
Dua hari sudah Karen terkurung enggan keluar dari apartemen mewah milik Martin. Setiap pagi yang dia lakukan setelah terbangun dari tidurnya, hanyalah memandang nanar gedung-gedung pencakar langit melalui jendela lebar yang ada di kamarnya. Namun di hari ketiga, sepertinya Martin sudah tak tahan dengan sikap Karen yang terus diam tak berbicara sepatah katapun padanya. Dia lingkarkan kedua lengannya ke pinggang Karen, yang pagi ini seperti biasa melamun di jendela kamar.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini, Sayang?” tanya Martin, mengendus beberapa kali rambut dan leher Karen.
Namun Karen tak bergeming. Dia juga selayaknya manekin yang kaku tak bereaksi.
“Apa kamu akan terus menangisi masa lalumu? Ayolah, Karen. Kamu harus melupakan semuanya,” bujuk Martin. “Gunakan kesempatan ini untuk menikmati semua kekayaanku. Aku bisa membelikanmu apapun,”
Martin memutar tubuh Karen agar berhadapan dengannya. Wanita itu menatap Martin dengan tatapan penuh tuntutan.
“Takdirmu adalah bersamaku. Tak ada yang bisa menolaknya,” jelas Martin, dengan tatapan mata tegas. “Sekarang aku mau kamu bersiap-siap, karena kita harus segera berangkat. Sierra sebentar lagi datang menjemputmu,”
Martin melenggang hendak meninggalkan Karen, namun wanita itu tiba-tiba menarik tangannya.
“Ayo kita lakukan,” ucap Karen, tiba-tiba membuka suara.
Martin mengerutkan kening, kebingungan. “Lakukan apa, Sayang?”
“Berikan aku anak,” jawab Karen singkat. “Katamu, kamu bisa memberikan apapun padaku,”
Mata Martin melebar mendengar permintaan Karen. “Kamu serius? Kita belum resmi menikah. Bolehkah aku … melakukannya tanpa pengaman?”
“Buat aku melupakannya sepenuhnya,”
Tak butuh waktu lama, Martin seketika mengangkat tubuh Karen, tak peduli pakaiannya telah rapi dan sepuluh menit lagi Sierra akan datang. Tak pernah Martin merasa sesenang ini, meskipun bukan pertama kalinya bagi mereka. Akhirnya, Karen mengijinkan Martin masuk ke dalam dirinya tanpa perlu perlindungan.
Air mata Karen pelan-pelan mengalir melewati pelipisnya, setiap Martin mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Karen memilih memejamkan mata, tapi bayangan Ray makin jelas berkelebat dalam kepalanya. Karen merindukan Ray. Namun, pria kaya nan rupawan yang kini ada di atas tubuh Karen telah sekuat tenaga menarik Karen keluar dari rumahnya, meski harus melalui berbagai rintangan yang bisa saja membahayakan Martin sendiri.
Tok, tok!
“Martin?”
Terdengar suara Sierra yang mengetuk keras kamar Martin. Bukannya kaget, Martin justru semakin menikmati permainannya. Justru Karenlah yang menyuruh Martin agar segera menyelesaikan aktivitas mereka, namun Martin menolak.
“Sierra bisa menunggu. Tapi kesempatan ini tak bisa kulewatkan,” ucap Martin, kembali mengulum bibir kenyal Karen.
__ADS_1
Karen pasrah. Dia tak bisa berbuat sesuka hatinya dengan dominasi Martin yang teramat kuat atas tubuhnya. Dia menggelinjang, penuh kenikmatan dan berusaha kuat agar suaranya tak sampai terdengar oleh Sierra.
Setelah sepuluh menit berlalu, Martin akhirnya menghentikan permainan panasnya bersama Karen. Keduanya telentang dengan nafas tak beraturan, saling pandang untuk kemudian tertawa.
“Masuk, Si!” perintah Martin.
Tak lama, Sierra masuk dan saat melihat pemandangan di depannya, Sierra sedikit berteriak. Wajahnya berubah kesal luar biasa. Kemudian dia tampak sedikit melirik Karen, yang sekarang hanya tertutup sehelai selimut sutra.
“Martin, kita sudah telat!” seru Sierra kesal.
Martin mengangguk, kemudian bergegas menuju kamar mandi setelah mengenakan kembali celananya. Dan kini tinggallah Sierra berdua saja bersama Karen. Dari ekor matanya, Sierra bisa melihat ekspresi sedih di wajah Karen, meskipun wanita itu baru saja bermain panas bersama Martin.
“Karen, kurasa kamu juga perlu berias. Kita harus segera pergi,” ajak Sierra berusaha bersikap tenang.
“Kemana?” tanya Karen heran.
“Nanti kamu juga akan tahu,”
***
“Kita akan menuju butik langganan Martin,” ucap Sierra membuka obrolan. “Dia sudah menyiapkan banyak baju untukmu,”
“Untuk apa? Aku sudah punya baju sendiri,” tanya Karen bingung.
Sierra tersenyum simpul. “Martin bukanlah pria kebanyakan. Dia tidak menyukai wanitanya memakai pakaian murahan,”
“Apa?!” Karen tampak tak terima dengan ucapan Sierra.
Namun tak ambil pusing, Sierra hanya mengangkat bahu. “Kamu harus mulai membiasakan diri. Martinlah yang mulai sekarang memilihkan apapun yang kamu pakai,”
Tibalah mereka di sebuah butik merk ternama, yang saat melihat Sierra, para pegawai mulai berhamburan datang dan menyambut dengan sopan. Mereka menunduk hormat, seakan telah sering melihat Sierra datang ke butik itu. Kemudian dengan satu komando tanpa suara dari Sierra, salah satu pegawai membimbing Karen untuk masuk ke dalam ruangan ganti yang telah disiapkan.
Karen mencoba beberapa potong baju serta tas mewah yang telah disiapkan Martin. Setelah memastikan semuanya sesuai dengan ukuran Karen, Sierra segera mengeluarkan kartu hitam yang disinyalir sebagai milik Martin. Mereka berdua pun bergegas keluar, karena tujuan mereka selanjutnya adalah salon kenamaan yang sudah menunggu untuk mempercantik Karen dari atas sampai bawah.
“Apa mantan suamimu tak pernah begini padamu?” tanya Sierra, saat mereka berdua sedang perawatan rambut bersama.
__ADS_1
Karen diam, agak terganggu mendengar pertanyaan Sierra. Namun Sierra yang memang sengaja memancing, justru makin menunggu jawaban Karen.
“Nikmatilah, Karen. Tak semua wanita bisa berada di posisimu. Banyak yang menginginkan Martin, tapi hanya kamu yang membuatnya jatuh cinta,”
Karen kembali diam, seperti semula. Segala hal mewah yang diberikan Martin padanya tak lantas membuat Karen bahagia. Dia justru selalu membandingkan Martin dan Ray, meskipun Ray tak pernah bisa sebanding harta dengan Martin.
Bersama dengan Sierra, Karen mulai menjelajahi pusat perbelanjaan mewah yang bahkan sebelumnya tak pernah terbayangkan, dia akan mengunjungi dan berbelanja di sana. Meskipun takjub, Karen berusaha sebisa mungkin untuk menutupi rasa itu, atas dasar rasa bersalahnya pada Ray. Apalagi para pegawai barang-barang mewah di sana selalu menunduk hormat padanya dan Sierra, seakan mereka berdua adalah pelanggan lama.
“Sepertinya Martin sudah memberitahu seluruh pegawai di sini tentangmu,” kata Sierra, saat mereka berdua makan siang di sebuah restoran mewah dalam mall.
“Memberitahu apa?”
“Kamu adalah wanita milik Martin,” jawab Sierra singkat, mengiris steak miliknya satu demi satu. Kemudian dia mulai memakannya dengan gerakan yang anggun.
“Sierra, boleh aku bertanya?” tanya Karen, tak berminat pada steak mewah di hadapannya.
Sierra hanya menautkan alis, tanda setuju. Setelah menata posisi duduknya dan seakan menyaring segala pertanyaan yang akan keluar, Karen mulai membuka mulut.
“Apakah Ray tidak menanyakanku?”
Satu pertanyaan, namun efeknya cukup besar bagi Sierra. Wanita itu terdiam, menghentikan gerakan mulutnya, hanya untuk memandangi Karen dengan tatapan yang tak bisa dibaca.
“Apa yang perlu dia tanyakan?” Sierra balik bertanya, setelah menguasai dirinya untuk tak mendamprat Karen.
Karen salah tingkah. “Apapun. Mungkin, tentang alasanku bersama Martin,”
“Itu bukan urusanku,” sahut Sierra cepat. “Tugasku hanyalah menjadi sekretaris yang baik untuk Martin. Aku tak peduli akan kehidupan pribadinya,” terang Sierra dengan wajah dingin.
Kemudian Sierra lanjut mengiris steak, satu demi satu, sebelum dia masukkan ke dalam mulut. Namun Karen hanya diam, menggigit bibir dan memainkan jarinya, seperti orang yang gugup.
“Sierra?! Sedang apa di sini?” tegur Sophie, yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua dengan setumpuk tas belanjaan.
Tatapan Sophie beralih dari Sierra menuju ke Karen, dengan dahi mengernyit keheranan. Dia bahkan menunjuk Karen lantang dengan jarinya.
“Ini, siapa?” tanya Sophie pada Sierra.
__ADS_1