Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Pengkhianatan Paling Menyakitkan


__ADS_3

Ray terus berlari mengikuti mobil hitam yang dia yakini adalah milik Martin, semampu dan sekuat lututnya. Pikirannya kalut, bersamaan dengan hatinya yang berantakan. Andai saja dia tak jatuh terjerembab, mungkin Ray sudah berlari hingga ke ujung jalan, menghentikan mobil dan meninju siapapun yang ada di dalamnya. Dia tak pernah merasa sehancur ini. Hancur hati dan harga dirinya, oleh seorang wanita yang sangat dia cintai luar biasa. Ingatan fotografisnya masih mengingat jelas isi berkas perceraian itu, yang memberatkan di pihak Karen. Jika Karen memang ingin meninggalkannya, kenapa Karen menangis? Ray berlutut, tak merasakan titik-titik air hujan yang menghujam sekujur tubuhnya. Terasa sakit dan dingin, menembus relung hati Ray yang remuk.


“Bagus, Karen … “ ucap Martin setelah memastikan Ray tak lagi mengejar mereka.


Karen hanya terus menangis, mengutuki dirinya sendiri. Jika ada pertanyaan, siapakah wanita paling jahat sedunia? Dia tentu akan menjawab, dirinya sendiri. Melihat Ray mengejarnya, mempermalukan diri sendiri demi Karen, membuat Karen serasa ingin memutar kembali waktu dan tak melakukan tindakannya.


“Mungkin ini akan terasa sakit bagi Ray, tapi ini akan sementara,” imbuh Martin, tampak santai dan tak bersalah.


“Sementara?! Kamu … memang monster, Martin. Aku berharap Tuhan segera membalasmu!” kutuk Karen.


Martin tertawa santai mendengar sumpah Karen. “Membalasku? Bagaimana denganmu? Kita melakukan atas dasar suka sama suka, Sayang,”


“Tapi kamu menyekap dan menghilangkan ingatanku. Aku tak pernah meminta hal ini,” protes Karen. Ulu hatinya terasa sakit.


“Lebih baik kita mati saja,” Karen tiba-tiba membanting setir yang dipegang Martin, membuat mobil itu terpelanting tak aturan ke kanan dan kiri.


Martin yang kaget berusaha sekuat tenaga membalikkan setir ke posisi lurus, namun Karen terus berusaha membelok setir ke arah berlawanan, berharap mobil itu menghantam kendaraan yang sedang melaju berlawanan arus.


“Karen, stop!!” teriak Martin membabi-buta.


Martin terus mencoba menjaga keseimbangan. Ketika kondisi sudah cukup sepi, dia dengan sekuat tenaga meminggirkan mobil itu secara paksa. Dia rem mendadak, hanya demi mengutuki Karen yang terus saja meronta dan berteriak histeris.


“Karen, hentikan!! Karen!!” bentak Martin.


Lalu pria itu secara cepat mencengkeram leher Karen, mengunci gerakan wanita itu dalam satu kali cengkeraman. Nafasnya saling memburu, antara emosi dan ketegangan dalam usahanya mengendalikan mobil.

__ADS_1


“Karen, stop!!” suruh Martin. Dia terus mencengkeram leher Karen yang menangis tak berdaya.


“Aku tak bisa hidup tanpa Ray,” isak Karen.


“Kamu bisa! Aku ada di sini untukmu,” balas Martin.


Karen menggeleng dengan isakan yang seakan enggan berhenti. Tubuhnya lemas, pasrah saja ketika Martin mengunci gerakannya hingga untuk menggerakkan kepala saja, Karen kesusahan.


“Kumohon … mari lupakan semuanya. Aku menyesal … aku menyesal telah mengkhianati Ray,”


* * *


Ray berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Rumahnya yang dia biarkan dalam keadaan berantakan dan gelap. Ray tak menghiraukan lampu rumah yang mati, karena hatinya pun juga segelap rumah dingin itu. Ray, dengan tatapan kosong, duduk bersimpuh di tengah ruang keluarga, memeluk lututnya. Pandangannya nanar, tanpa memikirkan apapun selain potongan kejadian saat Karen berlari masuk ke dalam mobil Martin. Apa yang sebenarnya terjadi?


Setelah cukup lama melamun dengan pikiran kosong, Ray tiba-tiba teringat pertanyaan membingungkan dari Paul. Pertanyaan tentang tujuan Martin mengirimnya ke luar negeri dan tawaran Paul. Sepertinya pria tua itu sudah tahu hal ini akan terjadi. Dan bodohnya Ray, dia sama sekali tak memiliki firasat. Dia tak tahu jika diam-diam di belakangnya, Karen telah bermain api dengan Martin.


* * *


Lift yang membawa Martin naik itu pelan-pelan mulai terbuka, dan dia bisa melihat pintu masuk ke rumahnya. Apartemen mewah milik Martin ini memang memiliki lift pribadi yang akan langsung menuju pintu depan apartemennya. Apartemen mewah nan luas yang selama ini hanya ditinggali Martin seorang diri, kini akan bertambah anggota baru di dalamnya. Karen. Wanita cantik itu Martin letakkan dengan sangat pelan di ranjang besar miliknya.


Kemudian dia mengganti seluruh pakaian Karen, dengan piyama sutra yang telah Martin siapkan khusus untuk menyambut kedatangan Karen. Ketika pria itu sedang memasangkan piyama ke tubuh dingin Karen, wanita itu terbangun.


“A-apa yang kamu lakukan padaku?” lirih Karen dengan mata setengah terbuka.


“Diamlah. Tidurlah kembali, Sayang,”

__ADS_1


Air mata kembali mengalir dari mata Karen. “Dimana aku?”


“Di rumah kita,”


Karen menggeleng dengan pikiran setengah sadar. “Kembalikan aku pada suamiku,” rintihnya.


Mendengar itu, Martin yang sedang memandangi lekukan tubuh Karen, mulai kehilangan kesabaran. Pria itu tanpa banyak bicara segera menelusuri setiap lekukan tubuh Karen, mengecapnya dengan banyak jejak. Karen makin merintih, dan Martin makin bergairah. Martin tak tahan dengan nama Ray yang terus-menerus disebut Karen, dalam suasana panas mereka. Martin makin beringas, tak sabar menikmati tubuh indah Karen yang telah lama tak dia cicipi. Meski, dia harus menahan telinganya sendiri, karena Karen tak mau berhenti menyebut nama Ray dalam setiap desahannya.


* * *


Ray masih saja meringkuk sambil memeluk tubuhnya. Lima botol wine berhasil dia tenggak habis dalam waktu sejam, padahal botol-botol itu telah lama dia siapkan bersama Karen demi merayakan saat-saat bahagia mereka. Pandangannya masih saja kosong, meski air mata tak mau berhenti mengalir dari matanya. Pria itu hancur. Hancur dari luar maupun dalam. Wanita yang dia sayangi dan cintai melebihi apapun itu telah menghancurkan dan membunuh Ray.


Ponsel Ray yang tergeletak gontai sembarangan terus-menerus berbunyi, memekakkan telinga. Ray melirik sekilas, tanpa ada minat untuk mengangkatnya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Sierra. Ray tahu apa maksud panggilan itu. Sebagai sekretaris Martin yang sangat setia, Ray yakin, Sierra ditugaskan Martin untuk menuntaskannya.


“Ray!!” teriak seseorang, berdiri di ambang pintu.


Ray tak bisa melihat jelas sosok itu, karena rumahnya yang gelap. Namun dari suaranya, Ray yakin jika wanita itu adalah Sierra. Ray bisa melihat sosok itu berjalan cepat menuju ke arahnya, mengguncang hebat tubuh Ray. Kemudian dia mulai melihat sekeliling, mencari saklar. Dan ketika saklar itu dihidupkan, disana Ray bisa dengan jelas melihat Sierra yang berdiri memandanginya dengan raut cemas.


“Ray, sadarlah!!” Sierra terus mengguncang Ray.


“Jangan seperti ini, Ray! Kamu harus bangun!” teriak Sierra sangat cemas.


Pelan-pelan Ray bangkit, dengan pandangan yang masih kosong. Dia tatap Sierra dengan sisa kekuatannya yang telah diserap habis oleh kepergian Karen secara mendadak.


“Sierra … “ lirih Ray. Lamat-lamat pria itu menatap ke arah Sierra, makin lama makin tajam.

__ADS_1


“Ceritakan padaku semuanya, sebelum kuhabisi si brengsek itu,”


__ADS_2