Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Enggan Berpisah


__ADS_3

“Kamu sedang bercanda, kan?” Sophie menatap nanar berkas yang diulurkan Lukman padanya.


“Tidak. Aku serius,” Paul menyahut, dengan emosinya yang sangat dia tekan agar tak menimbulkan kegaduhan di rumah Sophie.


Lukman sekali lagi mengulurkan berkas di tangannya pada Sophie, dan kali ini wanita paruh baya itu menerimanya setengah hati. Dia bolak-balik dokumen yang ada di dalamnya, untuk kemudian merobek semuanya tak bersisa. Sophie membuang hasil sobekannya begitu saja, melayang sia-sia jatuh ke lantai marmer kamar mewahnya.


Paul tak bereaksi, selain hanya melotot lebar ke arah Sophie tak percaya. Wanita yang telah dinikahinya 30 tahun lebih itu memang selalu bertindak gila.


“Apa kamu pikir mudah untuk menceraikanku?” tanya Sophie, tersenyum manis penuh bisa.


“Walaupun kamu sobek ribuan kali, aku akan tetap punya salinannya,” balas Paul tenang. “Yang penting, aku akan menceraikanmu kali ini, apapun yang terjadi,” ancam Paul sekali lagi, sebelum dia meninggalkan kamar Sophie disusul Lukman di belakangnya.


Sophie melempar apapun yang ada di depannya saat ini, berteriak histeris kesetanan. Dia terus berteriak, tak peduli meski hari makin larut. Sophie melempar semuanya, memporak porandakan isi meja rias hingga buku-buku yang tertata rapi di sudut ruangan. Nafasnya tersengal, setelah puas mengacak-acak seisi kamarnya sendiri. Tangan Sophie mengepal erat, penuh dendam dan ambisi untuk menghancurkan tak hanya Sierra, tapi juga Paul suaminya sendiri.


***


Sierra terbangun keesokan harinya, ketika dia mendapati Karen yang tengah duduk di samping ranjang sambil mengupas beberapa potong apel. Melalui tatapan matanya yang masih sedikit meredup, Sierra juga menangkap sosok Paul yang buru-buru mendekat padanya saat sadar dirinya telah siuman.


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Paul sambil menggenggam erat tangan Sierra.


Karen memilih mundur, meletakkan kupasan apel di meja kecil samping ranjang Sierra dan ikut berdiri dengan raut senang.


“Sudah berapa lama aku tak sadar?” tanya Sierra lemah.


“Hanya sehari,” jawab Paul, mengambil duduk di samping ranjang Sierra. “Semua baik-baik saja, Sayang. Anak kita juga baik-baik saja,”


Sierra mengerutkan kening dengar ucapan terakhir Paul. “Anak kita?”


Paul mengangguk senang. “Kamu hamil, Sayang,”


Sierra mengatupkan mulutnya sendiri, mulai terharu dan terisak lirih tak percaya. Sebagai wanita yang pertama kali hamil, tentu tak mudah bagi Sierra untuk langsung menyadari jika dia sedang berbadan dua. Sierra juga melirik sekilas pada Karen, yang tampak ikut tersenyum senang mendengar kehamilannya.


“Mana Martin?” tanya Sierra pada Karen, dengan suara lirih yang masih terdengar lemah.

__ADS_1


Karen maju mendekat ke ranjang Sierra. “Dia sedang bekerja. Aku menyempatkan datang ke sini sendirian,”


“Karen White menjagamu cukup lama di sini. Aku senang dialah orang yang berada disisimu,” timpal Paul. “Aku tak percaya pada siapapun,”


Bibir Sierra melengkung mendengar panggilan Paul atas Karen, yang masih menggunakan nama Ray di belakangnya.


“Aku harus kembali ke kantor,” pamit Paul, tak lupa mengecup kening Sierra sebelum pergi bersama Lukman, sang asisten pribadi.


Kini tinggallah Sierra dan Karen, berdua saja di dalam kamar VIP super mewah tempat Sierra dirawat. Sierra memandangi Karen, lalu menyunggingkan senyum.


“Serasa kembali di rumah hutan, kan? Kita dulu selalu berdua saja,” kenang Sierra.


Meskipun Sierra mengenang masa di rumah hutan dengan penuh senyum, namun bagi Karen, kenangan-kenangan itu sama sekali tak menyenangkan. Bibirnya kaku dan wajahnya menegang, sangat enggan menimpali ajakan Sierra untuk mengenang masa itu.


“Si?” panggil seseorang, yang perlahan masuk setelah membuka pintu.


Ray berdiri di sana, membawa sekeranjang buah dan tampak kikuk untuk masuk saat melihat Karen juga berada di sana. Namun Sierra buru-buru menyuruh Ray masuk ke dalam, dan pria itu meletakkan bawaannya ke sembarang tempat. Diam-diam dia terus mencuri pandang pada Karen yang ada di samping ranjang Sierra. Meski sangat berusaha melawan kegugupannya sendiri, Ray bergerak mendekati Sierra. Kini dia dan Karen berhadap-hadapan, mengitari Sierra yang tengah terbaring lemah.


Ingatan Ray kembali pada saat itu, saat dimana Karen memohon untuk kabur bersama Ray ketika Karen belum menikahi Martin. Untuk beberapa alasan, tiba-tiba Ray menyesal telah menolak tawaran itu.


***


Dia berlari kecil menyerahkan tablet yang dia bawa pada Paul, menunjukkan sebuah highlight berita internet.


SKANDAL PEMILIK FORTUNA CORP, MENGGUGAT CERAI DAN MENIKAH LAGI DALAM WAKTU DEKAT


“Apa-apaan ini?” komentar Paul, tak percaya dengan isi artikel berita di internet itu.


“Saya sudah menelusuri penulisnya, dan … “ Lukman memutus ucapannya. “Sepertinya dia bekerja untuk Nyonya Sophie, Tuan,”


“Tuan Paul?!” Margaret, sang sekretaris, ikut masuk ke dalam ruang kerja Paul dengan raut panik.


“Banyak para pemegang saham menghubungi kita, protes dengan nilai saham yang tiba-tiba anjlok hari ini,” jelas Margaret panik.

__ADS_1


Paul spontan berdiri, mencengkeram kepalanya sendiri dan mulai mengumpat ke udara. Dia mengutuki nama Sophie berulang kali, merasa selalu kecolongan. Kemudian, tanpa banyak berpikir, Paul menyambar jasnya dan berjalan sangat cepat untuk menuju kediaman Sophie. Kali ini Sophie benar-benar telah kelewatan. Selain mencampuri kehidupan pribadinya, wanita itu juga berusaha menghancurkan bisnisnya.


***


Brak!!


Kali ini Paul membanting pintu depan rumah Sophie, dan nampak Sophie sedang bersantai di sofa nyaman sambil menyeruput secangkir teh. Paul mempercepat langkahnya menghampiri Sophie, kali ini dia tampar wanita itu penuh murka. Bunyi cangkir teh yang jatuh ke lantai menggema keras dalam ruangan besar itu.


“Kamu sudah keterlaluan, Sophie,” ucap Paul murka.


Sophie memegangi pipinya yang memerah, dengan tawa puas penuh kemenangan. Dia kibaskan rambut panjangnya yang indah.


“Kamu tak akan pernah menang melawanku, Sayang,” gumam Sophie, tersenyum licik.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Paul, sedikit putus asa karena segala ancamannya tak pernah mempan atau sekedar membuat Sophie takut. Wanita itu selalu memiliki banyak siasat licik yang tak pernah terpikirkan siapapun.


“Aku telah memberimu segalanya,” ujar Paul, kembali mencengkeram kerah baju Sophie. “Segala kemewahan, apapun yang kamu mau aku selalu mengabulkannya,” Paul berusaha memelankan nada suaranya.


“Bahkan mengakui anakmu,” imbuhnya lirih. Dia memastikan Lukman tak mendengar ucapannya yang terakhir ini.


“Martin juga anakmu, Paul,”


“Diam!!” bentak Paul, mendorong mundur tubuh Sophie. “Jangan berbohong, Sophie. Kita bahkan tak pernah bersentuhan, bagaimana mungkin kamu mengandung anakku?”


Sophie terdiam. Kali ini tatapannya sedikit serius.


“Kalau begitu buktikan,” tanggapnya. “Buktikan jika Martin bukan anakmu, dan akui pada semua orang,” Dia berjalan mendekati Paul yang masih dikuasai emosi.


“Apa kamu pikir, orang-orang akan bersimpati padamu saat mereka tahu tentang Martin?” tantang Sophie. “Tidak, Sayang. Kamu justru akan makin kehilangan segalanya,”


Kali ini giliran Paul yang terdiam. Dia menghembuskan nafas, merasa cukup putus asa berdebat dengan Sophie.


“Apa maumu?” tanya Paul, berusaha mengakhiri perdebatan.

__ADS_1


Sophie lagi-lagi tersenyum licik. “Jangan pernah berpikir untuk menceraikanku. Aku, Sophie Willis, akan tetap menjadi wanita nomor satu seorang Paul Willis,”


__ADS_2