Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Mencintaiku


__ADS_3

Satu bulan sebelumnya …


“Apa kamu yakin, Seth?” tanya Martin, ketika Seth menghentikan mobilnya di depan sebuah panti jompo dimana Rida dirawat.


Seth mengangguk. Menatap Martin dari spion depan. “Saya yakin, Tuan,” jawabnya.


“Kamu bawa semuanya, kan?” Martin menengadahkan tangan, hendak meminta sesuatu dari Seth.


Pria muda itu kembali mengangguk dan memberikan seberkas dokumen pada Martin.


“Apa perlu saya temani, Tuan?” tawar Seth.


Martin menggeleng. “Tidak perlu. Ini adalah urusan pribadiku. Kamu cukup berjaga-jaga, jika ada orang lain yang datang, segera hubungi aku,”


“Orang lain? Maksudnya … Nyonya Karen?”


“Bisa saja Karen–” Martin berhenti. “Atau mantan suaminya, Ray. Aku tahu, dia adalah pengganggu yang bisa muncul dari mana saja,”


Seth mengangguk patuh. Kemudian Martin keluar dari mobil, setelah merapikan pakaian dan menata hatinya. Ini adalah kali pertama dia bertemu dengan Rida, ibu mertuanya. Jadi Martin tidak ingin memberikan kesan yang buruk.


“Bisakah saya bertemu dengan Rida Evans?” tanya Martin kepada resepsionis.


Resepsionis itu saling pandang dengan rekannya. “Anda siapa, kalau boleh tahu?”


Martin berdehem. “Aku suami anaknya, Karen,”


Mata mereka terbelalak, dan kembali saling pandang. Kemudian salah satu perawat yang mengenal Karen, ikut maju.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.


“Aku mau bertemu dengan Rida Evans. Aku suami Karen,”


“S-suami?” Perawat itu tampak ragu.


Menyadari gelagat aneh dari para pegawai itu, membuat Martin tersadar akan satu hal. Karen belum memberitahu semua orang yang dia kenal, bahwa dia sudah bercerai dengan Ray.


“Aku harus bertemu dengan Rida,” tegas Martin.


Perawat itu tampak gugup. Lalu dia buru-buru memberikan petunjuk jalan pada Martin.


Sesampainya di sana, Martin dengan langkah perlahan memasuki kamar Rida setelah mengetuk pintu dua kali.


Tampak Rida sedang mengupas buah apel, dan seketika meletakkan pisaunya saat melihat Martin datang. Tatapannya bingung, karena tidak pernah bertemu Martin sebelumnya.

__ADS_1


“Siapa kamu?” tanya Rida.


Martin mengambil duduk di kursi depan ranjang Rida. Dia mengulurkan tangannya.


“Perkenalkan, saya Martin, Ibu,” jawab Martin. “Saya suami Karen,” tandasnya tanpa ragu.


“Suami?!” Rida melebarkan bola matanya. “Apa maksud kamu?”


Martin kemudian mengeluarkan selembar dokumen, salinan surat resmi perceraian Karen dan Ray.


“Karen sudah lama bercerai dari Ray,” jelas Martin. “Dan kini, sayalah suaminya. Apakah Karen tidak pernah cerita pada Ibu?”


Bergetarlah tangan Rida saat membaca salinan surat itu. Dia bahkan sampai tidak bisa menanggapi apapun, karena segalanya terasa seperti bom yang dijatuhkan mendadak padanya.


“Tidak mungkin … “ gumam Rida tak percaya.


Martin tersenyum simpul. “Kalau begitu, apa pernah Karen datang bersama Ray?”


“Karen tidak pernah datang,” jawab Rida. “Tapi Ray–” Dia menelan ludah, menelan kepahitan. “Dia selalu datang menjengukku tiap minggu. Bahkan masih membiayai seluruh perawatanku di sini,”


Geram hati Martin saat mendengar ocehan Rida. Jika bukan karena menghormati Rida sebagai ibu Karen, sudah pasti Martin akan mengamuk. Dia benci nama Ray disebut dengan cara yang baik.


“Mulai sekarang, aku yang akan membiayai seluruh perawatan Ibu. Karena akulah suami Karen,” tegas Martin, menahan kekesalannya.


“Bolehkah aku bertanya satu hal?” tanya Rida hati-hati.


Martin menatapnya dengan pandangan lebih teduh. “Bertanya apa Ibu?”


“Kenapa Karen tidak pernah datang lagi ke sini? Apa kamu melarangnya?" Rida menyusun kalimatnya dengan penuh hati-hati.


"Melarang? Bahkan aku tidak pernah diberitahu, jika ibunya masih hidup," jawab Martin, mengulaskan senyum simpul. Namun senyum itu tampak menakutkan bagi Rida.


***


Ray mengulangi cerita Rida padanya, saat Martin pertama kali menemui Rida. Beberapa hari setelahnya, Karen mengunjungi Rida untuk pertama kali setelah perceraian mereka.


Karen langsung lemas. Menyadari fakta bahwa segala hal terjadi diluar dugaannya. Menyadari jika Martin menutup rapat pertemuannya dengan Rida dari Karen.


“Jadi … pembicaraanmu bersama Ibu waktu itu … “


“Pembicaraan apa?” sahut Ray tak sabar.


“Bahwa kamu mencintai seseorang,” jawab Karen. “Itu bukan aku, tapi Kamala?”

__ADS_1


Ray memejamkan mata, tak sanggup menatap Karen. “Apalagi yang bisa kuucapkan. Rida sudah tahu kita bercerai,”


“Jawab jujur, Ray!!” pekik Karen. Kini dialah yang mengguncang bahu Ray. “Kamu mencintai aku atau Kamala?”


Air mata kini tumpah ruah, membasahi seluruh wajah Karen. “Aku hanya ingin mendengar satu hal saat ini. Satu hal yang akan membuatku kuat menghadapi segalanya,” isak Karen.


Ray pasrah saja. Dia tidak menyahut, namun juga tidak melawan.


“Aku mohon, Ray. Beri aku jawaban yang akan membuatku kuat bertahan. Aku hanya butuh itu,” Mata Karen merah dan bengkak, dia tumpahkan segala isi hatinya di depan Ray.


“Aku berbohong pada Martin. Aku bilang, akulah yang melaporkannya ke polisi. Aku tidak ingin dia makin dendam padamu. Cukup aku saja yang dia benci,”


“Harusnya kamu tidak perlu melakukan itu. Aku justru ingin dia tahu, akulah yang melaporkannya,” sahut Ray.


“Ray–” Karen kini menyentuh pelan tangan Ray. “Sebenarnya apa tujuanmu?” Mata bengkaknya sungguh memilukan, serasa Ray ingin mendekap erat Karen saat ini juga. “Kenapa kamu melaporkan Martin?” lanjut Karen. “Apakah karena ingin memuaskan dendammu, atau karena kamu masih mencintaiku?”


“Ini diluar pembahasan kita, Karen,”


“Tapi aku butuh tahu!!” sentak Karen, histeris. “Aku sudah kehilangan segalanya. Bersama Martin, aku tidak bisa merasakan kedamaian karena bayang-bayang keluarganya yang kacau. Bersamamu, aku tidak bisa karena–” Karen berhenti untuk menelan ludah. “Karena ada Kamala disisimu,”


“Karen … “ Ray tak sanggup melihat kepedihan di mata Karen.


“Jawab aku, Ray. Apakah kamu masih mencintaiku?”


"Pertanyaan itu tidak pantas kamu ucapkan, karena justru kamulah yang meninggalkanku. Aku tidak pernah meminta semua ini terjadi. Kamulah yang pergi meninggalkanku, Karen," jawab Ray, ikut berkaca-kaca.


"Tapi Ray … "


"Kamu tidak punya hak untuk cemburu pada Kamala, karena kamulah yang meninggalkanku demi Martin," sahut Ray cepat.


"Harus berapa kali kubilang?! Aku diancam, Ray!" sentak Karen mulai kalut.


"Dan kamu memberi keputusan sendiri, tanpa mau berdiskusi denganku. Itu artinya, kamu percaya aku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Nyatanya sekarang apa? Martinlah yang justru kalah dariku!"


"Kamu mencintaiku atau tidak?" tanya Karen lirih. "Kamu mencintaiku atau tidak, Ray?!!" Nada suaranya meninggi, penuh kekacauan.


Ray terbelalak melihat kekacauan dalam diri Karen, menggambarkan jika wanita itu sedang dalam masa paling buruk dalam hidupnya. Seumur hidup mengenal Karen, dia tidak pernah melihat Karen seperti ini.


Tangan kanannya hendak meraih tubuh Karen yang gemetar kacau.


"Ray … " panggil Kamala, yang secara otomatis menghentikan Ray.


Kamala tak sengaja melihat Ray dan Karen dalam keadaan terpuruk, dimana Karen menangis histeris dengan Ray berdiri di depannya.

__ADS_1


__ADS_2