Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Takkan Pernah Menyerah


__ADS_3

Sepatu hak tinggi yang dipakai Sierra menimbulkan bunyi yang menimbulkan sedikit perhatian pada setiap karyawan di perusahaan raksasa Poe Tech, milik Paul Willis. Ini adalah pertama kalinya, sejak Sierra mengundurkan diri karena memilih untuk bekerja pada Martin. Namun hari ini, tiba-tiba Paul memintanya untuk datang karena ada suatu hal serius yang ingin dia bicarakan bersama Sierra. Maka, sambil berjalan penuh percaya diri, hati Sierra mulai was-was dan menduga-duga apa tema yang akan dibicarakan Paul nantinya.


Saat sampai, sekretaris baru Sierra yang sepertinya telah tahu, langsung mulai membawa Sierra masuk ke dalam ruang kerja Paul. Di sana Paul sudah menunggu dengan santai di sofa besarnya, sambil menyesap rokok dalam-dalam. Saat melihat Sierra, wajah Paul tampak sedikit senang. Dia lalu mempersilahkan wanita itu untuk duduk.


“Bagaimana kabarmu, Si?” tanya Paul, mematikan puntung rokoknya.


Sierra duduk di depan Paul, dengan raut yang masih saja gugup. Meskipun mantan bosnya itu menunjukkan sikap yang ramah, namun Sierra khawatir akan ada suatu hal buruk yang terjadi. Sierra tahu, hubungan Paul dan Martin tak pernah baik. Paul selalu menuding bahwa Martin bukanlah anak kandungnya. Namun hingga puluhan tahun berlalu pun, Paul tetap tak bisa membuktikan ucapannya sendiri. Dia memilih untuk mengambil jalur aman, agar para investor tak lari dari sisinya.


“Baik, Tuan. Ada perlu apa Tuan memanggilku kemari?” jawab Sierra, berusaha untuk bersikap senormal mungkin.


Paul menyandarkan tubuh tingginya ke sofa, dengan kedua kaki disilangkan.


“Kamu pasti tahu tentang Karen, kan? Wanita yang akan dinikahi Martin,” ucap Paul.


Sierra tertegun mendengarnya. Dari sekian banyak rentetan pertanyaan yang diduga Sierra, tak ada satu pun yang benar. Paul justru menanyakan suatu hal yang sangat luput dari pikiran Sierra.


“Kamu pasti tahu, aku tak akan pernah melupakan wajah seorang wanita cantik,” ucap Paul lagi. “Apalagi seseorang seperti Karen,” Dia sengaja memotong ucapannya, melirik Sierra dengan bibir menyeringai. “Karen White,”


Sierra duduk diam, merapatkan kedua kakinya dengan jempol saling bermain untuk meredakan gugup. Kemudian Paul melemparkan sekumpulan foto ke meja, yang lanjut berhamburan. Di sana Sierra dapat melihat beberapa lembar foto itu berisikan dirinya dan Karen yang sedang berada di rumah hutan.


“Apa kamu pikir, Martin adalah seorang pemimpin yang pantas kamu ikuti?” tanya Paul.


Sierra memunguti beberapa lembar foto yang jatuh berhamburan itu. Tak hanya foto dirinya, ada juga foto Martin dan Karen, atau pun Karen yang berlari dengan baju basah. Pada bagian ini Sierra mengernyitkan dahi, karena merasa tak mengetahui kejadian baju basah yang dikenakan Karen. Tentu saja Sierra tak mengenalinya, karena itu adalah saat Karen baru saja terjun bebas ke sungai besar yang ada di belakang rumah hutan.

__ADS_1


“Kamu harus tahu, Si. Semua fasilitas yang dipakai anak itu adalah milikku. Dia tak bisa apapun tanpaku,” Paul melanjutkan ucapannya. “Tapi tak kusangka, dia tega merebut istri dari orang yang membantunya sukses,”


Paul beranjak berdiri, menatap jauh pada jendela ruang kerjanya yang besar dan luas. Lewat jendela itu, siapapun bisa melihat kemegahan gedung-gedung pencakar langit di perkotaan.


“Aku bersyukur dia bukanlah anakku,” kata Paul. “Aku tak perlu menanggung dosa atas perbuatan kotornya ini,”


“Tuan, apa maksud Tuan memintaku ke sini?” Sierra ikut berdiri. Dia tak tahan lagi mendengar ocehan Paul yang terus-menerus menjelekkan Martin.


Paul menoleh ke belakang, menatap Sierra. “Aku akan membawa Ray ke sini. Seseorang seperti Martin tak pantas memilikinya,”


***


(Sehari sebelumnya, saat makan malam bersama keluarga Willis)


“Apa yang kamu suka dari anakku, Karen?” tanya Sophie, berusaha mencairkan suasana.


Karen terdiam. Dia menatap Martin cukup lama, sekedar untuk memikirkan jawaban terbaik. Martin mengangguk penuh senyum pada Karen, berusaha meyakinkan wanitanya itu untuk memberikan jawaban yang terbaik.


“Martin … dia mencintai sepenuh hati,” jawab Karen pelan.


Sophie manggut-manggut dengan raut puas, sementara Paul makin menenggak gelas wine miliknya. Martin segera meraih tangan Karen, menggenggamnya erat seakan tak ada lagi sesuatu yang berharga di dunia ini selain Karen.


Sekilas Paul tampak melirik sikap Martin tersebut, lalu membuang muka nampak muak. Meskipun dia tak pernah mencintai keluarganya sendiri, dan dia terkenal sebagai pria tua yang gemar wanita, namun Paul menghindari bermain api dengan wanita beristri. Sikap Martin membuatnya sangat muak seakan ingin muntah di depan muka Martin.

__ADS_1


“Karen, aku senang akhirnya Martin mencintai seseorang,” ujar Sophie, tersenyum bangga. “Dan beruntungnya wanita itu adalah kamu, wanita cantik yang anggun,”


Karen dan Martin saling tatap dan kemudian tersenyum. Tampak seperti pasangan baru yang sedang dimabuk asmara.


“Bagaimana dengan suamimu?” celetuk Paul, membuyarkan atmosfir bahagia antara ketiga orang yang sedang makan malam bersamanya.


Sophie dan Martin melirik Paul tajam, tampak sangat kesal dengan sikap Paul. Martin bahkan sampai menggebrak meja, menyuruh ayahnya menghentikan segala ucapan omong kosongnya yang hanya akan menyakiti hati Karen.


***


Sierra tak mengerti kenapa dia menyetujui ajakan Paul untuk pergi ke rumah hutan, yang jarak tempuhnya hingga lima jam dari kota. Namun nyatanya, saat ini dia sudah duduk di samping kursi kemudi, dengan Paul yang mengemudi cepat agar mereka juga cepat sampai. Lebih tepatnya, setelah obrolan tentang Ray, Sierra dipaksa Paul untuk ikut bersamanya ke rumah hutan. Sebagai mantan karyawan yang juga pernah setia, Sierra tentu kesulitan untuk menolak.


“Kamu tahu apa yang membuat rumah ini begitu megah?” tanya Paul, setelah mereka berdua sampai di depan pintu gerbang rumah hutan yang megah.


Meskipun tak ditinggali, para warga suruhan Paul selalu rajin membersihkan rumah hutan setiap hari. Setelah beberapa menit berdiri mematung saja di depan, akhirnya Paul mengajak Sierra untuk masuk. Wanita itu sekali lagi menurut, karena memang tak ada yang bisa dia lakukan di tengah hutan seperti ini.


“Ini jam berapa, Si?” tanya Paul saat mereka membuka pintu rumah.


Sierra mengecek jam tangannya. “Jam 3 sore, Tuan,”


“Kita tak mungkin langsung pulang. Kita harus bermalam di sini,” simpul Paul, melepas jasnya dan melempar begitu saja ke sembarang arah.


“Aku sudah menyuruh warga untuk mengisi kulkas dengan makanan,” ucap Paul, mengecek isi kulkas yang penuh. “Aku ingin makan masakanmu,” ucapnya sekali lagi, sangat singkat dan dalam.

__ADS_1


Sierra terkesiap, diam mematung saat memandang tatapan Paul yang kuat dan mendominasi. Pria tua itu mendekati Sierra yang masih mematung tak bergerak, bagai sedang terhipnotis. Lalu perlahan dia merengkuh tubuh kecil Sierra dalam dekapannya, dan mulai mencumbu mesra.


__ADS_2