
Jantung Karen melompat hampir keluar, saat dia membuka pintu apartemen dan Martin berada di baliknya sambil menatap tajam. Waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi, namun suaminya itu sudah siaga dan menyambut kedatangan Karen layaknya detektif yang hendak menginterogasi.
“Dari mana saja, Sayang?” Senyum tersungging janggal dari wajah Martin.
Eluh gugup mengalir dari pelipis Karen. “Mencari udara segar,”
“Selarut ini?” tanya Martin curiga, meski wajahnya tetap lembut.
Karen mengangguk, dan menyelinap masuk ke dalam apartemen, tak lupa melepas jaket. Kemudian dia segera berjalan cepat menuju kamarnya.
Martin mengikuti setiap tindak-tanduk Karen, bahkan ketika wanita itu berbaring memunggunginya. Dia elus punggung Karen, lembut namun terasa sangat dingin mencekam.
“Kamu tahu, aku hanya cinta padamu,” gumam Martin terus mengelus punggung Karen. “Dan kamu hanya milikku. Kamu tahu apa yang akan terjadi jika ada orang lain yang menyentuhmu,”
Ancaman itu terdengar sangat mengintimidasi, meski suara Martin terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Pria itu menunjukkan sisi obsesifnya yang sangat sakit, dengan menganggap Karen layaknya barang miliknya.
Karen tak membalik punggungnya, dan memilih diam saja. Ini semua juga sebagai bentuk protesnya atas sikap obsesif Martin yang sudah kelewat batas. Namun Karen tetap tak punya kuasa untuk melawan kehendak Martin.
“Selamat tidur, Sayang,” ucap Martin seraya mengecup kening Karen.
***
“Selamat pagi, Sayang,” Martin menyapa Karen sambil duduk menghabiskan sarapannya.
Karen yang masih sangat mengantuk, tercenung saat melihat Martin duduk santai di meja makan dan masih mengenakan piyamanya. Tidak ada tanda-tanda akan pergi ke kantor.
“Kamu heran, kenapa aku tidak ke kantor?” tebak Martin, santai memakan roti lapis di depannya.
Karen masih melebarkan mata, pelan-pelan duduk berhadapan dengan Martin.
“Aku sengaja libur, demi mengawasimu,”
“Apa?” Respon spontan yang diucapkan Karen.
Martin mengangguk. “Aku merasa, akhir-akhir ini sikapmu aneh, Sayang. Aku tahu kamu menyimpan rahasia dariku,”
“Tidak ada rahasia!” seru Karen tak terima.
__ADS_1
Martin justru menyunggingkan sebelah bibirnya, menorehkan senyum penuh makna.
“Responmu justru membuatku makin curiga,” gumam Martin, menenggak minuman dengan tatapan lurus ke arah Karen.
“Aku punya satu pertanyaan untukmu,” Martin bangkit berdiri, masih dengan langkah yang tegap layaknya pria terhormat. Dia lalu mengacungkan sebuah kunci, yang disambut seruan lirih dari Karen.
“Apa ini, Sayang?” tanya Martin.
Karen makin salah tingkah. “D-dari mana kamu dapat kunci itu?”
“Kenapa?” Martin menatap penuh selidik. “Sikapmu membuatku yakin dari mana asal kunci ini,”
“Kembalikan padaku, Martin,” Karen mengulurkan tangannya. “Kunci itu milikku. Kamu tak berhak mengambilnya begitu saja,”
Martin tiba-tiba berjalan cepat menghampiri Karen. Dia cengkeram kedua pipi Karen, spontan dan cukup menyakitkan.
“Aku berhak!!” bentak Martin. “Karena kamu milikku,”
Martin mendorong tubuh Karen makin dekat dengannya. “Sekali masuk ke dalam hidupku, kamu sama sekali tak boleh keluar. Hidup atau mati,”
Karen meronta ingin dilepaskan, namun cengkeraman Martin terlampau kuat untuknya. Dia hanya bisa terus memukul tangan Martin sebagai upaya perlawanan.
Karen segera menepis tangan Martin sekali punya kesempatan.
“Jangan menyebutnya seenakmu!” seru Karen, entah kenapa hatinya tak terima saat Ray dipanggil seperti itu oleh Martin.
“Ah!” Karen berteriak saat Martin mendorong tubuhnya membentur tembok di belakang.
“Kamu mulai berani, Sayang. Apa karena mantan suamimu itu adalah seorang mafia?” Martin kali ini mencengkeram kerah baju Karen.
Sekuat tenaga Karen berusaha menggelengkan kepalanya, sesekali meringis karena Martin mencengkeramnya terlalu kuat.
“Apa kamu pikir, seorang mafia seperti keluarga White itu manusia kaya yang diberkati? Mereka kaya dari hasil tangisan banyak orang,”
Karen tak perlu diingatkan akan kebiadaban keluarga White, apalagi terhadap keluarganya. Keluarga kecil Karen yang miskin telah porak poranda akibat interupsi dari anak buah Sergio White, yang mengakibatkan ayahnya bunuh diri dan sang ibu dirawat di rumah sakit.
“R-Ray … Dia … Dia berbeda … “ ucap Karen terbata-bata, karena kini Martin makin mencengkeram tak hanya kerah bajunya, namun leher Karen.
__ADS_1
Sadar akan tindakannya yang bisa mencelakai Karen, tiba-tiba Martin mundur. Bola matanya bergetar saat melihat Karen terbatuk dan kesakitan sambil memegangi lehernya.
Martin tiba-tiba meraih Karen. Dia dekap wanita itu, seerat mungkin dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Maafkan aku, Sayang. Aku tak bermaksud menyakitimu,” ucap Martin berulang kali.
Karen sekuat tenaga mendorong Martin menjauh darinya. Kini dia menangis.
“Apa yang kamu inginkan dariku, Martin?! Jika hanya ingin tubuhku, silahkan nikmati sepuasmu!” pekik Karen. “Tapi kumohon … kumohon dengan sangat, izinkan jiwaku ini bebas. Aku tidak ingin terus terkekang dengan peraturanmu dan peraturan ibumu!”
Teriakan penuh air mata yang keluar membabi-buta dari mulut Karen, membuat Martin tertegun. Seakan topik pembicaraan mereka telah memantul, tak saling berkesinambungan. Martin sedang membahas Ray, namun Karen justru membahas hal lain.
“A-apa maksudmu, Sayang?” tanya Martin.
“Aku tak mau menuruti permintaan gila ibumu, seakan aku ini hewan untuk berkembang biak!” Karen terus memekik histeris, dengan air mata yang deras.
“Sayang,” Martin berusaha menghampiri Karen. “Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan ibuku padamu?”
Ketika pertikaian mereka sedang berada di puncak, tiba-tiba sosok Sophie masuk ke dalam ruangan, membaur bersama mereka sambil menyaksikan Karen yang sedang bersimpuh bermata bengkak. Sementara Martin, tampak berlutut hendak menghampiri Karen. Wanita tua itu memandang jijik bergantian pada mereka.
“Bagaimana Ibu bisa masuk?” tanya Martin heran.
“Kamu tidak sedang meremehkan ibumu, kan? Aku bisa menyewa hacker terbaik hanya untuk membobol password rumah kalian,” jawab Sophie santai, dengan ekor mata yang enggan lepas dari Karen.
“Kalian sudah siap, kan?” Sophie bertanya semaunya, tak peduli akan kondisi kalut antara Martin dan Karen.
Martin buru-buru meraih tangan Karen untuk diajak berdiri.
“Siap-siap untuk apa?” tanya Martin bingung.
Sophie melotot. “Istrimu belum bilang? Hari ini kan jadwal kalian periksa ke dokter kandungan! Aku sudah buatkan janji untuk kalian, dengan dokter terbaik di negeri ini,”
Lamat-lamat Martin melirik Karen, yang sekali lagi meneteskan air mata. Kini dia tahu, alasan dibalik histerisnya Karen. Dia genggam tangan istri cantiknya itu seerat mungkin, seakan berusaha untu menguatkan.
“Apa dia juga sudah bilang padamu, Martin?” tanya Sophie, memandang Karen dan Martin bergantian.
“Soal apa?” Martin tak punya tindakan lain selain bertanya.
__ADS_1
Sophie tersenyum licik, sambil berjalan pelan ke samping telinga Martin.
“Jika dialah yang terbukti mandul, aku akan mencarikan istri baru untukmu. Wanita kelas atas, yang sangat pantas mendampingi seorang Martin Willis,” bisiknya, sekali lagi melirik Karen. Lewat ekor matanya, dia bisa melihat raut muka Karen yang membeku dan pucat pasi.