Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Masih Ada Harapan


__ADS_3

Karen buru-buru turun mengambil mobilnya, setelah Martin dengan tergesa-gesa meninggalkannya begitu saja hanya demi menemui Sierra. Karen memutuskan untuk membuntuti mobil Martin. Perasaannya tak tenang, selain karena Sierra kini adalah istri dari Paul Willis, Karen juga merasa jika Sophie baru saja menghasut Martin. Karen yakin, sumber dari amarah Martin yang tiba-tiba tersulut itu adalah ulah Sophie, yang sengaja mengadu domba Martin dan Sierra.


Dan ketika Karen melihat Martin yang meninju Ray, dengan banyak kursi yang berjatuhan dan banyaknya perhatian para pengunjung, Karen tak mau banyak berpikir. Satu pukulan sudah cukup membuat suami dan mantan suaminya itu menjadi pusat perhatian banyak pengunjung restoran. Dia tidak ingin orang-orang merekam kejadian memalukan itu, apalagi sampai tersebar di internet.


“Hentikan, Martin!!” Karen menahan tubuh besar Martin, dengan cara memeluknya.


Pria itu kini tak bisa meninju Ray lagi, meski dia tetap berusaha berontak dari dekapan Karen yang mati-matian berusaha itu. Melihat pertikaian mendadak antara Martin dan Ray, maka Sierra buru-buru menarik Ray agak jauh dari Martin.


“Karen, kenapa kamu di sini?” tanya Martin keheranan, dengan emosi yang masih menguasainya.


Karen tak mau melepaskan dekapannya dari Martin. “Hentikan, Martin. Semua orang mengawasi kita,” bisik Karen.


Dengan nafas yang masih memburu, Martin mengedarkan pandangannya ke seluruh isi restoran. Beberapa orang masih mengangkat ponsel mereka, hendak merekam seluruh kejadian perlkelahian itu.


Martin menarik nafas panjang, berusaha meredakan amarahnya. Benar. Karen benar. Dia tidak boleh emosi, jika tidak ingin mencoreng reputasinya sendiri.


“Martin, apa yang terjadi? Kenapa kamu menemuiku?” tanya Sierra, setelah semuanya diam dan mulai tenang.


Martin yang sudah mulai bisa menguasai emosinya, segera duduk dan diikuti oleh yang lainnya. Pria itu tak mau melepaskan pandangannya dari Sierra.


“Apa maumu, Sierra?” tanya Martin membuka percakapan.


Sierra mengerutkan kening bingung.


“Kenapa kamu tega membuat artikel seperti itu? Apa kamu benar-benar ingin anakmu menjadi satu-satunya pewaris kekayaan Paul?” lanjut Martin, mencecar Sierra dengan tuduhan yang terus menghantui benaknya.


“Aku tidak mengerti maksudmu,” Sierra menggeleng, sama sekali tak paham.


Kemudian Martin melirik Ray yang duduk di sebelah Sierra.


“Kenapa kamu menemui pria ini? Sejak kapan kalian dekat?” cecar Martin.


Ray tersenyum remeh. “Apa urusannya denganmu?”


Martin tidak menjawab, selain hanya melirik Ray dengan tatapan tajam.


“Jawab, Sierra!” seru Martin.


Ray sekali lagi tersenyum. Dia balas menatap Martin tak kalah tajam.


“Apakah etis, seorang anak tiri sangat ingin tahu urusan ibu tirinya?” sindir Ray.

__ADS_1


“Brengsek … “ umpat Martin pelan, sekali lagi hendak meninju Ray, andai saja Karen tidak menahan tubuhnya.


“Martin, ayo pergi dari sini,” ajak Karen, tidak nyaman dengan situasi menegangkan ini. Apalagi Ray duduk tepat di depannya, membuat jantung Karen berdegup kencang.


Namun diluar dugaan, Martin setuju. Dia bangkit berdiri, menurut saat Karen menuntun langkahnya. Dan ketika perjalanan mereka sudah agak jauh, Ray tiba-tiba memanggil Karen.


“Jika dia menyakitimu, aku akan menghabisinya,” seru Ray, cukup keras hingga membuat Martin mematung di tempatnya.


Sementara Karen, hatinya kini berdesir. Seperti saat pertama kali dia mengenal Ray dan jatuh cinta padanya. Pria berambut coklat yang senyumannya mengalihkan dunia Karen, bahkan hingga hari ini, ketika mereka hanyalah sepasang suami istri yang telah bercerai.


***


Dua hari sebelumnya.


Ray mendekap tubuh Karen, berusaha menenangkannya yang terus saja histeris dan ngotot meminta obat tidurnya untuk kembali. Dan Karen justru makin histeris, setelah Ray menguatkannya.


“Dia akan menyesal, jika menyia-nyiakanmu hanya karena kamu tak bisa punya anak,” ucap Ray.


Karen makin menangis dan tenggelam dalam pelukan Ray.


Setelah menerobos masuk begitu saja ke dalam rumah Ray, yang dulunya adalah rumahnya, kini Karen juga membuat Ray harus ikut merasakan beban yang dia alami.


Ray melepaskan pelukannya, memandang Karen penuh ke dalam mata wanita itu.


“Kenapa kamu terus meminta maaf?”


“Kamu benar,” Karen berhenti sejenak. “Harusnya aku tidak meninggalkanmu begitu saja, meski aku berada di bawah ancaman Martin. Harusnya aku mencari solusi bersamamu,”


Air mata Karen deras mengalir.


“Betapa aku meremehkanmu, menganggapmu tak bisa mengatasi Martin. Betapa aku istri yang banyak berdosa,” isak Karen, menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Ray menatap ke bawah lantai. Dia diam.


“Aku menyadari, jika tidak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk hubungan kita. Bahkan setelah berpisah, aku tahu, hanya kamulah yang terbaik untukku,” racau Karen.


Saat melihat Ray tak merespon, Karen yang putus asa seketika meraih tangan Ray. Dia dekap tangan itu, penuh harap.


“Apakah kamu benar-benar mencintai Kamala?” tanya Karen tiba-tiba.


Ray mengerjapkan matanya beberapa kali. “Untuk apa kamu bertanya seperti ini?”

__ADS_1


Dengan rasa putus asa, Karen berusaha mengusap air matanya.


“Mari pergi, Ray. Ayo kita tinggalkan kota ini, hidup bersama di sebuah desa kecil,”


“Karen … “


“Kita bisa memulai hidup baru! Kita bisa bercocok tanam, menjadi petani, dan membesarkan anak-anak kita tanpa perlu tahu masa lalu kita,” Karen makin meracau, yang membuat Ray kian sedih.


Ray kembali mendekap Karen, kini mengelus lembut rambut wanita itu.


“Tenanglah, Karen … “


“Ray, kita bisa mulai menabung sedikit demi sedikit, membangun rumah dan menikmati desa sunyi yang asri. Kita juga … “


“Karen, cukup,” Ray mengguncang bahu Karen. “Karen, inilah hidup kita. Inilah jalan yang terbaik untuk kita,”


“Aku tahu, kamu lebih kuat dari ini,” Ray berusaha meyakinkan Karen. “Kamu tahu, aku adalah Ray White. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku harus menyelesaikan semuanya, membalaskan dendamku, sebelum bisa bahagia,”


“Apakah ini semua demi Kamala?” Pertanyaan tajam dari Karen, membuat Ray tersentak.


“Apa kamu cemburu padanya?” tebak Ray, dengan secercah raut cerah di wajahnya.


Karen yang terjebak dengan pertanyaannya sendiri, buru-buru menggeleng.


“Pulanglah,” Ray beranjak berdiri. “Aku tak mau suami gilamu itu datang kemari dan merusak rumahku,”


Karen yang sudah bisa tenang, segera mengangguk dan ikut berdiri. Dia mengatur penampilannya, supaya tidak tampak sembab.


“Terima kasih sudah mengizinkanku mampir,” ucap Karen.


Ray menuju daun pintu, mengambil kunci Karen yang menancap di sana.


“Simpanlah. Rumah ini selalu terbuka untukmu,” ujar Ray, sambil menyerahkan kunci itu.


Lamat-lamat Karen menerima kunci itu. Dia sekali lagi menatap Ray.


“Ray, jika segalanya sudah selesai. Jika dendammu sudah terbalaskan, apakah masih ada harapan untuk kita?” tanya Karen, sedikit cemas. Dia cemas akan segala jawaban yang keluar dari mulut Ray.


Ray diam sejenak, sebelum menjawab. Bayangan tentang Kamala tiba-tiba berkelebat di pelupuk matanya.


“Aku tidak bisa menjawabnya, Karen … “

__ADS_1


__ADS_2