
Ray sekali lagi menggigit bibir bawahnya kesal, ketika melihat sosok Kamala yang sudah berdiri rapi di depan rumahnya, dengan sekotak bekal yang dia tenteng di tangan kanan. Ray menggerutu, sedikit memaki sikap kukuh Kamala, yang tetap saja tak menyerah meski Ray telah mengusirnya berkali-kali. Gadis muda yang bahkan belum lulus kuliah itu, nyatanya tetap saja nekat datang ke rumah Ray setiap pagi, hanya untuk menyerahkan bekal makan siang.
Tapi kali ini beda. Tak hanya bekal yang dibawa, Kamala juga membawa sebuah undangan pernikahan yang segera diserahkan pada Ray.
“Aku lihat ini dilempar sembarang di halaman,” katanya sambil menyerahkan undangan pernikahan itu.
Ray yang bingung, buru-buru membuka undangan untuk memastikan siapakah yang sedang berbahagia. Saat tertera nama Sierra dan Paul Willis di sana, dia menyunggingkan senyum lebar yang tampak amat puas.
“Akhirnya kamu berhasil juga … “ gumam Ray.
***
Beberapa hari lalu, saat Sierra dan Ray bertemu di restauran sebelum hari H makan malam keluarga Willis.
“Paul melamarku,” ucap Sierra singkat, sekali lagi melirik ke arah Kamala yang duduk cukup jauh dari mereka berdua.
Ray membelalak lebar, tak percaya. “Paul Willis? Konglomerat itu? Lalu, apa yang kamu khawatirkan? Bukankah kamu ingin hidup menjadi wanita kaya?” cecar Ray.
Sierra tersenyum tipis, sambil menyeruput kopinya. “Kurasa, anak itu sangat mencintaimu, Ray,” ucapnya, keluar dari topik. Matanya tertuju terus ke arah Kamala yang tampak gundah karena Sierra menyuruhnya untuk menjauh agar bisa mengobrol dengan Ray.
Ray menggeleng. “Tidak, Si. Dia terlalu muda untukku. Masa depannya masih sangat jauh, kalau hanya dihabiskan dengan duda sepertiku,”
“Bagaimana denganku dan Paul?” tanya Sierra. “Dia sudah seperti ayahku sendiri. Dia membiayai seluruh pendidikanku,”
Ray terdiam. Dia ragu untuk memberikan jawaban, karena tak paham sejauh mana hubungan Sierra dengan keluarga Willis.
“Lalu apa yang membuatmu ragu?”
__ADS_1
“Aku mencintai Martin,” ucap Sierra tegas dan lugas, tanpa ada keraguan sedikit pun. Membuat Ray seakan berhenti bernafas untuk sedetik lamanya, hanya untuk mencerna pernyataan Sierra.
“Tapi dia … “
“Kami saling memuaskan, bahkan setelah Martin bersama Karen,” sambar Sierra, membuat Ray tak jadi melanjutkan ucapannya.
“Dasar pria brengsek … “ umpat Ray, mengepalkan kedua tangannya penuh murka.
“Aku tak ingin Martin terus memakaiku seperti boneka. Aku harus membalasnya,” ujar Sierra. “Apakah menurutmu, Paul bisa menjadi jalanku untuk membalas Martin?” tanyanya, meminta pertimbangan Ray.
Ray tak segera menjawab. Dia justru menggenggam erat salah satu tangan Sierra, seakan berniat menguatkan wanita itu. Matanya menatap lurus ke arah Sierra, dengan tatapan sayang sebagai seorang sahabat.
“Jangan pernah memaafkan Martin sedikit pun. Dia tak berhak bahagia,” gumam Ray, mendoktrin Sierra agar makin membenci Martin.
***
Setelah merasa dirinya siap dan sempurna, Sierra menyambar tasnya yang dia letakkan di atas ranjang, kemudian bersiap untuk turun. Namun ketika dia membuka pintu depan, Martin telah berdiri di sana, dengan wajahnya yang tampak kusut seakan tak tidur semalaman.
“Martin, apa yang … “
Sierra tak bisa melanjutkan ucapannya, karena sekarang Martin telah membekap mulutnya dan mendorong paksa Sierra untuk kembali masuk. Martin juga mengunci pintu apartemen Sierra, agar wanita itu tak bisa kabur. Sierra terus-menerus memberontak, tapi tubuh Martin terlalu kuat untuk dia lawan.
Pria itu membanting Sierra ke atas ranjang, dan mulai menindih tubuh Sierra dengan tubuhnya yang kekar.
“Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?” protes Martin.
Sierra terus memberontak. Namun semakin Sierra berusaha untuk melepaskan diri, semakin kuat cengkeraman Martin pada tangannya.
__ADS_1
“Kenapa harus dengan ayahku?” cecar Martin. “Kamu tahu, kamu itu milikku, tak ada yang boleh menyentuhmu selain aku,”
Sierra membuang muka kesal. “Aku bukan milik siapa-siapa! Aku berhak bersama siapapun! Seperti kamu yang berhak memilih Karen,” protes Sierra, tak terima.
“Apa kamu cemburu pada Karen?” tebak Martin, masih duduk di atas tubuh Sierra yang terus saja memberontak.
Sierra melotot tajam, tak ingin menjawab. Harusnya tanpa perlu dia jawab, Martin bisa menduga akan hal ini.
“Karen adalah cintaku, tapi kalian berdua milikku. Jangan pernah memintaku untuk memilih diantara kalian,”
Sierra tiba-tiba meludahi wajah Martin dengan penuh murka. Dia secara tak sadar muak melihat wajah Martin, apalagi mendengar ucapannya yang terakhir. Martin yang kaget, otomatis melepas pegangannya dari tangan Sierra, untuk membersihkan wajahnya. Kesempatan itu digunakan Sierra untuk kabur, dengan mendorong dan memukul tubuh Martin. Tidak seperti Karen, dia adalah mantan sabuk hitam karate, tentu hal seperti ini mudah dia lakukan. Meskipun, untuk melawan Martin yang siaga, dia tetap tak sanggup.
“Jangan pernah datang padaku, atau bahkan menyentuh tubuhku,” ancam Sierra. “Sebentar lagi aku akan menjadi ibumu,”
Mendengar ucapan terakhir Sierra, membuat Martin membabi buta menyergap tubuh Sierra, dan tanpa terkendali mereka berdua terlibat pertengkaran yang sengit. Meskipun tak bisa menang melawan Martin, namun Sierra cukup lihai menghindari setiap serangan dari Martin. Kini dia menggunakan kesempatannya untuk segera berlari menuju pintu keluar.
Martin bisa saja menyusul, namun gerakannya melambat. Dia membiarkan Sierra panik dan berusaha keluar dari apartemennya sendiri. Martin bahkan hanya berjalan gontai menghampiri Sierra yang mulai bisa membuka gagang pintu.
“Maafkan aku, Martin. Aku tak bisa terus-menerus memendam perasaan cemburuku saat melihatmu bersama Karen,” ucap Sierra, mulai menangis deras. Dan dia benar-benar keluar dari kamarnya, meninggalkan Martin yang membisu.
Sierra terus berlari, jaga-jaga jika Martin mengejarnya. Dia tak peduli dengan penampilannya yang semula rapi, kini acak-acakan akibat serangan mendadak dari Martin. Bahkan dia lupa mengenakan sepatu hak tingginya yang masih tertinggal di kamar. Baginya, bisa kabur dari cengkeraman Martin yang mematikan saja sudah suatu keajaiban.
Dia mulai masuk ke dalam lift, ketika seorang pria berjaket hitam dan bertopi hitam mulai masuk ikut naik bersamanya. Pria itu terus-menerus melirik ke arah Sierra, yang membuat Sierra mulai meningkatkan kewaspadaannya. Tak ada satu pun yang ikut naik bersama mereka. Dia menuruni lantai 21 kamarnya hanya berdua dengan pria mencurigakan itu.
Peluh mulai turun dari kening Sierra, yang mulai tak sabar karena lift seakan berjalan sangat lambat. Ketika lift menunjukkan lantai 19, pria misterius itu tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau yang sengaja ia tunjukkan pada Sierra. Sierra mulai panik. Apalagi saat secara perlahan pria itu mulai mengarahkan pisaunya pada Sierra, yang telah memasang sikap kuda-kuda untuk membela diri.
Namun bersyukur, pintu lift otomatis terbuka saat mereka ada di lantai 17. Sosok Martin berdiri tepat di tengah lift, menatap tajam si pria misterius dan meninjunya sekeras mungkin hingga si pria jatuh terjerembab ke lantai lift. Martin segera menarik tangan Sierra untuk keluar dari lift,
__ADS_1
“Kamu gila, kan?! Menikahi ayahku hanya akan membahayakan nyawamu!” Martin mengguncang bahu Sierra saat mereka sudah keluar dari lift. “Ibuku tak akan pernah membiarkanmu hidup,”