Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Keputusan Terbaik


__ADS_3

“Ini tidak seperti dugaanmu, Kamala,” Dengan cepat Karen menghapus air matanya, dan berjalan menghampiri Kamala. “Terima kasih sudah datang mengunjungi ibuku,” ucapnya, berusaha mengulaskan senyum yang tampak getir di mata Kamala.


Karen tak mau mendengar atau melihat reaksi Kamala. Dia buru-buru berlari, menjauhi Ray dan Kamala yang makin mencabik hatinya. Tak bisa dipungkiri, hatinya hancur saat melihat Ray bersama Kamala.


“Karen!” teriak Ray, meminta Karen untuk berhenti berlari.


Namun ketika dia hendak mengejar, Kamala dengan sigap menahan lengan Ray. Mau tak mau, Ray harus berhenti mengejar Karen.


Karen kira, setelah pernikahan mereka yang batal, Ray tidak akan lagi berhubungan dengan Kamala. Namun kenyataan seakan menyayatnya. Kamala kembali hadir dalam kehidupannya, sebagai pendamping Ray.


***


Di waktu yang sama, namun di lokasi yang berbeda, Petrina duduk dengan tegang di depan Martin yang mengenakan seragam tahanan. Tanpa menatap mata pria itu, Petrina menyodorkan sebuah dokumen perceraian.


Martin membaca satu-persatu kata yang terukir di sana, untuk kemudian memandang ke dalam mata Petrina.


“Apa ini?” tanya Martin. “Baru sebulan kita menikah, dan kamu ingin bercerai?”


Petrina menghela nafas. “Kamu tentu tahu, tujuanku menikahimu,” Petrina menarik kembali dokumen itu. “Aku ingin mempertahankan reputasi keluargaku–” Petrina sengaja menghentikan ucapannya, untuk menyerap kekuatan di sekitarnya demi menghadapi Martin. “Dan kurasa, dengan terus bertahan, hanya akan membuat keluargaku ikut tercoreng,”


“Sudah kuduga … “ Martin memejamkan mata, tak kaget. “Silahkan lakukan apapun maumu,”


Petrina tersenyum samar. “Jangan khawatir. Jika aku terbukti hamil, aku akan menyerahkannya padamu dan istrimu,”


“Tidak perlu,” sambar Martin. “Aku cukup bahagia hidup bersama Karen. Tak butuh anak,”


“Baiklah,” Petrina mengangguk. “Tapi kurasa, kamu butuh keturunan untuk mempertahankan statusmu. Kecuali kamu mau bersaing dengan Diego Willis,”


Telinga Martin berdiri saat mendengar nama asing itu. Namun tanpa perlu bertanya, dia sudah tahu jawabannya. Diego Willis, pasti nama dari anak Sierra.


“Tapi Martin–” Petrina menegakkan tubuhnya. Menatap Martin penuh iba. “Apakah kamu yakin, kalau Karen akan bertahan bersamamu?”


Martin terdiam. Tatapannya nanar ke bawah, sama sekali tak tentu arah. Sejujurnya, dia sendiri pun juga tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan Petrina.


Setelah mengetahui fakta jika Karenlah yang melaporkannya, Martin tak yakin jika Karen akan terus bertahan bersamanya.


Petrina menelan ludah, saat melihat reaksi memilukan dari Martin. Seorang Martin yang terbiasa hidup mewah, penuh digdaya dan pesona, kini harus mendekam di penjara seorang diri dan kesepian. Martin kini tak berdaya, dan hanya mengharapkan uluran tangan orang-orang yang rela membantunya.

__ADS_1


“Aku hanya berharap, semoga kalian terus bersama. Meskipun singkat, tapi aku senang bisa berhubungan denganmu,” ucap Petrina, sebelum pergi meninggalkan Martin yang terus membisu.


Dia tak lupa menoleh ke belakang, untuk memastikan Martin telah bergerak pergi. Namun hingga langkahnya sudah diujung pintu keluar, Martin tetap duduk di posisinya dengan tatapan gamang.


Petrina memejamkan mata, tak tega melihat kondisi Martin.


***


“Sierra? Apa yang kamu lakukan di sini?” tegur Karen, ketika Sierra berdiri di depan pintu apartemennya.


Sierra tersenyum, tanpa menjawab. Karen buru-buru membukakan pintu untuk Sierra.


Sambil masuk ke dalam apartemen itu, diam-diam Sierra melirik ke arah Karen. Dia melihat wajah sembab dan mata merah yang tampak sangat jelas jika Karen baru saja menangis.


“Bagaimana kondisi Paul?” tanya Karen, setelah menyuguhkan segelas minuman di depan Sierra.


“Dia sudah lebih baik. Meski masih sering mengigau memanggil Martin,” jawab Sierra.


Karen mengangguk. Dia ikut duduk di samping Sierra, namun tak berani menatap langsung ke mata Sierra.


“Petrina meminta cerai,” tandas Sierra tiba-tiba.


Sierra melirik Karen, sangat ingin tahu yang dipikirkan wanita itu.


“Karen?” panggil Sierra, karena wanita itu tampak sangat menghindari tatapan Sierra. Bahkan Sierra sampai menggenggam tangan Karen. “Ada apa?” tanyanya.


Karen menggeleng cepat. “Aku hanya–” Dia menghapus sisa air matanya. “Baru saja bertemu dengan ibuku,”


Sierra melipat bibir, tampak diam berpikir. Hingga keheningan menyelimuti mereka berdua dalam puluhan menit.


Sierra tidak pernah menyukai Karen, semenjak wanita itu masuk ke dalam kehidupan Martin. Bagi Sierra, Karen tak lebih dari seorang wanita cantik yang memporak porandakan kehidupan Martin dan Ray.


Namun Sierra–sebagai manusia biasa tentu memiliki titik simpati di hatinya. Melihat Karen yang berjuang sendirian menghadapi Martin serta Sophie, membuat Sierra mau tak mau prihatin.


“Kamu tentu tahu–” Sierra menarik nafas panjang. “Aku mencintai Martin,” tandasnya tanpa halangan. “Bahkan sampai sekarang,”


Karen hanya melirik Sierra, tak merasa terkejut.

__ADS_1


“Tapi jika harus memilih, aku tentu memilih agar kamu terus berada di samping Martin,” aku Sierra. “Karena memang hanya kamu, yang dia miliki saat ini,”


“Aku tidak bisa, Sierra,” gumam Karen.


“Dibandingkan Ray, Martinlah yang paling sial dalam hidup ini,” Sierra mulai membuka percakapan. “Meskipun Ray pernah kamu campakkan, Ray tetap memiliki keluarga dan wanita yang sangat mencintainya,”


Sierra menyeruput minumannya. “Sedangkan Martin, dia tidak punya apapun. Sejak dulu. Yang dia punya hanyalah uang,”


Sierra menghela nafas. “Aku membencinya, karena mempermainkan perasaanku. Tapi aku tidak tahan melihatnya seperti saat ini,” aku Sierra, memandang Karen sedih.


“Harusnya kamu bertahan di sisinya, tapi kenapa malah menikahi ayahnya?” tuntut Karen.


Sierra menggeleng. “Tidak semudah itu,” ucapnya. “Meski aku mencintainya, tapi dia mencintaimu,” Sierra mencondongkan tubuhnya menghadap Karen. “Aku tidak bisa memaksanya untuk mencintaiku, meski sudah kuserahkan seluruh milikku padanya,” 


Karen tersenyum getir. “Tapi dia telah merebutku dari Ray,”


“Iya. Kamu benar,” Sierra mengangguk. “Martin memang tidak bisa dimaafkan. Perbuatannya sudah sangat biadab,” racau Sierra, lebih kepada dirinya sendiri.


Kemudian Sierra beranjak berdiri. Dia menarik nafas, merasakan ketegangan cukup intens meski percakapan mereka hanyalah singkat.


“Maafkan aku, karena memaksamu untuk bertahan dengan Martin,” ucap Sierra. “Kamulah yang paling berhak untuk menentukan hidupmu, Karen. Sampai jumpa di persidangan besok,” Sierra tersenyum simpul, dan pamit pergi dari apartemen Karen.


“Sierra,” panggil Karen.


Sierra menoleh ke belakang.


“Apakah di persidangan nanti, aku berhak untuk menuntut Martin atau–” Karen berhenti, menggigit bibir. “Mencabut laporanku?”


Sierra sekali lagi tersenyum. “Jika kamu ingin terus maju, aku akan menyiapkan segala bukti. Karena akulah satu-satunya saksi penculikan itu,”


Karen sekali lagi mengigit bibir, tampak ragu.


“Apakah itu artinya, aku bisa bebas dari kekangan Martin? Bahkan bisa bercerai darinya?”


Sierra mengangguk. “Apapun. Apakah kamu sudah siap untuk kembali bersama Ray?” tanyanya dengan senyum simpul.


Bola mata Karen membesar saat Sierra menyebut nama Ray. Dengan dua tangan terkepal, Karen ikut tersenyum.

__ADS_1


“Aku akan memutuskan yang terbaik,” jawabnya mantap.


__ADS_2