Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Tanpa Pengawasan


__ADS_3

Sierra ngos-ngosan, limbung tak kuat lagi menahan daya tubuhnya sendiri, akibat peristiwa mengerikan yang hampir saja menimpanya di lift. Andai saja Martin tak datang untuk menyelamatkannya, mungkin sekarang dia sudah tewas tertusuk pisau yang dibawa pria misterius itu.


Saat tahu Sierra panik dan naik lift, Martin bergegas mencari tangga darurat untuk menyusul Sierra. Beruntung dia datang tepat waktu. Sebagai seorang anak, Martin tentu sangat memahami tabiat ibunya. Sophie Willis, tak akan pernah membiarkan wanita lain menjadi pemaisuri dalam kerajaannya.


“Kumohon, berhentilah, Sierra,” Martin mendekap erat tubuh Sierra yang masih ketakutan.


“Ibuku tak akan pernah puas, sebelum melihatmu tak bernyawa,” tambah Martin, berusaha memberi peringatan.


Bukannya menurut, Sierra justru segera melepas dekapan Martin. Dia tatap pria itu dengan tatapan jijik luar biasa.


“Sekarang aku tahu, dari mana asal sikapmu yang selalu ingin memiliki apapun yang kamu mau,” ujar Sierra, dengan mata sembab. “Aku menyesal pernah mencintai pria sepertimu … “


Sierra lalu bangkit berdiri, menata pakaiannya dan segera masuk kembali ke dalam lift untuk meminta pertolongan pada sopir pribadi Paul yang sudah menunggunya di bawah. Kini, tinggal Martin seorang diri yang hanya diam tertegun, tak menyangka dengan apa yang diucapkan Sierra. Mencintainya? Seseorang mencintainya? Gumaman pertanyaan terus menggaung di benak Martin. Dia tak pernah merasa dicintai siapapun.


Sopir pribadi Paul, segera menyambar tubuh berantakan Sierra dengan raut panik ketika wanita itu berlari tunggang langgang ke arahnya. Dia pandangi penampilan Sierra dari atas sampai bawah, bingung dengan apa yang terjadi.


“Kenapa bisa begini, Nona?” tanyanya.


Sierra menggeleng, masih ada sisa takut di rautnya. “Antarkan aku pada Paul. Aku ingin menemuinya,”


Sopir itu mengangguk patuh dan setelah membukakan pintu belakang, dia menancap gas sekencangnya. Sierra tak ingin melanjutkan kegiatannya hari ini. Yang ingin dia lakukan hanyalah berada di sisi Paul dan meminta perlindungan darinya, mengingat baru saja seseorang berencana membunuh Sierra dengan jarak yang cukup dekat.


Sesampainya di kantor Paul, Sierra buru-buru naik dan masuk menuju ruang kerja pribadi milik Paul yang terletak di lantai paling atas. Dia buru-buru masuk ke dalam, bahkan dengan sedikit berlari karena masih tersisa perasaan cemas di hatinya. Saat masuk di dalam, betapa kaget Sierra, karena bukannya Paul yang dia lihat, melainkan justru Sophie yang sedang duduk angkuh di kursi kerja milik Paul. Wanita tua itu memutar kursi, untuk menghadap langsung pada Sierra sambil menyilangkan kedua kakinya. Meskipun umur Sophie sudah tak muda lagi, namun penampilannya tetap cantik dan berkulit halus sebagai ciri khas wanita yang terlahir kaya raya.


“Tak kusangka kamu berhasil lolos,” celetuk Sophie, dengan wajah angkuhnya.

__ADS_1


Sierra berdiri mematung, dengan sikap siaga. Sementara Sophie, dia bangkit berdiri dan berjalan perlahan mendekati Sierra. Suara sepatu hak tingginya menimbulkan ketegangan sendiri, yang seakan setiap satu ketukan, bisa menembus jantung Sierra yang berdebar.


“Sepertinya, kamu memang wanita tangguh,” komentar Sophie, berjalan mengitari Sierra. “Sudah sedekat itu, tapi kamu tak terluka sedikit pun,”


“Martin menolongku,” sambar Sierra cepat.


Sophie menautkan alisnya. “Martin memang tak pernah bisa melepasmu. Kamu memang mainannya yang berharga,”


“Dimana Paul?” tanya Sierra cepat, sudah muak dengan segala komentar Sophie.


Bola mata Sophie melebar saat mendengar pertanyaan Sierra. “Paul? Paul? Kamu berani panggil majikanmu dengan namanya? Dasar wanita kurang ajar … “


“Kenapa? Dia akan menjadi suamiku,”


“Jaga bicaramu, ******!” umpatnya. “Apa kamu pikir, pernikahanmu akan bisa berlanjut?” maki Sophie, menunjuk tepat lurus ke depan hidung Sierra.


Sierra memegangi pipinya yang panas dan sedikit perih. Tamparan Sophie kali ini lebih keras daripada tamparan sebelumnya. Maka hati Sierra yang sudah kalut sejak awal, perlahan mulai memberontak membela diri.


“Sekeras apapun usahamu, aku dan Paul akan tetap menikah,” ejek Sierra, menantang balik Sophie, yang kini memerah melihat reaksi berani dari Sierra.


Wanita paruh baya itu bergerak mencengkeram baju Sierra, seakan siap menelannya hidup-hidup.


“Kamu berani menyulut amarahku, ya, Sierra,” ucap Sophie pelan. “Akan kupastikan kamu kembali ke asalmu, di panti asuhan lusuh itu,”


***

__ADS_1


Sejak pagi, pertama kali Karen membuka mata, Martin sudah tak ada di sisinya. Pria itu telah pergi sejak pagi hari, tanpa meninggalkan pesan apapun. Segala kejadian yang menimpanya, termasuk peristiwa di rumah hutan, membuat firasat Karen menajam. Pasti Martin sedang menemui Sierra, di suatu tempat. Kini Karen tinggal sendirian, di dalam apartemen mewah itu, tanpa pengawasan siapapun. Sungguh mudah baginya untuk kabur dan pergi jauh dari kehidupan Martin yang runyam, apalagi kondisi keluarga Willis yang sedang kacau.


Namun nyatanya, Karen memilih mengikuti kata hatinya. Dia tak pergi. Dia masih saja berada di sana, mulai bersiap sembari menyambar sebuah sampel kartu undangan yang semalam telah selesai dicetak. Karen hendak menunjukkan kartu undangan itu pada Martin, setelah mereka pulang dari rumah Sophie. Tapi ternyata kejadian mengejutkan terjadi, yang menyebabkan Karen membatalkan rencananya.


Maka hari ini, Karen memutuskan untuk mengubah rencananya semula. Dia akan tetap pergi, merias dirinya secantik dan seanggun mungkin, demi memanfaatkan seluruh kekayaan yang telah dipercayakan Martin padanya. Dia akan pergi menyerahkan kartu undangan itu pada Ray White, mantan suaminya yang menyedihkan. Karen ingin memberitahu Ray lewat undangan itu, bahwa hidupnya kini baik-baik saja dan bahkan jauh lebih baik. Atau lebih tepatnya, Karen ingin mengetahui keadaan Ray.


Pertemuannya tempo hari bersama Ray, sangatlah tidak menyenangkan. Karen memergoki Ray bersama wanita muda, yang kini setelah dia telusuri, ternyata adalah Kamala Rudi, putri dari konglomerat terkaya kedua di negeri setelah Paul Willis. Melalui detektif suruhannya, Karen tahu jika Kamala hanyalah seorang mahasiswi seni yang diselamatkan Ray dari bunuh diri. Berita dari detektif suruhan Karen itu cukup membuat Karen tenang. Setidaknya Ray tak punya hubungan apapun dengan Kamala.


Akhirnya Karen sampai juga di halaman rumah Ray. Tak seperti awal bulan mereka berpisah, rumah itu kini telah ditumbuhi rerumputan hijau dan bunga-bunga cantik yang bukan kesukaan Karen. Kali ini Karen tak membawa apapun, hanya membawa secarik kartu undangan yang sengaja ingin dia berikan sendiri pada Ray. Dia memencet bel rumah, dan seorang wanita muda membuka pintu dengan wajah sipitnya yang cerah. Kamala?! Batin Karen.


“Nona Karen?” tanya Kamala sedikit terkejut.


Karen melepas kacamata hitamnya. “Permisi, apakah aku bisa bertemu dengan Ray?” tanya Karen ragu.


“Ray … Maksudku Om Ray, sedang bekerja di kantornya,” jawab Kamala salah tingkah.


Hati Karen tersentil saat mendengar Kamala memanggil nama Ray begitu saja, selayaknya dua orang yang akrab. Padahal, mereka terpaut jarak usia sepuluh tahun yang harusnya membuat Kamala segan berada di dekat Ray.


“Bekerja? Ray sekarang sudah bekerja?”


Kamala mengangguk, sedikit tersinggung dengan respon Karen. “Ada yang bisa kubantu, Nona Karen?” tanya Kamala.


Karen tersenyum simpul, lalu menarik nafas seakan mempersiapkan diri untuk membuuka mulutnya.


“Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini?” tanya Karen setelah cukup lama ragu. “Apa hubunganmu dengan mantan suamiku?”

__ADS_1


__ADS_2