
“Sierra, ini siapa?” tanya Sierra keheranan.
Dengan isyarat mata, Sierra memaksa Karen untuk ikut berdiri bersamanya. Karen yang bingung, langsung berdiri, memandangi Sophie penuh terkaan. Sepertinya Karen bisa menebak wanita tua di depannya ini. Dengan dandanannya yang maksimal, barang-barang serba mewah di setiap sisi tubuhnya, tatapan mata tajam yang mengingatkan Karen pada Martin.
“Nyonya Sophie, apa kabar?” Sierra justru mengalihkan topik. Dia tersenyum lebar dan sangat ramah, pada wanita tua yang tetap saja keheranan menatap Karen.
Tapi Sophie tampak tak ingin menyahut sapaan Sierra. Dia justru tetap terfokus pada sosok Karen, yang berdiri cantik dengan pakaian mewah dan riasan menawan.
“Sepertinya aku tak asing denganmu,” gumam Sophie, mengernyitkan dahi untuk mengingat sesuatu. “Tapi, dimana ya?” gumamnya lagi.
Sadar akan status Karen yang bisa saja ketahuan, Sierra segera mengambil alih dengan suara tawanya yang keras.
“Nyonya, perkenalkan, dia Karen White,” Sierra seketika menutup mulut, menyadari jika dia baru saja keceplosan menyebut nama belakang Ray pada nama Karen.
Sementara Karen yang menyadari itu, hanya bisa menatap Sierra tak mengerti. Dia tak tahu kenapa Sierra begitu panik saat wanita tua di depannya ini mengingat Karen.
Diluar dugaan, Sophie justru mengangguk setelah mendengar jawaban Sierra. Lalu dia tersenyum ramah, dan justru mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sierra dan Karen secara bergantian.
“Oh, ternyata ini temanmu,” ucap Sophie. “Kukira … “ Sekali lagi dia menatap Sierra dan Karen bergantian. “Kukira dia pacar Martin, Sierra,” Sophie tertawa kaku, diimbangi dengan tawa Sierra yang juga sama-sama kaku.
Sierra tak tahu harus berkata apa. Mungkin memang sebaiknya untuk saat ini Sophie tak mengetahui tentang identitas Karen yang asli. Mungkin memang cukup Martin saja yang menjelaskan semuanya pada ibunya.
* * *
Brak!!
Sophie membanting keras pintu ruang kerja Martin, dan masuk begitu saja, tanpa peduli pada pandangan para karyawan. Martin yang sedang serius dengan pekerjaannya, seketika mengeluh keras saat melihat ibunya, dengan tanpa permisi, masuk ke ruangannya. Martin segera menyuruh beberapa karyawan yang sedang berdiskusi dengannya untuk keluar dari ruangan. Dan kini tinggallah Sophie, bersama Martin, yang tak henti-hentinya menggerutu kesal pada ibunya.
“Martin, sampai kapan kamu akan seperti ini?!” seru Sophie, berkacak pinggang.
“Apa lagi, sih, Bu?” tuntut Martin tak senang.
__ADS_1
“Asal kamu tahu, tadi aku bertemu Sierra di mall,” cerita Sophie. “Dan dia membawa seorang teman wanita yang sangat cantik,”
Martin tentu sadar jika yang dimaksud ibunya adalah Karen. Namun dia masih belum mengerti maksud dari pernyataan ibunya ini. Maka yang dilakukan Martin selanjutnya adalah diam, menyimak setiap ucapan ibunya untuk kemudian menyimpulkan.
“Padahal ada wanita cantik di dekatmu, kamu bisa saja meminta Sierra untuk mencarikan wanita cantik, seperti temannya tadi. Tapi kenapa kamu tak pernah membuka diri? Sampai kapan kamu mau begini, Martin?” omel Sophie panjang lebar. “Ayahmu mengancam akan mencari istri baru dan satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah dengan melahirkan anakmu, alias cucunya!”
“Semua orang akan makin bersimpati pada kita, maka tak ada alasan bagi Paul untuk melepaskan kita,” lanjut Sophie berapi-api. “Kita harus bersatu untuk menguasai harta Paul, apapun yang terjadi,”
Martin menarik nafas panjang. Kemudian merebahkan tubuhnya pada sofa besar nan empuk di pojok ruang kerjanya. Lamat-lamat Martin tersenyum lebar, tampak seperti seringaian.
“Jadi, Ibu ingin aku membawa seseorang untuk kunikahi?” tanya Martin dengan nada berat.
“Tentu saja! Lebih cepat lebih baik. Apalagi kalau kalian bisa segera punya anak,”
Martin kembali tersenyum. Dia menampakkan deretan gigi rapinya yang putih. Lalu dengan sekali tatap, dengan lantang Martin bicara pada ibunya.
“Aku akan membawa calon istriku untuk makan malam keluarga. Malam ini,” ucap Martin. “Jangan lupa undang Pak Tua,”
***
Dia pun mencium aroma lezat dari masakan yang ada di dapur. Melalui indra penciuman, Martin mengikuti arah aroma itu. Di dapur dia melihat Karen yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Penampilan wanita miliknya itu tampak sangat seksi, dengan celemek dan rambut yang diikat sekenanya. Membuat Martin tiba-tiba bergairah.
“Sayang, kamu lagi bikin apa?” Martin melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Karen.
Karen tersenyum, meski sedikit jengah. Kebiasannya dulu saat bersama Ray adalah tak akan menyentuh satu sama lain sebelum mencuci tangan. Namun saat bersama Martin, kebiasaan itu hancur seketika dengan sikap Martin yang seakan ingin segera menyambar tubuh Karen.
“Martin, kamu nggak cuci tangan dulu?”
Martin seketika melepas pelukannya, dan menatap Karen keheranan. “Buat apa?” tanyanya.
Karen akhirnya menggeleng. Dia sadar, tak semua pria akan memiliki kebiasaan seperti Ray yang selalu gila kebersihan.
__ADS_1
“Ayo siap-siap, Sayang,” ajak Martin.
“Kemana? Aku udah nyiapin makan malam, lho,”
Martin menggeleng dengan penuh penyesalan. “Maaf, ya, baru ngasih tahu. Tapi kita ada janji makan malam dengan orang tuaku,”
“Apa?” Karen tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. “Untuk apa, Martin?”
Martin tersenyum manis, meraih kedua tangan Karen dan menciumnya pelan. “Aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku,”
Mata Karen melebar, sedikit berkaca-kaca. Dia kira, hubungannya dengan Martin hanya sebatas kepuasan di ranjang semata. Karen tak menyangka jika Martin akan bertindak sejauh ini.
“T-tapi, aku dan Ray … kita belum resmi … “
“Aku tahu,” sela Martin, menempelkan telunjuknya ke bibir Karen, seakan tak suka saat Karen kembali menyebut nama Ray. “Aku sudah merencanakan ini dengan matang. Suruhanku sudah menyuap hakim agar melancarkan proses perceraianmu,”
Tidak, tidak begitu. Bukan itu yang Karen inginkan. Dia justru berdoa agar proses perceraiannya dengan Ray berjalan sulit dan lama, sambil berharap ada jalan kembali bersama Ray. Namun saat mendengar ucapan terakhir Martin, Karen pun merasa pupus harapan. Segala hal di dunia yang telah dia dan Ray perjuangkan mati-matian, terpaksa harus hancur tinggal kenangan. Tak terasa air mata sudah menetes, sedikit turun lancar melewati pipi Karen.
Martin buru-buru mengusap air mata itu. “Tak ada yang perlu ditangisi, Sayang. Kamu harus bergerak maju,”
***
Rumah keluarga Martin, lebih tepatnya rumah Sophie Willis, sangatlah megah dengan pilar-pilar yang tinggi dan seribu cahaya lampu yang seakan menembus langit. Karen dengan takjub melangkah satu demi satu, melewati setiap lantai marmer paling mahal, menuju ruang makan karena kedua orang tua Martin telah menunggu kedatangan mereka.
Saat melihat kecantikan Karen yang dibalut dengan gaun hitam selutut, anting dan kalung putih serta rambut terurai, membuat semua orang terpana. Bahkan Sophie hingga mengatupkan tangannya ke mulut, saking takjubnya dengan kecantikan Karen. Tentu saja yang paling bahagia saat ini adalah Martin, karena kedua orang tuanya memuji kecantikan wanita miliknya itu.
Tapi itu semua tak berlaku bagi Paul. Pria tua tinggi itu justru mengernyitkan dahi saat melihat Karen. Dia bahkan menahan senyumannya, hanya untuk mengamati Karen dari kepala hingga ujung kaki.
“Aku tak pernah melupakan satu pun wanita cantik yang pernah kutemui,” ucap Paul, di tengah jamuan makan malam mewah yang disiapkan koki.
Karen tersenyum, mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
“Makanya, aku juga tak mungkin melupakan wajahmu … Karen White,”
Paul mengangkat segelas wine miliknya, bersulang ke arah Karen dan meminumnya seteguk. Tatapan matanya menembus ke jantung Karen.