“Kamu mau bunuh diri dengan obat sakit kepala ini?!” seru Ray, sedikit emosi. Kemudian dia membuka dan membuang seluruh isinya.
“Apa-apaan, Ray!!” seru Karen tak terima, segera merampas botol obat itu.
Ray dengan cepat mengangkat tangannya tinggi-tinggi, agar Karen tak bisa menjangkau botol itu.
“Tidak ada yang terjadi,” jawab Karen cepat.
“Bohong!” Sambaran Ray juga tak kalah cepat. “Kamu tidak mungkin tengah malam ke sini hanya untuk iseng, kan?”
“Tidak ada yang terjadi padaku, Ray! Kembalikan obatku!”
“Kenapa kamu memanggil namaku?” Ray tak mau lagi basa-basi. “Aku mendengarmu menangis dari luar,”
Karen pun berhenti berusaha mengambil obatnya dari tangan Ray. Dia lalu berjalan menjauh, mengalihkan pandangannya dari tatapan Ray yang penuh curiga.
“Aku hanya merindukan rumah ini,” ucap Karen. “Bagaimana pun, rumah ini juga penuh kenangan bagiku,”
Ray melipat bibir, untuk dua detik kemudian mengangguk. “Duduklah. Biar kubuatkan teh hangat,” tawar Ray, seketika luluh saat mendengar penjelasan Karen.
__ADS_1
Karen menurut, dan segera duduk di atas sofa hangat rumah kecil itu, sementara Ray menyiapkan teh hangat untuknya. Tak lama, Ray datang dengan secangkir teh hangat yang mengepul.
“Kuharap Martin tak menggangguku setelah ini,” ujar Ray. “Dia harus tahu kalau istrinya itu selalu memancing perkara dengan selalu datang padaku,”
Diluar dugaan, Karen tersenyum. Bahkan ada sedikit tawa lirih dari bibirnya, setelah menyeruput teh hangat buatan Ray.
“Maafkan aku, karena menyusahkanmu. Bahkan saat aku sudah bahagia dengan orang lain,”
“Aku juga minta maaf, karena telah meninggalkanmu begitu saja malam itu,” ungkap Ray, yang ditanggapi dengan diam oleh Karen.
Karen memainkan jari-jarinya sebagai tanda gugup. “Harus berapa kali aku minta maaf padamu. Bahkan di hari bahagiamu, aku … “
“Sudahlah,” potong Ray. “Aku dan Kamala memang belum waktunya bersatu,”
Air mata Karen kembali menetes. “Apakah aku memang ditakdirkan sebagai pembawa masalah untukmu, Ray?” isaknya.
“Kamu dan keluargamu. Kamu berpisah dengan keluargamu karenaku. Kamu babak belur hampir mati karenaku. Bahkan pernikahanmu pun batal karenaku,” Ucapan Karen mulai tak tertata dan tersendat. Dia berusaha menyeimbangkan suara dan tangisannya.
Ray berkedip pelan, dengan senyum tipis. “Sudahlah, Karen. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri,”
“Apa yang terjadi? Apakah Martin menyakitimu?” tanya Ray, karena Karen tak berhenti menangis.
Karen menggeleng, meski tak berhenti menangis.
“Aku baik-baik saja,” isaknya, berusaha tersenyum. Wajahnya tampak menyedihkan, karena berusaha mencampur wajah gembira dengan tangis kerasnya yang sangat kontras.
“Apakah keluarga Martin menekanmu?” tebak Ray sekali lagi.
Karen makin menangis. “Aku takut, Ray! Aku takut, jika akulah yang selama ini tidak normal,” pekik Karen, makin histeris.
“Aku takut, aku bukanlah wanita sempurna yang bisa hamil dan melahirkan seperti wanita lain,”
Hati Ray mencelos, mendengar pengakuan spontan dari Karen. Tanpa dia sadari, dia berjalan dan mulai menarik Karen ke dalam dekapannya. Dia biarkan Karen tenggelam ke dalam dadanya, memberi ruang bagi Karen untuk menangis dan membuang jauh kesedihannya.
__ADS_1
“Dia akan menyesal jika meninggalkanmu hanya karena kamu tak bisa hamil,” ucap Ray, terus mendekap Karen erat.