Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Mengaku Padaku


__ADS_3

Pelan-pelan Karen mulai mengamati alat tes kehamilan yang baru saja dia gunakan, dan dalam hitungan detik, alat tersebut akan memberikan jawaban. Dan seperti yang selalu terjadi bertahun-tahun, alat tes itu terus saja menunjukkan garis satu berwarna merah tegas. Tegas hingga bisa menyayat hati Karen puluhan kali.


Karen menunduk dalam, duduk di toilet sambil mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Apa yang salah dengannya? Begitu tanya penuh tuntutan Karen kepada dirinya sendiri.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Martin mengetuk pintu kamar mandi, karena Karen telah berada di toilet hampir sejam lamanya.


Karen buru-buru membuang hasil test pack itu, dan segera membuka pintu agar tak menimbulkan kecurigaan Martin. Pria itu mengerutkan kening saat melihat wajah Karen yang pucat.


"Kamu sakit?" tanya Martin khawatir.


Karen menggeleng, berusaha tersenyum normal. "Aku hanya sedikit sakit perut," jawab Karen, bergegas meninggalkan toilet agar Martin tak lagi mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


Saat Karen telah pergi, Martin diam-diam masuk ke dalam toilet itu dengan pandangan nanar ke dalam tempat sampah di samping toilet. Meskipun tak berucap apapun, Martin sangat tahu apa yang terjadi. Hasil negatif itu selalu sama, dan Karen mati-matian menyembunyikan hasil itu dari Martin.


Ponsel Martin berdering, dimana dia menerima satu pesan masuk dari Sophie agar Martin segera menyalakan TV. Martin berseru, tak mengindahkan pesan itu dan malah balik arah untuk berganti pakaian setelah seharian bekerja. Namun dari arah kamar mereka, Karen berlari menghampiri Martin dan menunjukkan layar ponselnya.


Sebuah tajuk berita artikel, dimana Sierra telah melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi calon penerus kerajaan bisnis milik Paul. Diluar dugaan, Martin justru menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Dasar Pak Tua itu … sengaja tidak memberitahu kita semua," komentar Martin.


"Mungkin ayahmu takut terjadi keributan?" tebak Karen, berusaha hati-hati memilih kata-katanya.


Martin tertawa. "Maksudmu, Pak Tua takut ibuku akan mengamuk?"


Karen hanya angkat bahu, takut menyinggung Martin. Namun suaminya itu justru makin tertawa, sambil mengembalikan ponsel Karen.


"Aku tahu ibuku gila. Tapi dia tidak pernah keluar tanpa rencana,"


***


Paul menimbang bayi merah dalam dekapannya, menggoyangkan bayi itu sepelan mungkin, supaya tak terbangun. Dia terus menerus tersenyum, bergantian memandangi Sierra dan bayi mungil itu dengan tatapan penuh rasa syukur. Kemudian Paul mengelus lembut rambut Sierra, penuh rasa sayang.


"Terima kasih, Si," ucap Paul pelan. "Aku sangat mencintaimu," Dia mengecup lembut kening Sierra yang masih terbaring di ranjang ruang VVIP, setelah melewati persalinan sesar.

__ADS_1


Wajah pucatnya tetap saja cantik, meski tanpa riasan. "Apa kamu sudah memikirkan nama untuknya?"


Paul mengangguk. "Tentu. Dia adalah calon pewarisku, jadi aku harus menyiapkan nama yang indah untuknya," jawab Paul mantap.


Bukannya senang, saat mendengar jawaban Paul, senyum Sierra justru memudar. Tergantikan dengan perasaan tak nyaman. Bukankah ada Martin? Meskipun dia membenci Sophie hingga ke ulu hati, namun Sierra tetap tak sanggup jika harus memperlakukan Martin layaknya seorang anak tiri. Bagaimana pun, Martin adalah cinta pertamanya.


"Kenapa, Si?" Paul mengamati perubahan wajah Sierra yang mencolok.


Sierra dengan cepat menggeleng. "Kenapa kamu tidak memberitahu keluarga yang lain?"


"Aku tahu Sophie pasti akan mengacaukan segalanya. Aku tak mau ada yang mengganggumu atau Diego,"


"Diego?" ulang Sierra. "Namanya Diego?" Wajah Sierra berbinar ketika tahu jika Paul memberi nama Diego pada anaknya.


"Kamu tidak suka?"


"Aku sangat menyukainya," Sierra kemudian mengulurkan tangannya, ingin menggendong Diego.


"Aku sudah memerintahkan Lukman untuk menyewa empat pengawal di sini," ujar Paul saat Sierra sedang menyusui Diego.


“Kamu sangat takut padanya, ya?” tebak Sierra dengan senyum getir.


Yang dia tahu, Paul adalah seorang pemimpi dan bos besar yang penuh wibawa dan membuat siapapun yang bertatap muka dengannya, akan tunduk. Namun dibalik segalanya, ternyata ada satu hal yang paling dihindari Paul. Sophie Willis. Istri pertama sekaligus wanita konglomerat itu, meski dari luar tampak sangat anggun sebagai koki selebritis, tapi di dalam, bagaikan ular yang menyimpan banyak racun mematikan.


“Sophie bisa melakukan apa saja demi melindungi hartanya,” jawab Paul, selalu memusatkan pandangannya pada Diego kecil yang telah kenyang menyusu.


Sierra tampak menunduk, mulai memikirkan sesuatu. “Tuan … boleh aku bertanya?”


Paul mengerutkan kening. Mereka berdua telah berjanji untuk bicara non formal, kecuali saat dalam urusan ranjang. Namun tiba-tiba saja Sierra memanggilnya ‘Tuan’, panggilan saat dia masih bekerja untuk Paul.


“Karena kamu sudah melahirkan anak yang lucu untukku, aku akan menjawab semua pertanyaanmu, Si,” Paul membelai lembut rambut Sierra.


Sierra menatap lurus ke arah Paul, dengan tatapan serius nan dalam.

__ADS_1


“Kenapa Tuan menikahi Sophie, jika memang tidak mencintainya?” Pertanyaan pertama berhasil keluar dengan lancar.


Paul tersenyum. “Kamu tentu tahu, aturan mutlak keluarga kaya seperti keluargaku, kan?”


Sierra mengangguk, dan kini kembali diam. Seakan dia telah menyiapkan pertanyaan kedua.


“Kenapa Tuan tinggal terpisah dari Sophie?”


“Aku tidak mencintainya, Si. Kamu tahu sendiri, kan?” Paul tertawa saat menjawab pertanyaan kedua ini.


Kemudian Sierra kembali diam. Dia sudah menyiapkan pertanyaan ketiga, yang sepertinya adalah pertanyaan terberat dari dua pertanyaan sebelum ini. Hingga Paul tampak tegang dan harap-harap cemas, dengan segala kata yang terlontar dari mulut Sierra.


“Kenapa Tuan selalu berkata bahwa Martin bukan anak kandung Tuan?” tanya Sierra, berhasil melawan keraguannya akan pertanyaan ini.


Paul terkesiap. Tak mau gegabah menjawab, Paul memilih untuk diam dan berpikir. Lalu dia memanggil Margaret, yang membawa seorang baby sitter untuk menggendong Diego pergi, karena Paul ingin bicara empat mata dengan Sierra.


“Tuan tak perlu menjawab, jika Tuan belum mau berbagi denganku,” usul Sierra.


Paul justru menggeleng, dengan senyum yang terus dia torehkan di wajahnya. Dia kini mulai mengecup kening Sierra penuh rasa sayang.


"Aku mencintaimu, Si. Tulus mencintaimu," aku Paul, yang tampak serius dari sorot matanya.


Sierra balas tersenyum dan mencium punggung tangan Paul.


"Aku tahu, kamu masih mencintai Martin," tebak Paul, yang wajahnya seketika berubah. Dari lembut, seketika dingin nan kaku.


Sierra menegang ketika Paul berhasil menebak isi hatinya. Namun dia berusaha mengalihkan, sebelum pria tua itu kembali membuka mulut.


"Tapi aku akan pastikan, aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Paul, penuh keyakinan.


Sierra tak menjawab, selain hanya raut wajahnya yang terus kaku.


"Martin bukan anakku," ucap Paul, memulai bahasan yang serius. "Aku yakin dia bukan anak kandungku, dan memang bukan,"

__ADS_1


"K-kenapa, Tuan?" tanya Sierra terbata-bata.


Paul mendekatkan bibirnya ke telinga Sierra. "Aku dan Sophie … tak pernah bersentuhan dari awal menikah hingga saat ini,"


__ADS_2