Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Tak Berperasaan


__ADS_3

Martin spontan menjauhkan diri dari ibunya, dengan pandangan lebar tak percaya. Setelah mendengar bisikan yang bagaikan peluru yang langsung menembus jantungnya, Martin tak bisa memberikan respon apapun atas pernyataan Sophie.


“Istri baru?” protesnya dengan nada tinggi.


Sophie mengangguk, sedikit melirik Karen untuk melihat reaksi menantunya itu.


“Yang pasti, dia adalah wanita dari kelas atas, yang sangat pantas bersanding denganmu,”


“Tidak!” sergah Martin. “Ibu tidak berhak mengatur hidupku! Aku hanya mau Karen, dan istriku hanya Karen, titik!”


Martin segera menggenggam erat tangan Karen. “Ibu tidak bisa memisahkan kita begitu saja,”


“Oh ya?” Sophie melipat kedua tangannya, berjalan angkuh menghampiri Martin.


“Kamu sudah lupa, anak Sierra lahir laki-laki? Dan apa kamu lupa, ayahmu akan memberikan seluruh hartanya untuk bayi itu?” Sophie mulai bermain dengan psikologis Martin.


“Apa kamu mau, diperlakukan seperti ini sedari kecil, oleh ayahmu sendiri? Apa kamu tidak ingin membalas segala perbuatannya?”


Rentetan pertanyaan Sophie mulai sedikit mempengaruhi otak Martin. Kini wanita tua itu melirik Karen yang berdiri membisu di samping Martin.


“Apakah hanya demi seorang wanita miskin, kamu rela melepaskan hakmu untuk anak Sierra?” Bibir Sophie condong ke depan dengan mimik yang merendahkan Karen.


“Aku bisa menerimanya sebagai menantu, karena dia cantik dan bisa menghasilkan keturunan yang bagus untukmu. Tapi jika terbukti dia yang bermasalah … “ Sophie menghentikan ucapannya, dan kini berjalan mendekati Karen.


“Dia harus rela suaminya menikah lagi, atau pergi dari rumah ini. Pergi dari keluarga Willis,” ucap Sophie, pelan dan penuh kebencian, ke arah Karen yang berdiri berhadapan dengannya.


Karen tak berani membalas pandangan Sophie, dan Martin juga membisu. Martin makin mengencangkan genggaman tangannya dengan Karen, sebagai bentuk saling menguatkan.


***


“Karen!!” teriak Martin, memanggil nama Karen karena setelah pemeriksaan selesai, Karen segera berlari kencang meninggalkan tempat praktek dokter.


“Karen, berhenti!” teriak Martin sekali lagi, karena kali ini Karen seperti hendak nekat menerobos jalanan yang penuh dengan kendaraan laju cepat.


Beruntung, Martin dengan cepat menarik tangan Karen, sehingga wanita itu tak sempat menabrakkan dirinya pada sebuah truk yang berjalan dengan klakson nyaring, sebagai tanda agar Karen berhenti bertindak konyol.


Wanita itu jatuh ke tanah di bawahnya, dengan air mata yang mengalir makin deras. Martin buru-buru menarik tubuh Karen agar berdiri dan meninggalkan tempat itu, sebelum mulai menarik perhatian banyak orang.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?!” bentak Martin, setelah keduanya berada di dalam mobil.


Karen terus menangis.


“Apa kamu mau bunuh diri hanya karena pemeriksaan itu?”


Kini Karen berteriak histeris, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Wajahnya bengkak dan memerah, memudarkan kecantikannya.


“Aku tidak bisa, Martin,” isak Karen.


“Apa maksudmu?”


Karen masih terisak, hingga mulutnya sulit untuk mengucapkan kata-kata dengan jelas. Martin buru-buru mengambil beberapa lembar tisu untuk Karen.


Setelah isakannya sedikit reda, Karen kini mulai tenang. Sambil mengatur nafas dan jantungnya yang masih berdegup, Karen pandangi Martin dengan mata merah dan sembab.


“Aku tidak bisa hamil,” ucap Karen singkat. “Aku telah memeriksakan kandunganku sebelumnya. Bersama Ray. Saat masih menikah,” aku Karen, sedikit terbata-bata.


Ada ekspresi tercengang pada raut wajah Martin, namun sebisa mungkin tidak dia tunjukkan di depan Karen. Yang dia lakukan hanyalah segera merangkul Karen, mengelus punggung istrinya.


“Sejak awal, aku berani mengambil segala resiko demi bisa mendapatkanmu. Dan hal sepele ini tidak bisa menjadi alasanku untuk melepasmu,” Martin terus berusaha menenangkan Karen yang kian menangis.


Untuk kali ini, Karen menangis bukan karena takdirnya yang tidak bisa hamil. Namun karena sikap Martin, yang tidak dia sangka, bisa membuat hatinya tenang.


Martin melepaskan pelukannya, dan saling pandang dengan Karen.


“Setelah tinggal bersamaku, kamu pasti tahu. Aku punya satu kelemahan,” ujar Martin. “Aku tidak bisa melawan ibuku. Kamu tahu sendiri, seperti apa Sophie Willis,”


“Tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu terus tertekan karena sikap ibuku. Mari kita pindah, ke tempat yang baru dan tidak perlu memberi tahu siapa pun,”


Karen mengangguk. Martin tersenyum saat melihat respon setuju dari Karen. Dia mulai mengusap satu demi satu air mata yang membasahi wajah Karen, lalu kembali berpelukan hangat.


Martin dan Karen memutuskan untuk segera kembali ke apartemen mewah mereka, demi untuk membicarakan tentang rumah baru dan segala persiapan perpindahan.


“Tempat ini … penuh kenangan,” ucap Karen, setelah menyuguhkan segelas teh hangat untuk Martin.


“Tempat kita memadu kasih,” goda Martin, yang disambut tawa oleh Karen.

__ADS_1


“Kenapa kamu memilihku, Martin?” Pertanyaan tiba-tiba itu dilontarkan Karen, setelah sekian lama mereka bersama.


Martin melebarkan mata, tampak tak siap dengan pertanyaan tiba-tiba itu.


“Apakah aku perlu menjawabnya?”


“Iya!” sambar Karen cepat. “Seorang Martin Willis, CEO muda yang tampan dan kaya raya, bisa mendapatkan wanita seperti apapun,”


“Iya,” sahut Martin, dengan senyum menggoda. “Aku bisa mendapatkan wanita manapun, termasuk kamu. Aku pasti akan mendapatkan apapun yang kumau, meski harus merebut harta berharga seseorang,”


Martin enggan melepaskan pandangannya dari Karen, yang kini hanya terdiam salah tingkah setelah mendengar pengakuan penuh digdaya dari Martin.


Kemudian pria itu mulai mengecup hidung Karen, turun ke arah bibirnya dan dia ***** secara perlahan dan penuh cinta.


Karen mulai melingkarkan tangannya pada leher Martin, dan mereka mulai saling bertautan seakan sulit untuk dipisahkan. Apalagi kedua tangan Martin yang kini menjelajah masuk ke dalam baju Karen, mulai menelusuri banyak tempat di sana.


Karen hanya mengerjapkan mata beberapa kali, ikut masuk ke dalam permainan Martin. Sudah lama dia tidak merasa sangat bergairah seperti ini, seakan ini adalah awal mula perjumpaan mereka yang penuh kesalahan.


Namun Karen tidak mau memikirkan hal itu sekarang. Dia ingin menikmati cumbuan Martin, demi menghilangkan perasaan sedihnya.


“Martin?!!” seru Sophie, yang tiba-tiba saja masuk, membuyarkan kenikmatan yang hampir saja menuju ******* itu.


Sophie datang dengan seorang wanita cantik dengan postur tinggi.


Martin dan Karen bergegas bangkit, dengan Karen yang buru-buru mengambil pakaiannya karena sempat ditanggalkan oleh Martin. Kesalahan terbesar, mereka lupa untuk mengganti password apartemen, sehingga Sophie masih bisa masuk seenaknya.


“Apa yang kalian lakukan?” hardik Sophie jengah.


Martin tersulut emosi. “Harusnya aku yang bertanya pada Ibu. Kenapa Ibu masuk ke dalam rumah kami seenaknya?!!”


Sophie mencibir, lalu mengeluarkan sebuah dokumen.


“Hasilnya sudah keluar,” Dia melempar dokumen itu pada Martin. “Ayo baca, yang keras. Biar istrimu dengar!”


Martin membaca satu demi satu kata yang tertulis dalam dokumen itu, ketika Sophie mendorong wanita yang ikut bersamanya untuk maju.


“Kenalkan, dia Petrina Vallea. Dia adalah calon istri barumu, Martin,” ucap Sophie, penuh bangga dan tak berperasaan.

__ADS_1


__ADS_2