
(Lima hari sebelum kejadian pengancaman Sierra)
Martin tergeletak lemas tak berdaya, setelah menggagahi Karen selama dua babak malam ini. Dia tertidur, di samping Karen yang hanya ngos-ngosan, namun masih cukup mampu untuk sekedar ke kamar mandi dan mengenakan kembali piyamanya dengan rapi. Karen menatap pias wajah Martin yang tertidur di sampingnya, dengan pikiran mengambang tak menentu. Seperti yang selalu diulang-ulang oleh Martin, dia adalah suami Karen. Mereka berdua adalah pasangan yang saling mencintai, dan tak bisa terpisahkan.
Doktrin itu selalu ditancapkan ke dalam sugesti Karen sepanjang mereka menghabiskan akhir pekan bersama, sembari Karen tak pernah absen meminum kapsulnya. Namun, entah kenapa, di dalam lubuk hatinya, Karen tak merasa senang. Hati kecilnya meminta untuk selalu waspada saat berada di samping Martin, sang suami.
Karena tak bisa tidur, Karen memutuskan menjelajah kamar besar mereka yang berukuran 5x9. Karen meneliti ke setiap sudut, membuka setiap laci, namun dia tak menemukan hal menarik selain pakaian-pakaian merk mewah miliknya. Dia berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membantunya menemukan benda yang bisa memulihkan ingatannya, namun tak ditemukan satu pun. Rumah mewah super besar itu terasa dingin dan hampa, meski dari luar membuat siapapun takjub.
Tapi di tengah-tengah pencariannya, ada sebuah laci yang mencolok, karena diantara banyaknya laci-laci yang berwarna keemasan mewah, laci itu justru berwarna kuning pucat. Karen melongokkan kepalanya mengintip Martin, jaga-jaga jika pria itu terbangun. Namun sepertinya energi Martin sudah terkuras habis oleh permainannya sendiri, maka Karen merasa aman untuk mendekati laci itu.
Dalam sekali tarikan, laci itu langsung terbuka tanpa usaha. Namun di dalamnya tampak tak ada apapun, dan Karen yang putus asa hanya bisa meraba-raba dengan putus asa.
“Apa ini?” bisik Karen pada dirinya, dengan mata melebar, saat telapak tangannya tak sengaja merasakan sesuatu yang ganjil dari permukaan dalam laci yang kosong.
Karen terus meraba dan meraba, hingga akhirnya dia menemuka fakta jika ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Sepertinya laci itu memang didesain untuk mempunyai semacam kamuflase agar mengecoh orang-orang. Ketika Karen membuka dengan sangat pelan permukaan yang menutupi, terkejutlah ia saat melihat sebuah pistol hitam kecil dengan beberapa peluru di sampingnya.
Karen menganga, terkejut luar biasa. Dia lalu kembali mendongakkan kepala untuk memastikan Martin masih berada di ranjangnya. Bergegaslah Karen mengambil pistol dan peluru itu, menyimpannya di balik piyama. Dia kembali menutup laci setelah menatanya seperti sedia kala. Karen yang panik dengan cepat menyembunyikan pistol itu dibalik tumpukan baju-baju miliknya.
* * *
Setelah makan malam penuh ketegangan berdua saja dengan Sierra, Karen memutuskan kembali naik ke kamarnya. Malam ini. Ya, tak ada waktu lagi, karena Karen harus segera pergi dari rumah ini dan menemui Ray. Maka malam ini, mau tak mau, dia harus merealisasikan rencana besarnya. Dia akan mengancam Sierra menggunakan pistol milik Martin yang tak sengaja dia temukan di laci.
Selama beberapa hari Karen telah mengamati kebiasaan Sierra selama tinggal bersamanya. Wanita itu akan membereskan rumah setelah makan malam, kemudian mandi dan beristirahat di kamarnya yang terletak di lantai bawah. Karen tak buru-buru menemui Sierra, karena dia harus dengan sabar menunggu sekitar tiga puluh menit hingga Sierra selesai dengan pekerjaannya dan beranjak mandi.
Setengah jam kemudian, Karen yang mengintip dari lantai atas bisa melihat Sierra yang menuju kamarnya sendiri untuk mandi. Karen menyembunyikan pistol itu dibalik piyama, dan pelan-pelan tanpa suara menuruni satu persatu anak tangga. Dia menempelkan daun telinganya ke pintu kamar Sierra, dan setelah mendengar suara aktivitas Sierra di kamar mandi, Karen tanpa ragu segera masuk ke dalam pintu Sierra. Dia tak lupa mengunci pintu itu.
__ADS_1
* * *
“Ceritakan semuanya, atau kutembak kepalamu,” ancam Karen lirih, mengarahkan pistol tepat ke pelipis Sierra yang sedang tidur.
Jantung Sierra seakan melompat dari tempatnya, kaget luar biasa. Refleks dia mengangkat kedua tangannya, dengan nafas tercekat yang tanpa dia sadari, dia telah menahan nafasnya.
“Duduk!” bentak Karen, tetap mengacungkan pistolnya.
Sierra menurut karena tersudut, mulai bangkit perlahan-lahan demi tak membuat Karen marah dan tak sengaja menarik lepas pelatuk pistolnya.
“A-apa yang Nona inginkan?” tanya Sierra ketakutan.
“Aku tak akan menyakitimu, selama kamu bisa terus terang padaku,”
Sierra takut-takut melirik Karen, yang meski hanya sekilas, dia bisa melihat Karen tampak diselimuti kemarahan dan putus asa.
Karen melotot tajam, tak gentar bahkan sama sekali tak bergetar meski dia sedang mengarahkan pistol sungguhan tepat ke kepala Sierra.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku di sini?”
“Seperti yang sudah pernah dijelaskan Tuan Martin … “
“Dimana Ray?” sela Karen cepat. “Dimana Martin sembunyikan suamiku, Ray?” cecar Karen.
Mata Sierra melebar, saat dia mulai sadar bahwa Karen telah mendapatkan kembali memorinya yang hilang. Mendadak Sierra tergagap, tanpa dia sadari. Bola matanya bergetar, kaget luar biasa. Dia pikir, Martin telah merencanakan semuanya dengan matang. Dia pikir Karen akan terjebak di sini selamanya.
__ADS_1
“Nona … apa maksud … “
“Jangan panggil aku Nona!!” teriak Karen, membentak tepat di sebelah kuping Sierra.
Bahu Sierra melompat naik, tak menyangka Karen akan berteriak selantang itu.
“Aku tahu kamu mengenalku sebelumnya, dan aku tahu kamu sekretaris Martin, bukan pembantunya. Kumohon berhentilah berpura-pura, Sierra … “
Sierra menggigit bibirnya, malu luar biasa setelah Karen menguliti kebohongannya bersama Martin. Namun dia tak bisa berbuat apapun, dengan Karen yang memegang senjata dan mereka berdua terjebak di tengah hutan.
“Sierra, kumohon. Aku hanya ingin kamu mengatakan dimana Ray,” ucap Karen putus asa. “Aku akan menurunkan pistol ini jika kamu mau bekerja sama,”
Sierra tak bergeming.
“Sierra, kumohon, aku merindukan suamiku. Jika kamu tahu rasanya mencintai seseorang, harusnya kamu tahu perasaanku … “ rengek Karen, berusaha meluluhkan hati keras Sierra.
Karen tahu Sierra tak akan luluh begitu saja, karena loyalitasnya pada Martin begitu besar. Maka hanya cara kekerasan dengan membawa senjata seperti inilah, satu-satunya jalan agar Sierra mau buka suara.
“Karen, maafkan aku … “ Pelan-pelan Sierra bangkit berdiri, dengan dua tangan yang masih diangkat di udara.
Karen terus waspada, semakin kuat mengarahkan pistolnya pada Sierra. Dia mengikuti langkah kaki Sierra, yang sengaja ingin berhadap-hadapan dengannya.
“Maafkan aku karena telah membohongimu. Tapi kamu tahu siapa aku, dan juga siapa Martin,” ucap Sierra. “Kami … tak akan menyerah begitu saja,”
Dengan gerakan secepat kilat, Sierra berhasil membalik keadaan, dan entah bagaimana, pistol itu kini sudah ada di tangan Sierra. Karen kelimpungan, namun Sierra yang tersenyum puas mulai mengarahkan pistol itu pada Karen.
__ADS_1
“Aku tahu, seseorang sepertimu tak mungkin pernah memegang senjata,” ucap Sierra penuh kemenangan. “Dan sekarang kamu kalah,”