Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Mainan Berharga Martin


__ADS_3

“Aku akan menikahinya,” Paul sengaja memotong ucapannya, sembari memandang Sophie dan Martin bergantian, seakan ingin tahu reaksi mereka. “Aku akan menikah resmi dengan Sierra,”


Semua terdiam dan tercekat, tak tahu harus merespon apa. Malam yang dikira Martin sebagai malam yang indah, karena dia akhirnya mantap untuk menikahi Karen, justru berakhir dengan kejutan luar biasa dari Sierra. Dia tak menyangka, Sierra akan datang ke rumah ibunya, namun bukan sebagai sekretari sekaligus temannya yang setia, melainkan sebagai calon istri ayahnya.


“Selamat malam,” Sierra membungkukkan badannya, tersenyum penuh percaya diri. Dandanannya sangat anggun malam ini.


“A-apa maksudmu, Sayang?” Sophie terbata-bata menuntut penjelasan.


Paul pun mempersilahkan Sierra untuk duduk di kursi sampingnya. Kemudian dia menatap bangga ke arah Sophie, yang tampak sangat terpukul dengan pengumuman Paul Willis.


“Dia mantan sekretarismu, Sayang!” cemooh Sophie, sambil menunjuk tajam ke arah Sierra dengan kedua bola matanya.


Paul mengangguk, kemudian mencium punggung tangan Sierra. “Aku mencintainya,”


Sierra tampak tersipu malu. Dia balas menatap Paul dengan tatapan seorang wanita yang jatuh cinta.


Brak!!


Martin tiba-tiba menggebrak meja sekerasnya, hingga membuat piring dan peralatan lain di atasnya naik mendadak. Semua terkesiap kaget.


“Martin, kenapa kamu … “ Sophie hendak mengomel, karena dia tak suka kekerasan ada di rumahnya.


Namun mata Martin memerah, menandakan dia amat sangat marah kali ini. Nafasnya memburu, sangat cepat dan terengap-engap berusaha keras agar tak memuntabkan amarahnya di rumah sang ibu. Martin tahu jika Sophie tak menyukai ada orang yang bertengkar di rumahnya.


Sierra juga tahu akan perubahan sikap Martin, tapi dia memilih tak peduli. Cukup sudah segala sikap Martin yang merendahkannya, seakan dia hanya boneka pelampiasan nafsu bagi Martin. Dia mengalihkan pandangan dari Martin, enggan menatap pria itu.


“Martin … “ panggil Karen, yang ikut beranjak menyusul Martin yang telah berlari cepat keluar dari ruang makan.


“Lihat hasil perbuatanmu!” bentak Sophie. “Harusnya malam ini adalah malam bahagia untuk Martin, tapi kamu tega merusaknya!” Wajah Sophie menegang, menampakkan urat-urat di wajahnya.


Paul tampak tak peduli. Dia menenggak wine yang telah disiapkan di depannya.


“Apa yang bisa dibanggakan dari orang yang merebut istri orang lain?” gumam Paul, seakan menantang.


“Wanita itu sudah bercerai dari suaminya!”

__ADS_1


“Menurutmu, siapa yang menyebabkan dia bercerai?” tantang Paul.


Sophie terdiam. Dia menelan ludahnya, menelan kepahitan akan fakta yang terjadi. Dia segera menghabiskan segelas air putih di depannya secepat mungkin.


“Kamu … ajak dia keluar dari sini,” ujar Sophie, menunjuk ke arah Sierra dengan murka. “Jangan pernah menginjakkan kaki kalian di rumahku,”


***


Martin terus berjalan cepat, makin menjauh dari rumah ibunya, namun juga tak segera mengambil mobil mereka yang terparkir di halaman luas ibunya. Karen terus menerus memanggil Martin, meminta pria itu untuk berhenti. Namun Martin terus berjalan, melaju cepat dengan kedua kakinya beralaskan sepatu kulit, tak peduli dengan dinginnya malam. Kemudian mobil mewah milik Paul tiba-tiba berhenti tepat di samping Martin, terpaksa menghentikan langkahnya.


Paul keluar dari dalam mobil, tertawa mengejek ke arah Martin yang menunjukkan raut murkanya. Dia dekati anak lelakinya itu.


“Kenapa kamu semarah ini?” tanya Paul tak mengerti, meski wajahnya terus-menerus menunjukkan ejekan pada Martin.


Nafas Martin tersengal, menahan amarahnya.


“Apa menurutmu, kamu bisa memiliki Karen dan Sierra sekaligus? Meski kamu bukan anakku, aku tak pernah mendidikmu untuk serakah,”


“Kenapa Ayah tega melakukan ini padaku?” tanya Martin, dengan bola mata yang bergetar.


Martin terus-menerus tersengal. Karen buru-buru menarik tangan Martin untuk pergi dari Paul, yang dia rasa akan membuat Martin makin tenggelam dalam kemarahan.


“Kamu punya uang banyak, kenapa kamu tak ingin mencari tahu?” lanjut Paul. “Tanyakan pada ibumu, dimana dokumen itu berada. Dan kamu akan tahu segalanya,” Paul memutar badan, kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia menancap gas sangat kencang, menembus heningnya perumahan elit yang sepi itu.


Sepeninggal Paul, Martin mulai menjerit, sekerasnya, sambil terus-menerus memukul kepalanya sendiri. Perumahan elit dimana kediama Sophie berada memang hanyalah terdiri dari beberapa rumah besar, yang berjarak jauh antara satu dan lainnya. Jadi, meskipun Martin berteriak, tak kan ada satu pun yang bisa mendengarnya.


Pria itu mulai menjambaki rambutnya sendiri, menangis dalam kepiluan yang dalam. Karen patah-patah berusaha menjangkau tubuh Martin, namun dia merasa, sedikit saja dia menyentuh tubuh itu, seakan Martin akan jauh hancur berkeping-keping. Jadi Karen pun memutuskan untuk mengawasi Martin dari kejauhan.


Karen tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang membuat Martin histeris, seakan mainan kesayangannya berhasil direbut oleh orang lain. Martin, yang dikenal sebagai pria kaya nan tampan, kini duduk bersimpuh di atas lututnya, berteriak dan menjambaki rambutnya sendiri. Apakah Martin menangisi Sierra?


***


“Aku tak menyangka, kamu akan menerima lamaranku secepat ini, Sayang,” Paul tak henti-hentinya mencium punggung tangan Sierra.


Sierra tersenyum pelan, terpaksa. Padahal saat ini hatinya tengah berkelana, memikirkan kondisi Martin. Sejak muda, hanya Sierralah yang peduli, apa yang sebenarnya terjadi pada Martin. Seorang Martin, yang akan sangat rapuh ketika mainan kesayangannya direbut oleh orang lain. Apakah Martin juga kehilangannya? Begitulah sekarang pertanyaan yang terus terngiang di benak Sierra.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sierra.


“Apa maksudmu?”


Sierra menarik nafas panjang. Akhirnya, setelah sekian lama, dia akan menanyakan pertanyaan yang sejak lama mengganjal di benaknya.


“Kenapa Tuan selalu berkata bahwa Martin bukan anak Tuan?” tanya Sierra ragu.


Paul terdiam. Dia fokus pada jalanan yang ada di depannya, karena kali ini dia sengaja tak menggunakan sopir pribadinya.


“Aku akan memberitahumu, setelah kamu menjadi istriku,” jawab Paul, melirik Sierra untuk melihat ekspresinya.


Sierra yang kecewa, berusaha tersenyum. Dia tahu Paul tak akan pernah bisa gampang untuk ditaklukkan. Meski dia telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi milik Paul seutuhnya pun, Paul tetap saja berhati-hati menyerahkan rahasianya.


“Kamu tahu kenapa aku memilihmu?” tanya Paul, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku menolak untuk hamil darimu?” tebak Sierra asal.


Paul menggeleng. “Alasan utamanya bukan itu,” Dia kembali melirik Sierra. Kali ini dia sambil mengelus lembut paha Sierra.


“Karena kamu adalah mainan berharga milik Martin,”


Setelah perjalanan selama satu jam, akhirnya Paul sampai juga mengantarkan Sierra di depan tempat tinggalnya. Pria itu tak lupa pamit, dan berjanji akan menjemput Sierra keesokan harinya untuk fitting baju dan segala keperluan pernikahan lainnya. Meski senang, karena dia bisa menikahi salah satu pria terkaya di negeri, namun Sierra tetap sedih karena harus selamanya berpisah dari Martin, pria yang dicintainya.


Ketika dia hendak masuk ke dalam rumah, Sophie telah berdiri di depan pintu rumahnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wanita paruh baya itu memakai kacamata hitam, di dalam gelapnya malam. Tampaknya dia tak ingin orang-orang mengetahui kehadirannya.


“Nyonya Sophie, apa yang … “


PLAK!!


Sophie tak memberi Sierra kesempatan untuk melanjutkan ucapannya, karena dia sudah tak tahan untuk menggampar pipi Sierra sekencangnya.


Sierra memegangi pipinya yang memanas dan kemerahan ngilu. Matanya membelalak selebarnya, tak siap dengan tamparan keras itu.


“Aku peringatkan, Sierra. Kamu tak akan pernah bisa menguasai harta Paul, selama aku masih di sini,” ancam Sophie pelan. “Hanya aku dan Martin yang berhak atas harta milik Paul,” bisik Sophie tepat di samping telinga Sierra.

__ADS_1


__ADS_2