
“Aku akan menghabisi Ray, jika kamu tak mau bersamaku … “ lirih Martin, penuh ancaman dan intimidasi.
Dia berbisik sangat pelan, di telinga kanan Karen yang dia tindih tanpa belas kasihan. Tak terasa air telah mengalir dari pipi Karen, meluncur jatuh melewati pelipis kemudian telinganya. Dia tak bisa marah, atau lebih tepatnya telah mencapai ambang batas kemarahannya hingga marah pun membuatnya lelah. Karen hanya tersenyum getir, menertawakan nasib sialnya, akibat ulahnya sendiri. Andai saja dia tidak bermain api, andai saja dia tidak menguji kesetiaan Ray, dan berbagai andai lainnya, membuat Karen meratapi nasibnya saat ini. Nasibnya yang harus terjebak dalam belenggu monster dalam tubuh manusia, Martin Willis.
“Kamu tak akan melakukannya, Martin. Aku tahu itu … “
“Kamu tak pernah tahu siapa aku,” sela Martin cepat. “Aku akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuanku,”
Meski masih menindih tubuh Karen, namun kini Martin tak lagi mencengkeram pipi Karen. Dia justru mengelus pelan rambut indah Karen.
“Tujuanku adalah memilikimu seutuhnya,” ucapnya. “Membuat Ray menjauh darimu hidup-hidup saja aku sanggup, apalagi memusnahkannya dari dunia ini. Itu lebih gampang, Karen … “
“Aku menyesal berhubungan dengan monster sepertimu … “ umpat Karen, membidik tepat di kedua mata Martin yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
Bukannya tersinggung, Martin justru tertawa menggelegar di udara, duduk menjauhkan tubuhnya dari Karen.
“Inilah harga yang harus kamu bayar akibat dari perselingkuhanmu sendiri, Karen,” tukas Martin. “Jangan merasa kamulah korban di sini. Suamimulah korban sesungguhnya!!” Gelak tawa Martin tak terbendung, memenuhi langit-langit mewah kamar Sierra.
Setelah puas tertawa, Martin berjalan mendekati Karen, berniat melepas ikatan di tangan Karen. Tanpa perlawanan Karen membiarkan Martin melepaskan ikatan tali di kedua pergelangan tangannya. Namun diam-diam, setelah berhasil lepas semuanya, Karen dengan cepat meninju wajah Martin, bangkit berdiri dan berniat kabur.
Martin mengaduh kesakitan hanya sedetik, lalu segera menangkap tubuh Karen dengan mudahnya. Teriakan minta dilepaskan dari Karen membuat Martin makin tertawa keras, mengangkat tubuh gadis itu seakan mengangkat kapas. Kali ini Martin tak meletakkan tubuh Karen di atas ranjang, namun dia mendorong tubuh Karen pada dinding.
“Kenapa kamu harus seperti ini, Karen?”
“Lepaskan aku, bajingan!” umpat Karen.
“Karen, aku tak akan pernah menyakitimu. Kalau kamu ingin keluar dari sini, syarat tadi sangat mudah bagimu,”
Karen menggeleng histeris. “Aku tak akan membiarkan Ray mati dan aku juga tak mau bersamamu,”
__ADS_1
Martin menarik nafas dalam-dalam, berusaha sangat keras mengatur kesabarannya.
“Aku akan kembali ke kota. Dan kamu akan lihat hasil dari perbuatanmu ini,” ucap Martin. “Sementara kamu tetap tinggal di sini bersama Sierra,”
“Oh iya,” tambah Martin lagi. “Jangan berpikir untuk melawan Sierra, Sayang. Dia lebih menakutkan dari dugaanmu,”
Melalui jendela kamar Sierra, Karen bisa melihat mobil Martin bergerak pergi setelah berbincang cukup serius bersama Sierra. Setelah mobil Martin hilang dari pandangan, tampak Sierra melirik ke arah jendela kamarnya, seakan tahu jika Karen sedang mengawasi lewat jendela itu. Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Sierra berdiri dengan tatapan kesal ke arah Karen.
“Ayo makan, Karen. Aku sudah menyiapkan makan malam,” ajak Sierra, tak lagi bicara formal pada Karen.
Karen menggeleng. “Aku tak nafsu makan,”
Sierra yang awalnya memang sudah kesal, makin kesal. Dia melipat tangannya di depan dada dengan pandangan penuh iritasi ke arah Karen.
“Apa maumu, Karen? Apa dengan mogok makan, kamu akan mendapatkan Ray kembali? Kalau kamu ingin membalas Martin dan kembali pada Ray, kamu harus mengumpulkan kekuatanmu,” omel Sierra nampak muak.
Karen terdiam. Omongan Sierra memang ada benarnya. Dan Karen memikirkan omongan itu, dan tanpa banyak alasan, dia setuju. Maka setelah cukup lama berpikir, dia keluar dari kamar Sierra menuju ruang makan dimana Sierra telah menunggu untuk makan malam bersama dengannya.
Karen telah menghabiskan waktu selama dua hari di dalam rumah mewah itu, tanpa mendengar kabar apapun. Dengan begitu dia yakin bahwa ancaman Martin hanya gertakan semata. Hatinya mulai tenang, meski masih ada beban di sana, karena dia belum berhasil keluar dari rumah mewah itu.
“Bukan hanya kamu yang ingin keluar dari sini,” ujar Sierra membuka percakapan, ketika mereka berdua saling membantu menyiapkan makan siang.
“Kenapa kita tak bekerja sama untuk kabur?” ajak Karen.
Sierra tersenyum. “Kamu pikir, Martin tak memikirkan semuanya sebelum membawamu ke sini? Tempat ini adalah tempat paling ideal sebagai penjara, karena tak ada jalan keluar dari sini. Seluruh penduduk desa adalah bawahan Martin, karena kontribusi keluarga Willis sangatlah besar untuk kemajuan desa ini,” jelas Sierra panjang lebar.
Rrr!! Dia mendadak menghentikan kegiatannya ketika ponselnya yang diletakkan di atas meja makan bergetar. Wajah Sierra berubah tegang, dan berlari kecil menggapai ponsel itu. Setelah membaca pesan di ponselnya, wajah Sierra berubah pucat pasi. Dia berjalan gontai mendekati Karen, lalu menunjukkan layar ponselnya.
Melalui ponsel Sierra, Karen bisa melihat beberapa foto sebuah kecelakaan mobil, dimana mobil pengemudi remuk dan pengemudinya yang tak sadarkan diri bersimbah darah. Karen tanpa sadar menjatuhkan ponsel Sierra, membeku di tempatnya dengan mata melebar.
__ADS_1
“Karen … “ panggil Sierra pelan.
Karen masih termangu, kaku dan seakan berhenti bernafas. Namun sedetik kemudian, dia menjerit histeris, meraung-raung, berlutut penuh kesedihan.
“Ray!!” teriak Karen tak berhenti menangis.
Sierra berusaha menenangkan, namun Karen justru makin menjerit tiap kali Sierra ingin menyentuhnya. Dia menunduk dalam, menangis, meraung, menjambak rambutnya sendiri dengan penuh kepedihan yang bahkan Sierra pun tak sanggup melihatnya.
Sierra memutuskan untuk balik badan meninggalkan Karen, ketika dia melihat Martin masuk dari pintu depan. Wajah atasannya itu tampak puas dan penuh kemenangan, membuat Sierra sedikit membenci hal itu.
“Aku sudah bilang, sangat mudah bagiku untuk melenyapkan Ray … “ucap Martin, berdiri memandangi Karen yang masih memeluk lututnya dan terus menangis.
Karen spontan mendongak, sedikit berjinjit untuk mencengkeram kerah kemeja Martin penuh murka.
“Kamu … benar-benar monster, Martin,” isak Karen.
Martin tersenyum licik. “Kabar baiknya, dia masih hidup … “
Seakan tersiram air surga, Karen mendadak menghentikan tangisannya.
“Tapi aku bisa mengakhirinya, jika kamu menolak untuk hidup bersamaku,”
“Jangan libatkan Ray,” lirih Karen.
“Aku akan melepaskannya dan dia bisa hidup sehat tanpa gangguan,” sahut Martin. Kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Karen. “Asalkan kamu bercerai dengannya dan menikahiku,”
Air mata kembali membanjiri wajah Karen, tampak menyedihkan. Sierra tak tahan lagi mendengar percakapan mereka, sehingga dia memilih untuk balik badan dan pergi agar tak lagi mendengar itu semua.
“A-aku akan menuruti permintaanmu, asalkan kamu membiarkan Ray tetap hidup … “ jawab Karen. “Tapi aku punya satu keinginan terakhir,”
__ADS_1
“Apa itu, Sayang?” Martin terus menerus membelai rambut Karen.
“Ijinkan aku menemuinya untuk terakhir kali,”