
“Apa yang Ibu lakukan di sini?! Seharusnya Ibu malu, selalu datang tanpa izin ke rumah anaknya yang sudah menikah!” maki Martin, sudah tak bisa membendung emosinya.
Martin tak peduli dengan wanita cantik bak model yang dibawa ibunya. Dia lebih memilih untuk menjaga perasaan Karen, yang kini tertunduk malu dengan badan setengah tanpa busana.
“Pergi dari sini,” usir Martin, sedikit merendahkan nada bicaranya agar tak menyinggung Sophie.
Sophie menautkan alias, sedikit terkesima dengan penolakan kasar dari Martin. Meskipun Martin dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan tak mengenal belas kasihan, tapi dihadapan Sophie, Martin tak pernah bisa berkutik.
“Kamu mengusir Ibu?” tanya Sophie.
Martin tak mengangguk, dan memilih untuk memusatkan perhatiannya pada Karen.
Sophie melemparkan ponselnya ke arah Martin. Dan di sana, Martin bisa melihat sebuah tajuk artikel yang membuat hatinya mencelos.
POTRET BAYI KONGLOMERAT PEWARIS TUNGGAL WILLIS GROUP, KAYA SEDARI LAHIR
“Kamu lihat, kan? Wanita murahan yang dulu kamu bela, ternyata bisa licik juga,” seloroh Sophie saat Martin mengembalikan ponselnya.
Wajah Martin pucat pasi setelah membaca judul artikel online itu.
“Dia sengaja memanggil wartawan untuk membuat artikel ini. Apa dia lupa, masih ada Martin Willis sebagai anak pertama Paul?” omel Sophie, ikut tak terima saat membaca artikel itu.
Meskipun dalam hati sedang tertawa terbahak-bahak, karena berhasil memerangkap Martin ke dalam jebakannya. Tentu saja, artikel itu dibuat sendiri oleh Sophie, atas kerjasamanya dengan wartawan media online paling bereputasi tinggi. Dia sengaja membuatnya, agar Martin mau mempertimbangkan mencari istri baru demi membalas Paul dan Sierra.
“Sebaiknya Ibu pergi … “ gumam Martin, sangat lirih dan dengan wajah yang masih tampak syok.
“Tapi Martin, kita harus … “
“PERGI!!” bentak Martin, sangat keras hingga Sophie terbujur kaku karena kaget.
Maka karena tak menyukai nada tinggi di sekitarnya, Sophie memilih untuk mengalah. Bersama Petrina, dia pergi dari apartemen Martin dengan hati dongkol dan tak mau berpamitan.
Setelah Sophie pergi, Martin segera duduk di sofa terdekat, sambil memegangi kepalanya yang mendadak sakit. Karen buru-buru menghampiri Martin.
“Ada apa?” tanya Karen cemas.
Martin mencengkeram kepalanya, depresi luar biasa. “Aku tidak tahu, kenapa semuanya begini,”
“Ada apa, Martin? Ceritakan padaku,” Karen terus mendesak.
Martin tiba-tiba mengguncang bahu Karen. “Aku sangat menyayangi Sierra, Karen! Kenapa dia tega melakukan ini padaku?” seru Martin, dengan mata yang memerah, bercampur antara tangis dan emosi.
Karen tidak mengerti, kenapa Martin di satu sisi sangat terobsesi padanya, namun di sisi yang lain juga seakan enggan merelakan Sierra. Namun dia tidak ingin memperkeruh keadaan. Dia memilih diam dan membiarkan Martin meluapkan emosinya.
__ADS_1
“Aku sudah membiarkannya menikah dengan Paul, tapi kenapa dia tega ingin menghancurkanku?” gumam Martin.
Karen masih diam, terus mengelus punggung Martin.
Tiba-tiba pria itu berdiri, dengan sorot mata yang menajam.
“Aku harus pergi!” serunya.
“Kamu mau kemana?”
“Aku harus menemui Sierra. Aku harus menanyakan apa motifnya yang sebenarnya,” Martin bergegas menyambar kunci mobilnya, kemudian sedikit berlari menuju pintu keluar.
Karen buru-buru mencegah Martin, dengan menahan lengan pria itu.
“Untuk apa lagi?” protes Karen. “Bukankah hubungan kalian sudah berakhir?”
“Hubungan?” Martin mengerutkan kening. “Memangnya, apa hubunganku dengan Sierra?”
“A-aku tidak tahu, dan harusnya aku yang bertanya!” Karen heran dengan respon Martin. “Kenapa kamu sangat terobsesi padanya?”
Martin menarik nafas panjang, mulai sadar akan maksud pembicaraan Karen. Lalu dia sedikit mengulaskan senyum, setelah sebelumnya dikuasai amarah yang seakan bisa membakar kepalanya.
“Karen, Sayang, tidak ada apa-apa antara aku dan Sierra. Tapi aku tetap harus menemuinya,”
“Aku tahu dia sengaja mengadu domba kamu dan Martin. Tapi kurasa berita ini justru menguntungkanmu,” Ray menyodorkan sebuah artikel online pada Sierra.
POTRET BAYI KONGLOMERAT PEWARIS TUNGGAL WILLIS GROUP, KAYA SEDARI LAHIR
Sierra mengerutkan kening setelah membaca judul artikel online tersebut.
“Aku tidak mengerti. Kenapa dia mau sampai sejauh ini?”
Ray menyeruput minumannya, santai. Sore ini dia sengaja meluangkan waktunya setelah bekerja, untuk menemui Sierra sekaligus memberi ucapan selamat karena telah melahirkan.
“Seperti katamu, Martin menganggapmu sebagai mainannya yang berharga. Dan Martin tak mungkin mencelakaimu. Dengan berita ini, aku yakin dia akan mengira jika kamu ingin anakmu merebut warisan Paul,”
“Sophie benar-benar wanita licik … “ umpat Sierra lirih, sambil menggigit bibirnya, dongkol.
“Dia tidak mungkin menduduki posisi istri sah Paul Willis, jika dia wanita bodoh, Sierra,” komentar Ray, dengan senyum mengembang.
Semenjak menikah dengan Paul, Sierra memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk meminta pendapat Ray. Apalagi setelah tahu tentang asal usul Ray yang sebenarnya, dimana dia berasal dari keluarga White yang berbisnis halal dan haram secara bersamaan, maka Sierra yakin jika Ray bisa diandalkan.
“Dugaanmu benar,” ucap Sierra, menunjukkan ponselnya pada Ray.
__ADS_1
Nama Martin tertera di sana, sedang memanggil. Sierra berusaha menjaga sikapnya, meski dalam hati ada sedikit rasa senang saat Martin akhirnya mau menghubungi.
“Dimana kamu?” sambar Martin, tanpa berucap salam.
“Ada apa, Martin?”
“Jangan bohong padaku. Aku tahu kamu sedang diluar. Aku akan ke sana sekarang,”
Klik. Martin menutup sambungan begitu saja. Sierra melonjak kaget, menjauhkan ponselnya dengan sedikit sumpah serapah.
“Ada apa?” tanya Ray heran.
“Dia … dia benar-benar gila,” gumam Sierra. “Dia menyadap ponselku, dan aku selama ini tak menyadarinya,”
Ray spontan mengecek ponsel Sierra, beberapa saat untuk kemudian mendecakkan lidah.
“Kupikir dia hanya terobsesi pada Karen … “ komentar Ray, setelah berhasil menghapus penyadap dari ponsel Sierra.
"Dia benar-benar pria brengsek," Ray mengumpat lirih, dengan pandangan nanar ke sembarang arah.
"Sierra … "
Suara seseorang sedang memanggil Sierra, yang secara spontan membuat Sierra dan Ray menoleh ke arah sumber suara. Martin sedang berdiri tak jauh dari mereka.
Pria itu tampak marah, lalu melaju kencang menghampiri Ray dan menarik kerah baju Ray yang akhirnya terpaksa berdiri. Mata Martin melotot tajam, hendak keluar mencakar wajah Ray andai saja modalnya tidak berjalan dengan baik.
"Kau … " hardik Martin. "Tak puas hanya menggoda Karen, kini kau menghasut Sierra?!"
Ray tersenyum enteng, dan membiarkan Martin menarik kerah bajunya.
"Kenapa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri? Siapa yang sebenarnya korban?" seloroh Ray.
"Brengsek … "
Buak!!
Martin meninju pipi Ray dengan kepalan tangannya yang mengeras. Tubuh Ray terpelanting, menabrak kursi yang berhamburan jatuh tak kuat menopang daya. Kemudian Ray meringis memegangi sudut bibirnya yang luka.
"Selain tak punya hati, kau juga tak punya otak hingga yang bisa kau lakukan hanya kekerasan," sindir Ray dengan senyum sinis yang makin mendidihkan darah Martin.
Martin ingin sekali lagi meninju Ray, namun pria itu dengan cepat menghentikan laju tangan Martin.
"Kau berurusan dengan orang yang salah, Martin Willis. Sebentar lagi kau akan kehilangan segalanya,"
__ADS_1