
“Apa kamu pikir, aku tak bisa membunuhnya, Karen?” tanya Martin dengan tatapan haus darah. “Mudah bagiku untuk melenyapkan pria miskin seperti Ray,”
Karen menggeleng, menolak segalanya yang diucapkan Martin. Dia terus memberontak, berteriak, meminta agar Ray dilepaskan. Kini Ray makin babak belur, tanpa bisa melakukan perlawanan karena dua orang pria tegap sudah memegangi tubuhnya, dan tiga orang lainnya bergantian meninju tubuh Ray.
“Kumohon, Martin,” rengek Karen, mengatupkan kedua tangannya. “Kumohon, lepaskan Ray. Aku akan melakukan apapun, asal kamu mau melepasnya,”
Bukannya senang dengan penawaran Karen, Martin justru makin muntab. Dia cengkeram kedua pipi Karen, mendekat hingga hidung mereka bertemu satu sama lain.
“Aku tak membutuhkan itu, Karen. Karena kamu memang sudah milikku,” balas Martin. “Tapi aku tak senang melihat orang lain menyentuh milikku,”
“Kamu salah paham, Martin! Tak ada yang terjadi diantara kita. Aku hanya sedang mencoba membantu Ray … “
Karen tak bisa melanjutkan ucapannya, karena kini, Martin semakin menyeretnya menjauh dan masuk ke dalam mobil sedan hitam milik Martin yang terparkir cukup jauh di belakang. Pria itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik Karen, dengan mata yang digelapkan akan rasa cemburu dan ketakutan.
Dari kejauhan, Karen bisa melihat lima pria besar itu membopong tubuh lemas Ray, masuk ke dalam salah satu mini van. Karen menangis sekerasnya, memanggil nama Ray, dan berdoa dalam hati supaya Ray tetap bernyawa.
“Masuk!” Bam! Martin menutup pintu mobil sekeras yang dia bisa, mengunci Karen di dalam sana.
Istrinya itu terus menangis, bayang-bayang akan kematian Ray terus bermunculan di balik kelopak matanya yang membengkak. Setelah menyusul masuk ke dalam mobil, Martin sedikit mencekik leher Karen, dipenuhi dengan amarah yang telah memuncak di ambang batas kesabarannya.
“Sekali lagi kamu meneteskan air mata untuknya, akan kupastikan dia mati tanpa diketahui siapapun,” ancam Martin.
Pelan-pelan Karen merendahkan suara tangisannya. Dia tak berani bergerak, takut tangan Martin akan semakin mencekik lehernya, jika dia bergerak satu inci saja.
“Kamu … “ Dengan keterbatasannya, yang ketakutan dan keinginan untuk tetap membantu Ray, membuat Karen mampu mengeluarkan kembali kata-katanya meski tersendat di kerongkongan.
__ADS_1
“Kamu telah menghancurkan hidupku bersama Ray, dan kini … kamu tetap ingin menghabisinya tanpa alasan,” Terbata-bata Karen memilih setiap kata yang ingin dia ucapkan, dengan harapan, Martin tak semakin mencekik lehernya.
Bola mata Martin melebar, hitam kecoklatan meluapkan amarah. Bukannya makin mencekik Karen, dia kini justru mengelus rambut istrinya.
“Kamu pasti tahu, Sayang,” ucap Martin. “Sekali menjadi milikku, akan terus menjadi milikku selamanya,”
***
Ray tak punya daya tersisa. Dia jatuh, lemas, dan berdebam di atas kerasnya aspal panas. Rasa kebas akan siksaan dan pukulan para pria besar itu tak lagi membuat Ray kesakitan, karena kini tubuhnya seakan melayang. Bahkan dia juga tak bisa melawan ketika para pria suruhan Martin itu menggotong tubuhnya yang bersimbah darah, masuk ke dalam van mini mereka.
Dan ketika Ray membuka mata, yang dia lihat hanyalah tubuhnya yang duduk terikat pada bagian lengan hingga kakinya. Pandangannya kabur, pening, dan sedikit perih ketika peluhnya tak sengaja turun bebas mengenai bagian yang hancur dengan luka terbuka.
Lamat-lamat datang sesosok pria tua, dengan tubuh tegap dan senyum lebar, mendekati Ray. Pria itu tertawa keras, memastikan setiap sudut luka milik Ray tak akan mengering atau sembuh dengan cepat.
Pria itu menampar pelan kedua pipi Ray, terus melebarkan senyumnya. Seakan setiap sudut luka di tubuh Ray, adalah semangat dan kegembiraan baginya.
“Dan sekarang, dia memintaku untuk menghabisimu pelan-pelan,” aku si pria tua.
“Tapi aku akan memberimu satu kesempatan,” imbuhnya lagi. “Aku akan membiarkanmu bernafas lega hari ini. Besok, aku akan mulai menyiksamu pelan-pelan,”
Ray tak bisa menanggapi, karena bahkan saat dia ingin berkedip, bagian tubuh lainnya ikut berdenyut sakit. Pandangannya kabur, tertutupi oleh darah dan keringatnya sendiri yang tercampur jadi satu. Ray tahu dia akan mati, perlahan, sesuai keinginan Martin. Tapi, andai ada satu keajaiban saja yang datang untuknya, dia akan pastikan, Martin kehilangan segalanya.
Braakk!!
Pintu besi gudang lusuh tempat Ray berada itu, tiba-tiba didobrak paksa dan hancur berantakan, ketika lima mobil sedan hitam menerobos masuk dengan kecepatan membabi-buta, menabraki siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
__ADS_1
Jim, si pria tua, yang sebelumnya mengobrol dengan Ray, kaget bukan main. Dia tak menduga akan ada orang asing yang mengetahui persembunyiannya ini. Maka dia berteriak, memerintahkan seluruh anak buahnya untuk maju.
Lima sedan hitam itu terparkir sembarangan, dengan banyak pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam keluar dari sana, penuh murka dan alat pukul di tangan mereka. Ada sekitar dua puluh lebih pria yang kini berkumpul, membentuk barikade di depan Jim, sambil memasang wajah garang dan murka.
Jim menelan ludah, mulai ketakutan. Jumlah anak buahnya yang hanya lima orang, tentu tak sanggup menghadapi dua puluh orang buas, yang seakan haus darah. Dan tak butuh lama, pria-pria itu berteriak, maju dan menendangi anak buah Jim tanpa ampun.
Jim hendak melarikan diri, namun berhasil tertangkap salah satu dari mereka, dan dipukuli habis-habisan, persis seperti tindakan mereka terhadap Ray, lima lawan satu.
Tragedi perkelahian itu tak berlangsung lama, karena jumlah yang tidak seimbang. Setelah berhasil mengalahkan anak buah Jim, mereka mengumpulkannya menjadi satu, diikat secara bersamaan. Lalu salah satu dari mereka maju, segera melepas ikatan di tubuh Ray. Spontan, para pria besar berjumlah dua puluh orang lebih itu membungkuk di depan Ray, bersorak seakan Ray adalah tuan mereka.
“Maafkan keterlambatan kami, Tuan Ray White,” ujar salah satu dari mereka, sambil membungkuk hormat pada Ray.
Dengan mata yang kabur dan tubuh penuh luka, Ray kembali duduk di kursi, memandangi seluruh pasukan buas itu. Kemudian tatapannya tertuju pada satu orang yang melepas ikatannya tadi.
“Bagaimana kalian bisa tahu keberadaanku?” tanya Ray, bingung.
Pria itu kembali membungkuk. “Martin Willis memang pria bodoh, Tuan. Dia menghabisi Tuan dalam wilayah kekuasaan kami,”
Ray menghela nafas, dan menghembuskannya, dengan perasaan teramat lega. Segala kebetulan yang memberinya kesempatan untuk hidup, yang sekaligus menjadi tanda dari Tuhan, bahwa dia harus membuat Martin jatuh sejatuhnya.
“Tuan Sergio ingin menemui Anda, Tuan,” Sekali lagi pria itu berucap, setelah memberi jeda untuk Ray.
Hati Ray berdenyut sekali, ketika mendengar nama Sergio disebut. Sergio White, ayahnya, yang bertahun-tahun tak pernah lagi dia lihat, semenjak dia membangkang dengan menikahi Karen. Sergio tak pernah menyetujui pernikahan Ray dan Karen, karena dia menganggap Karen hanyalah wanita cantik yang akan menghancurkan hidup Ray. Dan kini, segala omongan Sergio terbukti.
“Dimana aku harus menemui ayahku?” tanya Ray, dengan dada berdegup kencang dan buncahan kegembiraan akan rindunya pada sang ayah.
__ADS_1