Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Kejutan Khusus


__ADS_3

Kamala mematung. Dia memandangi punggung Ray yang makin lama makin menjauh, namun kali ini tak berniat mengejar pria itu seperti yang sudah-sudah. Teriakan yang cukup keras dari Ray membuatnya cukup terkesiap. Bagaimana mungkin dia bisa memanggil Ray begitu saja? Mengingat jarak umur mereka yang terlampau jauh. Namun perasaan Kamala tetaplah sama, dia mencintai Ray. Ray yang selalu ketus, Ray yang rapuh dan depresi, hingga Ray yang teguh pada pendiriannya.


Pada hari Ray dirawat di rumah sakit setelah babak belur akibat ulah para bodyguard papanya, Ray masih bisa menolak dengan tegas tawaran papa Kamala untuk menikahi Kamala. Meski, segala kenikmatan dan kekuasaan telah diiming-imingkan pada Ray, pria itu tak mau goyah. Dia bertekad akan masuk ke perusahaan papa Kamala dengan jalurnya sendiri, selayaknya pegawai biasa. Dan dia berjanji akan membuktikan jika dia memang pantas mendapatkan kekuasan meski tanpa harus menikah dengan Kamala.


Penolakan pada hari itu memang membuat Kamala sakit hati sekaligus malu. Seorang keturunan Rudi Bruggman yang dianggap sebagai orang terkaya nomor 2 setelah Paul Willis, menerima penolakan mentah-mentah dari pria biasa saja yang baru saja dicampakkan istrinya. Tapi bukan Kamala Rudi namanya jika menyerah akan hal yang dianggapnya patut untuk dipertahankan. Dia akan terus berjuang mendapatkan hati Ray, meski butuh waktu yang teramat lama.


***


“Sierra, ada apa?” tanya Karen kebingungan saat dia membuka pintu depan apartemen, dan melihat Sierra berdiri dengan wajah masam.


“Kenapa kamu mengganti kata sandi rumah ini?” protes Sierra.


Dia selalu bisa masuk kapan pun ke apartemen Martin, karena mereka berbagi sandi. Namun, semenjak kedatangan Karen, tiba-tiba saja sandi rumah Martin itu berubah. Sehingga menyebabkan Sierra harus mengetuk pintu terlebih dahulu jika ingin masuk.


“Aku tak suka ada orang yang nyelonong masuk ke rumahku,”


“Rumahmu?!” tekan Sierra, tak suka.


Dia mendengus kesal lalu menerobos masuk tanpa permisi. Melihat sikap Karen yang bertingkah seolah dia adalah istri Martin, membuat Sierra muak. Tapi berbeda dengan sudut pandang Karen, dia merasa perlu melakukan hal itu, karena dia mengalami gangguan kecemasan semenjak berpisah dari Ray. Dia terlalu takut untuk berhadapan dengan orang baru, yang bisa saja berniat menyerang batinnya.


“Ini,” Sierra menyerahkan sebuah amplop coklat pada Karen dengan ekspresi masih kesal.


Karen menerima amplop itu dan langsung membukanya tanpa berpikir. Saat membaca isi selembar surat yang ada di dalam amplop, tangisnya kembali pecah. Surat itu berisi keputusan perceraiannya dengan Ray yang telah dikabulkan, membuat hati Karen hancur. Dia bersimpuh di lantai, menangis keras di hadapan Sierra.


Namun Sierra tak bersimpati. Dia menatap Karen dengan tatapan teramat benci, hingga menatap Karen lima detik saja membuatnya langsung membuang muka. Baginya, tak ada yang lebih pantas dikasihani selain Ray.

__ADS_1


“Kamu tak ingin bertanya padaku tentang kabarnya?” tawar Sierra, menunduk memandangi Karen yang bersimpuh di bawahnya.


Karen sedikit berhenti terisak, dan mendongakkan kepala memandang Sierra. “Bagaimana kabar Ray?”


Sierra menarik nafas. “Anggap ini sebagai satu-satunya hadiah yang kuberikan untukmu,” ucapnya. “Ray … keluar dari Fortuna Corp. Dia melempar surat pengunduran dirinya ke depan wajah Martin,”


Ada secercah angin segar saat Karen mendengar cerita Sierra. Dia pikir, Ray akan pasrah begitu saja. Namun, nyatanya Ray sanggup untuk melawan Martin. Dalam hati, Karen berdoa, semoga suatu saat Ray datang dan menjemputnya kembali. Melepaskannya dari jerat pria gila seperti Martin.


“Aku harus pergi,” ujar Sierra, setelah mengecek pesan masuk dari ponselnya. “Martin mungkin sebentar lagi pulang. Sampaikan salamku untuknya,”


Karen tak menjawab, tapi merespon dengan anggukan saat Sierra pamit pulang. Tangisannya telah berhenti setelah mendengar cerita Sierra tentang perlawanan Ray. Dia bangkit berdiri, mengusap air matanya dan berusaha untuk tak lagi menangisi perpisahannya. Yang dia harapkan saat ini adalah, dia dan Ray bisa sama-sama berjuang untuk kembali pada masing-masing.


***


“Tuan … “ Sierra melirik sopir pribadi Paul dari spion tengah.


Sopir Paul Willis itu tampak diam kaku tanpa ekspresi, membuat Sierra makin canggung dibuatnya. Dia berkali-kali berusaha menghentikan tindakan Paul, namun sia-sia. Justru Paul makin bersemangat membuka setiap kancing kemeja Sierra.


“Aku sudah mempersiapkan kejutan untukmu,” bisik Paul, tenggelam dalam dua buah kembar milik Sierra.


Sierra menutup mata, berusaha mengatasi rasa malunya pada sopir pribadi Paul.


“Ayo kita ke rumahku,”


Sierra berdegup kaget, saat mendengar perintah Paul pada sopirnya. Tanpa banyak bicara, sopir itu segera menancap gas dan melaju pergi ke rumah kediaman Paul Willis. Meskipun dia dan Sophie telah menikah selama puluhan tahun, nyatanya mereka berdua memiliki rumah masing-masing. Sierra sudah berkali-kali datang ke rumah Sophie Willis, karena sebelum pindah ke apartemen mewah, Martin dulu tinggal bersama ibunya di sana. Namun, selama bekerja untuk Paul, Sierra sama sekali tak pernah berkunjung ke kediaman Paul. Mereka berdua lebih sering bertemu di restoran privat langganan Paul, atau ke hotel tempat Paul bercinta dengan wanita-wanita simpananya.

__ADS_1


Tak lama, Sierra dibawa ke sebuah rumah mewah yang berada di tempat paling pojok dari perumahan elit di pinggiran kota. Tak seperti rumah Sophie yang dihiasi oleh puluhan cahaya lampu, rumah Paul tampak lebih sederhana. Kesan mewah tetap ada pada rumah Paul, namun tak mencolok. Sepertinya Paul memang sengaja menghindari perhatian dari orang sekitar.


Paul membimbing langkah Sierra melewati satu demi satu bagian dari halaman depan rumahnya, dengan tangan tak mau lepas dari tangan Sierra. Pria tua nan gagah itu menggenggam erat tangan Sierra, seakan takut Sierra akan tersesat. Saat sampai di depan pintu masuk, Paul berhenti. Dia memegangi kedua pundak Sierra.


“Kamu sudah masuk dalam genggamanku, Si. Itu artinya, kamu tak akan bisa lepas lagi,” ucap Paul dengan tatapan mengintimidasi. “Tapi khusus untukmu, aku akan berikan kejutan ini. Kejutan yang tak pernah kuberikan pada orang lain,”


Sierra menelan ludahnya, mulai harap-harap cemas. Paul tersenyum tipis penuh maksud, seraya membuka pelan pintu masuk itu. Sierra takjub bukan main dengan dekorasi interior rumah Paul yang bergaya khas eropa dengan langit-langit berukiran mewah. Hingga tanpa dia sadari, Paul mulai kembali menganalisis dan menghirup setiap detail aroma tubuhnya. Dan mulai melucuti satu demi satu lapisan kain yang menutupi tubuh Sierra.


“Bertindaklah seliar mungkin, Si. Tak ada orang lain selain kita di sini,” bisik Paul.


Benar, malam yang panas itu makin liar dan tak terkendali, seiring dengan luasnya tiap sudut rumah Paul yang telah dijajaki oleh keduanya. Dan setelah itu, Paul dan Sierra sama-sama tergeletak lemas tak berdaya di kamar pribadi milik Paul. Paul mulai melingkarkan lengannya memeluk tubuh Sierra.


“Tak ada yang sepertimu,” komentar Paul.


Sierra tersenyum, sedikit tersipu karena dipuji.


“Biasanya para wanita itu memintaku untuk tak pakai pengaman, supaya mereka bisa melahirkan anakku,” jelas Paul. “Tapi beda denganmu,”


“Beda apanya, Tuan?”


“Kamu … selalu memintaku untuk hati-hati,” Paul mengecup lembut bibir Sierra.


Setelah cukup mengumpulkan kembali energinya, Paul bangkit dan berjalan mengambil sesuatu. Lalu dia menyerahkan sekotak kecil cincin berlian yang sangat indah pada Sierra.


“Aku akan memberikan anak untukmu,” ucap Paul. “Anak yang akan mewarisi seluruh hartaku,”

__ADS_1


__ADS_2