Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Bersaksi Untukku


__ADS_3

Sierra menegakkan telinga, merasa amat terganggu dengan tawa menggelegar dari Martin yang berdiri beberapa puluh meter jauh darinya, seakan sangat menikmati guncangan kejadian yang menimpa Ray dan keluarga Kamala. Sierra datang ke pesta pernikahan Ray dan Kamala, atas undangan dari Ray. Namun, demi menghindari pertemuan dengan Martin, Sierra memutuskan untuk datang paling akhir, dan selalu memposisikan dirinya di pinggir keramaian, agar tak bisa berpapasan dengan Martin.


Namun semua sungguh diluar dugaannya. Wajah Ray yang tiba-tiba memucat, pengantin wanita yang tak kunjung masuk serta desusan para tamu undangan yang diluar kendali, membuat Sierra yakin jika Kamala telah kabur. Sambil memastikan perut buncitnya tetap aman tanpa terbentur dengan orang-orang yang berkerumun, Sierra berusaha untuk mengabaikan seruan jahat dari Martin dan para saingan bisnis Rudi Bruggman. Dia bergerak maju, berupaya untuk bisa mendekati Ray.


Sayangnya, salah satu asisten Ray menuntun Ray untuk segera meninggalkan altar demi memperbaiki citranya agar tak semakin buruk. Dan karena itulah, Sierra menyadari satu hal. Selain keluarga Rudi Bruggman yang tampak panik dan kecewa, disana juga ada keluarga mafia yang dikenal luas sebagai pengusaha villa, Sergio White. Namun bagi Sierra yang sudah lama menjadi asisten pribadi Paul, dia tentu tahu identitas asli Sergio. Kedoknya sebagai pengusaha villa hanyalah kamuflase untuk menyembunyikan diri dari jebakan para penegak hukum atas bisnis bawah tanahnya.


Sierra bertanya-tanya dengan kecurigaan. Kenapa Sergio dan keluarganya ada di sini? Dan ketika Ray panik, mereka juga sama-sama panik. Kemudian, sebagai seorang wanita cerdas, tak butuh waktu lama bagi Sierra untuk mencerna satu hal. Ray dan Sergio berbagi nama belakang yang sama. Hampir lemas dengkul Sierra, membayangkan segala rencana jahat yang disusun Martin serta dibantu olehnya, demi memisahkan Ray dari istrinya. Satu hal yang kini digumamkan Sierra, semoga Ray tak menandainya sebagai salah satu orang yang akan dibalasnya kelak. Sierra tak ingin menjadi musuh Ray White.


Meskipun para tamu undangan telah meninggalkan gedung hotel mewah itu sejak sejam lalu, namun Sierra terus duduk di ruang ganti, demi bisa bertemu dengan Ray. Dia ingin memastikan dugaannya, ingin berbicara langsung dengan Ray dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagi Sierra, kini Ray sama berharganya seperti sang bayi dalam kandungan, karena atas saran dari Raylah, Sierra berani untuk keluar dari jerat Martin dan memilih takdirnya. Maka Sierra juga ingin ada dalam saat-saat terpuruk bagi Ray.


"Ray?" Sierra spontan berdiri saat pintu ruang ganti tiba-tiba dibuka.


Bukan Ray yang muncul dibalik pintu, melainkan Adam, asisten Ray yang seketika menunduk sopan ke arah Sierra. Adam mengenali Sierra sebagai istri kedua Paul Willis, maka dia juga perlu menghormati wanita yang merupakan istri konglomerat itu.


"Kemana Ray?" tanya Sierra.


Adam sekali lagi menunduk. "Tuan Ray sudah pergi, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"


Sierra menggeleng, dengan pikiran yang mengambang.


"Tuan tidak membawa mobilnya. Jadi mungkin hanya berjalan-jalan di sekitar sini," imbuh Adam.


Sierra segera melaju kencang, meski tetap penuh kehati-hatian. Dia tidak ingin kehilangan jejak Ray. Banyak sekali hal yang ingin dia perbincangkan berdua saja bersama Ray, dan hanya malam ini Sierra bisa leluasa bergerak, sebelum Paul mulai menyewa banyak pengawal demi mengawasinya yang sedang hamil besar.


***

__ADS_1


Setelah berhasil menemukan Ray, hal yang paling tak diduga Sierra adalah menemukan Karen yang berusaha sangat keras untuk dapat mencium mantan suaminya itu. Apalagi bukannya diterima, Karen justru ditinggal pergi begitu saja oleh Ray, tanpa adanya penjelasan. Maka ketika pokok-pokok bahasan yang telah dia persiapkan untuk Ray, sengaja dia bagi salah satunya untuk Karen, demi menghibur hati wanita itu.


"K-kenapa kamu bisa mendapat foto obat-obatan ini?" tanya Karen, menunjuk selembar foto yang telah kembali ke tangan Sierra.


Sierra menyimpan kembali lembaran foto itu. "Aku dididik sebagai wanita yang tanggap dalam segala situasi, Karen. Termasuk situasi menegangkan waktu itu,"


Karen diam, tak paham dengan maksud Sierra.


"Aku akan membantumu, jika kamu sangat ingin bersatu lagi dengan Ray," tawar Sierra. "Satu-satunya cara hanyalah menjebloskan Martin ke penjara,"


Karen menunduk, sambil menggigit bibirnya. Dia tak menyangka, Sierra telah mempersiapkan segalanya serapi dan sedetil mungkin. Bahkan hal-hal yang paling merugikan baginya, justru Sierra lah yang paling siaga. Karen sama sekali tak pernah berpikir untuk mengumpulkan bukti-bukti demi bisa kabur dari cengkeraman Martin.


"Aku menunggu jawabanmu secepatnya, Karen,"


"Jawaban atas apa?" timpal Karen keheranan.


Karen kembali diam, lama berpikir.


"Aku akan menemui dua hari lagi, dan kuharap kamu sudah membawa jawaban untukku,"


Sierra memutar badan, hendak pergi.


"Tunggu, Sierra," cegah Karen.


Sierra yang sudah setengah jalan, terpaksa memutar badan kembali.

__ADS_1


"Apakah ini semua murni karena Ray?" tanya Karen. "Atau karena kamu ingin menjadi satu-satunya yang menguasai harta ayah Martin?"


Deg! Pertanyaan telak yang tak pernah terpikirkan oleh Sierra, kini keluar dari mulut wanita cantik yang selalu dia anggap bodoh itu. Karen sedikit demi sedikit menegakkan kepala, lurus menatap Sierra seakan sedang berusaha menembus jantung lawan bicaranya.


"Akulah korban dari rumah hutan itu, dan memang hanya akulah yang berhak tahu apapun dibalik tindakanmu ini," ucap Karen, tegas.


Sierra mengangkat kepala, makin angkuh dan tak ingin terkalahkan. Dia melipat tangannya ke depan dada.


"Terus apa maumu, Karen? Kamu tak mau bersaksi untuk kasus penggunaan obat ilegal itu?" cecar Sierra.


Dia sedikit maju ke depan, hanya untuk memberikan efek intimidasi pada Karen.


"Atau saat ini, mulai tumbuh rasa cintamu untuk Martin?"


Karen menggeleng tegas. "Aku tak akan menjawabnya sekarang,"


Sierra menyiratkan senyum ejekan. "Aku sudah tak butuh jawaban. Aku sudah tahu, hanya dari tatapanmu," sambar Sierra. "Kamu mencintainya, Karen! Sadarlah!"


"Tidak. Aku tetap mencintai Ray," sanggah Karen, mulai tersulut emosi.


Sierra makin tertawa. "Kalau kamu memang mencintai Ray, harusnya ini semua adalah berita baik untukmu. Apa susahnya menjadi saksi untuk laporan ini? Kamu akan sangat diuntungkan!"


"Aku tidak akan menjawabnya sekarang, Sierra," Karen memberikan penekanan pada suaranya.


"Oke," Sierra kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia mengutak-atik ponsel itu beberapa saat, lalu menunjukkan sebuah foto yang sukses membuat bola mata Karen melebar.

__ADS_1


"Kamu mau bersaksi untukku, atau kukirimkan pada Martin, perbuatanmu malam ini," ancam Sierra, setelah berhasil diam-diam membidik momen saat Karen berjinjit demi berusaha meraih bibir Ray.


"Kamu tahu apa yang akan terjadi, jika sampai Martin melihat foto ini," Sierra terkikik licik.


__ADS_2