
“T-tolong, selamatkan aku … “ mohon wanita muda itu, yang terus saja bergelantung.
Ray telah berusaha menariknya. Namun telapak tangannya mendadak berkeringat, yang menyebabkan susah untuk menarik tangan wanita itu. Ray yang panik buru-buru mencari akal, supaya tangannya lebih kesat dan mudah. Dengan berbagai cara, seperti menggosok pada jaket yang dia kenakan, akhirnya wanita itu berhasil ditarik sekuat tenaga.
Ray yang telah kehabisan tenaga tergeletak sembarangan di trotoar, dengan nafas memburu yang sangat keras terdengar. Wanita muda yang wajahnya pucat pasi itu memandangi Ray penuh syukur, meski tubuhnya masih gemetaran. Wanita itu pelan-pelan mendekati Ray yang masih terbaring membentangkan kedua tangan.
“Terima kasih, ya,” ucap wanita itu.
Ray melirik wanita itu sekilas. Kemudian dia dengan cepat bangkit duduk, menatap wanita itu kesal.
“Apa yang kamu pikirkan, hah? Bisa-bisanya kamu mau bunuh diri?!” bentak Ray. “Harusnya hari ini aku yang bunuh diri, bukan kamu!”
Wanita itu terbengong mendengar ucapan terakhir Ray. Dia yang semula pucat pasi, sedikit menghangat. Semburat kemerahan mulai nampak dari wajahnya yang sipit.
“Jadi … kamu juga mau bunuh diri?” tanya wanita itu perlahan, karena takut menyinggung Ray.
Ray mengangguk. “Kenapa minta tolong kalau niat mau bunuh diri?” tanya Ray yang berbalik keheranan.
Wanita itu tersenyum canggung. “Ternyata … aku takut ketinggian,” jawabnya pelan.
Membuncahlah tawa Ray, sekerasnya seakan tak peduli lagi dengan tatapan orang-orang sekitar pada mereka berdua. Wanita itu, yang semula malu-malu, mulai ikut tertawa, menertawai kebodohannya sendiri.
Setelah puas tertawa, Ray kembali melirik wanita muda yang enggan untuk pergi. Dia terus saja menunggui Ray yang masih saja duduk di trotoar. Bahkan wanita itu ikut berjongkok hanya demi bisa mengimbangi posisi Ray. Wanita muda bermata sipit dan berpipi merah itu tiba-tiba melepas jaket tebal warna merah yang ia kenakan, untuk kemudian diberikan pada Ray.
“Apa ini?” tanya Ray, memegangi jaket itu bingung.
“Sepertinya kamu kedinginan,” jawabnya dengan pipi bersemu merah.
Ray tersenyum tipis. “Berapa usiamu?”
“Kenapa?”
“Berapa?” tanya Ray sekali lagi.
“22,” jawab wanita itu, berusaha untuk tetap tampak tenang.
__ADS_1
Ray kembali tertawa. “Ternyata kamu sepuluh tahun lebih muda dariku, ya? Kenapa kamu mau bunuh diri?”
Wanita itu menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinga, sedikit manyun. “Bukan urusan Om,”
“Om?!!” Ray memberi penekanan pada nama panggilan wanita itu padanya. “Aku belum setua itu,” protes Ray.
Wanita itu tampak tersenyum tipis, yang bahkan Ray pun tak menyadarinya. Kemudian Ray serta merta memakai jaket tebal pemberian si wanita, dan meskipun kekecilan, Ray tak berniat melepasnya.
“Ini kuanggap sebagai ucapan terima kasih,” kata Ray. “Kamu … secara tidak langsung mencegahku mengakhiri hidupku yang sangat berharga ini,” kelakar Ray.
Setelah itu, dia melambai pergi, balik badan hendak meninggalkan si wanita. Namun, wanita itu tiba-tiba berseru hingga menghentikan langkah Ray. Pria itu mau tak mau memutar kembali tubuhnya ke belakang.
“B-boleh aku tahu siapa namamu?” tanya wanita itu terbata-bata.
Ray tersenyum lepas. “Apa maumu, Anak Kecil?” tanya Ray pongah.
Melihat reaksi Ray yang menyebalkan, membuat wanita itu merengut dan buru-buru berlari pergi menahan malu. Ray terus tersenyum, memandang nanar punggung wanita muda itu, mulai sedikit terbawa ke masa lalunya saat dia baru saja mengenal Karen. Semua terasa begitu cepat nan indah. Dan kini kenangan itu tinggallah memori usang, yang bahkan mungkin telah menguap dari ingatan Kare.
Belum saja Ray hendak benar-benar pergi setelah puas melamun, dari kejauhan Ray bisa melihat wanita muda yang tadi tampak lari tergopoh-gopoh, lurus ke arah Ray berdiri. Lamat-lamat Ray makin bisa melihat wajah merahnya yang cemas dan ketika jarak mereka telah dekat, wanita itu tiba-tiba melompat menerkam Ray dan bersembunyi di balik punggungnya.
Tak sempat menjawab, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba terparkir paksa di samping Ray, dan dua bodyguard besar serta seorang pria paruh baya turun cepat dari sana. Wanita itu makin mencengkeram baju belakang Ray, mencari perlindungan. Ray yang bingung hanya bisa melongo seperti orang bodoh, ganti-gantian menatap orang-orang itu.
“Kamala, ayo pulang!” seru si pria paruh baya, yang sepertinya adalah ayah dari si wanita muda.
“Nggak, Pa. Aku nggak mau,” tolak Kamala.
Bukannya segera keluar dari balik punggung Ray, Kamala justru makin meringkuk. Dua bodyguard besar itu tampak ingin segera mengambil Kamala, namun si pria paruh baya mencegah.
“Kamala, Papa janji nggak akan memarahimu,”
“Papa bohong!”
Melihat Kamala yang keras kepala, perhatian pria paruh baya itu justru teralih pada sosok Ray yang dengan linglung berdiri di depan Kamala. Ekspresi si pria tua berubah marah, melotot tajam ke arah Ray.
“Jadi kamu, pacar Kamala?!!” bentak si pria tua. “Kurang ajar, ya! Berani-beraninya kamu memperdaya gadis muda!”
__ADS_1
Dua bodyguard itu tanpa ampun memukuli badan Ray, yang hatinya telah remuk. Ray melolong membela diri, tapi tampaknya mereka tak mau dengar. Tanggung untuk menghentikan perkelahian, karena sedang dalam fase sengit. Tubuh Ray seakan bagaikan samsak bagi dua bodyguard haus darah itu.
“Hentikan, Pa! Hentikan!” teriak Kamala, tiba-tiba maju melindungi tubuh Ray.
Wanita muda yang berjarak usia sangat jauh dari Ray itu dengan berani menghalau bogem-bogem mentah yang akan melayang ke arah Ray. Wanita nekat yang bisa saja terkenal pukulan ganas para bodyguard gila.
“Dia yang menyelamatkanku! Dia menyelamatkanku dari bunuh diri, Pa!” teriak Kamala membabi buta. Kali ini dia memeluk tubuh lemah Ray yang babak belur.
“Aku mencintainya!”
* * *
Ray membuka mata hanya untuk menyadari jika seluruh tubuhnya nyeri dan lebam di setiap sisi wajahnya. Di kiri kanan nampak ruangan berwarna putih, selang infus dan layout umum yang biasa ada di kamar rumah sakit kelas VIP. Namun saat Ray melirik ke kanan, dia bisa melihat Kamala yang duduk dengan tatapan cemas ke arahnya.
“Om sudah bangun?” seru Kamala senang.
Kamala segera mengatur tinggi ranjang Ray agar pria itu bisa duduk sambil merebahkan tubuhnya.
“Apa aku pingsan semalam?” tanya Ray bingung.
“Om kebanyakan meminum alkohol, dan maaf … babak belur karena ulah pengawal papaku,” jawab Kamala penuh penyesalan.
Ray meringis. “Berhenti memanggilku ‘Om’,”
Kamala ikut meringis. Wajahnya yang kemerahan makin memerah, namun dia segera mengalihkannya dengan memberikan senampan buah apel yang sudah dikupas pada Ray.
“Sudah bangun, Ray White?” tegur pria paruh baya yang semalam dipanggil Papa pada Ray.
Dia tiba-tiba masuk dan kali ini didampingi seorang wanita yang tampak seperti istrinya. Wajah wanita itu sangat mirip dengan Kamala.
“Aku Rudi Bruggman, dan ini istriku Jena,” Pria itu memperkenalkan diri pada Ray.
“Tindakan kalian berdua memang salah. Tapi karena setelah melihat background-mu yang luar biasa, kami setuju menikahkan kalian berdua,”
Tanpa sadar Ray menjatuhkan garpu kecil yang dia pegang, bersamaan dengan sepiring penuh apel yang dikupas Kamala. Mulutnya menganga lebar, kepalanya pusing, dan hal-hal yang baru saja dia dengar terdengar seperti angin topan yang bergemuruh keras. Apa yang terjadi?
__ADS_1