Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Hidup atau Mati


__ADS_3

“Masuk,” seru Martin, dengan pandangan tak mau lepas dari berkas-berkas yang baru saja diserahkan Seth padanya.


Suara sepatu hak tinggi yang menyentuh lantai marmer ruang kerja Martin berbunyi amat nyaring, namun ketukannya yang tenang, justru membuat Martin penasaran dengan siapa gerangan pemilik sepatu itu.


Seorang wanita cantik, tinggi bak model dengan rambut pirang bergelombang, sedang berdiri di depannya, dengan senyum menawan khas wanita kelas atas. Wanita itu terus tersenyum, dengan mata yang tak mau lepas menatap Martin.


“Siapa?” tanya Martin, kemudian mengecek catatan kecil berisi jadwalnya untuk hari ini.


“Apa aku ada jadwal bertemu denganmu? Dari kantor mana?” tanya Martin sekali lagi, sambil terus mencari-cari daftar aktivitasnya.


“Aku ada jadwal pribadi denganmu, Martin Willis,” jawab wanita itu penuh percaya diri.


Martin seketika berhenti, demi memandangi wanita itu. Untuk sedetik kemudian dia sadar, wanita itu adalah wanita yang datang bersama Sophie kemarin.


“Kamu? Wanita yang datang bersama Sophie?” tebak Martin.


Wanita itu kembali tersenyum. “Aku Petrina Vallea. Kamu bisa memanggilku Petrina,”


Petrina Vallea, seorang model merk mewah, yang meskipun kurang dikenal di televisi, tapi nama Petrina memiliki reputasi tinggi di kalangan mode kelas atas. Dia adalah putri tunggal seorang pengusaha bisnis waralaba makanan yang memiliki ribuan cabang di seluruh negeri.


Petrina bukanlah wanita biasa. Selain cantik dan pintar, dia adalah tipe visioner, yang akan mempertimbangkan segala langkahnya. Termasuk setuju untuk dijodohkan dengan Martin, meski harus menjadi istri kedua.


Petrina tahu siapa Martin, dan juga latar belakangnya. Selain mendapatkan suami tampan, Petrina juga akan menjadi bagian dari konglomerat Willis, yang tak perlu diragukan lagi kedigdayaannya.


“Apa tujuanmu datang kemari?” tanya Martin, tampak senang. “Jika tujuanmu ingin menggodaku, maaf, Petrina. Meskipun aku seorang pria yang licik, tapi aku mencintai istriku seorang,”


“Oh ya?” Petrina mengambil duduk di kursi depan meja Martin. Dia menyilangkan kedua kakinya.


“Aku sangat kagum, karena meskipun kamu memiliki segalanya, kamu hanya mencintai satu orang wanita,” komentar Petrina. Senyumnya tampak manis dan anggun.


“Aku juga kagum padamu,” sahut Martin. Dia sedikit menjauhkan kursinya, untuk bersandar dan ikut menyilangkan kaki.


“Meskipun harga dirimu harus direndahkan karena ulah ibuku, kamu cukup punya nyali untuk menemuiku disini,”

__ADS_1


Diluar dugaan, Petrina justru tertawa kecil mendengar sindiran Martin.


“Aku datang ke sini bukan untuk menggodamu, Martin. Aku datang ke sini untuk bisa lebih mengenal hubunganmu dan istrimu,” ujar Petrina, terus tertawa lirih. “Jujur, aku sangat ingin memiliki hubungan yang sempurna seperti kalian,”


Martin menautkan alis saat mendengar pengakuan Petrina, yang sungguh diluar dugaannya.


“Aku juga tidak menyukai perjodohan ini. Apa kamu kira, semua wanita menyukaimu?” Petrina melipat kedua tangannya. “Tapi, kita akan sama-sama diuntungkan, jika mau bersatu,”


“Bersatu?”


Petrina mengangguk. “Bayangkan, apa yang akan terjadi jika dua keluarga kita bersatu? Yang pasti, semua akan diuntungkan,”


Petrina mulai menampakkan sisi visionernya pada Martin. Dia menjelaskan berbagai macam kemungkinan terbaik, jika kedua keluarga konglomerat itu bersatu.


“Sebaiknya kamu pergi, Pet,” Martin melirik jam tangannya, kemudian segera bangkit.


Terdengar pintu diketuk dua kali, dan Seth keluar dari balik pintu. Pria itu memberitahu Martin, jika waktunya rapat telah tiba. Dan Petrina pun ikut bangkit berdiri, sekali lagi tersenyum anggun dan penuh percaya diri.


“Hubungi aku, jika kamu tertarik dengan peluang yang sudah kujelaskan,” Petrina menyerahkan kartu namanya.


Petrina hanya menautkan kedua alis, kemudian pamit pergi sebelum Martin terlambat menghadiri rapat hari ini.


***


Satu jam setelah rapat, seperti biasa Martin selalu dikejutkan oleh kemunculan mendadak dari sang ibu, di dalam ruang kerjanya. Meski hatinya dongkol, dia tetap tak bisa mengusir Sophie begitu saja.


“Aku harus bicara serius denganmu,” ucap Sophie, sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.


Martin mengerutkan kening. “Ini apa?”


“Bukalah,”


Dengan cepat dan penuh rasa penasaran, Martin segera membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah dokumen, yang saat Martin mulai baca kalimatnya satu-persatu, dia pun terkejut. Bagai disengat listrik, Martin melepaskan genggamannya dan dokumen itu jatuh melayang ke bawah lantai.

__ADS_1


“Ini … “ Martin tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Sophie mengangguk. “Ya. Itulah rahasia besar yang kusimpan bersama Paul,”


Dokumen itu berisi penjelasan tentang Martin yang telah diadopsi oleh Paul dan Sophie.


“Itulah alasan kenapa ayahmu selalu bilang jika kamu bukan anak kandungnya. Aku tahu, dia keterlaluan, dan kita tak bisa membiarkannya,” Sophie terus saja bicara, tak peduli perubahan raut wajah Martin setelah membaca isi dokumen itu.


Martin membeku di tempatnya, pucat pasi namun sekuat tenaga berusaha untuk tetap tampak normal. Tapi sebagai wanita yang selalu ada sejak Martin bayi, Sophie tentu paham dengan perubahan raut itu. Dia berdiri, mendekati Martin.


“Kamu sekarang tahu, kan, kenapa Paul akan menyerahkan seluruh hartanya pada anak wanita itu?” bisik Sophie. “Tapi … apa kamu sungguh rela, hidup puluhan tahun sebagai anaknya, dan berakhir tak dapat sepeser pun?”


“Ibu bisa membantumu,” Sophie sedikit mundur, memandang Martin dengan senyum licik.


Sorot mata Martin yang terkejut, sedikit dia alihkan pada ibunya.


“Kamu harus segera memiliki anak,” ucap Sophie. “Paul tidak akan bisa berkutik, karena seluruh perhatian wartawan akan berpusat pada kita. Dan itu pasti mempengaruhi saham,”


Martin hendak membuka mulut, sebelum disela oleh Sophie.


“Tapi istrimu itu mandul, Martin! Kamu tak bisa mengandalkannya,”


“Jangan bawa-bawa Karen, Bu … “


“Apa?! Kenapa, hah?! Disaat genting seperti ini, kamu masih bisa membelanya?” Tersulut emosi Sophie, saat Martin lebih memilih untuk membela Karen.


“Aku memberimu dua pilihan, dan kamu harus segera memilihnya, jika ingin warisan itu jatuh ke tanganmu,” Kini Sophie mulai menekan Martin.


Martin masih diam, dengan hidung kembang kempis, berusaha menahan emosi dan rasa terkejutnya. Tak pernah terbayangkan, hidup selama lebih dari tiga puluh tahun dan dia baru menyadari jika dia bukanlah anak kandung Paul Willis. Atau setidaknya, anak kandung Sophie. Dia hanyalah anak pungut, tak ubahnya seperti Sierra yang selama ini selalu dia kasihani.


Tapi karena dibesarkan oleh Sophie, seorang wanita terlahir konglomerat, kepribadian Martin mau tak mau tentu menirunya. Sama seperti Sophie, Martin alergi terhadap kemiskinan. Saat bersama Sierra dan Karen, dia selalu mewajibkan mereka memakai barang-barang mewah, berusaha menyamakan kedudukan para wanita itu dengannya.


“Kamu boleh mempertahankan Karen, asal mau menikah lagi dengan Petrina. Atau … “ Sophie sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Martin.

__ADS_1


“Aku akan memaksa Karen berpisah darimu, hidup atau mati … “ bisik Sophie dengan nada mengancam.


__ADS_2