Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Sergio White


__ADS_3

(Seminggu sebelumnya … )


Ray mendongakkan kepala, mengukur seberapa tinggir gerbang hitam yang berdiri kokoh di depannya saat ini. Tiga tahun lebih dia tak mengunjungi rumah kediaman orang tuanya, ketika dia memutuskan untuk kawin lari dengan Karen waktu itu.


Namun segalanya kini telah berubah. Orang tua yang dia kira telah membuangnya tanpa sisa itu nyatanya masih sudi untuk menyelamatkan nyawanya dari kebengisan Martin, begitu pula datang ke pernikahannya dengan Kamala yang gagal.


Ray memutuskan untuk berkunjung hari ini. Setelah meneguhkan hatinya, Ray memilih untuk menghadapi takdirnya. Takdir sebagai putra tunggal Sergio White.


“Tuan Ray?” seru satpam, yang seketika membuka gerbang besar itu.


Dia menghambur pada Ray, menunduk hormat. “Sudah lama sekali, Tuan,” ucapnya.


Ray tersenyum. “Apakah orang tuaku di rumah?”


Satpam itu mengangguk, lalu mempersilakan Ray untuk masuk dan mengantarnya sampai di depan pintu utama.


Setelah mengucapkan terima kasih, dalam satu helaan nafas, Ray membuka pintu utama dan melangkah mantap masuk ke dalamnya.


Ternyata sang ibu, Lydia, telah menunggu di sana. Dia spontan merengkuh tubuh sang putra, menangis dalam dekapan Ray.


“Akhirnya kamu pulang, Ray,” isak Lydia penuh haru.


Ray membalas erat pelukan ibunya, dengan mata terpejam, merasakan kenyamanan dan ketenangan batin. Sentuhan seorang ibu memang memiliki efek magis yang dapat menenangkan hati seorang anak.


“Ibu sehat, kan?” tanya Ray. Ada setitik rasa haru di hatinya, melihat kerutan halus di kening sang ibu.


Lydia mengangguk, dengan mata merah. “Aku tidak menyangka, hari baik seperti ini akan datang. Kukira kamu sudah menganggap rumah ini tak ada, Ray,” keluh Lydia. Air matanya kembali berlinang.


“Maafkan aku,” Hanya itu kata yang bisa diucapkan Ray.


“Yang terpenting sekarang kamu pulang,” Lydia berusaha menghibur hati Ray yang diselimuti penyesalan.


“Siapa yang datang? Ray?” Suara besar yang amat dikenali Ray itu menggema keras ke seluruh sudut ruangan.


Ray dan Lydia mendongak, memandang sosok Sergio yang berdiri di ujung tangga. Pria tua itu perlahan turun dari tangga, dengan tatapan tak mau lepas dari Ray.


“Dimana Kamala?” tanya Sergio.

__ADS_1


Ray menggeleng. “Dia ingin fokus dengan kuliahnya,”


Sergio mengangguk kaku. Keduanya lalu diam, diselimuti atmosfer aneh yang canggung. Kemudian Lydia berusaha mencairkan suasana, dengan mengajak Sergio serta Ray menuju ruang makan, karena makan siang telah siap.


“Ray, Ibu sengaja memasakkan masakan kesukaanmu ini, karena tadi pagi Adam telepon, katanya siang kamu mau datang,” Lydia berseru senang, bercerita banyak hal pada Ray.


Sudah lama sekali dia merindukan keramaian seperti ini di rumah besarnya. Selama ini Lydia selalu kesepian, tinggal di dalam rumah besar hanya berdua dengan Sergio. Sebagai seorang ibu, Lydia ingin Ray kembali, namun dia diselimuti dilema akan ego dari sang suami.


“Ray, kudengar kamu masih bekerja di kantor Rudi Bruggman, ya?” tanya Lydia di sela-sela makan.


Ray mengangguk. “Tuan Rudi memperlakukanku dengan baik, Bu,”


Lydia memancarkan ekspresi senang di wajahnya. “Ibu juga senang waktu itu kamu akan menikahi anaknya, Kamala. Tapi kenapa harus gagal,” Kekecewaan seketika menyelimuti hatinya.


Ray mengelus lembut pundak sang ibu. “Ini semua bukan salah Kamala, Bu. Dia memang terlalu muda waktu itu. Dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah, dan kita bisa mengulangi segalanya dari awal lagi,”


“Aku lebih menyukai Kamala daripada wanita murahan itu,” timpal Lydia, mulai geram saat mengingat penghinaan Karen karena berani menceraikan Ray.


“Apa yang kamu inginkan, Ray?” tegur Sergio, tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan Ray dan Lydia.


“Ternyata selama ini Ayah benar,” tandas Ray. “Aku memang tidak berjodoh dengan Karen,”


Ray mengharap tawa yang muncul dari respon Sergio. Tapi pria itu itu hanya diam, ikut serius memandang Ray.


“Perbuatan Martin memang tidak bisa dimaafkan,” balas Sergio. “Meski harus kuakui, aku senang mendengar kabar perceraian kalian,”


“Karen memang bukan wanita baik-baik, Ray!” celetuk Lydia, ikut menimpali.


Ray tidak membela. Dia diam saja meski sang ibu mengolok mantan istrinya itu.


“Tapi Martin telah meremehkanmu, Ray. Dia tidak boleh dibiarkan begitu saja,”


“Maka dari itu aku datang ke sini. Aku ingin meminta bantuan Ayah,” ujar Ray mantap.


Mendengar ucapan itu, membuat Sergio menautkan kedua alisnya. Lalu duduk bersandar, mengamati Ray tanpa berkedip.


“Kalau aku membantumu, apa balasanmu untukku?” tanya Sergio. Nada suaranya berat mengintimidasi.

__ADS_1


“Kamu harus ingat, Ray. Kamu sendiri yang pergi meninggalkan kami dan memilih bersama wanita itu. Jadi aku tidak bisa membantumu begitu saja, karena aku tahu, ini semua kamu lakukan demi wanita itu,” Sergio menumpukan kedua telunjuknya di bawah dagu, sambil membuat negosiasi dengan sang anak.


“Ini semua tidak ada hubungannya dengan Karen,”


“Berhenti mengucap nama itu di sini,” larang Sergio cepat. “Nama itu membawa sial bagi keluargaku,”


Ray menelan ludahnya, tegang bukan main. Ayahnya memang selalu bisa mengintimidasi, hanya dari suara dan tatapannya. Tapi kali ini Ray tidak boleh kalah. Dia harus bisa meyakinkan Sergio.


“Apa yang akan kamu berikan padaku?” tanya Sergio sekali lagi.


“Apapun. Apapun yang Ayah mau,” jawab Ray yakin.


“Benarkah?” Sergio mencondongkan duduknya ke depan, dengan mulut menyeringai.


“Aku ingin kamu kembali. Menjadi penerusku, dan menikahi siapapun selain wanita miskin itu,” pinta Sergio.


“Kenapa Ayah begitu membenci Karen?”


“Ray!” pekik Lydia, merasa sedikit tersinggung saat Ray sekali lagi menyebut nama Karen, meski sang ayah telah melarang.


Sergio menaikkan satu ujung bibirnya. “Aku tidak perlu menjawab. Toh, tragedi yang menimpa kalian kini telah menjadi jawabannya,”


“Dia akan meninggalkanmu demi pria kaya, Ray! Kenapa kamu tidak menyadarinya?” tambah Lydia.


Ray menggigit bibir. Kedua orang tuanya tetaplah sama. Mereka sama sekali tak mau mengubah pikiran mengenai Karen.


“Aku akan membantumu membalas Martin, asalkan syarat itu kamu penuhi, Ray,” ucap Sergio kembali ke pembahasan awal.


“Aku ingin menggunakan kekuasaanmu, untuk bisa memerintah anak buah Ayah,” ujar Ray.


“Kamu memang penerusku. Para anak buahku juga harus patuh pada perintahmu,” balas Sergio, dengan nada lebih ringan dari sebelumnya.


“Tapi ingat satu hal … “ Sergio bangkit berdiri, dan berjalan pelan mendekati Ray.


Mau tak mau Ray juga ikut berdiri, demi bisa sejajar dengan sang ayah. Keduanya saling tatap, dengan tatapan tajam dan serius. Tak bisa dipungkiri, Ray dan Sergio memanglah bagai pinang dibelah dua. Sama-sama memiliki tekstur wajah yang keras, dengan kejeniusan yang diakui semua orang.


“Kalau kamu melanggar janjimu … “ Sergio sengaja memotong ucapannya. “Aku akan membunuh wanita miskin itu,”

__ADS_1


__ADS_2