Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Separuh Hati


__ADS_3

Karen sedang menyiapkan makan malam untuk Rida, saat dia tak sengaja mendengarkan berita di televisi mengenai kematian Paul Willis. Tanpa sadar dia sudah menjatuhkan nampan berisi nasi yang hampir saja dia serahkan pada Rida, berdiri mematung dengan jantung hampir melompat tak percaya.


“Karen, ada apa?” tanya Rida. Wanita itu sama sekali tidak tahu jika Paul adalah mertua Karen. Karena Karen sendiri memang tidak pernah mengenalkan Martin secara pribadi pada ibunya itu.


“Ibu, aku harus pergi … “


“Karen!” panggil Rida, saat Karen berlari setelah menyambar jaket dan tasnya.


Karen terus berlari, kemana saja. Dia menghubungi ponsel semua orang, termasuk Martin dan Sierra. Tapi keduanya tidak ada yang mengangkat panggilan Karen. Maka Karen segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat, hendak menuju ke rumah Paul dan Sierra demi mendapatkan informasi. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, ada nama Martin muncul layar ponselnya.


“Martin, apa yang terjadi?” tuntut Karen tak sabar.


“Ini Petrina,” jawab Petrina.


Ada sedikit rasa kecewa di benak Karen, namun hanya sekejap. Dia lebih khawatir dengan kabar yang simpang sibur beredar.


“Dimana Martin? Dimana Paul?” tanya Karen cemas.


“Datanglah ke rumah sakit milik keluarga Willis,”


Karen segera menutup telepon, tanpa mengucapkan salam. Dia mengubah tujuannya. Dia meminta sopir taksi untuk membawanya ke rumah sakit tempat dimana Paul berada.


***


Sesampainya di rumah sakit, Karen kembali berlari. Dia bergegas ke meja resepsionis, ketika ekor matanya tak sengaja menangkap sosok Martin yang lalu lalang dengan pandangan linglung. Karen pun berencana mendekati, namun Petrina lebih dulu datang. Wanita itu menuntun langkah Martin yang sepertinya terguncang karena kematian ayahnya.


Karen pun memilih mundur. Langkah kakinya yang semula dipercepat, kini makin melambat. Dengan gontai dia beranjak menuju ruangan yang telah disebutkan resepsionis padanya.


Di lobi ruangan menuju tempat Sierra dirawat, Karen melihat Martin duduk bersimpuh dengan kepala menunduk dan lutut yang dilipat. Karen tak dapat melihat ekspresi suaminya itu, tapi aura Martin menunjukkan depresi. Perlahan Karen berusaha mendekatinya.


“Martin … “ panggil Karen pelan.


Pria itu pelan-pelan mulai mengangkat kepala, mencari sumber suara yang tidak asing. Saat dia melihat Karen berdiri di dekatnya, membuat Martin seketika bangkit. Tanpa banyak berpikir, Martin segera merangkul Karen erat, menyandarkan kepalanya di pundak Karen.


“Karen, kukira aku sudah kehilanganmu,” isak Martin.

__ADS_1


Karen ikut menitikkan air mata, sambil mengelus punggung Martin. Dia tidak pernah mendengar atau melihat pria ini menangis. Maka saat dia harus melihatnya, pertahanan Karen jebol. Dia tidak bisa untuk menahan air matanya.


“Dia ayah kandungku, Karen. Kenapa dia harus ayah kandungku?” Nada suara Martin meninggi, tetap menyandarkan kepalanya di pundak Karen.


Karen makin mempererat pelukannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengelus punggung Martin, membiarkan pria itu larut dalam kesedihannya.


“Kenapa dia harus pergi secepat ini? Aku bahkan belum membalas dendamku padanya,” Martin mulai meracau. Air matanya bahkan membasahi baju Karen.


Karen masih diam. Air matanya makin mengalir deras. Rasa trauma Martin terhadap sang ayah ternyata jauh dari dugaannya. Pria ini tampak sangat kuat dari luar, tapi nyatanya sangat rapuh di dalam. Separuh hati Karen mulai mengasihani Martin. Namun sisi lainnya menolak, karena selain Martin memisahkannya dari Ray, Martin jugalah yang memilih untuk menikahi wanita lain.


***


Proses pemakaman Paul Willis berlangsung haru dan hening, karena hanya dihadiri oleh para keluarga dekat. Tidak ada awak media atau rekan bisnis yang diizinkan datang, karena Sierra ingin memberikan penghormatan terakhir yang khidmat untuk sang suami.


Sambil berhadap-hadapan, Sierra balas menatap tajam pandangan Sophie padanya, di sepanjang upacara pemakaman itu. Sierra tahu, ini semua adalah ulah Sophie. Wanita tua itu sama sekali tidak menitikkan air matanya, meski suami yang telah dinikahi puluhan tahun itu pergi untuk selamanya.


Sierra ingin membalas segala perbuatan Sophie, tapi dia tidak punya cukup bukti. Namun yang diyakini Sierra, dia harus segera mencari cara untuk menjebloskan Sophie beserta Martin, yang dengan kejam telah membuat Paul menderita.


Sementara Martin, berdiri kaku di samping Sophie, sambil menggenggam erat tangan Karen. Dia menatap nanar makam sang ayah yang telah ditaburi bunga, namun tidak ada lagi bekas air mata di wajahnya. Dan Petrina hanya bisa memandang getir genggaman tangan Martin atas Karen. Dia mulai menyadari satu hal, dia mencintai Martin.


“Maksud Ibu?” tanya Karen tak paham.


Sophie menautkan alisnya, angkuh. “Kamu setuju untuk berbagi suami dengan Petrina?” ulang Sophie.


“Oh, tapi kurasa itu sudah tak perlu. Karena Martin dan Petrina memang sudah menikah,” imbuh Sophie, sambil memandang Karen penuh hinaan.


Karen tidak ingin menanggapi. Dia berusaha untuk menahan emosinya, demi menghargai kesedihan Martin.


Dari kejauhan, Sierra terus mengamati setiap gerak-gerik Sophie, bahkan saat Sophie mulai mengintimidasi Karen. Sierra mulai memaksa otaknya untuk mencari seribu cara agar bisa menjebloskan wanita ular, Sophie Willis.


“Margaret,” panggil Sierra.


Margaret mendekat, dengan tertunduk hormat.


“Cari tahu apa yang terjadi saat kecelakaan. Aku ingin kamu menangkap sopir truk, dan interogasi dia sampai dia mau mengaku. Pakai kekerasan kalau dia menolak untuk menjawab,” perintah Sierra.

__ADS_1


***


Di saat yang sama, namun dalam waktu yang berbeda, empat orang lelaki besar dengan seragam perawat mulai sibuk mendorong ranjang roda masuk ke dalam ruangan besar dengan pencahayaan redup yang menyeramkan.


Kemudian mereka meletakkan begitu saja ranjang itu di tengah ruangan, kemudian mulai menyiapkan banyak peralatan medis di sebelahnya. Dan ketika sang pasien yang tidur di ranjang perlahan mulai terbangun, mereka bergegas memeriksa kondisi dan memastikan pasien itu baik-baik saja.


“Dimana aku?” tanya pasien itu lemah.


“Anda aman sekarang,” jawab salah satu perawat.


“Aman dari apa?” Pasien itu terus bertanya, cukup kuat untuk ukuran seseorang yang baru saja terluka parah.


“Dari orang yang berencana membunuh Anda,”


“Membunuh?!” Si pasien mulai berpikir keras. Siapakah yang berencana membunuhnya?


“Siapa yang ingin membunuhku?!” pekik si pasien, berusaha untuk melepas selang infus yang menempel di pergelangan tangannya.


Salah dua dari empat perawat itu mencoba untuk menahan sang pasien agar tidak banyak bergerak.


“Anda masih harus banyak istirahat,” ucap salah satunya.


“Lepaskan aku! Aku harus menemui anakku,” ronta si pasien.


“Situasi sedang tidak aman bagi Anda untuk keluar dari sini,”


“Lepaskan, brengsek! Aku harus menemui anak kandungku!” Pasien itu makin keras memberontak. Tenaganya cukup kuat untuk seseorang yang baru saja dihantam truk besar.


“Tuan Paul Willis,” panggil seseorang, yang seketika membuat empat perawat itu menunduk hormat.


Suara langkah kaki mulai maju. Tampak jelas terlihat sosok seorang pria berwajah tegas, yang tersenyum ke arah Paul. Pria itu menundukkan kepalanya, memperkenalkan diri dengan sopan.


“Kamu … “ Paul sangat mengenali pria itu.


“Perkenalkan Tuan. Namaku Ray White,” sapanya, dengan senyum yang penuh maksud.

__ADS_1


__ADS_2