
Begitu halnya dengan Ray, Karen pun juga sama kagetnya. Yang membuat dia terkejut bukanlah bertemu kembali dengan Ray, namun, dia melihat Ray tampak bahagia bersama wanita lain. Wanita yang tampak sangat muda daripada Karen. Maka demi menutupi rasa malunya, Karen buru-buru menegakkan tubuhnya sendiri. Dia tersenyum, lalu menyapa Ray seakan tak terjadi apapun.
Tapi respon Ray tidak sesuai harapan Karen. Pria itu enggan menerima bingkisan berisi daging premium dari Karen, malah memandang dingin mantan istrinya itu. Sebaliknya, dari sudut pandang Kamala, wanita muda itu juga bingung bukan main. Terlibat dalam situasi yang tak menyenangkan antara dua orang yang pernah bercerai. Padahal kedatangannya adalah ingin memberikan makan malam untuk Ray, namun ditolak mentah-mentah. Ketika Ray hendak mengusirnya, Kamala menarik erat-erat lengan Ray agar tak marah. Dan, begitu Ray membuka pintu, Karen sudah berdiri di sana, mematung bagaikan patung yang baru dipahat.
“Untuk apa ini semua? Kamu mau menghinaku tak bisa membeli makanan ini?” cecar Ray ketus.
“Aku tak bermaksud begitu, Ray … “
“Kurasa kita sudah tak punya hubungan apapun,” sahut Ray cepat. Dia menatap dingin ke arah Karen. “Kuharap kamu segera pergi dari sini,” usirnya tanpa basa-basi.
Dia menutup pintu sekerasnya, lalu pergi sambil menarik tangan Kamala, menuju mobil barunya yang terparkir di halaman. Karen bergumam, sejak kapan Ray memiliki mobil sendiri? Bukankah, mantannya itu baru saja keluar dari Fortuna Corp?
“Ray, bukankah tadi agak keterlaluan?” tanya Kamala, setelah mereka berdua pergi meninggalkan rumah, dengan Karen yang masih mematung di sana.
Ray menghembuskan nafas kesal. “Bukan urusanmu, Bocah,”
Giliran Kamala yang kesal. “Aku bukan Bocah! Berhenti memanggilku begitu!” serunya tak terima.
“Kalau begitu, kamu juga berhenti datang-datang terus ke rumahku!” sahut Ray ikut tak terima.
“Aku hanya mengantarkan makanan,”
“Dan aku tak suka!” seru Ray. “Apa kata orang-orang? Mereka kira, aku memacari anak muda karena kelainan,”
Kamala diam, malas meladeni sikap keras kepala Ray. Pria itu selalu tak ramah. Bagi Kamala, memacari lelaki seusianya itu melelahkan, apalagi ada rasa trauma yang cukup dalam dari mantannya yang abusif. Meskipun Ray selalu ketus, dia tak pernah berkata kotor ataupun sampai main fisik pada Kamala. Kamala yakin, sikap dingin Ray hanyalah satu cara untuk melindungi hatinya yang pernah hancur akibat mantan istrinya, Karen.
“Ngomong-ngomong, Tante Karen ternyata cantik, ya,” ujar Kamala.
Ray meliriknya makin kesal. “Mau turun di sini, ya?” ancamnya.
Kamala buru-buru menggeleng. “Tapi aku jujur, Ray!” Kamala tetap berusaha membela diri.
“Tapi aku nggak butuh kejujuranmu,” sanggah Ray, masih saja memasang wajah ketus luar biasa.
__ADS_1
Maka Kamala pun akhirnya mengalah. Dia tidak ingin membahas lagi soal Karen, yang sudah jelas sangat menyakiti Ray, meski hanya dari tatapan mata. Dan setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, mobil Ray terparkir rapi di sebuah restoran mewah, yang Kamala sendiri tak tahu kenapa. Bukankah Ray berjanji akan mengantarnya pulang?
“Kenapa berhenti di sini, Ray?” tanya Kamala bingung.
“Aku harus menemui temanku,” jawab Ray singkat, lalu beranjak keluar dari mobil.
Kamala buru-buru mengikuti langkah lebar Ray, meski dia tampak kepayahan. Dia celingak-celinguk tak mengerti, karena Ray juga tak membuka ucapan apapun padanya. Sampai pada ketika seorang wanita berambut pendek berdiri melambaikan tangan pada Ray. Dan Ray menghampiri wanita itu antusias.
Hati Kamala mendadak mencelos. Wanita itu, meskipun tak secantik Karen, namun tentu punya pesona yang menawan dan yang pasti perbedaan usianya dengan Ray tak terlampau jauh. Kamala seketika murung, menyadari bahwa mungkin saja harapannya akan sia-sia.
“Ray, siapa dia?” tanya Sierra keheranan.
Ray menoleh ke arah Kamala yang masih murung. Lalu kembali menghadap Sierra.
“Dia Kamala. Anak bos perusahaanku,”
“Anak Rudi Bruggman?” tebak Sierra ragu.
Sierra tersenyum. “Siapa yang tak kenal Rudi Bruggman? Pebisnis yang puluhan tahun menjadi lawan tangguh Paul Willis. Tak kusangka, Rudi membiarkan anaknya pergi tanpa pengawal,” komentar Sierra.
Kemudian dia mempersilahkan Ray dan Kamala untuk duduk, dan segera memesankan minuman untuk keduanya. Sierra memandang Ray dan Kamala bergantian, kemudian tersenyum lagi. Ray yang tampak bisa menebak isi hati Sierra, langsung mengerutkan keningnya, seakan mengisyaratkan tentang jangan-salah-paham. Tapi berbeda dengan Kamala, dia terus saja murung, menerka-nerka tentang status hubungan Ray dan Sierra.
“Kenapa memanggilku ke sini?” tanya Ray membuka obrolan.
Sierra tak buru-buru menjawab, tapi malah fokus menatap Kamala. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Kamala.
“Aku tak ada hubungan apapun dengan Ray. Kami hanya mantan rekan kerja,” ucap Sierra tiba-tiba.
“Si, kamu kenapa, sih?!” protes Ray tak senang.
Sierra tertawa, mengangkat bahunya. “Kamala, bisa tolong beri kami berdua ruang untuk bicara?”
***
__ADS_1
Sierra menceritakan segalanya pada Ray. Tentang hubungannya dengan Paul, tentang perasaannya pada Martin, hingga lamaran tiba-tiba dari Paul. Mendengar cerita Sierra, membuat Ray tak bisa menutupi rasa kagetnya. Dia bahkan beberapa melotot lebar, ketika Sierra tengah bercerita.
“Aku ingin dengar pendapatmu,” pinta Sierra, setelah meneguk sedikit minumannya.
Ray menggigit bibir. “Apa aku punya hak?”
“Kamu satu-satunya temanku,”
Mereka berdua diam, menegang dengan pikiran masing-masing. Sambil berpikir, diam-diam Ray mencuri pandang pada Kamala yang duduk agak jauh dari mereka, dengan raut wajah yang masih saja murung. Ada sedikit perasaan bersalah, kenapa dia harus membiarkan Kamala menjauh demi bisa mengobrol dengan Sierra.
***
Di malam keesokan harinya, Martin kembali mengumpulkan ayah dan ibunya untuk makan malam bersama di rumah Sophie. Martin dan Karen menyiapkan segalanya, penuh semangat dan harapan agar makan malam kali ini sukses tanpa gangguan dari Paul. Bahkan Sophie juga ikut membantu, meskipun dia tak tahu dengan maksud makan malam kali ini.
Dan setelah seluruh hidangan mewah tersedia rapi di atas meja panjang di ruang makan rumah Sophie, Paul pun datang tepat waktu. Pria tua itu memakai setelan kemeja dominasi warna krem, warna cerah yang tak pernah dia kenakan sebelumnya. Ini menandakan jika suasana hati Paul sedang bagus. Dan itu membuat Martin puas luar biasa.
“Halo, Karen White, bagaimana kabarmu?” Paul menjabat tangan Karen dan mencium punggung tangan itu lembut.
Karen tersenyum, lebih bisa menguasai dirinya sendiri daripada sebelumnya saat pertama kali bertemu Paul.
“Aku sengaja mengumpulkan Ayah dan Ibu di sini, karena ingin mengumumkan sesuatu,” ujar Martin, di tengah-tengah makan malam mereka.
Paul dan Sophie, serta Karen seketika menghentikan proses makan malam mereka, hanya untuk memusatkan perhatian pada Martin.
“Aku akan menikah dengan Karen,” ucap Martin. “Pernikahan resmi yang tercatat,” Martin dengan mantap menyelesaikan ucapannya.
Sophie berseru girang bukan main, dan Karen tersenyum manis menanggapi ucapan Martin. Sementara Paul, dia juga tersenyum. Tersenyum penuh arti, karena senyumannya bisa berarti dia turut bahagia dengan kabar dari Martin, atau justru menyimpan rencana lain.
Pintu ruang makan besar itu perlahan terbuka, dan seorang wanita anggun dengan gaun warna krem selutut dan rambut pendek, memasuki ruangan dengan senyuman yang penuh percaya diri. Wanita itu menunduk ke arah semua orang yang sedang memandanginya tertegun di kursi masing-masing.
Paul pun berdiri, menyambut wanita itu dengan meraih pundaknya ke dalam dekapan lengannya yang besar. Dia masih tersenyum penuh arti.
“Aku juga mau memberitahu kalian,” ujar Paul. “Aku akan menikah dengan Sierra. Secara resmi dan tercatat,” Dia menekankan ucapan terakhirnya sambil menatap lurus ke arah Martin, seakan mengejek.
__ADS_1