
Ray terus berlari, setelah secara tiba-tiba mendapatkan ide cemerlang ketika Karen hendak merengkuhnya. Ray tahu, tindakannya pada Karen tak bisa dibenarkan, karena tiba-tiba saja meninggalkan mantan istrinya itu tanpa kejelasan. Namun, jika Ray tidak segera bergegas kali ini, dia takut Kamala akan kembali menghilang.
Ray terus berlari, melewati deretan gedung-gedung tinggi, tak peduli malam kian larut. Ray yakin, Kamala masih berada di tempat yang dia tuju. Gadis itu tak akan pergi kemana-mana. Maka ketika laju kakinya melambat pertanda dia telah sampai di lokasi yang dituju, Ray diam mematung. Dia mengamati sosok Kamala yang sedang tertunduk, dengan gaun pengantin yang masih terpakai, duduk di depan sebuah minimarket yang terletak persis di sebelah hotel bintang lima tempat Karen melangsungkan pernikahan dengan Martin dulu.
Kamala tak menghiraukan lirikan penuh tanya dari orang-orang yang lalu lalang keluar masuk minimarket, karena dia memang sangat terlihat seperti seorang pengantin yang melarikan diri. Maka Ray pun berjalan gontai, hampir tak bersuara, demi menjaga agar Kamala tak kabur lagi saat melihatnya datang.
"Nyenyak tidurmu, Kamala?" tegur Ray, setelah berada dekat di samping Kamala.
Kamala buru-buru mengangkat kepala, kaget luar biasa saat melihat Ray sudah ada di depannya, sedang menatap dengan tatapan sedingin es.
"R-Ray … " Mulut Kamala tiba-tiba lumpuh, tak sanggup bergerak.
Ray tetap tenang dan dingin. Dia mengambil duduk di kursi depan Kamala.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan Ray membuat hati Kamala yang semula berdegup tak karuan penuh takut, seketika lega. Dia pandang balik pria di depannya itu, berusaha untuk menemukan celah kemarahan, namun tak berhasil.
Kemudian Ray menenggak habis kaleng minuman di depannya, alias milik Kamala. "Aku berlari sangat cepat ke sini,"
"Kenapa?" sahut Kamala, seakan lupa dengan pertanyaan awal Ray.
"Aku takut petugas keamanan membawamu ke pusat rehabilitasi karena dianggap wanita gila," Ray nyengir, memandang penampilan Kamala dari atas sampai bawah.
Kemudian Kamala meniru gerakan Ray, sama-sama memperhatikan penampilannya sendiri. Gaun pengantin panjang, rambut terurai cantik dan riasan yang meski telah sedikit pudar, tetap saja menonjolkan kecantikan khas oriental dari wajah Kamala.
"Maafkan aku, Ray," gumam Kamala, menunduk karena tak sanggup menatap mata Ray.
"Aku penasaran bagaimana penampilanmu. Dan ternyata cantik juga, ya," Ray tak membalas ucapan Kamala, dan malah mengalihkan ke topik lain.
Kamala terus menunduk, kini sambil memainkan gaungnya. "Harusnya aku tak seperti ini,"
__ADS_1
"Harusnya aku tidak gegabah menerima lamaranmu, dan pergi begitu saja. Aku yakin, Papa pasti akan menghajarku saat aku pulang," ujar Kamala, ngeri membayangkan amukan Rudi Bruggman yang telah puluhan kali berusaha menghubungi ponselnya.
"Tapi aku tidak sanggup. Aku tidak bisa menikahimu, Ray," Kini air mata Kamala menetes, namun buru-buru dia usap sekenanya.
Ray tidak mau menanggapi, dan hanya ingin memberi ruang bagi Kamala untuk menumpahkan segala beban di hatinya. Dia terus memberi kesempatan Kamala untuk melanjutkan bicaranya.
"Aku tahu kamu hanya kasihan padaku," Kesimpulan akhir yang sudah diduga oleh Ray.
Pria itu kemudian menarik nafas panjang. Berurusan dengan wanita yang lebih muda puluhan tahun darinya itu ternyata cukup melelahkan. Ya, karena dia sama sekali tak bisa memahami lonjakan emosi Kamala. Di saat yang lain menggebu-gebu mengejarnya, namun di saat berikutnya, berbalik kabur darinya.
"Kenapa?" tanya Ray. "Kenapa aku kasihan padamu?"
Kamala sekali lagi mengusap air matanya. "Aku sudah dinodai, dan bisa saja aku mengandung anaknya. Aku tak mau kamu menikahimu karena kasihan,"
"Mari kita buktikan,"
Kamala melebarkan bola mata. "Maksudmu?"
Kamala terkesiap dengan solusi yang diberikan Ray. Namun bukannya berhenti menangis, Kamala justru menggeleng keras-keras dan kembali menitikkan air mata.
"Aku tahu kalian masih saling mencintai. Kamu dan Karen," isak Kamala.
Ray mengerutkan kening, mulai tak habis pikir dengan pembahasan baru yang dibawa Kamala.
"Aku melihat kalian. Tadi, saat aku hendak kembali. Aku melihat kalian di jembatan," aku Kamala dengan suara serak dan terbata-bata, seakan dia berusaha mempersiapkan mental hanya untuk mengungkapkan apa yang dia lihat.
Kini giliran Ray yang melebarkan bola matanya, tak menyangka. Untuk alasan Kamala yang satu ini, dia memilih diam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Kumohon, Ray. Jangan membohongi dirimu sendiri," Suara Kamala terus bergetar, seiring dengan makin derasnya air mata yang keluar. "Aku mencintaimu, tapi … tapi bukan balasan seperti ini yang kuinginkan,"
__ADS_1
Ray terus diam. Dia ingin menjawab, namun segala yang keluar dari mulutnya hanya akan menjadi sebuah alasan kebohongan bagi Kamala. Maka dia memutuskan untuk diam dan membiarkan Kamala menerka segalanya.
"Apa maumu sekarang?" tanya Ray ketika Kamala sudah lebih tenang.
"Biarkan segalanya mengalir," jawab Kamala cepat. "Seperti katamu, aku akan menyelesaikan kuliahku dengan baik dan menjadi wanita yang pantas untuk mendampingimu,"
"Aku akan menjelaskan segalanya pada Papa, dan aku akan menerima konsekuensinya,"
"Kamu tidak bersalah! Tapi aku juga tidak rela jika Eros harus bertanggung jawab atasmu!" seru Ray. Membayangkan jika Kamala harus menikah dengan Eros demi anak yang dikandungnya, membuat Ray tersulut emosi.
Kamala menggeleng. "Aku berharap tidak ada yang terjadi,"
"Aku akan menunggu,"
"Jangan," Kamala sekali lagi menggeleng. "Jangan menunggu, Ray. Tidak akan ada yang terjadi diantara kita. Beri aku kesempatan untuk menjadi lebih baik untukmu. Menjadi wanita yang memang kamu cintai,"
Kamala menyeka habis sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajahnya, untuk kemudian berdiri kewalahan karena gaun yang panjang dan berat. Ray juga ikut berdiri. Tak butuh menunggu persetujuan, dia segera menarik tangan Kamala untuk mengantar gadis itu kembali ke rumahnya.
Ray paham sekarang. Segala alasan yang diungkapkan Kamala padanya membuat Ray sadar.
"Maafkan aku, karena selama ini selalu memaksamu untuk bisa mencintaiku," sesal Kamala, kembali berkaca-kaca setelah sukses menghapus sisa air mata di pipi.
"Impian terbesarku adalah bisa dicintai olehmu sepenuhnya, tanpa alasan. Hanya aku. Hanya karena aku, bukan karena yang lain,"
"Aku mengerti, Kamala," Ray perlahan mengangguk, sambil menggenggam salah satu tangan Kamala.
Dia pandangi wanita muda di depannya itu dengan tatapan dalam, berusaha menembus masuk ke dalam relung hati Kamala melalui lensa mata wanita itu.
Ray menelan ludahnya. "Aku pun juga akan melakukannya," ucapnya.
__ADS_1
Dia membenarkan posisi duduk, sedikit lebih tegap hanya untuk mengutarakan sesuatu.
"Aku juga akan berusaha menyembuhkan luka hatiku. Aku tak bisa bohong padamu," Ray diam sejenak dan tercekat. "Aku masih mencintai Karen,"