Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Selamatkan Aku!


__ADS_3

Ray mencengkeram erat tangan kiri Sierra, dengan tatapan matanya yang tajam. Walaupun dia tampak menyeramkan diliputi amarah, namun itu semua tak bisa menyembunyikan raut kesedihan dari mata Ray. Mengenaskan dan ditinggalkan. Dua kata itu sangat pantas menggambarkan kondisi Ray saat ini.


“Bilang padaku, Sierra. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ray penuh ancaman.


Sierra panas dingin. Dengan kondisinya yang mabuk, sangat mungkin bagi Ray untuk melakukan hal-hal gila yang bisa saja melukai Sierra.


“A-apa maksudmu?” tanya Sierra gugup.


“Kamu tak akan datang ke sini kalau bukan karena kamu tahu semuanya,” ucap Ray. “Kamu pasti telah mengetahui perselingkuhan mereka, kan?” hardik Ray, enggan melepaskan cengkeramannya dari tangan Sierra.


“A-aku ke sini karena akan menyerahkan berkas kerjaan. Tapi kamu tak menjawab teleponku,” kata Sierra.


Ray menarik nafas panjang, memejamkan matanya untuk beberapa saat. Suasana kembali hening, menyisakan Ray dan Sierra yang enggan membuka mulut masing-masing. Sierra enggan bergerak dari posisinya, tapi dia juga tak ingin ikut campur lebih dalam. Maka yang dia lakukan hanyalah memandangi Ray dengan tatapan kasihan.


Ray tiba-tiba terisak. Sierra bisa mendengar tangisan Ray yang sangat memilukan. Pria itu terluka sangat dalam, hingga dia rela tangisannya yang berharga harus didengar oleh wanita lain yang tak berhubungan dengannya. Lutut Sierra mendadak lemas mendengar kondisi Ray yang menyedihkan. Wanita itu ikut bersimpuh, tanpa sadar memeluk erat tubuh Ray, seakan ingin mengurangi beban di hati Ray.


“Aku sangat mencintainya, Si. Sangat mencintainya,” isak Ray dalam pelukan Sierra. “Tapi kenapa dia mengkhianatiku?” Suara isakan Ray yang melengking menyedihkan membuat seisi rumah terbawa atmosfer sedih. Begitu pula Sierra, tak terasa menitikkan air matanya.


Sierra diam-diam paham, dan sangat paham apa yang dirasakan Ray. Memendam perasaan cintanya selama belasan tahun pada Martin, tak pernah menyenangkan. Martin hanya menggunakan tubuh Sierra, sementara hatinya Martin abaikan begitu saja. Dan tiba-tiba saja, datang seorang wanita berparas cantik, yang seakan mengambil seluruh jiwa dan raga Martin. Wanita itu adalah Karen, wanita yang menjadi istri dari rekan kerja sekaligus karyawan Martin.


Maka Sierra terus-menerus mengelus punggung Ray, berusaha menenangkan. Isakan pria itu sudah sedikit lebih tenang. Dia bahkan juga melepaskan tubuhnya dari pelukan Sierra. Dan Ray kini bisa menatap Sierra dengan kesadaran penuh, meski tetap ada raut kesedihan di sana.


“Si, kumohon, ceritakan padaku apa yang terjadi,” pinta Ray lirih.


Sierra menggigit bibirnya, dilema luar biasa.


“Aku tahu, separuh hidupmu hanyalah mengabdi pada Martin, berharap bisa meluluhkan hatinya,” ucap Ray. “Mereka berdua telah menyakiti kita, Si. Apa kamu ingin terus seperti ini?” Ray berusaha meyakinkan Sierra.

__ADS_1


Dengan satu helaan nafas, Sierra akhirnya mengangguk. “Apa yang ingin kamu tahu?”


“Semuanya,”


Maka, sembari mengajak Ray duduk serius di sofa hangat milik Ray dan berusaha mengatur emosi masing-masing, Sierra pun akhirnya menceritakan segala hal yang sebenarnya terjadi. Mulai dari awal mula Martin mulai mencintai Karen dan berusaha menarik hatinya. Kemudian pada Karen yang tergoda akan tipu daya Martin, dan rencana keduanya yang mengirim Ray ke luar negeri supaya bisa terus berduaan. Dan pada akhirnya, setelah Karen mulai menyesali perbuatannya dan ingin kembali pada Ray, semuanya sudah terlambat. Atas bantuan seorang dokter gila yang Sierra sendiri tak tahu siapa, Martin mendapatkan sebuah kapsul mematikan yang bisa menghilangkan ingatan paling bahagia dari seseorang. Maka itu, Karen melupakan Ray dan disekap Martin di rumah hutan.


“Karen, dia mulai sadar akan perbuatannya, Ray. Kurasa dia melakukan ini semua di bawah tekanan,” simpul Sierra, mengakhiri ceritanya.


Raut wajah Ray yang semula menyedihkan, berubah diliputi amarah yang bahkan membuat urat di lehernya sangat ketara. Pria itu mengepalkan kedua tangannya sangat erat.


“Brengsek … “ umpat Ray lirih.


“Aku tak tahu kesepakatan apa yang telah mereka buat, tapi terakhir yang kutahu, Martin mengancam akan membunuhmu jika Karen tak bersamanya,” ungkap Sierra.


Ray tiba-tiba bangkit berdiri dan hendak pergi. Namun Sierra cepat-cepat menahan tangan pria itu.


“Aku akan bunuh Martin!!” teriak Ray, dengan amarah tersulut yang membuatnya mengerikan sekarang.


Sierra menggeleng keras. “No, Ray! Bukan seperti itu cara membalasnya! Dia terlalu kuat untuk kamu balas secara langsung. Bukannya mendapatkan Karen, bisa-bisa kamu berakhir di penjara,”


Ucapan Sierra ada benarnya. Dia tak bisa menghadapi pria licik seperti Martin tanpa menyusun rencana terlebih dahulu. Maka Ray yang sebelumnya emosi, langsung menarik nafas dalam-dalam, seakan kembali menelan bulat-bulat kemarahannya sendiri.


“Apa yang harus kita lakukan, Si?” tanya Ray.


Sierra mengerutkan kening. “Kita? Tidak, Ray. Aku tetaplah asisten Martin yang setia. Aku hanya membantumu sebagai teman,” tolak Sierra. “Kamu harus memikirkan rencana ini sendirian. Namun aku berjanji akan memberikan informasi jika kamu mau,”


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Sierra memutuskan untuk pulang. Kini tinggallah Ray, di rumahnya, dengan berbagai kenangan bersama Karen yang seakan kembali hidup seiring dengan malam yang larut. Dia kembali menangis. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, dia pernah berpikir akan berpisah dari Karen. Kecuali maut yang memisahkan mereka, Ray tak akan cukup gila untuk meninggalkan wanita seperti Karen.

__ADS_1


Hidup Ray hancur. Dihancurkan oleh sesuatu yang dia kira adalah rejeki, yang bisa membuka jalan untuk kebahagiaannya yang lain. Meskipun tiga tahu pernikahan tanpa dikaruniai seorang anak, Ray tak pernah menuntut. Rasa sayang Ray pada Karen tak pernah luntur sedikit pun. Ray meraih ponselnya, berusaha menghubungi nomor Karen. Namun nihil. Nomor itu tak lagi aktif. Seakan Karen telah benar-benar pergi dari hidupnya, dan tak lagi ingin menoleh ke belakang.


* * *


Karen mengelus cincin pernikahannya, yang masih setia dia pasang di jari manis, meskipun saat ini dia sedang berbaring saling berpelukan dengan Martin tanpa ditutupi apapun. Martin tiba-tiba melepas paksa cincin itu, dan membuangnya ke sembarang arah. KAren melotot menuntut penjelasan, meskipun Martin tampak tak menyesal.


“Sudah sepantasnya kamu membuang cincin itu, Sayang,” ucap Martin kesal.


Karen jauh lebih kesal. Dia memundurkan tubuhnya dari tubuh Martin. Tapi dengan cepat Martin menarik kembali tubuh Karen, memainkan dua gundukan di depan tubuh Karen. Tanpa sadar Karen kembali menggelinjang, tak terkendali.


“Apa kamu ingin bermain lagi?” goda Martin.


“H-hentikan, Martin,” Suara Karen menolak, tapi tubuhnya menegang penuh nikmat.


“Mulai sekarang jangan pernah sebut pria lain selain aku. Atau … “ Martin sengaja menghentikan ucapannya.


“Atau apa?”


“Atau aku akan menghukummu,” Martin kemudian mendorong cepat tubuh Karen, membuka lebar kedua kaki Karen.


Mereka berdua, sekali lagi, terbuai dalam hasrat panah yang tanpa mereka sadari telah menyakiti hati seseorang di tempat lain. Karena, saat ini, di waktu yang sama, Ray yang berjalan sempoyongan akibat pengaruh alkohol mulai mendekati jembatan besar dekat rumahnya, yang memiliki sungai dalam dan deras di bawahnya.


Hati Ray terluka. Dia rasa, dia tak punya lagi tujuan hidup setelah tak lagi bersama Karen. Tak ada lagi yang membuatnya berambisi untuk terus berkembang menuju kesuksesan, karena motivasinya telah hilang. Dia sudah menaikkan satu kakinya, sebelum tiba-tiba dia mendengar teriakan minta tolong, tak jauh dari arah sebelah kanannya.


Insting Ray yang tajam dan jantan, secepat kilat berlari mencari sumber suara. Dan betapa kagetnya dia saat melihat seorang wanita muda bergelantungan di pinggir jembatan. Wanita itu merintih meminta pertolongan, karena jika terpeleset sedikit saja pegangannya, maka tubuh wanita itu akan langsung terjun bebas ke sungai deras di bawahnya.


“T-tolong … “ rintih wanita itu putus asa.

__ADS_1


__ADS_2