Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Menekan Karen


__ADS_3

“I-Ibu … “ Karen terbata, memandangi sosok Sophie yang tengah berdiri di depan pintu masuk apartemennya, memasang wajah kesal.


Tanpa permisi, Sophie menerobos masuk begitu saja, tak peduli akan Karen yang bisa saja enggan menerima kedatangannya. Sophie merasa berhak datang dan masuk kapanpun dia mau ke apartemen putranya, Martin. Meski Martin kini telah menikah, Sophie tetap merasa memiliki hak.


Wanita tua itu mengedarkan pandangannya mengitari seluruh sudut apartemen mewah itu, untuk kemudian menghembuskan nafas keras. Dia kembali memasang muka kesalnya, namun kali ini sambil mengarahkan mata tajam pada Karen.


“Kenapa password rumah ini diganti?” protes Sophie.


Karen sebenarnya tahu apa yang harus dia jawab, namun tentu akan menyinggung Sophie.


“Ibu mau kubuatkan minum?” Karen berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dua hari lalu, sejak kejadian anjloknya saham perusahaan inti milik Paul Willis berkat gosip murahan yang disebar Sophie, kini Sophie seratus persen menjadi pemenang. Paul tak akan pernah berani mengusik statusnya sebagai istri pertama, dan Paul juga bebas melangsungkan pernikahan bersama Sierra.


Dan setelah berhasil hampir saja menggagalkan kebahagiaan Paul dan Sierra, Sophie sekali lagi berulah, dengan ikut campur dalam keluarga anaknya. Wanita itu sengaja datang ke kediaman Martin, untuk mengecek seperti apa Karen sebenarnya.


“Apa kamu membantu Sierra menyiapkan pesta pernikahannya?” tanya Sophie, ketika Karen sedang sibuk di dapur menyiapkan minuman untuknya.


Karen hanya mengangguk, kembali sibuk. Kemudian Sophie berjalan mendekati Karen, dengan lirikan penuh maksud.


“Aku ingin kalian tinggal bersamaku, setelah pernikahan Paul,” pinta Sophie, tersenyum merayu.


Karen masih terdiam, menatap pias minuman dan makanan ringan yang akan dia hidangkan pada Sophie.


“Saya akan berdikusi dulu dengan Martin, Ibu,” jawab Karen setelah lama berpikir.


Sophie menautkan alisnya. “Kamu tahu, aku tinggal sendirian di rumah besar itu,” ucap Sophie. “Setiap hari aku sendirian, dan kini suamiku menikah lagi,”


Sophie mengambil minuman yang dihidangkan Karen, lalu berseru takjub karena rasanya yang enak. Dia bahkan juga sekali lagi berseru, ketika menyicip kue buatan Karen.

__ADS_1


“Tak kusangka kamu sangat pandai memasak, Karen,” komentar Sophie bangga. “Martin benar-benar tak salah memilih istri,”


Karen sedikit tersipu malu, namun sebisa mungkin dia sembunyikan. Dia tidak ingin terlalu gegabah mempercayai Sophie, mengingat segala kelicikan luar biasa yang Sophie lakukan pada Sierra. Yang Karen tahu, Sophie bukanlah wanita tua biasa.


Karen mengajak ibu mertuanya itu untuk duduk bersama di sebuah sofa panjang nan empuk yang menghadap langsung pada jendela besar di bagian tengah ruangan. Mereka bisa melihat gedung-gedung pencakar langit melalui jendela itu.


“Tapi aku tak pernah tahu keluargamu, Karen,” ujar Sophie tiba-tiba. “Apa mereka tahu, anaknya telah berganti suami?”


Karen menelan ludah, sedikit tersinggung dengan pertanyaan Sophie.


“Mereka sudah tahu, Ibu,” jawab Karen seramah mungkin.


“Kenapa kamu tidak mengenalkan mereka padaku?” tanya Sophie heran, dengan rautnya yang tampak tulus.


Karen tersenyum. “Nanti saya pasti akan mengenalkan keluarga saya pada Ibu,”


Bukannya mengangguk mengiyakan, Sophie justru mengangkat alisnya. Dia lagi-lagi memandangi Karen dari atas sampai bawah, persis seperti pandangannya saat mereka berdua pertama kali bertemu.


Karen mengamini, sekali lagi tersenyum. Namun senyuman Sophie bukanlah senyum tulus seperti saat mereka membahas tentang orang tua Karen. Senyumnya berubah licik, sedikit mencibir dengan matanya.


“Martin pasti sudah memberitahumu, kan? Tentang apa saja tugas seorang menantu keluarga Willis?”


“Tugas apa, Ibu?” tanya Karen heran. Baru kali ini dia mendengar tentang tugas seorang menantu keluarga Willis.


Sophie melipat kedua tangan di depan dada. “Kamu harus bisa memberikan keturunan untuk Martin,” jawab Sophie. Dia lirik Karen dengan seringaian penuh ancaman. “Secepatnya,”


Karen kembali menelan ludah, tegang luar biasa. Tak disangka, berdua saja bersama Sophie bisa menimbulkan efek intimidasi separah ini. Karen menggenggam erat gelas yang perlahan kosong, menggerakkan jarinya untuk menyembunyikan gugup.


“Jangan kecewakan aku, ya,” Ucapan Sophie terdengar penuh ancaman, meski nadanya tampak normal.

__ADS_1


Karen tak pernah tahu jika hamil adalah sebuah tuntutan, sebelum dia menikahi Martin. Saat bersama Ray, mereka cukup lama mendambakan kehadiran seorang anak, hingga sampai pada titik putus asa dan membiarkan semua mengalir apa adanya. Namun saat bersama Martin, dia tak menyangka jika dia dituntut harus segera hamil.


Sophie bangkit berdiri, dan berjalan masuk ke dalam kamar pribadi Martin dan Karen. Tampak raut sedikit terkejut di wajah Karen, namun dia tak bisa berbuat banyak karena Sophie sudah berada di dalamnya.


Sekali lagi wanita tua itu mengedarkan pandangan mengamati segala sudut, hingga pada lemari gantung tempat dimana gaun malam milik Karen berada.


Sophie mengangkat salah satu gaun, untuk kemudian memandang jijik dan membuangnya ke sembarang arah. Karen yang merasa sangat malu buru-buru mengambil gaun itu, dan dia letakkan agak jauh dari jangkauan Sophie.


Gaun malam merupakan privasi bagi semua pasangan, dan memang tak sepantasnya Sophie menggeledah tanpa izin. Meskipun itu adalah milik anaknya sendiri.


“Kalian memakai semua ini?” tanya Sophie masih dengan pandangan jijik.


Tapi dari sudut pandang Sophie, yang tentu tak dapat dimengerti oleh siapapun, sebenarnya dibalik tatapan jijiknya itu dia menyimpan perasaan marah tersendiri. Perasaan marah itu justru bukan untuk Karen, melainkan pada Sierra. Saat melihat gaun-gaun malam itu, Sophie mulai membayangkan Paul dan Sierra menghabiskan malam bersama, dan itulah yang membuatnya jijik.


“Wanita miskin itu aku pungut dari panti asuhan kumuh, kuberi uang untuk makan dan sekolah, sampai kuberi pekerjaan elit hingga dia bisa membersihkan kemiskinan dari tubuhnya,” ujar Sophie tiba-tiba. “Tapi sekarang, dia dengan lancang mencoba menjatuhkanku dari tahta,”


Karen tahu untuk siapa kemarahan Sophie itu ditujukan. Siapa lagi kalau bukan Sierra May, wanita yang sebentar lagi akan jadi istri kedua Paul Willis.


“Makanya aku selalu membenci wanita miskin,” imbuh Sophie. “Wanita miskin yang mendandani dirinya untuk menjadi wanita papan atas. Padahal, kemiskinan itu tak akan pernah pergi dari wajahnya,”


Karen hanya diam, tak ingin menimpali. Dia tak merasa sekaya Sophie, hingga dia berhak untuk ikut berkomentar.


Setelah puas mengobrak-abrik isi kamar pribadi Martin dan Karen, Sophie yang mulai bosan, bergegas keluar dari kamar itu. Dia sambar segelas air putih yang terhidang di atas meja makan, dengan nafas tersengal setelah menumpahkan emosinya.


“Kamu pasti tahu siapa aku, kan?” tanya Sophie, berjalan penuh intimidasi mendekati Karen.


“Aku tak akan membiarkan kerikil menghalangi rencanaku,” ucap Sophie, berdiri berhadapan dengan Karen dalam jarak dekat.


“Pastikan kamu segera hamil dan menghasilkan keturunan untukku, Karen,” pinta Sophie. “Atau … “ Dia mengelus bahu Karen yang menegang sejak awal Sophie datang.

__ADS_1


“Aku akan menendangmu keluar dari hidup anakku,”


__ADS_2