Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Babak Baru


__ADS_3

“Kamu cantik sekali, Sayang,” Martin mencium leher Karen, yang telah berdandan rapi dengan gaun pengantin warna putih yang sangat cantik.


Karen tersenyum. Senyum yang tampak amat dipaksakan. Masih teringat jelas diingatannya, penolakan keras dari Ray tempo hari. Mantan suami yang masih sangat dicintainya itu, untuk pertama kali, membiarkannya menangis hingga hampir berlutut untuk memohon. Karen tak pernah menyangka jika Ray memiliki sisi gelap yang tak pernah dia tahu. Ray, pria yang sangat teguh pendiriannya.


Karen melihat pantulan dirinya sendiri melalui kaca besar yang ada di depannya. Rambut digelung rapi, riasan minimalis yang justru makin menonjolkan kecantikannya, dan gaun pengantin warna putih sleeveless pilihan Martin. Karen senang, akhirnya dia bisa merasakan pernikahan sungguhan. Saat menikah dengan Ray, dia terpaksa hanya menikah diam-diam, diliputi segala kekhawatiran dan rasa cemas.


Melalui kaca itu pula, Karen bisa melihat Sierra yang berdiri menyandarkan tubuhnya ke pintu, dengan tatapan kesal pada Karen. Wanita itu berjalan masuk untuk mendekati Karen. Asisten yang merias Karen memutuskan untuk pergi, demi memberi privasi pada Karen dan Sierra.


“Selamat, Karen,” ucap Sierra. “Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga Willis,”


Karen hanya membalas dengan senyum kecut.


“Tak kusangka, wanita yang dulu sangat memberontak itu kini kalah dengan kekayaan,” komentar Sierra, menyindir Karen tepat di depan mukanya.


“Apa maksudmu?” tanya Karen tak terima.


Sierra menautkan alisnya, sambil melipat tangan di depan dada. “Kamu lupa akan janjimu untuk membalas Martin? Kenapa sekarang, kamu justru menikahinya?”


“Kamu tidak tahu apapun,”


“Tentu,” sahut Sierra cepat. Dia justru tersenyum. “Bahkan mantan suamimu saja tidak tahu, apalagi denganku yang bukan siapa-siapa?”


Sierra memetik sebatang bunga mawar putih yang diletakkan di dalam vas besar. Lalu memberikannya pada Karen.


“Selamat menikah, Karen,” ucap Sierra. “Kuharap kamu selalu bahagia bersama Martin,”


Sierra kali ini tersenyum tulus, meski Karen tak membalas ketulusan itu dengan sikap yang ramah. Dia justru enggan menerima bunga mawar petikan Sierra.

__ADS_1


“Aku sudah menemui Ray,” ucap Karen tiba-tiba, saat Sierra sudah berjalan hendak pergi.


Sierra terpaksa menghentikan langkahnya, dan kembali memutar tubuh menghadap Karen. Dengan sedikit ketegangan hingga mencengkeram bagian gaunnya, Karen berusaha memuntahkan segala kekhawatirannya.


“Aku sudah menemui Ray, dan memintanya untuk kabur bersamaku,” Tampak jelas terlihat, bahwa Karen berusaha sangat keras untuk menahan agar bulir air mata tak membasahi wajahnya yang telah dirias.


Sierra terdiam, memandang lurus ke arah Karen dengan raut yang sedikit iba.


“Tapi dia menolak,” lanjut Karen. “Dia bilang, dia … “ Karen sangat kesulitan melanjutkan ucapannya. “Dia akan menikahi Kamala, anak Rudi Bruggman,”


Sierra melebarkan pandangan ketika nama Kamala ikut disebut. Dia sangat tahu jika Ray berbohong. Dia tahu, Ray sengaja menggunakan Kamala sebagai dalih agar Karen pergi darinya. Maka yang bisa dia berikan sebagai respon hanyalah hembusan nafas penuh simpati, dan pelan-pelan meraih tangan Karen.


“Aku dan kamu akan menjadi bagian dari keluarga Willis,” ucap Sierra. “Hidup kita akan terancam setiap harinya. Jadi, simpan tangisanmu itu,”


Karen justru makin menangis. Sierra cepat-cepat memanggil perias wajah Karen, supaya menyamarkan bekas tangisan itu. Kemudian dia pamit pergi, agar tak menimbulkan kecurigaan baik dari Martin atau pun Paul.


Karen berjalan anggun, secara perlahan, menuju altar dengan pandangan seluruh tamu undangan tertuju padanya. Mereka menatap takjub pada sosok Karen yang tampak sangat cantik nan menawan dalam balutan gaun pengantin putih. Begitu pula Martin, dengan mata berbinar, menunggui Karen di depan altar untuk mengucap janji suci berdua.


Martin meraih tangan kanan Karen yang lentik, untuk kemudian berdiri berdampingan dan mengucapkan janji suci dan sumpah setia diantara keduanya. Lalu tibalah saat Martin saling menatap dengan Karen, dia kecup bibir wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu, penuh gairah dan rasa cinta. Seluruh tamu undangan yang hadir seketika menyambut kecupan itu dengan tepuk tangan meriah, dan senyuman lebar yang bangga atas pencapaian baru Martin Willis.


“Selamat, Nona Karen,” ucap Paul, ketika seluruh keluarga Willis maju ke depan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Karen membalas jabatan tangan Paul dengan penuh sukacita. Namun tak seperti Karen, Martin justru menatap penuh kebencian pada ayahnya itu. Mereka tak mengucapkan apapun, selain hanya berjabat tangan dan memeluk satu sama lain, karena banyaknya kamera yang membidik mereka. Begitu pula Sophie, sama sekali tak bertukar pandang dengan Paul, meskipun mereka berdua saling bergandengan tangan dan memasang senyum palsu pada setiap jepretan kamera yang berkilat.


Dari kejauhan Sierra mengawasi tingkah penuh kepalsuan antara Paul dan Sophie, sambil sedikit meneguk anggur di tangannya. Kemudian tatapannya berganti mengawasi Martin dan Karen, yang meskipun benci diakuinya, tampak sangat serasi sebagai pasangan tampan dan cantik layaknya raja dan ratu di negeri dongeng.


“Si … “ panggil seseorang, dari arah belakang Sierra. Spontan wanita itu menoleh cepat ke belakang saat dia menyadari suara siapakah itu.

__ADS_1


“Ray?” Mata Sierra membelalak, ketika melihat Ray yang datang berdampingan dengan Kamala.


Meski tak semenawan mempelai, Ray tampil gagah serta Kamala yang cantik dengan rambut hitam lurusnya. Mereka berdua tersenyum ke arah Sierra. Lalu dari belakang tampak Rudi dan Jena Bruggman, yang sangat puas dengan pasangan anak gadisnya. Sierra tak berhenti keheranan, tak menyangka Ray punya cukup nyali dan kekuatan untuk menghadiri pernikahan mantan istrinya.


“Kenapa kamu tak bersanding dengan Paul?” tanya Ray.


Sierra yang terlalu fokus pada Ray, melupakan pertanyaan itu. Dia masih saja sibuk memandangi Ray dan Kamala bergantian.


“Si? Heloo, kenapa kamu di sini?” seru Ray, membuyarkan lamunan Sierra. “Kenapa bukan kamu yang bersanding dengan Paul?” tanya Ray sekali lagi.


Sierra mengerjapkan matanya, lantas menggeleng cepat. “Belum saatnya, Ray. Aku tak ingin menghancurkan hari bahagia Martin. Karena bagaimana pun, dia telah menyelamatkan nyawaku,”


“Maksudmu?” Ray mengerutkan kening mendengar ucapan terakhir Sierra.


“Sophie menyewa seseorang untuk membunuhku, dan semua digagalkan Martin,” jelas Sierra, tak ingin kembali mengingat kejadian mengerikan itu.


Ray mengangguk, meski sedikit terkejut. Kemudian Kamala menarik tangannya, untuk maju ke depan, menuju altar dan memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.


“Kamu siap, kan?” tanya Kamala.


Ray mengangguk mantap. “Ini adalah kesempatan terakhirku,”


Maka Ray dan Kamala, bergandengan tangan dan penuh percaya diri maju menuju altar, ketika tak sengaja Ray menangkap sorot mata Karen yang tampak terkejut saat melihatnya. Mantan istrinya itu sedikit tegang, bersamaan dengan makin dekatnya jarak Ray dengannya. Kini, setelah berbulan-bulan menghadapi segala penderitaan, akhirnya Ray berhadap-hadapan langsung dengan Martin. Dia mengulurkan tangannya, tersenyum dan memberikan ucapan selamat.


Namun Martin justru diam. Dia memandang nanar jabatan tangan Ray, untuk sedetik kemudian tersenyum angkuh.


“Aku menang, Ray. Aku berhasil merebut mainan berhargamu,” ujarnya, dengan senyum licik penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2