
Martin terdiam, sekali lagi membaca satu persatu kata yang tertera dalam kartu undangan pernikahan berwarna biru muda, yang sekarang sedang dia genggam. Sangat jelas tertulis nama Ray White dan Kamala Rudi di sana, yang membuat Martin makin membelalak lebar. Hari ini, undangan itu sampai di meja kerjanya, dua minggu setelah Martin memerintahkan Jim untuk menghabisi Ray. Tapi bukannya berita kematian, dia justru mendapatkan undangan pernikahan dari Ray, yang seakan sengaja menantang Martin.
Bagaimana Ray bisa selamat? Begitulah pertanyaan yang terus berdengung di kepala Martin, memikirkan segala kemungkinan yang nyaris nol persen. Martin bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, kala itu Ray sangatlah babak belur dan hampir mati, ketika Jim membawanya pergi menuju tempat persembunyian mereka untuk dihabisi. Bagaimana mungkin Ray bisa kabur dari sana?
Kemudian dia teringat akan Jim. Semenjak peristiwa pengeroyokan itu, Jim selalu menghindari setiap telepon darinya. Apabila pria tua itu mengangkatnya, dia selalu bicara singkat dan buru-buru menutup telepon, bahkan enggan membahas Ray lebih lama.
“Tuan … “ Seth, asisten pribadi baru Martin, yang menggantikan Sierra, akhirnya datang juga.
Setelah melalui proses rekrutmen yang panjang, dimana Martin menaruh perhatian secara langsung akan proses pencarian asisten pribadi barunya kali ini. Dia ingin mendapatkan yang terbaik, yang bisa membantunya dalam segala hal. Dan akhirnya, dia mendapatkan Seth, yang menurutnya sangatlah mumpuni untuk bisa menandingi Sierra yang tak pernah lepas dari pikirannya.
“Aku punya tugas untukmu,” Martin memberikan kartu undangan pernikahan itu pada Seth.
“Selidiki dia. Apa yang sebenarnya terjadi,”
Seth mengangguk patuh, dan tanpa diperintah dua kali, dia segera undur diri dari ruangan Martin, menuju ruangannya sendiri untuk mulai melakukan investigasi. Martin memainkan dagunya, sedikit cemas. Dia berharap istrinya tak mendengar kabar pernikahan itu, atau segalanya akan menjadi runyam.
***
Karen tak punya banyak pilihan, karena setelah kejadian pengeroyokan itu, Martin bersikeras memasang alat pelacak lokasi di ponselnya. Meskipun dia tak setuju, Martin selalu tak pernah bisa dibantah. Karen tak punya kuasa, karena segala hidupnya menjadi lebih mudah setelah dia menikah dengan Martin, termasuk status kehidupannya dalam masyarakat. Banyak teman-teman lamanya yang memuji Karen, karena berhasil mendapatkan pria konglomerat nan tampan seperti Martin. Dan meskipun cerita dibaliknya sungguh tragis, toh Karen senang mendengar pujian itu. Maka, mau tak mau, dia harus menyetujui setiap hal posesif yang dilakukan Martin padanya, termasuk mengawasi kemana pun Karen pergi.
Ketika dia hendak berjalan menuju ruang dosen, Kamala telah menghadang jalannya, beberapa meter di depan. Gadis itu tampak angkuh, namun tak ada emosi di wajahnya. Dan saat mereka berdua telah berhadapan cukup dekat, Kamala tersenyum, lalu menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna biru muda pada Karen.
“Aku harap Bu Karen bisa datang,” ujar Kamala, terus tersenyum.
__ADS_1
Jantung Karen berdegup kencang, segala kemungkinan buruk kini bermunculan di benaknya. Meskipun dia belum membaca isi kartu undangan itu, seakan Karen telah mengetahui segalanya. Namun, demi memastikan semua, dia memantapkan hatinya untuk membuka dan membaca setiap detil yang tertulis di dalam kartu itu.
Bola mata Karen bergetar, sangat hebat diiringi dengan tangannya yang sedikit gemetar. Kartu undangan pernikahan Ray dan Kamala, yang dia terima dua minggu setelah pengeroyokan itu. Yang berarti, Ray berhasil selamat. Tak terasa Karen menitikkan air matanya, tanda bersyukur karena doa yang terus dia panjatkan setiap malam pada Tuhan, ternyata kini dikabulkan. Ray masih hidup.
“Selamat, Kamala,” Ucapan Karen memang tulus, meski saat melihat air mata Karen, Kamala yakin jika air mata itu adalah air mata kesedihan.
Kamala menautkan kedua alisnya, sedikit tak senang dengan emosi yang ditunjukkan Karen ketika menerima undangan itu. Dia kira, Karen menangis karena sedih, padahal Karen justru senang. Itu tandanya, Ray berhasil selamat tanpa kurang suatu apapun.
***
“Sebaiknya Tuan datang ke tempat ini,” Seth menyerahkan secarik kertas berisikan sebuah alamat pada Martin, dua hari setelah tugas pertama yang diberikan Martin.
“Apa ini?” tanya Martin, membaca isi pada secarik kertas itu. Kemudian dia mengerutkan kening. “Kenapa kita harus ke sini?”
Martin tak ingin banyak bertanya, dan memutuskan kali ini mengikuti apa kata Seth. Mereka berdua bergegas menuju lokasi yang tertera pada kertas tersebut. Menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, untuk sampai pada lokasi yang ternyata adalah sebuah gudang terbengkalai yang letaknya di pinggir kota yang jauh dari pemukiman warga.
Perasaan Martin tak tenang, karena sepertinya dia tahu, kenapa Seth mengajaknya ke tempat ini.
“Apa kamu menemukan persembunyian Jim?” tebak Martin, was-was.
Sebelum Seth menjawab, pintu gudang itu terbuka, dan tampak Jim yang tengah duduk di kursi roda. Dia didorong maju mendekati Martin, oleh salah satu anak buahnya. Raut wajah Jim terlihat sangat malu ketika dia bertatapan dengan Martin, maka dia sedikit memalingkan wajahnya. Sementara Martin, dia terkejut luar biasa melihat kondisi Jim yang tiba-tiba saja lumpuh dengan kening bekas jahitan. Pria tua itu nampak sangat menderita, dan baru saja dihabisi seseorang dengan cara yang brutal.
“Ternyata kita tak bisa meremehkan dia begitu saja,” ucap Jim, sedikit ngeri ketika dia harus kembali mengingat peristiwa malam itu.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” tuntut Martin, tak sabar.
Jim memandangi Seth, kemudian Martin, secara bergantian. “Dia bukan pria biasa seperti dugaanmu,”
“Maksudmu apa? Bicara yang jelas, Jim!”
Jim mengatur nafasnya. “Dia Ray White, putra Sergio White. Bos mafia yang menyamar sebagai pebisnis vila di kota ini,” jawab Jim, sedikit memelankan suaranya. “Kamu salah memilih musuh, Martin,”
Martin diam. Dia pernah mendengar nama Sergio White sebelumnya, karena saat dia masih bekerja sebagai bawahan Paul, ayahnya, pria bernama Sergio ini ikut andil dalam beberapa kerjasama perusahaan Paul. Namun, yang tak disangka Martin, dia tak tahu jika nama belakang White pada nama Ray adalah tanda jika dia merupakan putra Sergio White. Karen tak pernah membahasnya, pun kehidupan Ray dan Karen tidaklah mencerminkan kehidupan seorang anak dari bos mafia yang menguasai kota.
Kemudian Seth memberikan sebuah dokumen pada Martin, dimana di dalamnya terdapat beberapa lembar foto, yang menunjukkan identitas Ray White.
“Sepertinya dia diusir setelah menikahi Nyonya Karen, Tuan,” jelas Seth.
“Kenapa?” Mata Martin mendelik, lebih penasaran dengan ucapan Seth, ketimbang harus memeriksa dokumen yang telah diserahkan Seth padanya.
Tapi Seth tampak sedikit ragu untuk menjawab. Namun Martin bukanlah pria yang sabar menunggu, dia desak Seth untuk segera mengungkapkan fakta lain yang telah dia selidiki.
“Latar belakang keluarga Nyonya Karen, tidak sepadan dengan keluarga White,” Seth menunjukkan lagi foto sebuah rumah kecil yang kumuh, dengan potret seorang wanita tua.
Martin memandang Seth, dan keduanya saling pandang dengan pikiran yang seakan bisa ditebak. Seth mengangguk patah-patah, sekali lagi sedikit ragu untuk kembali menjelaskan temuannya pada Martin.
“Ini ibu dari Nyonya Karen, Tuan,”
__ADS_1