Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Ancaman Sophie


__ADS_3

Kamala menggenggam erat sebatang tes alat kehamilan di tangan kanan, dengan laju yang makin lama makin cepat dan mantap. Wanita muda itu terus mengerutkan kening, hingga dua alisnya nyaris menyatu. Wajahnya sangat serius, seperti seseorang yang hendak menuntut keadilan.


Maka sampailah dia di hadapan petugas penjara, yang segera mempersilahkan Kamala untuk masuk ke ruang tunggu berbentuk labirin, dimana dia akan berhadapan dengan Eros dibatasi kaca tebal.


Wajah Eros kaget luar biasa saat melihat Kamala. Pria muda itu bahkan melebarkan senyum, sangat senang Kamala datang.


“Aku tahu kamu akan datang menemuiku, cepat atau lambat,” ujar Eros bangga.


Kamala tak mau banyak bicara. Dia segera mengacungkan alat tes kehamilan itu, ke depan muka Eros yang dibatas kaca.


"Ternyata kamu laki-laki lemah," seloroh Kamala, dengan senyum licik yang setengah diumbar.


Bola mata Eros gemetar hebat, dan dia mulai hilang kendali.


Bam! Dia pukul kaca tebal itu sekeras yang dia bisa, dengan mata melotot dan wajah merah penuh emosi.


"Awas kau, Mala!! Aku pasti akan menghamilimu!! Aku akan buat kamu tak bisa kabur dariku!" ancam Eros membabi-buta.


Eros terus menggedor kaca, membuat dua petugas segera masuk untuk menenangkan Eros. Kamala berdiri anggun, dengan sedikit lambaian tangan pada Eros yang terus meronta minta dilepas. Kamala bisa mendengar sayup-sayup Eros terus memaki namanya dengan segala bentuk makian yang pernah ada.


Kamala keluar dari rumah tahanan itu, dengan hati yang penuh syukur dan lega. Dia segera naik ke jok belakang mobil, membiarkan Marsel memegang kendali hari ini.


“Bagaimana?” tanya Marsel, ikut senang saat melihat senyum di wajah Kamala.


“Kumohon jangan beritahu Ray,” pinta Kamala.


Marsel diam, tak buru-buru mengiyakan. “Kenapa, Kamala?”


Kamala menggigit bibir. “Aku ingin … dia memang tulus mencintaiku, bukan karena hal lain,”

__ADS_1


Marsel tersenyum dan mengangguk saat mendengar alasan Kamala. Sebagai asisten Rudi Bruggman yang setia, Marsel tentu setuju saat perjodohan Ray dan Kamala terjadi. Dan sekaligus ikut sedih saat keduanya membatalkan pernikahan.


***


Sophie meletakkan gelasnya cukup keras, hingga bunyi denting antara gelas kaca dan meja kaca di apartemen mewah kediaman Martin dan Karen. Wanita tua itu duduk bersandar, dengan kedua tangan dilipat dan kaki disilangkan.


Meskipun wajahnya bersungut emosi, namun kecantikan dan keanggunan Sophie tetaplah tak terbantah. Wanita tua itu sangat mencerminkan sosok wanita konglomerat.


“Kamu yakin, kamu tidak mandul?” serang Sophie tanpa perasaan.


Karen diam, menunduk dan tak mampu melawan. Padahal dia sudah merahasiakan semua rapat-rapat, bahkan dari Martin sekalipun. Tak ada yang tahu hasil tes kehamilan miliknya, karena Karen selalu membuang tepat setelah dia pakai.


Dan hari ini Sophie tiba-tiba datang, marah-marah tanpa angin atau hujan. Wanita tua itu menerjang masuk dan segera menanyakan hal sensitif itu pada Karen.


“Sebaiknya kita periksa ke dokter,” usul Sophie, setengah memaksa.


“U-untuk apa, Ibu?”


“Jangan panggil aku Ibu!” hardiknya. “Sebelum kamu bisa memberikan anak pada Martin,”


Karen kembali diam, memainkan jari-jarinya pertanda gugup. Jika ada kesempatan, pasti saat ini dia sudah menjedotkan kepalanya sendiri ke dinding, frustasi luar biasa.


Wanita mana yang tidak ingin hamil? Tidak ada. Bertahun-tahun Karen menunggu saat-saat dia bisa menjadi calon ibu dan merasakan ada kehidupan baru di perutnya. Tapi nyatanya hingga saat ini, semua belum terwujud. Meski dia sudah berganti suami.


“Aku akan menelepon dokter langganan Willis. Kamu besok harus datang bersama Martin,” simpul Sophie seenaknya.


“Aku tahu, kamu pasti akan menuduh anakku. Tapi mari kita buktikan sama-sama. Siapa yang sebenarnya mandul,” tambah Sophie, mulai menghubungi dokter yang dimaksud.


Punggung Karen memanas, berharap waktu bisa segera berlalu. Setidaknya, dia berdoa agar seseorang segera datang dan menolongnya dari intimidasi Sophie. Karena sesuai perangainya yang licik, Sophie pintar memilih waktu datang ke apartemennya. Sophie selalu datang saat siang hari, dimana Martin biasanya masih sibuk di kantor.

__ADS_1


Sophie tiba-tiba melempar kukis bikinan Karen, seketika meludah jijik serasa mau muntah.


“Bagaimana bisa Martin hidup dengan wanita sepertimu?! Senang membuang uangnya untuk membuat makanan sampah seperti ini,” ejek Sophie.


Karen tahu, Sophie adalah wanita kaya sekaligus koki selebriti yang memiliki acara sendiri di televisi. Sudah bisa dipastikan jika dia pandai memasak. Namun, bukan berarti wanita tua itu bisa menghina Karen sesukanya. Begitu pikiran Karen.


“Maafkan saya, Ibu. Lain kali saya akan buat yang lebih enak lagi,” Karen buru-buru menarik balik kukis buatannya.


“Satu lagi … “ Sophie kemudian menggeledah tasnya, dan mengeluarkan beberapa lembar foto.


Lembaran foto-foto itu dia lempar begitu saja di atas meja, dan saat Karen melihat, foto itu adalah foto rumah masa lalunya saat tinggal bersama orang tua, beserta foto ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


“Satu lagi, seorang wanita miskin yang bermimpi bisa menduduki tahta,” gumam Sophie, dengan tatapan jijik pada Karen.


“Pantas, kamu selalu menghindar saat aku bertanya tentang orang tuamu. Ternyata … kalian keluarga miskin. Dasar wanita licik,” umpat Sophie. “Tapi aku bisa memberimu kesempatan karena kamu cantik,”


Tubuh Karen gemetar, memunguti satu demi satu lembaran foto itu, dan mulai menitikkan air mata saat matanya menangkap potret sang ibu yang terbaring di ranjang rumah sakit. Hatinya berdenyut sakit, merasa sangat bersalah karena dia telah lama tak mengunjungi ibunya.


“Kenapa? Kenapa kamu menangis? Kamu menyesal menikahi Martin?” seru Sophie. “Kamu terkejut, karena ternyata Martin memiliki ibu sepertiku?” Sophie justru makin pongah.


Sophie sekali lagi mencondongkan tubuhnya ke depan. “Tak ada yang gratis di dunia ini, Karen. Kamu bisa menikmati harta anakku, tapi hidupmu tidak akan bisa tenang sebelum membuatku puas,” ancam Sophie dengan tatapan penuh intimidasi.


“Inilah harga yang harus kamu bayar, karena berani mencampakkan suamimu demi seorang pria konglomerat,”


Sophie terus mengeluarkan kata-kata tajamnya pada Karen, yang kini seperti es yang mencair karena terus dihujani air panas. Dia terus menitikkan air mata. Setelah mengingat ibunya, dia kini kembali teringat akan hari dimana dia kabur begitu saja dari Ray. Andai waktu bisa diputar, dia tidak akan menerima ajakan Martin untuk menikah.


“Pastikan seluruh tes kalian baik-baik saja, besok,” ucap Sophie, setelah kelelahan memaki Karen karena tak ditanggapi.


“Jika terbukti kamulah yang bermasalah, maka … “ Kini Sophie bangkit berdiri. Dia berjalan memutar, berpindah duduk di samping Karen.

__ADS_1


Sophie mengangkat pelan dagu Karen, dengan senyum licik penuh maksud.


“Maka aku akan mencarikan istri baru untuk Martin … “ bisik Sophie, lurus ke depan daun telinga Karen.


__ADS_2