
“Aku ingin bekerja,” ujar Karen, pagi hari ketika dia dan Martin sedang sarapan bersama.
Martin sedikit tertegun hingga berhenti makan, namun kembali normal. Dia menatap Karen dengan tatapan yang lembut, sungguh diluar dugaan Karen.
“Kamu mau kerja apa, Sayang?” tanya Martin lembut. “Apa uang dariku tidak cukup?”
Karen membantah cepat. “Tentu tidak. Uangmu seakan tak bisa habis untuk tujuh keturunanku,”
“Lantas kenapa?” Martin tertawa mendengar perumpaan Karen.
“Aku ingin ada kegiatan, biar aku tidak bosan di sini,” jawab Karen mantap.
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah pesan singkat pada Martin. Setelah membaca isi pesan yang ditunjukkan Karen, mata Martin melebar tak percaya.
“Universitas Amarta? Ini universitas seni paling bergengsi di kota,” seru Martin. “Kamu akan menjadi dosen di sana?”
Karen yang tersanjung, membusungkan dadanya sambil mengangguk bangga. Meskipun selama menikah dia adalah seorang ibu rumah tangga, namun pendidikan Karen memang tak bisa diremehkan. Dia adalah lulusan seni rupa terbaik, di kampus tempatnya kuliah bersama Ray.
“Aku dapat tawaran dari temanku,” jawab Karen. “Ya, walaupun gajinya nggak seberapa,”
“Tentu aku setuju,” sambar Martin tak sabar. “Tak masalah dengan gaji, tapi pekerjaan itu tentu akan membuat ibuku bangga, Sayang,”
Mendengar nama Sophie disebut oleh Martin, seketika senyum di wajah Karen memudar. Tergantikan oleh perasaan terancam yang diucapkan Sophie pada kunjungannya dua hari lalu di apartemen mereka. Namun Karen tak ingin menceritakan hal itu pada Martin, karena takut Martin akan semakin mendesaknya untuk segera memiliki anak.
“Kapan kamu mulai bekerja?” tanya Martin setelah mereka selesai sarapan.
“Mungkin besok,” Karen mulai membersihkan piring-piring kotor dan menyimpan makanan sisa ke dalam kulkas, lalu mengantarkan Martin sampai ke depan pintu.
Martin mengecup bibir Karen mesra, tak lupa mengusap lembut rambut istrinya itu. Sungguh pasangan muda yang sedang dimabuk asmara, sangat tak terlihat jika Karen sudah pernah menikah sebelumnya.
***
“Ibu, ada apa lagi?” tegur Martin tak senang, ketika melihat ibunya mendadak datang ke kantornya hari ini.
Sophie tak peduli. Dia justru merebahkan dirinya santai di sofa besar yang berada di sudut ruang kerja Martin, dan menyuruh sekretaris Martin untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
“Ibu lebih senang dengan sekretaris barumu ini,” komentar Sophie. “Sierra sama sekali tak kompeten. Dan sekarang dia malah akan menjadi ibu tirimu. Sungguh menjijikkan,” umpat Sophie, kesal setengah mati saat menceritakan Sierra.
“Maksud Ibu apa datang kemari?” Martin tak mau mendengar celotehan ibunya yang hanya membuat telinganya panas.
“Apa istrimu sudah memberitahu?”
Martin mengerutkan kening saat Sophie membawa Karen dalam pembicaraan mereka.
“Aku menyuruhnya untuk segera hamil,” tambah Sophie mantap, membuat Martin membelalak tak percaya.
“Bu, hamil bukan perkara mudah,”
Sophie bangkit berdiri, berjalan cepat menghampiri Martin dengan emosi yang mulai timbul dari atas ubun-ubunnya.
“Dia harus hamil. Hamil anakmu,” ucap Sophie tegas. “Atau seluruh harta Paul akan jatuh ke tangan Sierra dan anaknya,”
“Tapi, Bu … “
“Kamu mau hidup miskin, Martin?” sambar Sophie, tak mengizinkan Martin menyelesaikan perkataannya.
Martin terdiam. Hidup miskin sama sekali tak pernah ada dalam kamus Martin. Bahkan membayangkannya barang sedetik saja membuat bulu kuduk Martin berdiri.
“Satu-satunya cara mempertahankan kekayaan kita adalah dengan anakmu. Kamu harus memiliki anak secepatnya, agar atensi orang-orang teralihkan pada istrimu yang cantik,” terang Sophie, mengutarakan analisisnya yang selalu selangkah lebih maju.
“Itu akan menguntungkan perusahaanmu, Martin. Memberi banyak uang ke Fortuna Corp,”
Martin masih diam, dalam hati menyetujui segala analisa dari ibunya.
“Kamu tak boleh menyia-nyiakan kecantikan istrimu. Apalagi jika dia bisa memberimu anak bersamaan dengan kehamilan Sierra,” lanjut Sophie karena Martin tak menanggapi.
“Akan kupastikan seluruh wartawan memusatkan perhatian hanya pada keluargamu,”
***
“Hentikan, Martin!” desah Karen, tak kuasa saat Martin mulai mendorong tubuhnya pada dinding kaca besar apartemen mereka.
__ADS_1
“Aku sudah rapi, dan harus bekerja,” rintih Karen, ketika Martin tak mengindahkan ucapannya.
“Kamu membuatku bergairah dengan pakaian kerja seperti ini,” jawab Martin. “Ini semua salahmu,”
Pagi ini, ketika Karen dan Martin sudah berpakaian rapi hendak berangkat kerja bersama, tiba-tiba Martin menerjang tubuh Karen, mendesaknya mundur menempel pada kaca besar di belakang mereka, sambil menyibakkan rok selutut yang dikenakan Karen.
Tapi Karen sama sekali tak bisa melawan, karena Martin sudah lebih dulu memainkan peran besar atas tubuhnya sendiri, apalagi status mereka yang kini telah menjadi suami istri. Karen makin tak bisa menolak setiap keinginan Martin, kapan pun itu. Seperti pagi ini yang mendadak menjadi suami beringas yang menyerang istrinya.
Martin telah mencapai tujuannya, sedikit berseru kemudian menghembuskan nafas lega. Justru kini Karenlah yang kebingungan, karena ulah Martin sungguh di luar kebiasaan mereka.
“Di dalam?” seru Karen kaget.
“Kamu harus segera hamil, Sayang,” Tak lupa Martin mengecup kening Karen sebagai tanda permainan telah selesai.
Namun Karen tampak tak terima. Bibirnya melengkung, menatap Martin kesal.
“Pasti ibumu yang memaksamu, kan?” tebak Karen.
“Apa salahnya, Sayang? Bukannya kamu juga ingin segera punya anak?” Martin tak mengerti dengan respon keras dari Karen.
“Tapi aku tak mau ada paksaan,”
“Tidak ada yang memaksa, Sayang. Aku hanya menunaikan tugasku sebagai suami yang baik,”
Martin benar. Tak seharusnya Karen emosi dengan hal yang memang lumrah pada setiap pasangan suami istri. Kemudian setelah dia bisa meredam emosinya sendiri, Martin mengajaknya untuk membersihkan diri dan cepat-cepat berangkat kerja sebelum terlambat.
Karen tiba tepat jam 8 pagi, hampir saja telat di hari pertamanya kerja. Ini semua berkat Martin. Andai saja suaminya itu tak menyerang Karen tiba-tiba, pasti Karen bisa datang lebih pagi. Karen buru-buru menemui temannya sesama dosen yang merekomendasikannya, lalu keduanya menemui dekan jurusan untuk memperkenalkan diri.
Karena ini adalah hari pertama, teman Karen akan membimbing Karen untuk mengenalkan lingkungan kampus secara singkat, termasuk nama-nama kelas agar Karen tidak bingung nantinya. Dan kelas Karen untuk hari ini akan langsung diisi oleh Karen, meski tetap dalam petunjuk temannya.
Di dalam kelas besar dengan kursi mahasiswa yang berbentuk layaknya podium, Karen bisa melihat sosok Kamala yang duduk tepat di baris depan, sedang memandangnya dengan mata melotot terkejut. Karen menyunggingkan senyum tipis, merasa senang karena Kamala hanyalah mahasiswanya. Tak ada alasan bagi Karen untuk terus cemburu akan Kamala.
Setelah kelas besar itu selesai, Karen yang pura-pura tak mengenal Kamala, memilih untuk duduk sok sibuk di mejanya, meski Kamala tampak maju mundur untuk mendekati Karen. Akhirnya Kamala menyerah, memutuskan keluar kelas karena tampaknya Karen tak ingin menegurnya. Maka Karen yang mulai melihat Kamala keluar dari dalam kelas, segera menyusul karena dia ada kelas untuk jam berikutnya.
Namun ekor mata Karen tak dapat ditipu. Mata Karen tak sengaja menangkap sosok Kamala, yang berlari berhamburan menyongsong sosok Ray yang sedang menungguinya di depan gedung dengan mobil mewah keluaran terbaru. Hati Karen kembali berdenyut sakit, meski kini mereka sudah tak menyandang status apapun, selain sebagai mantan suami istri yang telah bercerai.
__ADS_1