Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Penyelamatku


__ADS_3

Eros buru-buru menepis tangan Ray yang mencegahnya untuk kembali menampar Kamala. Wajah Eros memerah, dengan kedua mata melotot lebar, merasa tak terima karena Ray tiba-tiba saja datang dan ikut campur.


“Apa yang kamu lakukan, hah? Kamu pikir, kamu siapa, berani-beraninya ikut campur!” maki Eros murka.


Ray tak peduli. Dia segera menarik tubuh Kamala yang terjebak di atas samping mobil Eros, memposisikan gadis itu untuk bersembunyi di belakang tubuhnya. Kamala yang tampak trauma, segera mendelik di dalam tubuh tinggi milik Ray, dengan tubuh yang sedikit gemetaran. Melihat reaksi Kamala, membuat emosi Eros semakin naik. Dia hendak menarik paksa Kamala, sebelum Ray mendorong keras tubuh Eros menjauh dari gapaian Kamala.


“Mala, kamu pacarku! Kenapa kamu memilih bodyguard-mu, hah?!” teriak Eros tak terkontrol.


Tubuh Kamala masih gemetaran, mencengkeram baju Ray seolah takut Eros akan kembali menariknya.


“Mala, kumohon. Maafkan aku, ya. Aku mencintaimu, Mala,” Tak seperti respon sebelumnya yang berteriak memaki layaknya sedang kesurupan, tiba-tiba Eros luluh. Dia bahkan mengatupkan kedua tangannya, memohon pada Kamala dengan mata menggenang.


“Mala, maafkan aku. Aku tak pernah bermaksud menyakitimu, Mala. Kumohon,” isak Eros.


Kamala yang masih bersembunyi di balik tubuh Ray, pelan-pelan mulai sedikit mengintip Eros, memastikan bahwa ada raut ketulusan di sana. Namun segala upayanya untuk kembali luluh seketika dipatahkan oleh Ray ketika pria itu maju dan mendorong tubuh Eros.


“Pergi dari sini,” ujar Ray dengan raut serius, pada Eros yang terus saja merengek pada Kamala.


“Mala, kumohon, Mala. Maafkan aku,” rengek Eros, tak peduli pada Ray.


“Pergi dari sini, sebelum aku kehabisan kesabaranku … “ ancam Ray dengan nada berbisik.


Mendengar ancaman Ray, bukannya takut dan pergi, Eros justru segera menghapus air matanya dan berganti kembali dengan tatapannya yang menakutkan. Dia cengkeram kerah baju Ray tanpa takut.

__ADS_1


“Kamu berani mengancamku, hah? Dasar pegawai rendahan!” umpat Eros.


Mallea Eros, anak tunggal keluarga Eros, salah satu konglomerat di negeri yang merupakan mantan tunangan Kamala Rudi. Kamala dan Eros sempat menjalin hubungan selama dua tahun, sebelum akhirnya dua keluarga sepakat untuk menjodohkan mereka. Namun, Eros semakin menunjukkan jati dirinya yang membuat Kamala trauma. Eros adalah seorang pasangan yang abusif dan senang bertindak kasar pada Kamala.


Tetapi karena segala hal telah disiapkan, orang tua Kamala memaksa Kamala untuk terus maju dan tak boleh membatalkan perjodohan. Akhirnya, karena merasa putus asa dan depresi, Kamala memutuskan untuk bunuh diri. Beruntung dia berhasil diselamatkan oleh Ray White, yang sekaligus menjadi jalan bagi Kamala agar dia bisa berpisah total dari Eros dan keluarganya.


Akhir kisah cinta itu nyatanya tak bisa diterima begitu saja oleh Eros. Lelaki itu terus mengejar Kamala, menebar teror ketakutan padanya. Karena rasa cemas akan teror Eros, secara langsung Kamala meminta papanya untuk memerintahkan Ray agar tak hanya bekerja sebagai head data analyst di perusahaan papa Kamala, tapi juga menjadi pengawal pribadi Kamala.


Ray tanpa banyak pertimbangan, segera meninju wajah Eros sekerasnya, membuat lelaki itu terpelanting jatuh menghantam bodi mobilnya sendiri. Dia memegangi pipinya yang memerah, sedikit meringis meski dia tetap bisa bangkit lagi.


“Sudah, Ray,” cegah Kamala, ketika Ray hendak kembali meninju Eros. “Kita akan kena masalah jika membuatnya babak belur,” bisik Kamala, memberi saran pada Ray.


Meski dia tak menanggapi, Ray nyatanya memutar tubuh dan berjalan cepat meninggalkan Eros yang terus saja mengumpatnya. Kamala buru-buru berpegangan pada baju Ray, jaga-jaga jika Eros nekat mengejar mereka. Namun tidak, meskipun Eros berteriak memaki Ray, dia sama sekali tak mengejar mereka.


“Kamu puas, sekarang?” celetuk Ray, ketika mobil telah melaju cukup jauh dari lokasi sebelumnya.


Kamala mengerutkan kening, tak paham dengan maksud Ray. “Maksud kamu?”


“Bukankah memang seperti ini tujuanmu?” tanya Ray. “Secara diam-diam meminta papamu agar aku mau menjadi pengawal pribadimu,”


Kamala tersentak mendengar pertanyaan Ray. Selama ini, permintaan itu hanyalah diketahui oleh Kamala dan papanya. Papa Kamala, Rudi Bruggman, sangat ingin Ray White menjadi menantunya. Maka Kamala menyarankan ide itu pada papanya, yang secara otomatis dikabulkan.


“Ray, aku … “

__ADS_1


“Aku setuju melakukan hal ini karena aku menghormati papamu,” potong Ray cepat. Kemudian dia kembali melirik Kamala, dengan tatapan kesal layaknya sang kakak pada adiknya.


“Kamala, harus berapa kali kubilang padamu?” omelnya. “Jangan pernah mengharapkanku. Aku hanyalah seorang duda menyedihkan, dan kamu adalah gadis cantik yang selain baik juga memiliki keluarga yang sempurna. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik,” omelan panjang dari Ray, yang selalu sama setiap harinya, hanya direspon dengan putaran bola mata oleh Kamala.


“Aku juga bukan penyelamatmu,” imbuh Ray, setelah memastikan Kamala tak ingin segera menanggapi. “Kamu harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri, tanpa harus mengharap bantuan orang lain,”


“T-tapi, kamu memang penyelamatku, Ray … “ timpal Kamala, mulai tak senang dengan pembicaraan Ray.


“Berhentilah menghinaku, Kamala. Aku tahu, kamu menganggapku menyedihkan,” duga Ray, masih terus fokus pada jalanan di depannya. “Kamu tak mungkin tiba-tiba menyukai orang asing yang bahkan usianya sangat jauh darimu,”


Kamala mulai kesal. Dia membuang muka, menatap jalanan di luar dari balik jendela mobil. Dia tak ingin berdebat lagi. Ray memang selalu keras kepala, yang menganggap dirinya sendiri bukanlah orang yang pantas dicintai. Kamala menduga, ini semua berkat Karen Willis, wanita pengkhianat yang telah merusak badan dan hati Ray sehancur-hancurnya.


Dan Ray pun akhirnya telah sampai di depan pintu gerbang rumah megah kediaman keluarga Bruggman, untuk mengantar Kamala pulang dan memastikan dia tak lagi dibuntuti oleh Eros. Tanpa banyak bicara, Kamala spontan membuka pintu mobil dan membanting pintu dengan keras.


Ray tahu Kamala marah padanya. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Ray tak menginginkan respon seperti ini dari Kamala. Dia kira, pembicaraan mereka di mobil tadi hanya akan membuat Kamala sadar jika Ray hanyalah pria menyedihkan yang dicampakkan istrinya. Dia tak menyangka, Kamala akan marah. Maka tanpa disadari oleh otak Ray, dia ikut turun dari mobil dan berteriak memanggil Kamala supaya berhenti. Tampak gadis itu berhenti dan menoleh ke arah Ray, masih dengan ekspresi kemarahannya.


“Aku akan pastikan untuk membalas Karen Willis,” seru Kamala.


Ray terkesiap karena tak menyangka, nama Karen akan dibawa-bawa oleh Kamala dalam kemarahannya.


“Jika bukan karena dia, kamu tak akan sehancur ini,” Tampak air mata yang mengalir dari ujung mata kanan Kamala. “Akan kupastikan dia menyesal telah meninggalkanmu,”


Ray berjalan maju dua langkah, demi untuk menggapai tubuh Kamala.

__ADS_1


“Aku mencintaimu, Ray. Dan tak akan berubah. Meski kamu mengusirku seratus kali, aku akan kembali seribu kali,” Kini air mata Kamala mengalir makin deras, seiring dengan tubuh Ray yang perlahan maju mencoba meraihnya.


__ADS_2