
“Aku yang melaporkanmu,” tandas Karen sekali lagi. Dia sedikit memalingkan muka, tak sanggup menatap wajah Martin.
“Kamu bohong, kan?” lirih Martin, terkejut. Kedua bola matanya gemetar, sebagai reaksi atas pengakuan Karen. “Kenapa kamu melaporkan suamimu sendiri?” tanyanya.
“Harusnya kamu sadar, kenapa aku melakukannya!” seru Karen. “Kamu merebutku dari Ray, menculikku, merencanakan pembunuhan atas Ray!” Karen mulai mengeluarkan segala bebannya. “Jika dilihat dari segalanya, harusnya Ray yang paling berhak melaporkanmu. Tapi aku, akulah yang melakukannya,”
Karen terpaksa berbohong, agar Martin tidak makin dendam pada Ray. Dia berharap, segala kemarahan Martin ditumpahkan hanya padanya.
“Aku melakukan itu semua karenamu … “
“Karenaku?!” sambar Karen. “Semua cara yang kamu lakukan, hanya membuatku makin menyesal pernah mengenalmu,”
Bibir Martin gemetar, seakan terkena serangan panik saat Karen mulai menyerangnya dengan banyak perkataan kejam. Dia berusaha meraih tangan Karen, namun wanita itu dengan keras menepis.
“Karen, kumohon–” Martin berusaha menghentikan gemetar di badannya. “Aku sangat mencintaimu, dan aku butuh kamu,”
Karen menggeleng, sembari memejamkan mata. “Bukan dengan cara seperti itu,” jawabnya. “Aku juga berhak menuntut keadilan atas segala kesialan yang terjadi karenamu,”
“Itu karena aku mencintaimu! Aku tidak ingin siapapun memilikimu. Aku mau hanya aku, satu-satunya yang ada di pikiranmu,” Martin terus membela diri. “Tapi kenapa kamu tega memenjarakanku, Karen?” tuntut Martin.
Karen buang muka. Dia beranjak berdiri. “Apapun pembelaanmu, menculikku tetaplah bukan hal yang dibenarkan. Dan aku juga tahu, kamu sengaja memberiku obat agar ingatanku akan Ray hilang,”
Brak!!
Tiba-tiba Martin menggebrak meja, hingga dua petugas yang berjaga spontan memegangi lengan Martin.
“Aku tahu, kamu pasti bersekongkol dengan mantan suamimu, kan? Kalian sengaja menjebakku agar bisa kembali, kan?!!” teriak Martin histeris. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” Martin hendak menerjang Karen, namun dua petugas sudah lebih dulu menghalangi. Mereka menyeret tubuh Martin untuk kembali masuk ke dalam sel.
“Aku tidak akan membiarkanmu, Karen!! Kamu hanya milikku, tidak akan kubiarkan!” teriak Martin, meronta minta dilepas. Matanya memerah dengan kerut di lehernya yang menandakan emosi.
Karen tidak sanggup memandang tingkah Martin. Dia hanya menunduk, berusaha menahan tangis. Tubuhnya gemetar, merasakan rasa sakit dan beban yang tidak bisa dia keluarkan dengan leluasa.
__ADS_1
Setelah memastikan Martin telah masuk kembali ke sel, Karen mulai melangkah meninggalkan rumah tahanan itu, dengan sejuta kesedihan yang dia tanggung sendiri.
Di dalam mobil–sebelum memutuskan pergi Karen mulai menangis. Dia tumpahkan seluruh kesedihannya, berusaha mengusir banyak beban yang dia bawa sendirian.
Setelah puas menangis, Karen mulai menjalankan mobilnya menuju panti jompo tempat sang ibu dirawat. Dia sengaja ingin datang ke sana, dengan tujuan memberitahu ibunya segala kebenaran tentang hidupnya sekarang. Termasuk tentang perceraiannya dengan Ray.
“Karen … “ panggil salah satu perawat di panti jompo, saat melihat dia datang. Perawat itu memasang wajah cemas. “Kamu datang sendiri?”
Karen mengangguk, keheranan. “Iya, kenapa?”
Perawat itu menatap Karen dengan tatapan prihatin. “Sebaiknya kamu menemui ibumu nanti saja,”
“Ada apa?” Karen justru makin curiga. Dia justru makin mantap untuk segera mendatangi kamar ibunya.
Langkah Karen cepat dan tegap, menuju kamar ibunya. Namun saat dia mengintip isi kamar melalui kaca kecil di pintu, langkahnya mendadak terhenti.
Ray sedang ada di dalam kamar ibunya, mengobrol sambil sesekali tertawa kecil. Karen sangat ingin tahu isi dari obrolan itu, maka dengan gerakan sangat pelan, dia membuka pintu agar bisa menguping lebih jelas.
Telinga Karen berdiri. Dengan gerakan lambat, dia berusaha mencari orang lain yang mungkin ada di dalam sana. Terkejutlah Karen, saat mendapati Kamala duduk di samping ibunya. Karen tidak bisa melihat sosok Kamala saat berada di depan pintu, namun sekarang bisa dengan jelas melihatnya.
“Saya Kamala, Ibu,” ucap Kamala, mengulurkan tangannya. “Senang sekali bisa bertemu Ibu Rida,”
Meskipun berat hati, dan ada raut kecewa di wajah Rida, namun wanita tua itu membalas jabatan tangan Kamala.
“Semoga Karen juga bisa sepertimu, Ray. Segera menemukan kebahagiaannya,” ucap Rida tulus.
“Ibu!!” Karen menyibakkan tirai tebal yang menutupi ranjang Rida, demi bisa dengan jelas melihat ketiganya saling bercengkerama.
Semuanya terkejut, bahkan Ray dan Kamala spontan berdiri saat sosok Karen tiba-tiba menyahut dengan kilatan amarah di wajahnya.
“Karen, sejak kapan kamu datang?” tanya Rida.
__ADS_1
Karen justru melotot tajam ke arah Ray. “Apa yang kamu lakukan disini?! Kamu mau pamer kemesraan pada ibuku?” sentaknya.
“Karen, hentikan,” Rida ikut berdiri. Dia memegangi bahu anaknya, berusaha menenangkan. “Ray ke sini baik-baik, Karen. Ray setiap minggu datang ke sini menemui Ibu,”
“Kenapa Ibu membelanya?!” pekik Karen. “Dia sengaja datang ke sini membawa kekasihnya, untuk membuat Ibu sedih,”
“Jaga bicaramu, Karen,” sanggah Ray. “Tugas seperti ini harusnya dilakukan oleh anaknya, bukan oleh orang lain sepertiku. Tapi aku meluangkan waktuku demi menjaga nama baikmu,”
“Nama baik?! Apa yang salah denganku?” Karen menoleh ke arah Rida. “Jadi Ibu sudah tahu semuanya? Dia bilang apa saja pada Ibu?” cecar Karen pada ibunya.
“Karen, stop!” seru Ray, karena melihat Rida yang tampak kebingungan dan panik.
“Ibu, jawab! Jadi Ibu sudah tahu aku bercerai dari Ray, dan sudah menikah lagi?” raung Karen, kini mulai menangis. “Kenapa Ibu berpura-pura tidak tahu? Aku memendam semuanya seorang diri,”
Rida tidak sanggup berkata-kata, hingga yang bisa dia lakukan hanya diam dengan mata berkaca-kaca–saat melihat Karen menangis.
Ray mengisyaratkan Kamala untuk menenangkan Rida, sementara dia menarik paksa tangan Karen untuk keluar dari kamar Rida. Meski Karen menjerit minta dilepas, namun Ray tak mau melepas cengkeraman itu.
“Lepaskan, Ray!”
Ray pun melepas cengkeramannya, ketika mereka berada cukup jauh di luar area panti.
“Kenapa kamu tidak bisa menjaga perasaan ibumu sendiri? Apa susahnya bersikap seolah semua baik-baik saja?” cecar Ray.
“Aku sudah bilang, itu semua bukan lagi urusanmu!” bentak Karen. “Kamu bukan siapa-siapaku lagi sekarang. Tapi, kenapa kamu justru mengajak Kamala? Kamu sengaja ingin membuat ibuku sedih, kan?”
Ray mencengkeram bahu Karen. “Ibumu sudah tahu segalanya! Bahkan sebelum aku bercerita,” tukas Ray, mengguncang Karen. “Suamimu yang biadab itu sudah menemuinya lebih dulu! Lalu apakah aku harus terus berbohong, sedangkan Martin dengan brengseknya menunjukkan bukti perceraian kita pada ibumu?”
Karen terguncang hebat setelah mendengar ucapan Ray.
“Harusnya bukan aku yang kamu serang, tapi suamimu! Dia memang bukanlah manusia, tapi iblis!” pekik Ray, melotot lebar sambil terus mengguncang bahu Karen. Seakan memaksa wanita itu untuk terbangun dari mimpi.
__ADS_1