Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Kemenangan Ray


__ADS_3

“Marsel, apa lagi ini?” seru Ray, ketika menyadari ada sebingkis lukisan di dalam ruangan Ray pagi ini.


Marsel buru-buru mengecek. Lalu tersenyum penuh maksud. “Oh, sepertinya paket dari Kamala sudah sampai,” timpalnya.


“Kamala?”


Marsel kemudian merobek kertas penutup lukisan itu. Sebuah lukisan abstrak dengan siluet dua orang yang saling memandang. Lukisan dengan dominasi warna biru kemerahan.


“Ini hadiah untukmu, Ray. Sekaligus bukti Kamala bisa menyelesaikan kuliahnya dengan sangat baik,” jelas Marsel dengan senyum terus mengembang.


Ray sedikit mundur, untuk lebih bisa mengamati lukisan abstrak itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya, sekaligus perasaan bangga karena Kamala berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan sempurna.


“Dimana Kamala sekarang? Apa itu artinya, aku sudah boleh mendapatkan nomor ponsel barunya?” tanya Ray.


Setelah peristiwa pernikahan yang batal, Kamala memutuskan untuk berhenti berhubungan dengan Ray seakan menghilang ditelan bumi. Meskipun Ray masih bekerja di kantor papa Kamala, namun wanita itu tetap menolak untuk bertemu.


Dan kini, setelah berhasil menyelesaikan studi, Marsel pun tanpa ragu memberikan nomor Kamala pada Ray.


“Dia pasti senang mendengar suaramu,” ucap Marsel.


Ray tersipu, namun cukup tipis untuk diketahui oleh Marsel.


***


Kamala sedang mengurus pendaftaran wisudanya, ketika Ray berdiri gagah di depan gedung jurusannya siang ini. Pria itu berdiri menyandarkan tubuhnya di depan mobilnya, dengan senyum lebar yang terus merekah menyambut tiap langkah kaki Kamala.


Bola mata Kamala melebar. Ingin rasanya dia memekik penuh sukacita, saat melihat Ray melambai ke arahnya. Tanpa ragu dia pun berlari, dengan tubuh seakan melayang.


“Ray,” seru Kamala senang.


Ray mengelus lembut rambut Kamala. “Selamat, ya,”


“Apa itu artinya, aku sudah jadi wanita dewasa? Sudah boleh memelukmu?” tukas Kamala.


Ray tertawa lepas. Dia pun merentangkan lebar-lebar kedua tangannya, menyambut Kamala ke dalam dekapan.


Kamala mendekap Ray sangat erat. Merasakan betapa hangatnya pelukan itu, serta mengendus aroma tubuh Ray yang membuatnya tenang.


Ray mengecup kepala Kamala. Tak bisa dipungkiri, kehadiran Kamala ke dalam pelukannya seakan dapat membawa pergi seluruh beban yang ada di pundak Ray. Lepas satu persatu bagai debu.

__ADS_1


“Apa sekarang, aku sudah layak kamu pertimbangkan sebagai pengganti Karen?” Karen mendongak, tanpa mau melepas pelukan Ray.


“Kamu ngomong apa, sih?!” Ray mencubit gemas pipi Kamala. “Selamanya kamu tetap kecil bagiku,”


“Nggak masalah,” seloroh Kamala. “Aku siap menjadi istrimu yang kecil,”


Mereka berdua tertawa geli bersama. Saling melepas rindu, setelah cukup lama memutuskan untuk saling menjauhkan diri dan tak pernah bertemu.


“Bagaimana, Ray? Apakah rencanamu untuk balas dendam berjalan lancar?” tanya Kamala, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


Ray tersenyum. “Sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan menang, dan kita berdua bisa pergi kemanapun yang kamu suka,”


“Benarkah?” Kamala tersipu. “Kalau aku, aku maunya sih kemanapun asal bersamamu,”


Ray tertawa lepas mendengar ucapan Kamala. “Memang berurusan dengan bocah kecil sepertimu itu membuatku malu,” seloroh Ray santai.


***


Sierra menatap penuh kebencian pada dua sosok yang telah lebih dulu duduk di ruang rapat kantor Paul siang ini. Bahkan tanpa sadar kedua tangannya sudah mengepal erat, sebagai bentuk pelampiasan emosi.


“Nyonya Sierra, silahkan duduk,” sapa Margaret, sekretaris Paul.


Tak lama, pengacara yang ditunjuk Paul masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat. Dia tanpa banyak bicara membuka lembaran dalam sebuah dokumen, yang tampak sangat dipersiapkan dengan baik.


“Apa yang kau inginkan?” tukas Sierra tak sabar.


Pengacara itu berdehem, lanjut membenarkan letak kacamatanya. “Saya akan membacakan surat wasiat dari Tuan Paul,”


Sierra melirik Sophie, sengaja untuk melihat reaksi wanita tua itu. 


Tampak Sophie terus menahan senyumannya yang girang, sangat tidak nampak kesedihan–setelah ditinggal mati suaminya.


Kemudian Margaret membagikan selembar kertas pada masing-masing, termasuk Sierra. Di sana telah tertera seluruh aset yang dimiliki Paul.


“Saya tidak akan banyak bicara, Tuan dan Nyonya,” Pengacara itu memulai bahasan. “Saya akan langsung pada inti pembicaraan,”


Dia membuka sebuah dokumen yang sejak tadi sudah digenggamnya. “Tuan Paul sebulan yang lalu baru saja mengutus saya untuk membuat surat wasiat ini. Wasiat untuk seluruh keluarganya,”


Sierra rela menahan nafas hanya demi mendengar penjelasan pengacara itu. Bahkan saking tegangnya, setiap gerak-gerik si pengacara tak luput dari pengamatan Sierra.

__ADS_1


“Tunggu!” Sierra tiba-tiba berseru. “Bukankah ini semua terlalu cepat? Suamiku baru saja meninggal kemarin,”


Sophie tertawa dan menggebrak meja pelan. “Jangan sok baik, Sierra!! Aku tahu kamu juga menginginkan ini cepat terjadi,” hardiknya.


Sierra melotot. “Ingin? Bukankah itu kamu, hah? Aku masih terlalu berduka hanya untuk mendengar ini semua!” sambar Sierra tak terima. Lalu dia menunjuk pada masing-masing Sophie dan Martin. “Justru kalian berdua yang kejam. Paul adalah suamimu–” Lalu Sierra menatap Martin. “Dan dia juga ayahmu. Kenapa kalian tega mempercepat pembacaan warisan?”


Martin hanya diam menundukkan kepalanya, tak sanggup memandang Sierra secara langsung. Hatinya cukup perih, setelah ditinggal Paul–yang ternyata adalah ayah kandungnya. Namun dia juga cukup takut, jika ternyata sang ayah meninggalkan semua warisannya hanya untuk anak Sierra.


Sophie menggebrak meja lebih keras. “Diam kau, wanita murahan!!” umpatnya. “Harusnya kamu tidak ada disini. Harusnya kamu tetap di tempatmu, sebagai bawahan sekaligus pemuas nafsu suami dan anakku,”


Bagai dihujani peluru, kepala Sierra mendidih mendengar olokan Sophie yang keji. Bahkan sang pengacara sampai tak sanggup menatap Sierra.


Tok, tok!


Terdengar pintu diketuk, dan Margaret yang entah bagaimana tiba-tiba masuk kembali ke dalam ruangan. Dia berdiri di tengah, lalu membungkuk.


“Maafkan telah mengganggu,” ucap Margaret. “Tapi ada yang ingin ikut hadir dalam diskusi ini,”


Leher Martin dan Sierra menjulang, penuh rasa penasaran akan siapakah orang yang ikut hadir itu.


Dan rasa penasaran itu kini tergantikan oleh rasa terkejut yang nyaris membuat pingsan. 


Sosok Paul–yang duduk di kursi roda, perlahan maju dibantu Margaret yang mendorong kursinya. Pria tua itu tampak pucat, tapi cukup sehat untuk seseorang yang dinyatakan telah mati.


“Argh!” Sophie memekik kencang, ketakutan dan hampir terjerembab karena tidak percaya.


“Sierra,” panggil Paul dengan suara pelan. Lalu pria itu menoleh ke arah Martin. Kini tatapannya penuh penyesalan. “Maafkan aku, anakku,”


“K-kau siapa?!” teriak Sophie. “P-Paul harusnya sudah mati!” 


“Angkat tangan, Sophie Willis!” Lima orang polisi berhamburan masuk, dan satu orang bergegas mengunci pergerakan tangan Sophie.


“Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!” teriak Sophie, memberontak minta dilepaskan.


“Anda ditangkap atas percobaan pembunuhan kepada Paul Willis,” ungkap polisi itu.


Tak hanya Sophie, seorang polisi juga tiba-tiba mengunci pergerakan kedua tangan Martin. Tanpa aba-aba dan penuh kebingungan, Martin hanya bisa pasrah saat polisi itu menggiringnya untuk keluar.


“Anda ditangkap, atas kasus penculikan pada Karen Stevens,”

__ADS_1


__ADS_2