Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Flashback #2


__ADS_3

Flashback 2


Ray telah bekerja selama hampir tiga puluh hari di perusahaan Fortuna Corp, dan seluruh tugas dan perintah dari Martin berhasil dia selesaikan dengan lancar tanpa hambatan. Mudah bagi Ray untuk menyesuaikan diri sesuai apa mau Martin, mengingat sebelumnya dia pernah bekerja secara lepas untuk beberapa perusahaan asing. Ray memang berbakat, dan dikaruniai otak yang cerdas dalam menguasai hal baru, maka tak heran jika hanya dalam waktu satu bulan, dia telah berhasil menjadi pegawai kesukaan Martin, bersanding dengan Sierra.


"Ini ruanganmu," Sierra menunjukkan sebuah ruangan kerja pribadi dengan nama Ray White di depan pintu.


Ray tersenyum bangga, menjabat tangan Sierra penuh sukacita.


"Aku akan mentraktirmu makan lain kali. Ingatkan aku, ya!" ucap Ray, bergegas masuk ke dalam ruangannya.


Dia takjub luar biasa. Ruangan yang kecil berbentuk kotak itu adalah miliknya seorang, dengan jendela luas dan kursi kerja yang empuk. Berkali-kali Ray berdecak kagum, membuat Sierra yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum geli.


"Bagaimana perasaanmu, Ray?" tanya Sierra. "Apa istrimu senang?"


Sierra tentu sudah tahu mengenai Karen, istri Ray, karena hampir setiap hari Ray mengeluhkan apapun pada Sierra. Kedekatan mereka yang sangat cepat dikarenakan sikap Ray yang selalu ramah pada siapapun.


"Dia tiap hari mengajakku bikin anak,"


"Haha!!" Tawa Sierra tak bisa dikontrol, lepas begitu saja setelah mendengar ucapan Ray.


"Oh iya, hari ini Tuan Paul, ayah dari Pak Martin akan datang menemuimu," ujar Sierra, hampir saja kelupaan karena asyik membahas sikap konyol istri Ray.


Ray yang semula sibuk dengan ruangan barunya, langsung mengerutkan kening. "Siapa?"


"Dia pemilik banyak perusahaan, salah satunya perusahaan ini. Yang sekarang dia alihkan pada Martin, anaknya," jelas Sierra.


"Kenapa dia ingin menemuiku?" tanya Ray bingung.


Sierra menautkan kedua alisnya. "Mungkin dia sudah mendengar kinerja baikmu dari Martin," tebak Sierra, sama-sama tak tahu.


Ponsel Sierra berbunyi, dan dalam sedetik setelah membaca nama di layar, Sierra mengisyaratkan Ray untuk bergegas menuju ruangan Martin. Ponsel Sierra ternyata berbunyi karena ada panggilan masuk untuknya dari Martin. Dan tanpa perlu repot-repot mengangkatnya, panggilan itu sudah bisa dipastikan adalah panggilan untuk datang ke ruangannya.


"Selamat pagi, Pak Martin," sapa Sierra, masuk ke dalam ruangan Martin, disusul Ray di sampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana ruangan barumu, Ray?" tanya Martin.


Ray tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, Pak. Saya akan berusaha untuk terus belajar dan lebih baik lagi ke depannya,"


Martin mengangguk senang dan puas. Semenjak kedatangan Ray, raut wajah Paul tak pernah tenang. Tujuannya mempermalukan Martin pada seluruh direksi terpaksa gagal, karena kemajuan perusahaan yang justru makin naik sejak Martin menjabat.


"Besok malam Ketua mengadakan makan malam untuk para orang penting di perusahaan. Dan kamu boleh mengajak pasanganmu," ujar Martin.


Perasaannya pagi ini sangat bahagia, berbanding lurus dengan cerahnya cuaca di luar sana. Ray tampak melirik Sierra sekilas, dan wanita muda itu mengangguk. Maka Ray yang juga sama bahagianya seperti Martin, terus tersenyum senang, membayangkan betapa senangnya Karen saat dia mendengar kabar ini.


* * *


"Apa? Makan malam perusahaan? Dengan pemilik Fortuna Corp?" tanya Karen tak percaya, setelah pulang kerja Ray menceritakan semuanya.


"Orang-orang pasti akan takjub dengan kecantikan istriku," pongah Ray penuh bangga. Dia mengecup bibir istrinya perlahan.


"Terus, apa yang harus kupakai, Ray? Kamu tahu, kan, aku sudah lama nggak datang ke pesta, jadi aku nggak punya gaun baru untuk kupakai," tanya Karen cemas.


"Tapi Ray … " Karen tak buru-buru menerima kartu itu, melainkan hanya memandanginya dengan ragu-ragu.


"Nggak apa-apa, Sayang. Hidup kita sudah kembali normal. Kamu nggak perlu terlalu irit lagi seperti dulu," timpal Ray, berusaha membesarkan hati istrinya.


Akhirnya, setelah berhasil diyakinkan oleh Ray, Karen dengan penuh kehati-hatian menerima kartu kredit itu.


"Aku janji cuman buat beli gaun," ucap Karen.


"Buat ke salon juga nggak apa-apa, Sayang. Toh ini kan momen penting. Kalau kamu cantik, orang-orang pasti akan memujiku,"


* * *


Acara makan malam yang ditunggu pun tiba. Semua orang-orang penting dibalik Fortuna Corp datang, begitu pula rombongan Paul Willis dan keluarganya. Dari kejauhan Ray bisa melihat, bosnya, Martin, nampak berdiri canggung di sebelah ayahnya. Ray untuk beberapa saat terkesima dengan karisma yang dipancarkan Paul. Pria tua itu, meskipun rambutnya memutih dan kulitnya keriput tak lagi muda, tubuhnya tetap tegak dan tegas, tak ada cela sama sekali. Ray bisa merasakan aura kepemimpinan dan intimidasi yang kuat dari seorang Paul Willis, sehingga Martin, anaknya sendiri pun tak berani banyak berkutik di sebelahnya.


"Mana istrimu?" celetuk Sierra, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Ray. Wanita itu menyodorkan minuman pada Ray.

__ADS_1


"Dia masih di jalan, katanya bentar lagi sampai,"


"Aku jadi penasaran, kayak gimana sih wajah istrinya Ray, sampai bisa bucin begini," sindir Sierra, disertai dengan tawa geli.


"Si, itu siapa wanita di samping Martin?" tanya Ray mengalihkan pembicaraan.


Sierra mengikuti arah tatapan mata Ray. Kemudian dia mengangguk.


"Oh, dia Sophie Willis, istri Tuan Paul,” jawab Sierra.


Ketika mereka berdua sedang asyik berbincang, berkasak-kusuk membicara tiap tamu penting yang datang, seluruh kerumunan dibuat heboh dengan kedatangan seorang wanita berparas luar biasa cantik, berambut panjang terurai dan mengenakan gaun hitam panjang. Penampilan nan cantik itu juga didukung dengan riasan elegan minimalis dan anting putih berkilauan.


“Karen … “ panggil Ray, ikut terkesima dengan kecantikan istrinya sendiri.


Sierra melotot lebar. “Itu istrimu, Ray?” serunya tak percaya.


Saat melihat Ray, Karen bergegas menghampiri suaminya, karena mulai merasa canggung dengan tatapan orang-orang yang terus tertuju padanya.


Di sisi lainnya, sama seperti orang-orang lainnya yang kagum dengan kecantikan Karen, begitu pula Martin, yang berdiri kaku tak berkedip saat melihat Karen berjalan bak bidadari dengan senyuman lebar ke arah Ray. Pandangan mata Martin tak bisa lepas dari sosok Karen, bahkan dia rela berhenti bernafas hanya untuk memandangi wanita itu.


Dan tanpa dia sadari sepenuhnya, tubuhnya telah bergerak sendiri menuju ke arah Karen yang sedang mengobrol bersama Ray dan Sierra. Begitu melihat sosok Martin yang mendekat namun pandangan kosong, Sierra segera mencubit lengan Ray agar berhenti berbicara. Maka ketiga orang itu berdiri mematung, keheranan melihat Martin yang menghampiri mereka.


“Ada yang bisa kami bantu, Pak Martin?” tanya Sierra heran.


Tatapan mata Martin tak mau lepas dari Karen, hingga wanita itu sedikit jengah.


“Siapa wanita ini, Ray?” tanya Martin pada Ray. Martin bahkan tak memperdulikan keberadaan Sierra yang kesal karena pertanyaannya tak dihiraukan.


“Oh, perkenalkan, Pak Martin, ini istri saya,” jawab Ray, cepat-cepat menyuruh Karen mengulurkan tangannya.


“Karen White,” ucap Karen.


Martin menerima uluran tangan itu dengan mata tak berkedip. “Martin,”

__ADS_1


__ADS_2