Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Kamala


__ADS_3

“Dimana aku bisa menemui ayahku?” tanya Ray, dengan perasaan membuncah penuh kegembiraan, berharap sebentar lagi bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.


Salah satu dari mereka pun segera mengeluarkan ponselnya, namun bukannya memberikan informasi mengenai keberadaan Sergio, dia justru menyerahkan ponselnya supaya Ray bisa membaca pesan singkat yang tertera di layar ponsel itu.


Pesan singkat itu berisi himbauan kepada seluruh anggota geng, untuk mulai melacak keberadaan Kamala Rudi, yang disinyalir berada di salah satu villa milik keluarga White.


Selain memiliki kerajaan bisnis vila, keluarga White juga menjadi pemimpin geng yang bekerja melalui jalur bawah tanah untuk para konglomerat, khususnya keluarga Rudi Bruggman. Fakta ini baru diketahui Ray, setelah salah satu dari anggota preman itu menjelaskan padanya. Meskipun dia adalah satu-satunya anak Sergio White, Ray tak pernah tertarik dengan bisnis keluarganya dan berupaya untuk tumbuh dengan kakinya sendiri.


Dan malam ini, segala keegoisan dan idealismenya dipatahkan oleh pertolongan dari Sergio. Andai ayahnya itu tak menyelamatkan, mungkin kini Ray telah menjadi seonggok mayat penasaran dengan dendam abadi pada Martin Willis.


“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya si anak buah, yang sedari tadi berdiri patuh di samping Ray.


“Siapa namamu?”


“Adam, Tuan,”


Meskipun tubuhnya nyeri dan babak belur, Ray tetap berusaha bangkit dengan bantuan Adam. Dia membantu Ray dengan membopong badannya supaya Ray bisa berdiri tegak di hadapan dua puluh preman yang masih berdiri membungkuk di hadapannya.


“Aku yakin dia tak akan membawa Kamala ke tempat yang jauh,” tukas Ray. “Sebar seluruh anggota untuk mencari ke setiap vila terdekat dari pelabuhan. Aku yakin dia berada di salah satu vila disana,”


Adam berseru mengiyakan, dan sesegera mungkin memerintahkan anak buahnya untuk mulai bergerak. Satu persatu sedan hitam itu mulai melaju pergi, sesuai dengan intrupsi dari Ray. Dan kini hanya tersisa satu mobil, dengan Ray dan Adam yang masih berada di tempat.


“Tuan, sebaiknya Tuan saya bawa ke rumah sakit terdekat,” saran Adam, mencemaskan kondisi tubuh Ray yang kelewat babak belur.


Ray yang sudah tak sanggup berdiri lama, memilih untuk kembali duduk. Dia sedikit merintih, memegangi dada dan bergantian ke perut serta area tubuhnya yang lain. Segalanya nyeri, menyebar rata dan terasa adil. Adil untuk sebuah rasa sakit yang didasarkan atas kecemburuan.


Kemudian Ray mengangguk, menyanggupi saran Adam tanpa banyak syarat. Keduanya pun bergegas menuju klinik atau rumah sakit terdekat, supaya Ray bisa segera diobati. Tapi selama perjalanan, Ray tak berhenti memperingatkan pada Adam untuk memberinya kabar jika Kamala telah ditemukan.


***


Kamala memekik, ketika mendapati dirinya yang tak tertutup apapun dan kedinginan. Dia melingkarkan tubuhnya, memeluk erat diri sendiri dengan badan yang gemetaran. Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri, tapi Kamala mengingat kelakuan bejat Eros padanya. Secara membabi buta, Kamala meraung sekeras yang ia bisa, berharap akan ada pertolongan.


Eros yang menyadari jika Kamala telah siuman, bergegas masuk ke dalam kamar sambil membawa sepasang gaun panjang. Dia berikan gaun itu, yang disambut tepisan keras oleh Kamala. Wanita muda itu memilih tak berpakaian, daripada harus menerima uluran tangan dari Eros.

__ADS_1


“Kamu kenapa, Mala sayang?” Eros justru tersenyum menampakkan deretan giginya saat melihat respon histeris dan ketakutan dari Kamala.


“Menjauh dariku, dasar iblis!!” hardik Kamala, makin memeluk erat tubuhnya.


Eros justru tertawa. “Mala, kenapa kamu sinis padaku? Padahal aku sudah menanam benih di rahimmu,”


Kamala kembali meraung, namun kali ini dia menutup kedua telinganya, berharap tak lagi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kotor Eros.


Eros bergerak maju, hendak menghampiri Kamala. Tapi wanita muda itu lagi-lagi histeris, melempar apapun yang berada dekat dari jangkauannya. Tapi Eros, sebagai seorang pria, tentu tak mudah gentar hanya dengan bentuk perlawanan dari seorang wanita putus asa macam Kamala. Dia sekarang sudah naik ke atas ranjang, sebentar lagi meraih tubuh Kamala.


Braakk!


Pintu kamar mereka dibanting, sangat keras, hingga serasa dinding di belakang pintu bisa roboh andai tak dibangun dengan pondasi yang kuat. Kini telah berdiri dua orang preman utusan Ray, penuh wajah murka dan siap menghabisi Eros menjadi debu.


Eros kebingungan, hendak melawan, namun apalah daya, dia tak akan mampu mengatasi dua pria besar itu. Eros dipukuli di tempat, sementara Kamala masih saja memeluk tubuhnya yang tak berbusana.


Kemudian pandangannya menangkap sosok Ray yang masuk terburu-buru ke dalam kamar dengan sehelai kain lebar yang segera Ray lemparkan ke seluruh tubuh Kamala. Tanpa banyak bicara, pria itu menuntun Kamala untuk turun dari ranjang dan pergi dari sana.


“Kamu sudah aman sekarang,” ujar Ray, sepanjang perjalanan mereka keluar dari vila.


“Jangan bunuh dia, Ray,” tahan Kamala. “Aku tak ingin kamu masuk penjara karenaku,”


Ray tersenyum tipis. “Dia tak pantas dibunuh. Dia harus menanggung malu seumur hidupnya,”


Ray melepaskan genggaman tangan Kamala, melesat cepat masuk kembali ke dalam villa, dengan Adam di belakangnya. Jantung Ray berdegung cepat, kemarahannya sudah meletup-letup terhadap Eros.


Pria muda itu telah babak belur, mohon ampun dan bersujud pada Ray yang baru saja masuk. Namun Ray justru kembali menendang wajah Eros, sekerasnya dan mungkin salah satu gigi Eros patah dibuatnya.


“Akan kupastikan kau mendekam di penjara, dan keluargamu tak akan punya pewaris lagi,” ancam Ray, tak main-main.


Eros segera berlutut, memeluk salah satu kaki Ray dengan tangisan penuh penyesalan.


“Kumohon lepaskan aku! Aku menyesal, aku akan bertanggung jawab!” raung Eros.

__ADS_1


Ray kembali menendangnya, hingga Eros jatuh terpelanting mundur.


“Kau pikir, semua akan selesai dengan menikahi Kamala? Dan apa kau pikir, aku akan membiarkanmu menikahi Kamala?” cecar Ray. “Tak ada tempat yang lebih pantas untukmu selain penjara,”


Terdengar teriakan Eros, penuh tuntutan sekaligus amarah. Namun Ray tetap teguh pada pendiriannya. Dia akan menjebloskan Eros ke dalam penjara.


“Ray, bagaimana?” tanya Kamala, dalam perjalanan mereka pulang.


“Semua sudah kuatur, kamu tak usah cemas,” sahut Ray, tak berani memandang lurus ke dalam mata Kamala.


Kamala yang menyadari bekas luka babak belur di seluruh tubuh Ray, mulai timbul rasa cemas dan tanpa dia sadari, sudah menyentuh salah satu luka itu yang ada di kening Ray.


“Apa yang terjadi?” Kamala terus menelusuri setiap jejak luka di wajah Ray.


Ray menggeleng, berusaha tak membuat Kamala khawatir.


“Kenapa kamu bisa sampai begini, Ray? Apa ini semua ulah Eros?”


“Dia tak lebih dari sebuah kapas untukku,”


“Lalu?” Kamala tampak sangat teguh pada pendiriannya. Dia terus memaksa Ray untuk memberinya alasan.


Tapi Ray hanya diam. Pria itu justru makin menutup tubuh Kamala dengan jaket yang telah dia lepas.


“Khawatirkan dirimu sendiri,”


Setitik air mata segera menetes di pelupuk mata kiri Kamala, ketika dia terpaku ke dalam mata Ray yang membengkak. Entah apa yang terjadi, tapi Kamala merasa jika segala kesialan yang menimpa Ray adalah ulahnya.


“Kenapa kamu menangis?” tanya Ray bingung.


“Setiap bertemu denganku, kamu selalu saja babak belur,” isak Kamala. “Apakah aku berhak terus memperlakukanmu begini?”


Tanpa diduga, Ray meraih salah satu tangan Kamala. Dia genggam tangan itu erat, dengan tatapan menguatkan.

__ADS_1


“Tak ada yang perlu kamu cemaskan. Kita hadapi semua bersama-sama,”


__ADS_2