
Bahkan setelah seminggu dari makan malam perusahaan, Martin tetap saja tak bisa menghapus ingatannya tentang Karen yang cantik jelita. Dia selalu memikirkan wanita itu, mendambanya setiap malam. Namun ketika dia harus bekerja dan memandang wajah Ray, bayangan-bayangan indah tentang Karen langsung hancur seketika. Tembok besar bernama pernikahan itu telah menjadi penghalang bagi hasrat Martin.
Tidak seperti biasanya, pagi ini Martin bangun dan bersiap kerja dari rumah ibunya. Ibunya, Sophie, tinggal terpisah dengan ayahnya, Paul, selama lebih dari 15 tahun. Kehidupan rumah tangga mereka seakan hanyalah formalitas di atas kertas, yang saling menguntungkan bagi kedua pihak. Sophie mendapatkan kekayaan dan hidup terjamin dari Paul, sementara Paul makin berekspansi dengan banyak perusahaan karena banyak rekan kerja dan media yang mengira jika dia adalah sosok suami serta ayah yang baik. Hal itu tentu membuat citra Paul makin bersinar dan mudah baginya untuk mengembangkan usaha.
Namun karena usia yang makin bertambah, mau tak mau Paul harus berbagi sedikit jerih payahnya, untuk Martin sang anak. Meskipun Paul percaya jika Martin bukanlah anaknya. Dan pria tua itu berusaha sangat keras untuk membuktikan hal itu, namun usaha Sophie untuk menutupinya pun juga tak kalah kokoh. Dan kini, berdirilah Martin, dengan kakinya sendiri, berusaha untuk membuktikan kekuatannya pada sang ayah.
“Kamu kerja hari ini?” tanya Sophie saat Martin mengambil duduk di depannya.
“Ibu lupa ini hari apa?” Martin balik bertanya kesal. “Lebih baik Ibu berhenti menghamburkan uang biar tidak mengira setiap hari adalah hari libur,”
Sophie hanya menggerutu tak peduli. Hubungan ibu dan anak ini memang tak pernah dekat, meskipun Martin juga tak pernah menjauhi ibunya.
“Kamu harus selalu ingat, ya, ayahmu itu masih terus berusaha mencari istri muda. Dia tetap yakin kamu bukan anaknya,” ucap Sophie sambil mengunyah sarapannya. “Kamu harus segera punya istri dan anak, biar ayahmu tak bisa berkutik lagi,”
“Ibu tak perlu mencemaskan hal itu. Aku sudah punya rencana sendiri,”
* * *
“Kemana Martin?”
Pagi ini, tanpa pertanda dan firasat apapun, Sierra harus menghadapi Paul Willis secara langsung karena tiba-tiba saja pria tua itu datang ke kantornya di saat Martin belum datang. Sierra yang kalang kabut tak tahu harus berbuat apa, selain hanya mempersilahkan Paul menunggu di dalam ruangan Martin dan menyiapkan minuman.
“Saya sudah menghubunginya, Tuan. Sebentar lagi Pak Martin pasti sampai,” jawab Sierra menundukkan pandangannya.
Paul tampak mulai tenang, dan pelan-pelan menyeruput secangkir kopi yang telah disiapkan Sierra. Dia terus memandangi Sierra, memperhatikan setiap detil gaya berpakaian Sierra.
“Ternyata kamu sudah berubah banyak, ya,” celetuk Paul.
Sierra mengangguk. “Ini semua berkat beasiswa dari perusahaan Tuan,”
__ADS_1
“Aku tak mengerti, kenapa kamu mau berhenti menjadi sekretarisku hanya untuk bersama Martin di sini,”
Sierra mulai bimbang untuk menjawab. Meskipun telah cukup lama bekerja untuk Paul, namun kharisma dan aura dominasi Paul masih saja terlalu besar untuk Sierra hadapi sendirian.
“Sierra?!!” panggil Martin yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
Sierra bernafas sangat lega melihat kedatangan Martin. Segala kegugupan di hatinya saat harus berdua saja bersama Paul langsung luntur seketika saat Martin datang. Tampak pria itu berjalan dengan nafas memburu mendekati Paul. Tatapannya tajam tak senang.
“Apa yang Ayah lakukan di sini?” tanya Martin.
Paul tak berniat beranjak dari duduknya. Pria tua itu justru duduk santai sambil menyilangkan kaki panjangnya.
“Apa kamu sudah merasa melampauiku hingga berani bicara begitu?” Suara Paul terdengar berat.
“Ayah tak biasanya datang ke sini,” jawab Martin cepat.
Martin tanpa sadar telah mengepalkan erat kedua tangannya. Saat melihat hal itu, diam-diam Sierra menggenggam tangan Martin, berusaha meredakan emosinya.
“Aku akan menikah secepatnya,” ucap Martin pendek.
Sierra yang berdiri di sebelah Martin langsung menatap kaget, tak menyangka kata-kata itu keluar begitu saja. Setahu Sierra, Martin tak sedang dekat dengan wanita manapun. Bahkan untuk sekedar memuaskan gairahnya pun, Martin juga tak pernah. Sierra tahu pasti, Martin belum tertarik akan wanita.
Paul mendadak tertawa.
“Kamu pikir, kamu bisa menikah tanpa dasar cinta?” Pria tua itu bangkit berdiri.
Dipandanginya Martin dan Sierra bergantian, masih dengan tawa di mulutnya. “Apa kamu akan memaksa Sierra menikahimu?” tebak Paul.
Sierra sedikit tersipu malu saat mendengarnya, namun Martin makin kokok berdiri.
__ADS_1
“Tidak,” sahut Martin mantap.
Jawaban yang membuat hati Sierra seakan mencelos jatuh menuju perutnya. Lalu siapa yang akan dinikahi Martin?
“Aku mencintai seseorang dan aku akan menikahinya,”
* * *
Setelah pagi tadi sempat diserbu dengan kedatangan Paul yang tiba-tiba, sore ini, Sophie Willis datang tergopoh-gopoh ke ruangan Martin. Sierra yang bertugas menyaring seluruh tamu untuk Martin, mendadak kewalahan hingga ia harus meminta bantuan Ray untuk menemani Sophie. Dengan cepat Ray segera mempersilahkan Sophie masuk ke ruangan Martin dan mendampingi wanita tua itu.
“Martin! Apa benar kamu sudah menemukan calon istri?” Tanpa basa-basi, Sophie membombardir Martin dengan pertanyaan, sedetik setelah Ray membuka pintu untuknya.
Martin yang kelabakan hanya bisa tercengang, tak tahu harus menjawab apa. Apalagi, saat dia tahu bukan Sierra yang menemani Sophie, tapi malah Ray. Demi menenangkan ibunya, Martin berdiri dan perlahan mendekati Sophie.
“Bu, Ibu dengar dari siapa?” tanya Martin pelan, takut karyawannya di luar menguping pembicaraan mereka.
“Tadi ayahmu meneleponku!” jawab Sophie, tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. “Martin, kenapa kamu tak bilang padaku? Siapa wanita itu? Apa dari keluarga kaya?” cecar Sophie tak sabar.
Dari ekor matanya, Martin bisa melihat ekspresi Ray yang tampak sama penasaran dan bahagia layaknya Sophie. Melihat raut wajah yang tersemat pada Ray itu membuat Martin menyunggingkan sebelah senyuman penuh arti.
“Yang pasti dia wanita tercantik yang pernah kutemui,” jawab Martin, tak bisa mengalihkan pandangannya dari Ray.
Sophie menganga lebar, makin senang. “Siapa, Martin? Apa aku mengenal keluarganya? Ayolah, cepat bawa dia bertemu denganku!” seru Sophie tak sabar.
“Kalau sudah waktunya, aku pasti akan bawa dia ke ibu,” timpal Martin. Kali ini dia beralih menatap ibunya.
“Karena masih banyak urusan yang harus kubereskan, jika aku ingin bersama dengannya,” Pandangan Martin sekali lagi beralih pada Ray saat mengucapkannya.
Martin sekali lagi menyunggingkan sebelah senyuman, sementara Ray tampak mengangguk kecil. Tanpa Ray sadari, inilah awal dari malapetaka yang menghancurkan rumah tangganya.
__ADS_1