Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Sangkar Emas Milik Martin


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan dalam kehidupan Martin, dia akan sangat bahagia saat pulang dari kerja. Seorang wanita cantik yang dicintainya sedang menunggu dia pulang, dengan berbagai macam masakan lezat yang dimasak sepenuh hati. Bahagia rasanya, seakan dia dan Karen adalah sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.


Seperti malam-malam sebelumnya, hari ini pun Karen juga memasak untuk Martin. Dan seperti biasa, wajah Karen begitu datar tanpa ekspresi, ketika dia menyambut dan menghidangkan masakan-masakan hangat di atas meja makan. Meski hatinya sedikit terganggu dengan diamnya Karen, otak Martin berusaha menampiknya mati-matian. Karen pasti baik-baik saja, karena apapun yang diminta Karen, pasti akan diberikan Martin. Martin bukanlah pria miskin seperti Ray.


“Kamu tidak makan?” tanya Martin keheranan.


Setelah menyajikan masakan untuk makan malam, bukannya ikut menemani Martin makan bersama, Karen justru pamit untuk kembali ke kamar.


“Aku masih kenyang,” jawab Karen singkat.


Martin mengerutkan kening, memandangi Karen keheranan. Karen hari ini dan saat pertama kali bertemu dengan Martin, bagaikan dua orang yang berbeda. Meskipun kecantikannya tak pudar, tapi raut ceria tak lagi terlihat di wajah Karen. Wanita itu tampak sangat pucat, dengan lingkar mata yang makin hari makin hitam, kulit kisut tak segar. Setiap pagi Martin selalu memilihkan pakaian mana yang harus dikenakan Karen, serta membelikan perawatan wajah yang terbaik untuknya, namun Karen tetap tampak seperti mayat hidup.


“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Martin khawatir, setelah menghentikan langkah Karen.


Karen mengangguk, sambil tersenyum kecil.


“Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Martin lagi.


Karen menggeleng. “Aku hanya ingin istirahat,”


Otak dan hati Martin saling berdebat. Hatinya tahu jika Karen tidak sedang baik-baik saja, tapi otaknya menolak. Rasa sayang dan posesifnya yang teramat kuat pada Karen, membuat otaknya tumpul dan seakan hanya ingin memikirkan dirinya sendiri.


Setelah selesai makan dan mandi, Martin yang telah memakai baju tidurnya, berjalan pelan menghampiri Karen yang duduk diam di pinggir ranjang. Dia lingkarkan tangannya pada pinggang Karen, sambil bersandar di bahu Karen.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?” tanya Martin.


Tatapan mata Karen tampak kosong, memandangi ribuan cahaya yang dihasilkan oleh kendaraan dan gedung-gedung di bawahnya. Kamar Martin memiliki jendela sangat besar, yang memungkinkan pemiliknya untuk tidur sambil menikmati pemadangan kota di bawah.


“Kita ini apa, Martin?” tanya Karen setelah cukup lama diam.


“Maksudmu?” Martin balik bertanya, karena memang tak paham dengan maksud pertanyaan Karen.


Karen sedikit melirik Martin. “Kenapa aku di sini?”


“Karena kamu kekasihku,”

__ADS_1


“Kenapa?” sambar Karen. “Kenapa kita tak menikah saja?”


Martin terdiam. Dia tahu dia mencintai Karen. Sangat cinta. Tapi konsep pernikahan bukanlah impian Martin. Dia tak pernah percaya akan ikatan bernama pernikahan, yang baginya hanyalah sebuah ikatan di atas kertas yang palsu dan sia-sia.


“Kenapa harus menikah?” tanya Martin lagi.


“Hari ini Sierra datang,” Karen beranjak berdiri, menyentuh pelan jendela besar itu dengan kelima jari kanannya. “Dan dia memarahiku karena mengganti sandi apartemen ini,” aku Karen.


Martin yang emosi seketika ikut berdiri. “Aku akan menegurnya nanti,”


“Bukan itu maksudku,” bantak Karen cepat. “Sierra tak mungkin memarahiku, jika aku istrimu,”


Karen membalikkan badan, sedikit bersandar pada jendela besar itu sambil memandang lurus ke arah mata Martin. Hati Martin berdesir saat melihat Karen yang tampak sangat menawan dalam balutan piyama satin warna merah marun, dengan rambut hitam panjang yang seakan membaur dengan hitamnya langit perkotaan.


Dia dorong tubuh Karen makin menempel pada jendela besar, sambil mengaitkan jari jemarinya pada milik Karen. Keduanya saling mencumbu masing-masing, penuh gairah dan kehangatan. Tanpa disadari, malam ini, Martin dan Karen menemukan cara terbaru untuk memainkan permainan panas mereka. Yaitu, dengan menghadap jendela dan memandangi lampu perkotaan, dari atas lantai 100 apartemen mewah milik Martin.


***


“Makasih, ya, Sayang,” ucap Martin setelah Karen meletakkan sepiring sarapan untuk Martin.


Karen membalasnya hanya dengan senyuman. Pagi ini, tak seperti semalam, wajah Karen tampak lebih ceria, meski lingkar mata kehitaman belum pudar.


“Akhir-akhir ini aku nggak pernah bisa tidur,” keluh Karen, menyeruput kopi panasnya.


“Jangan kebanyakan minum kopi, Sayang,” larang Martin dengan tatapan penuh cinta.


Setelah berpamitan, Martin bergegas pergi menuju kantornya. Sementara Karen, hari-harinya setelah kepergian Martin, tak sama seperti saat dia menjadi istri Ray. Saat bersama Ray, ketika suaminya telah pergi bekerja, Karen selalu rajin membereskan rumah dan memulai hobinya merawat bunga-bunga anggrek di halaman belakang.


Sedangkan saat bersama Martin, Karen bukannya segera membereskan meja makan ataupun pekerjaan rumah lainnya, seperti saat bersama Ray. Dia justru kembali ke kamar, kembali duduk di tepi ranjang dan melamun di sana dengan pikiran tak menentu. Dia memikirkan banyak hal, mulai dari Ray hingga hal kecil sekalipun.


Sudah enam bulan lebih Karen tinggal di apartemen milik Martin, tanpa pernah diberi kesempatan untuk keluar dari sana. Seperti saat berada di rumah hutan, Martin juga tak memberikan uang sepeser pun pada Karen, meskipun dia selalu memenuhi kebutuhan Karen. Tapi sebagai manusia yang gemar bersosialisasi dan merawat bunga, hidup terkungkung dalam sangkar emas milik Martin, bukanlah impian Karen.


Teett!!


Bel pintu apartemen berbunyi, membuat Karen yang semula tenang, langsung cemas dan gemetaran. Apakah itu Sierra? Karen buru-buru lari mendekati pintu, saat bel terus-menerus berbunyi tanpa jeda. Sebelum membuka pintu, Karen berusaha menenangkan dirinya sendiri yang terus-menerus gemetaran gugup, agar tak membuat Sierra curiga. Namun saat dia buka, betapa kagetnya Karen saat tahu bahwa orang yang ada di depannya bukanlah Sierra.

__ADS_1


Orang yang di depannya adalah Sophie Willis, ibu dari Martin. Wanita tua itu tampak tersenyum dengan menampakkan deretan giginya yang rapi. Lalu tanpa permisi, menerobos masuk dan tampak kerepotan membawa dua barang bawaan yang berat. Sophie buru-buru meletakkan bawaannya itu ke atas meja dapur.


“Karen, ini aku bawakan dessert dan lauk untuk kalian,” ucap Sophie penuh semangat.


Karen mengangguk, berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Namun Sophie, wanita konglomerat yang telah mengarungi banyak asam kehidupan, langsung tahu akan gelagat aneh dari Karen.


“Karen, kamu … “


Belum sampai Sophie melanjutkan ucapannya, tubuh Karen tiba-tiba ambruk seperti kapas, tanpa aba-aba dan jatuh berdebam ke lantai apartemen. Sophie berteriak histeris karena kaget, dan bergegas menghubungi ambulans.


***


“Karen sepertinya sengaja menenggak banyak obat tidur dalam satu waktu. Sebaiknya Pak Martin pastikan dia tidak stres dan tertekan,” ucap Dokter Jev, dokter pribadi Martin.


Martin menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat menyesal luar biasa. Harusnya dia tahu jika Karen sedang tertekan, bukannya selalu menampik demi memuaskan kebahagiannya sendiri. Dan sekarang, sebagai konsekuensinya, Karen harus terbaring lemah di rumah sakit dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


“Harusnya sejak awal kamu tak bersamanya,” ucap Sophie, ketika keduanya menunggu di ruang tunggu di depan kamar Karen.


Martin melirik ibunya, tampak kesal.


“Paul sudah memberitahuku semuanya,” aku Sophie. “Bagaimana kamu menculik Karen, bagaimana kamu memaksa wanita itu untuk meninggalkan suaminya, dan yang paling memalukan, bagaimana mantan suaminya mempermalukanmu di depan banyak karyawan,” cerita Sophie, dengan muka yang tampak marah.


“Kamu harus tahu, Martin. Paul selalu mengawasi tindakanmu dimana pun. Dia ingin mencari celah keburukanmu supaya kamu jatuh dan bisa dia singkirkan,”


“Kenapa ayahku sendiri membenciku?” tanya Martin pelan.


Sophie mengangkat bahu. “Paul selalu percaya kalau kamu bukan anaknya,”


Kini giliran Martin yang melirik Sophie dengan tatapan penuh curiga. “Apakah aku memang bukan anak Paul?” tanyanya. “Kumohon, jujur padaku,”


Sophie menautkan alis, tak berniat menjawab pertanyaan penting dari Martin.


Setelah perawat memastikan kondisi Karen, Martin pun tak banyak berpikir, segera masuk ke dalam kamar VIP itu untuk melihat keadaan Karen. Wanita itu masih terbaring lemah, namun dia sudah siuman. Tatapan Karen yang pucat tampak sangat menyedihkan ketika disertai dengan tangisan yang tak henti-henti. Martin membaur dekat Karen, menggenggam erat tangan kanan Karen.


“Kamu baik-baik saja, Sayang? Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Martin penuh khawatir.

__ADS_1


Karen menggeleng, dengan tangisan yang makin lama makin deras.


“Aku tak bisa, Martin. Aku tak sanggup jika terus begini seumur hidupku,” isak Karen. “Kumohon, lepaskan aku … “


__ADS_2