Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Penderitaan


__ADS_3

Martin terus mengawasi setiap detil raut wajah dan gerak-gerik mencurigakan Ray di atas altar, yang atas bantuan banyak sorot lampu, sangat mudah terbaca olehnya. Dia menyeringai lebar, seakan paham apa yang sedang terjadi. Segala dugaannya itu didukung oleh kasak-kusuk para undangan yang kebingungan karena Kamala tak kunjung muncul, dibarengi dengan wajah pucat Ray di atas altar.


"Mana pengantin wanita?! Apakah dia kabur?" Martin sengaja menyebar kepanikan, dengan pertanyaan penuh tebakan yang sengaja dia ucapkan sangat nyaring.


Benar saja. Seluruh tamu mulai berdengung seperti kawanan lebah yang mendapatkan madu. Semua mulai berkasak-kusuk, sesaat setelah mendapatkan letupan api dari Martin yang sengaja ingin mempermalukan Ray dan seluruh keluarganya. Karen buru-buru menarik tangan Martin dengan mata melotot penuh tuntutan, tapi suaminya itu justru menepis dan sangat menikmati segala tindakannya.


"Ayo pulang, Martin," bisik Karen, karena tak senang dengan segala gosip yang dihembuskan Martin.


Martin menepis tangan Karen yang memegang erat tangannya. "Kenapa, Karen? Kamu tak suka, mantan suamimu itu kupermalukan?"


Karen menggeleng cepat. "Kamu yang membuatku malu," bisiknya lagi.


Martin tak peduli. Dia menikmati setiap gerombolan yang berdengung tak karuan, yang mulai menyebar banyak berita bersumber dari pemikiran mereka sendiri. Sementara Ray, dia masih saja berdiri di tempat, andai Marsel dan Adam tak buru-buru menarik mundur tubuh Ray agar tak makin banyak disorot. Rudi Bruggman mondar-mandir di tempatnya, beberapa kali memukul kepalanya.


Tentu dialah orang yang paling pusing luar biasa. Kamala sendiri yang meminta Rudi untuk menerima lamaran Ray, bahkan Rudi bisa melihat dengan jelas senyum bahagia di wajah sang anak saat Ray tiba-tiba melamarnya. Dan malam ini, bagaikan terbangun dari mimpi, Kamala tiba-tiba menghilang, meninggalkan rasa malu dan kekecewaan di hati kedua orang tuanya. Reputasi dan harga diri keluarga Rudi Bruggman sebagai salah satu konglomerat besar, harus dipertaruhkan akibat hilangnya Kamala.


"Apa yang terjadi?!!" teriak Rudi saat seluruh keluarga telah berkumpul di ruang ganti.


Sergio menyerahkan secarik kertas yang disinyalir sebagai tulisan tangan Kamala. "Putrimu hanya meninggalkan ini," katanya sedikit murka.


Perdebatan sengit terus terjadi antara Rudi dan Sergio, yang ingin mempertahankan argumen masing-masing demi membela sang anak. Sementara Ray, dia hanya duduk berdiam diri di pojok ruangan, dengan Lydia yang terus-menerus mengelus punggung Ray, berusaha menenangkan.


"Aku yakin ini semua adalah ulah Eros," tebak Rudi, murka saat membayangkan penculikan yang sekali lagi terulang.

__ADS_1


Sergio mengusap eluh tegang di keningnya. "Biar aku yang mencarinya,"


"Eros di penjara," sahut Ray tiba-tiba.


Semua diam, hanya memusatkan perhatian pada sosok Ray yang tampak sangat terpukul dengan kejadian ini. Rudi dan Sergio saling pandang, dan sepakat untuk memberi sedikit ruang bagi Ray untuk sendirian dan merenung. Mungkin, memang hanya Ray satu-satunya orang yang tahu jawaban atas kemanakah Kamala menghilang.


***


"HAHAHA! Dia memang hidup untuk dicampakkan wanita!" Tawa Martin menggelegar, bahkan ketika telah sampai di apartemen mewah mereka.


Karen tak ingin menanggapi, justru bibirnya terkatup rapat. Dia mulai melepas satu-persatu perhiasan dan menghapus riasan.


"Tapi aku bangga, semua orang memperhatikanmu, Sayang," Martin melingkarkan lengannya ke pinggang Karen.


Karen mengulaskan senyum tipis yang samar. Dia tak terpengaruh dengan racauan Martin, yang seakan sedang terpengaruh minuman keras. Nyatanya, Martin seratus persen sadar. Dia hanya sangat bahagia di atas penderitaan Ray.


"Hentikan, Martin," cegah Karen, tanpa sadar. Dia seketika mengatupkan bibirnya, menyadari jika kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.


Mendengar ucapan singkat itu, sukses menohok hati Martin. Pria itu otomatis diam, memiringkan ekor matanya menatap Karen, penuh dengan tatapan curiga yang mulai sedikit liar.


"Kamu membelanya?" tanya Martin dingin. Lonjakan perubahan emosi Martin sungguh membuat Karen merinding. Sedetik lalu, Martin tertawa berkali-kali tanpa beban, dan kini sedingin kutub.


Karen buru-buru menggeleng. "Tak seharusnya kita bahagia akan penderitaan orang lain," kilah Karen, berharap bisa dimengerti Martin.

__ADS_1


"Orang lain?" Martin menunduk, bertatapan dengan Karen. "Kamu yakin? Kamu yakin, hanya orang lain? Bukan mantan suamimu?"


Karen menelan ludah, ngeri. Sorot mata Martin bukanlah sorot mata yang dia kenali beberapa menit yang lalu. Sorot mata Martin berubah menjadi orang lain yang tak ragu menghabisi siapapun yang merusak suasana hatinya.


Namun diluar dugaan, Martin justru mengecup kening Karen lembut.


"Kamu itu milikku, Karen. Jangan coba-coba membela orang lain di depanku," ucap Martin, penuh ancaman meski diucapkan dengan nada yang halus.


Kemudian pria itu mulai melucuti satu persatu benda yang masih menempel di tubuh Karen, dan mengangkat ringan tubuh Karen menuju ranjang mereka. Sekali lagi Martin mengecup kening Karen.


"Kamu itu milikku yang berharga, Karen. Tak akan kubiarkan orang lain menyentuh ujung jarimu,"


***


Segalanya terjadi cepat, namun tak membuat Karen terpuaskan. Dia menatap pias suaminya yang sedang tertidur pulas di sampingnya, terjebak dalam permainannya sendiri. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah kerlipan cahaya kendaraan yang tampak dari jendela besar di depan ranjangnya, dengan pikiran yang melayang. Hidup penuh kemewahan dan harga diri yang mulai naik, nyatanya tetap membuat hati Karen terasa hampa. Bayang-bayang akan sakit hati Ray saat dia tinggalkan, terus saja menghantui malam-malam Karen, seakan tak berujung.


Karen mulai beranjak, mengganti pakaian dan meraih jaket untuk diam-diam keluar demi menyegarkan pikiran. Dia memilih untuk berjalan kaki di sekitar apartemen, mengamati lalu lalang kendaraan yang tak berujung, meski hari makin larut. Dan ketika dia melewati jembatan besar yang tak jauh dari huniannya, tak sengaja Karen menangkap sosok Ray, yang sedang menyesap rokoknya pelan-pelan. Tatapan Ray nanar, terbuang ke arah luasnya sungai yang ada di bawah.


Karen buru-buru berlari, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu Ray. Dia yakin, kesempatannya hanyalah malam ini. Seakan pergantian hari, membawanya akan semakin jauh dari Ray.


"Suamimu akan membunuhku jika tahu kamu di sini," celetuk Ray, sadar akan sosok Karen yang mulai mendekat.


Mendengar kata 'suami' terucap dari mulut Ray, mantan suaminya, membuat hati Karen berdenyut sakit. Kata-kata yang hendak keluar mulai tercekat di tenggorokan, ketika hatinya memilih untuk fokus mengobati denyutan ngilu itu.

__ADS_1


"Aku tak butuh dikasihani," ujar Ray, sekali lagi. "Apalagi olehmu,"


Samar-samar Karen menggeleng, namun sangat tipis hingga Ray tak bisa menangkap tanggapan Karen dengan baik. Pria itu terus menyesap habis rokoknya, dengan pandangan yang tak teralihkan sedikit pun dari sungai luas di bawah jembatan. Seakan Ray tak menangkap sosok Karen lewat matanya. Seakan ucapan Ray diucapkan pada udara kosong di sebelahnya.


__ADS_2