Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Tak Sampai Hati


__ADS_3

Sierra memantapkan langkahnya, meski puluhan pasang mata yang tak sengaja bertatapan dengannya, selalu memasang wajah kaget dengan desas-desus yang enggan berhenti. Hati Sierra telah mantap. Dia harus menemui Martin hari ini, dengan berbagai hal menarik dan mengejutkan yang ingin dia bagi untuk mantan bos serta anak tirinya itu.


Sierra berkali-kali mengelus perutnya, sebagai naluri alami seorang ibu yang bahagia dengan kehamilannya. Dan sampailah Sierra di depan ruang kerja Martin, yang disambut kehadirannya oleh Seth yang tampak bingung. Seth menunduk hormat ke arah Sierra.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Sebagai asisten pribadi Martin, Seth tentu tahu tentang Sierra dan sejarahnya. Kehadiran Sierra ke kantor Martin sedikit membuat Seth terkejut.


"Aku ingin menemui Martin,"


Seth buru-buru mengecek jadwal, kemudian mulai memencet tombol ruangan Martin. Tak lama, Seth bergerak membukakan pintu ruang kerja Martin, untuk Sierra yang telah menarik nafas panjang demi menguatkan hatinya. Setelah menikah dengan Paul, Sierra sudah lama tidak bertemu dengan Martin. Lebih tepatnya, menghindar untuk bertemu.


Seth buru-buru menutup pintu, demi memberikan privasi untuk Martin dan Sierra. Jantung Sierra berdegup sangat kencang. Persiapan berjam-jam yang dia lakukan demi menata hati untuk menemui Martin, kini buyar hanya dengan melihat mata Martin. Pria itu juga turut menatap lurus ke arah Sierra, untuk kemudian mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Sierra tak dapat menampik, Martin memang seorang pria dengan pesona kuat yang mampu memikatnya. Cinta pertama, sekaligus cintanya yang tak terbalas. Kemudian Martin bangkit, berjalan perlahan mendekat dengan tatapan yang tak mau berpaling dari Sierra. Kini Sierra tahu, kenapa dia bisa menerima lamaran Paul meski cintanya pada Martin belum sirna. Paul dan Martin bagaikan satu jiwa dalam dua tubuh. Sangat mirip, bahkan dari gesture dan perilakunya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Martin, dengan nada berat.


Sierra sedikit mundur, karena Martin berjarak terlalu dekat dengannya. Refleks dia juga memegangi perut.


Martin melirik sekilas perut Sierra yang kian membuncit. "Apa kamu mau mengancamku dengan bayi itu?"


Sambil menelan ludah, Sierra berjalan maju demi menghindari tatapan Martin dan menyembunyikan bunyi jantungnya yang tak karuan.


"Kamu memang manusia berhati iblis, ya?" celetuk Sierra, berusaha mengalihkan kepalanya yang terus mengingat memori bersama Martin.


"Apa maksudmu? Kamu jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memakiku?"


Sierra mengulaskan senyum. "Kamu justru menunjukkan ke seluruh orang, kalau kamu masih dendam terhadap Ray," jelas Sierra. "Tak seharusnya kamu tertawa keras malam itu,"

__ADS_1


"Oh, jadi kamu datang di hari sial itu?" Saat mengetahui topik pembicaraan Sierra, wajah Martin seketika cerah. Dia berjalan menghampiri Sierra.


Tiba-tiba Martin mengelus perut Sierra, dengan seringaian. "Semoga dia tidak menjadi iblis yang ke tiga,"


Sierra menampik tangan Martin dengan mata lebar penuh sentakan. "Jaga ucapanmu!" bentak Sierra.


Martin angkat bahu dengan kedua alis ditautkan. "Apa aku salah, Sierra? Kamu menikahi ayahku, dan ini hasil hubungan kalian. Kamu tentu tahu, siapa Paul, dan darimana aku mewarisi semua ini?" Martin menunjuk dirinya sendiri dengan senyum sarkas.


"Paullah yang mencetakku menjadi seorang iblis," Martin makin mendekatkan wajahnya, hendak menyentuh bibir Sierra.


Dengan cepat Sierra mundur. "Hentikan, Martin!"


Martin tertawa keras, menggema ke seluruh ruangannya. Sierra hanya bisa menggigit bibir. Martin tetaplah sama. Seorang pria kejam yang akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.


"Apa tujuanmu kemari? Apa Ray menyuruhmu datang hanya untuk mengancamku?"


Selama Sierra bekerja untuk Paul atau pun Martin, dua pria itu tak pernah memasang foto pernikahan mereka atau foto wanita manapun di meja kerja. Baik Paul dan Martin, ternyata sama-sama dengan bangga menunjukkan foto pasangan masing-masing, meski mereka adalah salah satu pria terdigdaya di seluruh penjuru negeri. Paul memajang foto pernikahannya dengan Sierra, dan Martin dengan Karen.


Haruskah Sierra menghancurkan kebahagiaan semu itu?


"Ada apa, Sierra?" tegur Martin, seketika membuyarkan lamunan Sierra.


Sierra buru-buru menggeleng. "Aku harus pergi," pamitnya.


"Tidak secepat itu," Martin tiba-tiba menghadang jalannya. Pria itu semakin mendekat ke tubuh Sierra, tak lupa mengelus perut Sierra yang menonjol.


"Aku merindukanmu, Sierra. Aku merindukan menyentuhmu," bisik Martin, terus menelusuri setiap inci leher mulus Sierra.

__ADS_1


Ada desiran hebat yang tak bisa Sierra tahan, namun hatinya bergejolak.


Plak! Tak lama, segala penolakan dari hati Sierra berbuah pada kerja otaknya yang tiba-tiba memerintahkannya untuk menampar Martin sekeras mungkin.


"Jaga sikapmu, Martin!" bentaknya. "Aku sekarang adalah ibu tirimu,"


Sierra bergegas pergi, sebelum Martin kehilangan akal sehatnya. Sebagai respon mendadak yang tak Martin sangka, pria itu mengelus pipinya untuk dua detik kemudian tertawa sangat keras, sambil menghantam apapun yang berjarak dekat dengan jangkauan kakinya. Ego Martin telah tercoreng. Penolakan keras serta ucapan terakhir Sierra membuat ego Martin sangat sakit, hingga tak ada yang ingin dia lakukan selain menghancurkan hubungan Sierra dan sang ayah.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tegur Sophie dengan tatapan curiga saat mendapati Sierra keluar dari ruang kerja Martin.


Kini, otak Sierra tengah bersyukur pada hatinya karena berani menolak Martin. Andai saja tidak, dan wanita tua menyebalkan ini memergoki mereka, maka tamatlah sudah riwayat Sierra. Begitu ungkapan hati Sierra.


"Aku ada keperluan dengan Martin," jawab Sierra singkat.


Sophie melipat tangannya, makin curiga. "Apa lagi yang kamu mau dari anakku? Kamu tidak sedang menggodanya, kan?"


Bukannya tersinggung, Sierra justru tersenyum. "Untuk apa? Aku sudah memiliki segalanya sekarang," Dia sengaja memancing amarah Sophie dengan mengelus perutnya yang buncit.


Benar saja. Hidung Sophie langsung kembang kempis melihat sikap Sierra. Wanita tua itu sedikit menarik baju Sierra untuk mendekat.


"Jangan senang dulu, dasar wanita murahan," umpat Sophie tepat di telinga Sierra. "Kita lihat siapa yang akan jadi pemenangnya," bisik Sophie.


Sierra masih saja tersenyum. "Aku mengandung anak Paul, jadi sudah jelas, kan, siapa pemenangnya?" Sierra ganti berbisik.


Sophie menggeleng. "Tidak, sebelum anak itu berhasil lahir dengan selamat ke dunia ini," Sophie makin memelankan suaranya, demi memberikan efek intimidasi yang kuat.


Sierra tertegun, hatinya mencelos. Ancaman Sophie tak pernah main-main. Terakhir kali dia mengabaikannya, tubuhnya diterjang oleh truk besar yang hampir mencabut nyawa.

__ADS_1


__ADS_2