Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Bahagia Tanpaku


__ADS_3

“Kumohon, Martin. Lepaskan aku,” rintih Karen dengan tubuh yang terbaring lemas tak berdaya.


Martin terisak, sambil menggenggam erat tangan kanan Karen yang tak diinfus. Mendengar ungkapan penuh kepedihan yang keluar dari mulut sang kekasih, membuat nafas Martin seolah tersendat. Dia amat mencintai Karen. Melihat kondisi kekasihnya, membuat Martin tak tahan. Namun permintaan Karen juga membuatnya sangat berat. Dia tentu tak mau kehilangan Karen.


“Aku sudah melepaskanmu dari rumah hutan,” jawab Martin ikut memelankan suaranya.


Karen menggeleng, dengan air mata yang mengalir. “Kamu tetap mengurungku. Di dalam apartemen mewah itu,” isak Karen penuh derita.


“Aku ingin merasakan kehidupan normal, keluar kemana pun kumau,” lanjut Karen. “Aku telah melepaskan belahan jiwaku untukmu, jadi kumohon, biarkan aku menjalani kehidupan normalku sebagai manusia,” mohon Karen, dengan air mata yang membanjiri wajah pucatnya.


Martin kembali terisak. Ini semua sungguh berat untuknya. Dia mencintai Karen, dan dia ingin Karen hanya untuknya seorang. Dia sangka, segala fasilitas mewah yang dia berikan akan membuat Karen bahagia, tapi nyatanya permintaan Karen justru adalah hal yang paling dia benci. Dia benci orang lain melihat kecantikan Karen.


“A-apa tak ada cara lain?” mohon Martin, meminta keringanan.


“Apa kamu mencintaiku?” sambar Karen.


“Sangat, Karen. Kamu tahu itu,”


“Mencintai bukan berarti mengurungku dari dunia luar, Martin. Aku juga ingin menjalani hidupku,” Karen terus berusaha meyakinkan Martin, meski tubuhnya masih lemas.


“Aku takut ada orang lain yang merebutmu dariku,” aku Martin, ketakutan dan gelisah.


Untuk sesaat Karen terkesiap. Pria kaya yang tampan, dicintai banyak wanita ini, tiba-tiba menangis di sisinya, dengan raut merasa tertekan dan takut kehilangan. Terbersit rasa iba di benak Karen, saat melihat ekspresi Martin yang seperti anak kecil yang cemas saat terpisah dari ibunya.


“Kenapa kamu … tak pernah mencoba memikirkan perasaan Ray? Orang yang telah kamu rebut barangnya … “ Karen justru membalik pertanyaan.


Martin yang semula tergugu, seakan membeku hanya demi menelan mentah-mentah pertanyaan Karen. Bukan. Dia tidak merebut Karen dari Ray. Tapi, Karen memang ditakdirkan datang kepadanya dengan perantara Ray. Ya, begitulah pikiran kalut sebagai bagian dari pembelaan diri Martin.


***


“Selamat datang di perusahaan kita, Pak Ray White,” ucap Rudi Bruggman, ayah Kamala, kepada Ray yang berhasil menduduki posisi Kepala Data Analis di perusahaannya.


Ray membalas jabat tangan itu dengan perasaan bangga yang membuncah di dada. Akhirnya, setelah enam bulan, dia berhasil membuktikan eksistensinya sendiri. Tanpa perlu bantuan dari Kamala, dia bisa sampai ke posisi setinggi ini.

__ADS_1


“Kamala menitipkan ini untukmu,” ujar Rudi, dan dengan isyarat mata menyuruh asistennya untuk memberikan sebuah kotak kecil pada Ray.


Ray memandang bingung kotak kecil yang berbentuk seperti kotak cincin itu.


“Ini apa, Pak?” tanya Ray bingung.


Rudi mengisyaratkan Ray untuk membuka kotak itu, dan ternyata di dalamnya adalah sebuah kunci, yang entah kunci ruangan apa.


“Ini adalah kunci ruanganmu,” kata asisten pribadi Rudi, bernama Marsel, lalu mempersilahkan Ray untuk dia antar menuju ruangannya sendiri.


“Kenapa dia bilang dari anaknya?” bisik Ray, ketika dia berjalan bersama Marsel.


Marsel melirik Ray sambil tersenyum geli. “Itu hanya alasan Tuan Rudi. Dia amat berharap kamu mau menjadi menantunya,”


“Tapi anaknya masih muda! 22 tahun, masih kuliah,” tukas Ray tak terima. “Aku tak ingin menikahi bocah,” gerutunya, yang disambut tawa oleh Marsel.


Tak sampai lima menit, maka sampailah Ray di sebuah ruangan di pojokan, yang saat dibuka ternyata luas sekali. Di sana sudah tertata rapi, dengan lukisan kontemporer yang cukup besar dan menjadi ikon paling menyolok di seluruh sudut ruangan. Ray sampai memandangi lukisan itu dengan takjub, karena meski unik, perpaduan warnanya membaur apik dalam warna dominasi dari ruangan yang didominasi warna broken white.


“Itu hadiah dari Kamala yang sesungguhnya,” Marsel menunjuk lukisan itu dengan matanya.


“Dia mahasiswa seni lukis paling berbakat di angkatannya,” jawab Marsel, ikut bangga dengan prestasi Kamala. “Kamu akan menemukan bahwa, meskipun tak cocok, dia akan membaur sangat cantik dimanapun dia berada … “ gumam Marsel, yang entah apa maksudnya.


***


Sierra ngos-ngosan, setelah bermain dua ronde secara mendadak bersama Martin. Pria itu tiba-tiba memintanya ke ruangannya, mengunci pintu dan merayu Sierra seperti yang biasa mereka lakukan. Namun karena di apartemen sudah ada Karen, Martin hanya bisa melakukannya bersama Sierra di kantor dan di ruang kerjanya sendiri. Tapi tak seperti yang sebelumnya, ekspresi Sierra tampak ragu dan tak puas. Dia terus-menerus menghela nafas, seperti orang yang sedang banyak beban pikiran.


“Kamu kenapa, Sierra?” tanya Martin khawatir. Dia segera merapikan pakaiannya.


Begitu pula Sierra, setelah merapikan baju, dia duduk bersandar di sofa besar milik Martin.


“Kenapa kita terus melakukan ini?” tanya Sierra, dengan wajah dingin.


“Maksudmu apa?”

__ADS_1


Sierra memicingkan matanya. “Kamu sudah punya Karen. Kenapa masih memakaiku?”


“Apanya yang salah?” Martin balik bertanya dengan wajah polos. “Kita kan sudah sering melakukannya?”


“Bagaimana perasaanmu padaku?” sambar Sierra cepat.


Martin makin melongo. “Sierra, ada apa? Kenapa tiba-tiba … “


“Kamu menyukaiku?” sambar Sierra sekali lagi.


Tiba-tiba tawa Martin membuncah hebat. “Apa maksudmu? Kamu tahu siapa yang kusukai, Sierra,”


Mendengar jawaban Martin yang tak serius, membuat hati Sierra tiba-tiba nyeri. Ulu hatinya terasa sangat sakit, hingga saat dia berusaha menelan ludahnya pun, kerongkongannya juga ikut sakit.


“Ini yang terakhir kali,” seru Sierra, melenggang keluar dari ruangan Martin.


Bukannya mencegah, Martin justru makin tertawa keras. Dia yakin Sierra hanya merajuk untuk sementara, dan sekaligus yakin jika wanita itu akan kembali merindukan tubuhnya.


Tapi untuk kali ini sepertinya Martin salah duga. Setelah pergi dari ruangan Martin, Sierra juga menyambar kunci mobilnya sendiri dan pergi tanpa pamit dengan perasaan yang masih sakit akibat hinaan dari Martin. Lamaran dari Paul beberapa waktu lalu belum dia jawab, dengan harapan Martin akan memberikan sinyal positif akan perasaannya. Namun semua ternyata hanya dalam angan-angan Sierra. Martin tak pernah membalas perasaan cinta Sierra, seperti yang diharapkan.


***


Karen bersemangat hari ini. Dua hari sejak kepulangannya dari rumah sakit, Martin memberikan ijin padanya untuk keluar rumah dan menjalani kehidupan yang normal. Bahkan Martin juga memberikan sebuah mobil mini untuk Karen, beserta satu kartu hitam sebagai pegangan. Karen kini bisa lebih menikmati hidupnya, sebagai kekasih dari seorang CEO kaya dan menghabiskan uang tanpa harus melihat nominalnya.


Hari-hari Karen selama dua hari ini cukup normal dan menyenangkan. Seperti berbelanja kebutuhan pokok, ke toko baju atau bahkan ke salon untuk mempercantik diri. Segala hal yang tak pernah bisa diberikan Ray padanya, telah Karen lakukan sebagai balasan atas segala depresi yang beberapa waktu lalu menimpanya.


Namun dibalik segala kemewahan, hati Karen tetaplah hampa. Setiap jengkal memori yang ada di depannya selalu mengingatkan akan Ray. Bahkan hari ini, ketika dia datang ke supermarket untuk membeli bahan masakan makan malam, dia juga teringat Ray. Betapa dia dan Ray yang selalu ingin mencoba daging merah termahal, tapi tak pernah bisa karena biaya. Karen lama tercenung di sesi daging, hanya untuk sekedar memikirkan ide gila. Ide gila untuk mengirimkan beberapa paket daging merah premium ke rumah Ray.


Karen dengan riang gembira dan penuh pengharapan, mengendarai mobilnya, membelah jalanan menuju rumah lamanya bersama Ray. Ketika dia sampai di rumah itu, Karen sedikit berkaca-kaca, karena segala kenangan manisnya kembali berkelebat dalam benak, membuat hati Karen juga sedikit sakit. Dengan langkah pelan dia mulai menggerakkan kakinya, masuk ke dalam halaman rumah menuju pintu depan yang tertutup.


Hari ini sudah lewat jam 5 sore, itu tandanya, Ray pasti sudah ada di rumah. Karen menarik nafas, berusaha menghilangkan ketegangannya sebelum mulai memencet bel. Namun belum sempat dia pencet, samar-samar dia mendengar percakapan dua orang yang tampak bahagia dari nada suaranya. Suatu si pria, adalah suara Ray. Namun, siapa suara si wanita?


Krek!

__ADS_1


Ray membuka pintu depan, tertawa lebar, dengan seorang wanita muda yang memegangi erat lengan kanan Ray. Keduanya tampak kaget serempak saat melihat Karen berdiri mematung di ambang pintu. Mata Ray melebar maksimal, ingin mempercayai penglihatannya sendiri.


“K-Karen? Apa yang kamu lakukan di sini?”


__ADS_2