
Brak!!
Sophie membuka keras pintu ruang kerja Martin, begitu saja dan tanpa mempedulikan privasi Martin. Karena setelah melihat tindakan ibunya, Martin segera melemparkan makian tak senang, namun rasa protes itu dia tujukan pada Seth. Dia menganggap asistennya itu tak becus, karena tak bisa menghalangi ibunya untuk masuk.
"Berhenti menghindariku, Martin!" hardik Sophie, karena Martin terus saja sibuk mondar-mandir menghampiri Seth di luar ruangannya. Bagi Sophie, Martin sedang berpura-pura sibuk.
"Kamu bisa menyambut kedatangan wanita murahan itu, tapi kenapa tidak dengan ibumu sendiri?" protes Sophie, disaat Martin tak mengindahkan ocehannya.
Dan Martin benar-benar berhenti. "Apa lagi mau Ibu?"
Sophie melempar selembar foto hitam putih, yang ternyata adalah salinan dari hasil USG milik Sierra. Sophie memiliki banyak mata-mata dimana pun, termasuk di klinik bersalin tempat Sierra biasa memeriksakan kandungan. Sophie berhasil mendapatkan info mengenai kondisi janin Sierra. Namun karena Martin tak pernah berhadapan dengan kehamilan sebelumnya, dia sama sekali tak paham dengan hasil USG itu.
"Anaknya laki-laki," Sophie memberi kesimpulan sesingkat mungkin.
Martin menautkan alisnya. "Lalu kenapa?"
Sophie berkacak pinggang, terus menerus menarik nafas untuk mengontrol emosi. "Sadarlah, Martin! Dia bisa mengambil warisanmu kapanpun!"
Martin menyerahkan lembaran itu dengan senyum meremehkan. "Seorang bayi bukanlah ancaman bagiku,"
"Kamu yakin? Tahu dari mana?" tantang Sophie. "Sadarlah, selama ini ayahmu selalu mengabaikanmu. Tak susah baginya untuk mengganti isi wasiatnya,"
Penjelasan Sophie membuat Martin berhenti dan berpikir. Benar. Mendengar tentang warisannya yang terancam hilang, membuat Martin mulai sedikit was-was. Dia tidak pernah menganggap Sierra sebagai ancaman, namun segala penjelasan dari ibunya membuat Martin sadar. Dia tidak bisa meremehkan Sierra begitu saja.
"Lalu apa yang akan Ibu lakukan?"
"Sudah jelas, Martin!" sambar Sophie, setelah emosinya tak bisa dibendung. "Kamu harus buat istrimu hamil secepatnya!"
Martin membelalak. "Kenapa harus Karen?"
"Kenapa? Kamu masih bertanya kenapa?" Sophie terus menaikkan nada suaranya. "Apakah sulit bagi pasangan suami istri untuk memiliki anak?"
Setelah itu Sophie mulai mondar-mandir mengelilingi Martin. "Istrimu itu … " Dia sengaja berhenti. "Dia bisa hamil, kan?"
__ADS_1
"Apa maksud Ibu?!" seru Martin, tak suka dengan pertanyaan sensitif dari ibunya.
"Apakah aku salah bicara?" protes Sophie, angkat bahu. "Coba pikir lagi, Martin. Dia telah menikah sebelumnya. Menikah bertahun-tahun. Tapi, kenapa tak menghasilkan seorang anak?"
"Bisa saja suaminya!" bela Martin, menolak untuk membenarkan tuduhan Sophie.
Sophie mengangguk, memilih untuk mengalah. "Baiklah. Aku akan coba setuju. Kalau begitu, mari kita buktikan. Buktikan padaku jika istrimu bisa hamil," tantang Sophie.
Martin sudah mengepalkan tangannya sedari tadi, berusaha sangat keras untuk meredam emosinya. Dia tak pernah bisa berkutik jika berseteru dengan Sophie, ibunya.
"Kalau dia tidak kunjung hamil, aku akan carikan istri baru untukmu," ancam Sophie, sebelum dia pergi meninggalkan ruang kerja Martin.
Martin terus berteriak, menuntut protes tak terima akan keputusan sepihak dari ibunya. Namun seperti biasa, Martin tak pernah berkutik pada Sophie. Ibunya itu bagaikan seorang militan, yang tak akan gentar dan susah dikalahkan, meski dia hanya bermain di belakang layar dengan otaknya.
***
Hingga waktunya pulang ke rumah, Martin terus saja terngiang akan semua perkataan dan tuduhan Sophie pada Karen. Meskipun dia tidak ingin bimbang dan berharap bisa seratus persen percaya pada Karen, nyatanya, tetap saja terbesit rasa keraguan.
“Ada apa?” tanya Karen bingung, saat melihat wajah kusut Martin.
“Apa terjadi sesuatu?” tebak Karen.
Martin masih diam, sebelum dia tiba-tiba menyambar Karen begitu saja. Karen yang terbiasa higienis bahkan saat masih bersama Ray, dia tidak pernah mengizinkan Ray menyentuhnya sebelum Ray membersihkan diri. Tak beda, Karen buru-buru mendorong keras tubuh Martin menjauhinya.
“Kamu kenapa, sih?!” protes Karen jengah.
“Aku menginginkanmu malam ini,” rayu Martin, terus berusaha menggapai Karen yang kian menjauh.
Karen terus menghindar. “Bersihkan dirimu dulu,”
“Bersihkan aku,” pinta Martin dengan tatapan menggoda. “Aku ingin kamu yang membersihkanku,”
Pipi Karen bersemu merah, karena memang ini pertama kalinya bagi mereka. Tak lama, mereka berdua bergegas membersihkan diri, berdua dan dalam diam. Diam yang membuat mabuk kepayang. Karen benar-benar menunaikan tugasnya untuk membersihkan Martin, dan begitu pula sebaliknya. Setelah itu, mereka berdua berganti posisi ke tempat tidur besar mereka, melanjutkan permainan hingga akhir dan sesuai harapan Martin.
__ADS_1
“Kamu beda malam ini,” ungkap Karen ketika mereka berbaring bersama.
Martin menoleh. “Maksudmu apa, Sayang?”
“Apa ada yang sedang membebanimu? Apa ibumu meminta agar kita segera punya anak?”
Kini Martin membelai lembut rambut Karen, lalu menyelipkannya di belakang daun telinga. “Aku ingin memiliki anak darimu, Sayang. Kurasa ini memang sudah saatnya,”
Karen tersenyum. “Baiklah. Mari kita coba,”
Kali ini Karenlah yang berinisiatif untuk mengecup lebih dulu bibir Martin. Mereka berdua kembali melanjutkan permainan babak kedua, dengan harapan agar segera mendapatkan kabar bahagia beberapa bulan ke depan. Alias, semoga segala permainan mereka malam ini membuahkan hasil.
***
Dua hari kemudian.
Sophie berjalan tegap melewati sepanjang koridor rumah sakit berlantaikan tegel putih, dengan bunyi hak sepatu mewah yang berdetak menambah kebisingan. Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Sophie. Hari penentu, oleh segala hal yang dianggap akan memberikan keuntungan baginya.
Kemudian dia masuk ke dalam sebuah ruangan, yang telah disambut hangat oleh seorang pria dengan jas putih yang sepertinya berprofesi sebagai dokter. Pria itu memberikan sebuah amplop coklat, dan bergegas Sophie membukanya.
Mata Sophie bergerak tak aturan membaca isi kertas yang terdapat di dalam amplop itu, dan saat sampai kepada kesimpulan terakhir yang bertuliskan 99,8%, dia langsung memekik girang.
“Kerja bagus, Dok!”
Dokter itu mengangguk bangga. “Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?”
Sophie kembali melipat dan memasukkan kertas itu ke dalam amplop coklat. Dia berdehem, dengan anggun dan tertata layaknya seorang wanita konglomerat.
“Aku akan menjadikan ini senjata utamaku, jika dia berani macam-macam,” ungkap Sophie pongah.
Sang dokter mengangguk kembali. Lalu dia mengeluarkan sebotol cairan, dan dia berikan pada Sophie penuh hati-hati.
“Aku tak mau sampai dilibatkan. Kamu bisa menjaminku, kan?” tanya dokter itu was-was, tepat setelah dia menyerahkan botol cairan pada Sophie.
__ADS_1
Sophie tersenyum licik. Senyuman licik yang sangat anggun, hingga susah dibedakan apakah dia tulus atau penuh muslihat.
“Aku akan membunuh Paul, hingga tak ada yang bisa dilakukan wanita murahan itu selain hengkang dari keluarga Willis,”