Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Bernasib Baik


__ADS_3

"Sebaiknya kamu pergi," Ray ingin bicara ketus pada Karen, namun nada bicaranya yang melemah justru membuat Karen makin mantap berdiri di tempatnya.


"Kenapa kamu selalu keras kepala?" keluh Ray, masih dengan tatapan kosong ke arah sungai luas. "Pendirianmu itu selalu kuat, dan selalu aku yang harus menanggung akibatnya,"


Karen ingin semakin mendekat, berusaha meraih dan menolong tubuh dan jiwa Ray yang serasa akan melayang pergi dengan mudah. Tak terasa dia juga ikut berkaca-kaca, berusaha untuk ikut merasakan rasa sakit dan kekecewaan yang Ray rasakan.


"Aku akan selalu di sini untukmu, Ray," tanggap Karen.


Ray tertawa, sedikit mengejek. "Selalu di sini?" ulangnya. "Kamu meninggalkanku di saat semuanya terasa sulit,"


Karen menggeleng, tak terima. "Martin mengancamku. Aku … aku tidak tahu jika itu semua adalah jebakan,"


"Dan kamu menikmatinya, kan?" Ray menggerakkan tubuhnya, sekedar untuk berhadapan dengan Karen. "Kamu menikmati menjadi istri dari seorang pria kaya, kan? Tidak sepertiku, yang selalu serba kekurangan,"


Bola mata Karen bergetar, tak sanggup menjawab dan hanya bisa memandang Ray dengan hati perih.


"Aku sudah pernah mengajakmu kabur dari sini, tapi kamu menolakku," sanggah Karen.


Senyum mengejek kembali tersemat di bibir Ray. "Kenapa harus kabur? Kenapa tak meninggalkannya secara baik-baik? Kamu meragukanku karena tak bisa melawannya?"


"Martin bukan manusia, Ray. Dia … dia iblis yang tak punya hati. Kita tak bisa melawannya dengan cara baik-baik,"


"Apakah kamu melupakan jati diriku?" sambar Ray cepat. Kini dia dekatkan wajahnya ke arah Karen, dengan tatapan tajam. "Apakah kamu lupa siapa aku? Aku, Ray White, melepaskan semuanya demi Karen?" Ray menekan setiap kata pada kalimatnya, sambil menepuk-nepuk dadanya.


Karen berusaha sedikit mundur, kini tak berani saling bertatapan dengan Ray. Karen tahu, kemanakah arah pembicaraan Ray. Karen ingin seratus persen melupakan siapa Ray yang sebenarnya. Dia ingin menggambarkan Ray sebagai pria baik yang menjadi suaminya, tanpa perlu mengingat tentang asal-usul keluarga Ray yang hanya akan menyakiti hati Karen.


Melihat Karen yang mulai mundur dan terdiam, Ray memutuskan untuk berhenti. Dia berhenti mendesak Karen, dan sekali lagi memusatkan pandangan nanarnya ke arah sungai luas yang sisi-sisinya dipenuhi gemerlap lampu kota yang indah.

__ADS_1


"Aku memang tak pernah bernasib baik. Selalu ditinggalkan,"


Ketika suasana hati Ray kembali luluh, Karen hendak maju. Rasanya dia ingin segera mendekap Ray ke dalam pelukannya, menangis bersama dan bangun dari segala mimpi buruk ini. Kenyataan pedih yang Karen harapkan sebagai mimpi.


"Jangan terus menyalahkan dirimu, Ray,"


Ray bersiap mengambil batang rokok terakhirnya, sebelum Karen tiba-tiba menyambar dan membuang rokok itu begitu saja. Tapi Ray hanya diam, pasrah dan tak ingin memprotes. Dia justru menyunggingkan senyum, sedikit melirik Karen dengan tatapan teduhnya yang membuat hati Karen berdesir hebat. Harus Karen akui, dia amat merindukan Ray. Merindukan senyuman dan tatapan penuh sayang dari Ray.


"Kamu masih saja sama, Karen," komentar Ray, terus tersenyum ke arah Karen.


"Aku tak suka melihatmu merokok!"


"Kenapa?" sahut Ray, kini kembali berhadapan dengan Karen. "Oh iya, aku benci merokok," gumam Ray pada dirinya sendiri.


"Saat semuanya terasa sulit, kamu selalu menghabiskan satu bungkus rokok, dan aku yang akan kerepotan besoknya," omel Karen, sedikit tenang saat mengenang masa lalunya.


Ray justru tertawa lepas. "Kenapa, Karen? Kenapa kamu seperti ini?"


"Maksudmu?"


"Kenapa?" Ray mulai meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Karen, yang sekali lagi membuat Karen berdesir hebat.


Selain merindukan Ray, ternyata Karen juga merindukan sentuhan mantan suaminya itu.


"Kenapa kamu terus datang dan membahas masa lalu bersamaku?" lanjut Ray.


Karen mengerjapkan mata beberapa kali. "Kamu masih bertanya mengapa?"

__ADS_1


Ray menggeleng keras-keras. "Jangan berusaha menjebakku, Karen. Aku ingin melupakanmu. Aku ingin melupakan segalanya tentang kita,"


Setelah mengguncang bahu Karen yang seolah ingin mantan istrinya sadar, Ray segera memalingkan badan dan hendak pergi meninggalkan Karen. Dia merasa, semakin lama menghabiskan waktu bersama Karen, semakin membuat pertahanan dirinya retak dan bisa saja dia melakukan hal-hal yang tak ingin dia bayangkan.


Tapi seperti ujaran Ray tentang Karen yang keras kepala, wanita itu segera menahan tangan Ray dan tak mengizinkannya pergi.


"Aku tak mau melupakanmu, Ray! Kenapa kamu selalu memaksakan kehendakmu?" teriak Karen, tampak sedikit berkaca-kaca. "Aku tak mau menghilangkanmu dari kehidupanku. Aku menyesal. Aku ingin semua kembali seperti dulu,"


Ray mau tak mau harus berhenti, mendengarkan segala isakan penuh aduan dari Karen, namun juga tak bisa berbuat apapun. Kekecewaan Ray bercampur menjadi satu, membuatnya mulai mengutuk diri sendiri karena selalu dicampakkan dan tak bernasib baik. Dia tak bisa berbuat apapun ketika mantan istri dan calon istrinya tiba-tiba menghilang dan pergi meninggalkannya.


Seakan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, Ray pasrah saja ketika Karen mulai datang ke sisinya, memeluknya erat dan hendak meraih wajahnya dengan genggaman tangan lembut Karen yang masih sangat Ray ingat sensasi sentuhannya.


"Ray, kumohon … kembalilah padaku," bisik Karen yang terus menelusuri wajah Ray. "Mari bangun dari mimpi buruk ini bersama-sama,"


Karen makin maju, sedikit berjinjit untuk mendekatkan bibir mereka. Dan masih seperti semula, Ray diam di tempatnya, tak sanggup bergerak.


Deg! Tepat dalam satu kecupan dari Karen, hati Ray tiba-tiba melonjak, jantungnya kembali memompa darah yang membuatnya seakan kembali menjadi dirinya. Tanpa banyak berpikir, Ray spontan putar balik dan berlari, tanpa bicara sepatah kata pun pada Karen yang berdiri menanggung malu.


Punggung Karen panas dingin, malu dan marah luar biasa. Dia tak pernah menghadapi penolakan sememalukan ini, apalagi dari mantan suami yang pernah dia campakkan. Wajah Karen memanas, dengan pipi yang kemerahan, hasil dari rasa malunya. Namun Karen tetap ingin bersikap biasa, seakan tak terjadi apapun. Dan setelah merapikan bajunya untuk mengalihkan rasa malu, Karen putar balik untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, ketika dia melihat sosok Sierra yang berdiri tak jauh darinya.


Sierra berdiri santai, terus mengawasi Karen dengan perutnya yang makin membuncit. Wanita itu bahkan melambaikan tangan ketika Karen memandanginya, lalu berjalan masih dengan sikap santai untuk menghampiri Karen.


"Bagaimana rasanya penolakan, Karen?" tegur Sierra.


Karen salah tingkah. Jadi, selama ini Sierra telah mengawasi gerak-geriknya bersama Ray. "Apakah kamu akan mengadu pada Martin?"


Sierra menggeleng, dengan senyum tipis. "Aku justru akan memberimu kabar baik," Kemudian dia memberikan selembar foto pada Karen.

__ADS_1


"Ini … " Karen mengamati foto itu. "Ini kan, obat yang dulu kamu berikan padaku di rumah hutan?"


Sierra mengangguk senang. Lalu dia mencabut foto yang dipegang Karen. "Aku akan membantumu menjebloskan Martin ke penjara, dengan bukti obat-obatan ini,"


__ADS_2