
Langkah Martin gontai. Bahkan rasanya dia tidak bisa merasakan jejak langkahnya sendiri. Tatapan menunduk ke bawah, memandang kedua tangannya yang diborgol.
Dengan arahan sang pengacara, Martin duduk di kursi yang sudah disesuaikan. Sepanjang matanya memandang, dia sama sekali tidak melihat Karen. Malah bola mata itu tak sengaja menangkan sosok Ray yang duduk di kursi hadirin paling depan, dengan tatapan angkuh ke arah Martin.
Martin memalingkan pandangan, gerah melihat Ray yang seakan mengisyaratkan rasa syukur itu.
“Tuan tidak perlu bilang apa-apa. Biar saya yang bekerja. Kecuali saat hakim memberi pertanyaan, Tuan jawab dengan singkat saja,” Pengacaranya memberi arahan sekali lagi.
Martin tidak mengangguk. Tentu dia tidak perlu didikte perkara sepele seperti itu.
Kemudian tak lama, muncullah sang ayah dengan kursi rodanya. Namun bukannya Sierra, Paul justru bersama sang asisten Margaret. Tatapannya tampak sendu dan merasa bersalah pada Martin, namun Martin buru-buru memejamkan mata. Enggan melihat wajah sang ayah.
Setelah hakim masuk dan memberikan penghormatan, sidang pun resmi dimulai. Jaksa penuntut umum membeberkan bukti-bukti demi memberikan hukuman paling berat untuk Martin. Begitu pula pengacaranya, juga balas membeberkan alasan-alasan dan bukti lain yang sudah dipersiapkan bersama Martin sebelumnya.
“Saya akan menghadirkan saksi kunci dari kasus penculikan ini,” ucap sang jaksa. Kemudian tangannya bergerak ke arah pintu.
Masuklah Sierra, dengan langkah tegapnya ke dalam ruangan dan duduk di kursi tengah sebagai saksi. Ekor matanya sempat melirik Martin sekilas, demi melihat bagaimana kondisi pria itu sekarang.
“Apakah Anda mantan sekretaris Martin Willis?” tanya jaksa.
Sierra mengangguk. “Iya, betul saya, Yang Mulia,”
“Apakah Anda yang ikut membantu proses penculikan itu?”
Sierra kembali mengangguk. “Saya hanya diminta untuk menjaga Karen Willis di rumah itu, tanpa tahu jika Martin ternyata menculiknya dari suaminya,” Dia kembali menoleh ke arah Martin yang membisu.
“Apakah Anda sadar, konsekuensi jika Anda terbukti bersekongkol dengan Martin Willis, Anda juga akan ikut menjadi tersangka?” Hakim memberi penegasan dengan nada yang cukup mengintimidasi.
“Saya sadar, Yang Mulia,” jawab Sierra mantap. “Keputusan saya sebagai saksi ini, saya yakin, akan memiliki akibat sendiri,”
Pengacara Martin berdiri. “Kami keberatan, Yang Mulia,”
Hakim memberi kesempatan pada pengacara itu untuk menguatarakan alasannya.
“Saudari Sierra Willis, sudah jelas sadar dengan sepenuhnya jika apa yang klien saya lakukan bukanlah sebuah penculikan. Tuan Martin dan korban kini adalah sepasang suami istri, jadi tidak mungkin ada penculikan,” Pengacara itu menjelaskan dengan nada enteng. Kemudian dia menghadap kepada hakim. “Kami akan menghadirkan saksi, Yang Mulia,”
Dan seluruh pandangan hadirin kini tertuju pada sosok Karen yang telah berdiri di tengah pintu. Dengan kaki gemetar, dia berusaha melangkah maju.
Dia tidak pernah datang dalam situasi menegangkan seperti ini, dalam keadaan sendiri tanpa siapapun yang bisa dia jadikan pegangan.
__ADS_1
Hanya ada dirinya sendiri dan keyakinannya.
“Apakah Anda Karen Willis, istri dari Martin Willis sekaligus korban dari penculikan ini?” tanya Hakim, setelah Karen melantunkan sumpah.
Karen patah-patah mengangguk. “B-benar, Yang Mulia,” Dia diam sejenak. “S-saya ingin–” Nada suaranya tercekat. Hingga Martin yang sejak tadi menunduk, lamat-lamat mulai memandang ke arah Karen.
“Apa yang ingin Anda utarakan?” Hakim itu bertanya tak sabar.
Karen menelan ludah, berusaha mengusir ketegangan.
“S-saya ingin … mencabut seluruh tuntutan saya pada suami saya, Martin Willis,”
Para hadirin ricuh. Layaknya perkumpulan lebah yang sedang sibuk mengumpulkan madu.
Sementara pengacara Martin tersenyum sangat lebar, mengangguk ke arah Martin seakan mengisyaratkan kemenangan.
Dibalik riuhnya sidang ini, kini ada Karen dan Martin yang saling memandang dari kejauhan. Mata Martin berkaca-kaca, tak menyangka jika Karen memilih kata-kata itu demi menyelamatkannya.
***
Martin melangkah dengan penuh kelegaan di dadanya, melewati pintu gerbang rumah tahanan pagi ini.
Dan dari kejauhan, nampak Karen yang berdiri menunggu kedatangannya, mengulaskan senyum kaku namun menghangatkan hati Martin.
“Karen, maafkan aku,” isak Martin dalam dekapan Karen.
Karen tersenyum, mengelus punggung Martin. “Kamu aman sekarang. Kamu tidak akan sendiri lagi,”
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi,” janji Martin.
Karen melepas pelukan itu. Dia menatap Martin sangat dalam dan serius. “Aku tidak ingin ada dendam apapun lagi di hatimu. Kini segalanya hanya ada tentang aku dan kamu, di masa depan. Tidak ada masa lalu,”
Martin menggigit bibir. “Kamulah masa laluku, Karen,”
“Dan kini masa depanmu,” sahut Karen cepat. “Masa laluku memang bukan kamu, tapi kamu adalah masa depanku. Tidak ada yang lebih penting,” Karen memainkan rambut Martin, sambil mendongakkan kepala.
“Apakah itu artinya … kamu sudah benar-benar melupakan Ray White?” tanya Martin, cukup hati-hati.
***
__ADS_1
Seminggu kemudian …
“Sudah siap?” tanya Kamala, setelah duduk di dalam mobil.
Ray mengangguk. “Tapi aku ingin mampir dulu ke tempat Rida,”
Kamala tampak berpikir, untuk kemudian mengangguk.
“Apakah semuanya akan baik-baik saja? Maksudku, Martin Willis,” tanya Kamala, di tengah perjalanan.
“Dia tidak akan menggangguku lagi,” tandas Ray. “Kecuali ingin ditinggal oleh Karen,”
“Lalu kamu … apakah sudah benar-benar melupakan Karen?” Pertanyaan yang dilontarkan Kamala dengan penuh hati-hati.
Ray tidak segera menjawab, atau lebih tepatnya enggan menjawab. Dia hanya diam, membiarkan Kamala menerka-nerka jawaban yang akan dia ucapkan.
Perjalanan menuju panti jompo itu berlangsung setengah jam, tanpa kendala. Karena hari ini adalah hari efektif orang-orang bekerja.
“Ray, aku menunggu di dalam mobil saja, ya?” pinta Kamala, menahan tangan Ray yang hendak keluar mobil.
“Kenapa?”
Kamala meringis. “Aku takut Rida sedih,”
Ray tersenyum hangat, lalu mengacak rambut Kamala. “Jika itu maumu, oke. Tapi jangan kabur kemana-mana, ya?”
“Siap!” Kamala hormat dengan tingkah yang menggelikan, membuat Ray mau tak mau mencubit hidungnya.
Ray berjalan tegap, dengan penuh kebahagiaan di hatinya. Seminggu setelah persidangan yang singkat namun penuh kejutan itu, nyatanya Ray kini tetap baik-baik saja.
Bahkan saat dia membuka pintu kamar Rida, dan mendapati Karen serta Martin duduk berdampingan, dengan Rida di depan mereka.
Secara bersamaan mereka bertiga menoleh ke arah Ray.
“Ray? Kamu belum pergi?” tegur Karen.
Ray melongo beberapa detik, untuk kemudian menggeleng. “Aku mau pamit sama Ibu,” jawabnya.
Ray pun melangkah masuk. Memeluk Rida dan berpamitan, karena dia hendak pergi ke tempat yang cukup jauh bersama Kamala.
__ADS_1
Karen memilih untuk bertahan bersama Martin. Meskipun kehidupannya tidak akan pernah tenang, namun Karen tahu, Martin tidak punya siapapun selain dirinya untuk bertahan.
Dan Ray menghargai keputusan itu–karena dia juga tidak bisa bersama Karen lagi. Ray dan Kamala memutuskan untuk menikah di London, sedangkan Karen tetap bersama Martin, dengan segala kehidupannya yang tampak seperti berlian di kejauhan, namun hanyalah perak dalam jarak dekat.