Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Kesepakatan Penuh Muslihat


__ADS_3

Karen termenung, menatap pias pemandangan luar kamarnya dari balik jendela lebar, memandangi puluhan pepohonan rindang yang tampak terjejer rapi mengitari rumah mewah yang dia tempati. Hari yang dinantikan telah datang. Setelah membuat kesepakatan dengan Martin, akhirnya pria itu mengijinkan Karen keluar dari rumah mewah bak penjara ini dan pulang kembali ke rumahnya sendiri.


Karen tak bisa tidur semalaman, memikirkan reaksi apa yang harus dia tunjukkan pada Ray saat akhirnya mereka bertemu. Setengah tahun tak bertemu dan tak saling kabar, begitu juga dengan keadaan Ray yang masih dirawat di rumah sakit akibat tindakan gila Martin. Karen tak sabar untuk segera pulang, menyambut kedatangan Ray layaknya seorang istri yang baik.


Langit yang semula hitam kebiruan berubah oranye, pertanda bahwa matahari sebentar lagi akan muncul dari ujung timur, memberikan kehangatan ke dalam hutan dingin nan rindang. Hari ini, setelah sarapan, Martin akan mengajak Karen dan Sierra pergi dari rumah mewah, kembali ke rumah masing-masing.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?” tanya Martin, mengucek kedua matanya dan berjalan perlahan menghampiri Karen.


Dia lingkarkan lengannya ke pinggang Karen, sambil menciumi rambut wanita itu. Karen tak bereaksi. Tatapannya datar saja, enggan untuk menanggapi Martin.


“Kenapa jam segini sudah bangun?” tanya Martin sekali lagi, namun seperti biasa Karen tak menanggapi.


Maka karena tak ingin hilang kesabaran, Martin memutuskan untuk keluar dari kamar, dan turun menghampiri Sierra yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Saat melihat Sierra yang fokus, perlahan Martin menyunggingkan senyuman. Dia mengecup pipi kiri Sierra, dan wanita itu berseru kaget karena tak menyadari kedatangan Martin.


“Martin, kamu ini apa-apaan, sih? Bagaimana kalau Karen sampai tahu?” protes Sierra.


Martin tertawa. “Dia justru senang, karena dia pikir itu artinya aku mulai menyukaimu. Padahal itu hanya kecupan sayang pertemanan kita,”


Sierra tersenyum getir mendengar ucapan Martin. Ada sedikit raut kecewa yang tergambar jelas di wajahnya, meskipun Martin tak memperhatikan.


“Bagaimana jika Karen tak menepati janjinya?” tanya Sierra, meletakkan satu persatu piring berisi sarapan ke atas meja makan.


“Tidak mungkin,” Martin menggeleng, setelah menyeruput sedikit kopi di hadapannya. “Aku tak akan membiarkan dia jauh dari pengawasanku,”


“Apakah Ray tak menyadarinya?”


Martin sekali lagi menggeleng. “Ray … Dia pria terbodoh yang pernah kukenal. Aku heran, kenapa Karen mau menikah dengannya,”


* * *

__ADS_1


Perjalanan lima jam mereka terasa tak menyenangkan, terlebih bagi Karen. Dia terus menerus menolak sentuhan Martin, dan memilih tetap fokus ke jalanan. Maka ketika sopir pribadi mengantar Karen ke rumahnya, matanya berkaca-kaca penuh haru. Rumah kecil sederhana miliknya yang meskipun sudah lama dia tinggalkan, tampak sangat bersih dan tanamannya tetap subur. Ini artinya, Ray sudah pulang ke rumah dan rajin menyirami tanaman-tanaman milik Karen.


“Aku akan tetap mengawasimu, Karen,” ucap Martin dari balik jendela mobil.


Karen tak menghiraukan, dan melengos masuk ke dalam pagar rumahnya. Dia berdiri tercekat di pintu masuk, bingung dan tegang luar biasa. Perasaan rindunya yang membuncah pada Ray dan pada kehidupannya yang dulu, membuat gerakan Karen membeku dan sulit untuk maju.


“Karen?!!”


Pintu depan terbuka lebar secara tiba-tiba, dan sosok Ray muncul dibaliknya dengan raut lega bercampur khawatir. Dipeluknya tubuh Karen seerat mungkin.


“Kukira kamu nggak pulang,” seru Ray, amat bahagia melihat kedatangan istrinya.


“A-apa maksudmu, Ray?” tanya Karen kebingungan.


“Iya, kata Sierra kamu nggak mau pulang sebelum aku pulang. Dan mendadak bosku memintaku untuk pulang kemarin,” jawab Ray.


Apakah Ray tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Ray tidak tahu jika selama ini Karen disekap oleh Martin?


“Iya! Kamu terlalu asyik tinggal bersama Sierra karena kesepian aku di luar negeri terus,” jelas Ray. “Kata Sierra kamu marah padaku karena lama nggak pulang, tapi syukurlah kamu mau pulang menemuiku,”


“J-jadi, kamu baik-baik saja?” tanya Karen terkejut. Kemudian dia mengamati tubuh Ray, memastikan tak ada bekas luka akibat ulah Martin. Namun semua tampak baik-baik saja, begitu juga Ray juga tampak sehat dan tak tahu apa yang terjadi.


Ray menuntun Karen masuk ke dalam rumah, mulai melepas kerinduan mereka masing-masing. Karen memeluk Ray sangat erat, dan mulai menangis di dekapan suaminya.


Dia merasa sangat bersyukur. Meskipun kehidupannya dan Ray jauh dari kata mewah layaknya kehidupan Martin, namun Karen justru bersyukur akan hal itu. Kebahagiaannya yang sederhana bersama Ray tak dapat tergantikan oleh apapun. Walaupun Ray bukanlah pria kaya raya, namun Ray selalu bisa memperlakukan Karen dengan baik dalam segala hal.


* * *


Tak terasa sudah seminggu lamanya kehidupan rumah tangga bahagia Karen dan Ray berlangsung damai, tanpa gangguan apapun dan siapapun. Seperti pagi ini, Karen selalu menyiapkan sarapan yang lezat dan bekal untuk dibawa Ray bekerja, serta tak lupa melakukan kontak fisik yang mesra dan romantis, namun penuh kelembutan. Karen sangat bahagia.

__ADS_1


“Karen, hari ini aku sepertinya pulang telat. Ada tugas tambahan di kantor,” pamit Ray, yang disambut anggukan penuh sayang dari Karen.


Kedua sejoli yang sudah bertahun-tahun menikah, namun tetap mesra layaknya pengantin baru. Baru sekitar lima belas menit sejak kepergian Ray, tiba-tiba pintu depan diketuk. Karen buru-buru membukanya, tanpa terpikirkan bahwa orang dibalik pintu itu adalah Martin Willis, yang berdiri menyeringai ke arah Karen.


Tak mau pikir panjang, Karen bergegas menutup kembali pintu rumahnya, namun ditahan oleh Martin sekuat tenaganya. Dalam satu hentakan saja, tubuh Karen sedikit mundur terpelanting dan kini pintunya terbuka lebar. Tak ada yang bisa menghalangi Martin untuk masuk, mengingat Ray telah pergi bekerja dan tinggal Karen sendirian di rumahnya.


Karen melempar apapun yang ada di jangkauannya, berusaha mengalahkan Martin. Namun Martin layaknya seorang barbar, tak tumbang sedikit pun meski diterjang oleh badai. Pria itu tertawa puas menyeringai, semakin berjalan maju mendekati Karen yang terus berteriak minta tolong.


“Tak akan ada yang mendengarmu, Sayang,” ucap Martin puas.


“Apa yang kamu inginkan?!” tanya Karen, memasang sikap kuda-kuda sebisanya.


“Aku hanya ingin memastikan kalau kamu tak lupa akan kesepakatan kita,”


“Kamu bohong! Tak ada yang terjadi pada Ray, dan itu menggagalkan kesepakatan kita!” seru Karen.


Martin tersenyum licik. “Jadi, kamu benar-benar berharap Ray celaka, hanya untuk membuat kesepakatan kita berhasil?”


Karen terdiam. Dia sadar dia telah masuk ke dalam jebakan Martin. Sejak awal pria itu memang tak pernah mencelakai Ray. Dia hanya mengelabui Karen, agar mau menyetujui keinginannya.


“Kalau itu maumu, aku bisa melakukannya sekarang,” Martin hendak mengambil ponselnya, sebelum Karen tiba-tiba berlutut memeluk kaki Martin.


“Kumohon, kumohon, ijinkan aku dan suamiku bahagia, Martin,” isak Karen. “Aku akan melakukan apapun, asalkan kamu melepasku,”


“Yang kuinginkan hanya kamu,” balas Martin dingin.


Martin melempar sebuah map berisi dokumen pada Karen. Lalu wanita itu membacanya lamat-lamat, hanya untuk menyadari bahwa dokumen itu berisi dokumen perceraian Karen dan Ray.


“Berikan ini pada Ray. Dan aku akan buat semuanya mudah bagi kalian,” pinta Martin dengan tatapan tajam nan dingin.

__ADS_1


__ADS_2