Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Terima Kasih, Ray


__ADS_3

Entah apa yang terjadi, namun saat terbangun dari tidurnya, Ray telah berada di sebuah kamar VIP rumah sakit, dengan Kamala yang duduk tercenung di sampingnya. Wanita muda itu tampak lega saat tahu Ray telah siuman.


“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Ray bingung.


Tentu saja dia kebingungan. Kenangan yang terakhir dia ingat, dia sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang setelah menjemput Kamala. Itulah yang terakhir dia tahu, dan setelahnya, dia tak ingat apapun.


“Sudah berapa lama aku di sini?” tanya Ray lagi.


“Dua hari,” jawab Kamala. “Dokter bilang, tubuhmu sangat lemah dan penuh luka baik di luar maupun di dalam. Kamu pingsan dalam perjalanan kita pulang,” aku Kamala, tampak cemas dan lega dalam satu waktu.


Ray memejamkan mata, mulai paham. Efek dari hajaran para preman suruhan Martin ternyata sangat berefek buruk padanya.


“Aku sudah tahu semuanya … “ Kamala tiba-tiba berucap. “Aku tahu kenapa kamu bisa dapat luka sebanyak itu,”


Ray terdiam. Dia tidak ingin menyangkal atau membuat alasan apapun, karena memang semua adalah salahnya. Andaikan dia bisa sedikit tegas pada Karen, pasti ini semua tak akan terjadi.


“Ini semua memang bukan hakku untuk bicara, tapi … “ Kamala sengaja memotong ucapannya. “Sebaiknya kamu menghindari mantan istrimu, Ray,”


Ray mengangguk, tanpa banyak pertimbangan. “Aku tahu. Maafkan aku,”


“Bagaimana dengan Eros?” tanya Ray, tiba-tiba teringat akan pria brengsek itu.


“Dia sudah diadili. Kemarin Papa membuat perhitungan dengan keluarganya,” Muka Kamala kembali cerah saat diajak membicarakan Eros. “Berkatmu, Papa tak lagi memaksaku untuk menikahi Eros,” Dia memandang Ray penuh rasa syukur.


Mereka berdua saling tersenyum, bahkan Ray berusaha meraih tangan kanan Kamala yang tampak menghindarinya. Wanita muda itu tak seperti biasa yang selalu menunjukkan dengan gamblang perasaan cintanya pada Ray. Kali ini, Kamala tampak sangat menghindar, meski perhatiannya pada Ray tetaplah sama.


“Akan kuambilkan sarapan,” Kamala izin meninggalkan kamar Ray, untuk meminta sarapan pada petugas rumah sakit.


Ketika dia membuka pintu, dia kaget luar biasa saat mendapati Karen sedang bersandar di dinding samping pintu dengan buket bunga di genggamannya. Lalu Kamala buru-buru menutup pintu, berusaha agar Ray tak bisa melihat Karen.


“Bu Karen, apa yang Anda lakukan di sini?” Kamala tahu jika kini Karen bekerja sebagai dosen di kampusnya, jadi Kamala mengubah sapaannya pada Karen.


“Apakah Ray sudah siuman?” tanya Karen, tampak khawatir namun juga kikuk di depan Kamala.

__ADS_1


“Apa yang Ibu inginkan?” hardik Kamala, sangat tak senang. Setelah mendengar segala cerita dari Adam, Kamala langsung kehilangan respeknya pada Karen.


Karen segera mengulurkan buket bunga itu pada Kamala. “Kalau bukan karena keegoisanku, Ray pasti tak akan seperti ini,”


Kamala menerima buket bunga itu, masih dengan raut kesal di wajahnya. “Terima kasih sudah membantu mencariku, Bu Karen,” balasnya.


Karen mengangguk, melipat bibirnya. “Semoga kalian berdua lekas baik-baik saja,”


“Ibu tak perlu mencemaskanku atau Ray,”


Karen tersentak saat mendengar panggilan Kamala untuk Ray. Wanita muda yang terpaut usia sepuluh tahun dari Ray itu bisa memanggil Ray dengan namanya, seakan hubungan mereka sangatlah dekat.


“Lebih baik Bu Karen memikirkan rumah tangga Ibu sendiri,” ujar Kamala tak ramah. “Aku tak mau kebaikan Ibu justru membawa kesialan untuk Ray,”


“R-Ray?” Karen memberi nada penekanan pada ucapannya.


Kamala sadar jika dia telah keceplosan menyebut nama Ray di depan Karen, namun segalanya telah terlambat. Demi menjaga harga dirinya, yang terbalut perasaan cemburu, Kamala justru makin mengangkat dagunya.


Tak lupa menutup pintu serapatnya, Kamala menghela nafas panjang saat menyadari jika Ray terus memandanginya dengan raut heran. Bahkan pria itu menanyakan dari mana Kamala mendapat bunga sebesar itu.


“Karen menitipkan ini padaku,”


Ada sedikit raut kaget di mata Ray, tapi sangat halus dan hampir tak terlihat.


“Aku mengusirnya,” aku Kamala, dengan lirikan seakan ingin tahu reaksi Ray.


Tapi Ray hanya tertawa kecil, tak memperdulikan pengakuan Kamala yang dia anggap lucu. Malah, ada sedikit kelegaan di hati Ray, karena Kamala telah kembali menjadi dirinya sendiri yang selalu posesif akan Ray.


“Ada apa?” tanya Ray cemas, saat Kamala tiba-tiba menutup mulutnya yang hampir saja memuntahkan sesuatu.


Dia memegangi perutnya, dan berlari kencang masuk ke dalam kamar mandi. Ray menunggu dengan harap-harap cemas, ketika Kamala telah selesai dengan urusannya di kamar mandi. Wajah gadis itu memucat, sambil terus memegangi perutnya. Dia duduk di kursi samping ranjang Ray, dengan tatapan mengambang, dipenuhi dengan berbagai firasat buruk.


“Ray … “

__ADS_1


“Tidak,” sahut Ray cepat.


Meskipun telah menikah lama dengan Karen, Ray sendiri juga tak mengerti dengan berbagai pertanda kehamilan, karena Karen belum pernah hamil selama menikah dengannya. Namun satu yang Ray tahu, mual bisa menjadi pertanda kehamilan yang sering dia lihat di berbagai film.


“Aku juga tak mau terjadi, Ray,” ucap Kamala. “Tapi bagaimana kalau … “


“Tidak akan terjadi apapun,” sambar Ray. “Aku yang telah bertahun-tahun saja belum tentu berhasil, apalagi dia yang baru sekali,”


“Tapi aku tetap takut, Ray … “


“Ray White,” Rudi Bruggman beserta Marsel, asistennya, tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar Ray.


Pria tua itu tampak sangat cemas saat melihat kondisi Ray, namun di satu waktu juga senang saat melihat putrinyalah yang menunggui Ray di rumah sakit.


“Papa, kenapa Papa di sini?” tanya Kamala keheranan.


Rudi memicingkan matanya. “Memangnya Papa tidak boleh datang?”


Kamala angkat bahu. “Ini kan masih jam kerja, Pa,”


Rudi tak menghiraukan gerutuan putrinya, dan memilih untuk duduk di samping ranjang Ray. Berkali-kali dia mengucap syukur dan berterima kasih pada Ray, karena jika bukan karena bantuan Ray dan anak buahnya, Kamala mungkin akan lebih menyedihkan.


Rudi bersyukur telah mengenal Ray dan menjadikannya karyawan yang sangat teladan di perusahaannya.Tak lupa juga bersyukur karena Ray selalu perhatian pada putrinya, Kamala.


Namun Ray hanya menanggapi dengan senyuman singkat, karena baginya, Rudi juga cukup banyak membantunya bangkit dari keterpurukan. Jika bukan karena Rudi, mungkin saat ini Ray tetaplah menjadi Ray yang menyedihkan, yang harga dirinya bisa diinjak seenaknya oleh Martin Willis.


“Tuan Rudi, ada yang ingin aku bicarakan dengan Tuan,” ujar Ray, tiba-tiba.


Semua mendadak hening, mengalihkan perhatian mereka pada Ray yang tampak sangat serius.


“Aku … Aku ingin menikahi putrimu, Kamala,”


Semua diam, mencerna setiap detil perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Ray. Apalagi Kamala, bagaikan tiba-tiba disiram air es di kepalanya, dia sedikit limbung ke belakang, seakan tak punya keseimbangan diri. Perkataan Ray sungguh membuatnya tak siap, seakan mendapatkan kejutan paling luar biasa dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2