Misteri Memori Yang Hilang

Misteri Memori Yang Hilang
Menyulut Perang


__ADS_3

“Ternyata benar kamu, ya,” tegur Ray, tepat setelah Karen keluar dari kelasnya.


Saat pertama Karen tak sengaja memergoki Kamala yang menemui Ray di depan gedung kampus, Karen tak mau lagi ambil pusing, karena kelas selanjutnya akan segera dimulai. Maka dia tak lagi tahu apa yang selanjutnya terjadi, jadi cukup kaget ketika Ray tiba-tiba saja menungguinya di depan kelas.


Karen menoleh ke kanan kiri, mencari sosok Kamala, namun sepertinya tak ada.


“Kamala sepertinya ada kelas lain,” ucap Ray, seakan tahu kebingungan yang ada di benak Karen.


Karen tersenyum simpul, mulai bergerak maju untuk kembali ke kantor karena kebetulan hari ini kelasnya telah selesai. Tak disangka, Ray berjalan mengiringinya. Mereka berdua berjalan berdampingan, pelan, namun ada aura ketegangan yang hanya bisa disimpan sendiri di dalam batin.


“Aku tak menyangka kamu akan kembali bekerja,” celetuk Ray di tengah perjalanan menuju ruang dosen.


“Aku hanya dosen tidak tetap, sengaja ingin mengisi waktu luang,”


“Apakah Martin membuatmu tak bahagia, hingga kamu berusaha mengalihkan perhatianmu pada pekerjaan?” tebak Ray, melirik Karen dengan lirikan seakan-akan dia tahu semuanya.


Karen terdiam. Dia tahu, jawaban Ray sangatlah tepat, tapi dia tidak ingin Ray mengetahui segala keburukan dalam kehidupannya bersama Martin. Bagaimana pun, Karen ingin menunjukkan pada Ray jika dia telah bahagia sepenuhnya.


“Aku hanya tak suka menganggur,” jawab Karen sekenanya.


“Apakah kamu tidak bekerja?” Kali ini giliran Karen yang bertanya.


“Papa Kamala selalu membuatku harus berada di dekat Kamala,” jawab Ray. “Meskipun menolak, tapi aku suka pekerjaanku sekarang,”


Karen mengangguk. Mereka berdua masih berjalan beriringan, kikuk namun tak tahu harus berbuat apa. Langkah kaki Ray terhenti ketika Karen mulai masuk ke dalam ruangan dosen.


“Aku akan mengambil tas dan pulang,” pamit Karen, sebelum masuk ke ruang dosen.


Ray mengangguk. “Mari kuantar menuju mobilmu,” tawarnya.


Karen terkesiap, tak menyangka Ray berubah seramah ini padanya. Mengingat beberapa minggu lalu sikapnya selalu dingin dan melawan ketika bertemu Karen. Kali ini sosok Ray yang santai justru membuat Karen sedih. Tampaknya, Ray memang sudah sepenuhnya mengikhlaskan Karen.

__ADS_1


“Apakah Kamala tidak cemburu?” Pertanyaan pembuka dari Karen saat mereka menuju parkiran mobil Karen, membuat Ray sukses menghentikan langkahnya.


Sedetik kemudian Karen tersadar, dia telah salah mengeluarkan pertanyaan. Andai saja kata-kata bisa ditarik, dia tentu akan menghapus pertanyaan konyolnya itu.


“Apa hubungannya denganmu?” Ray balik bertanya, keheranan.


Karen menggeleng keras. “Aku hanya … “ Dia menghentikan ucapannya sendiri.


“Lupakan,” tandas Karen. “Lupakan pertanyaan bodohku tadi,”


Ray tertawa melihat sikap salah tingkah Karen, sedikit tak menyangka jika mantan istrinya itu masih sangat ingin tahu tentang hubungan asmaranya bersama wanita lain. Meski, bagi Ray, Kamala hanyalah seorang gadis muda anak dari bosnya yang sangat baik. Tak lebih dari itu.


Maka sampailah mereka di parkiran mobil, menemukan mobil biru mewah milik Karen. Ray tersenyum simpul, memandangi mobil itu.


“Akhirnya mimpimu terwujud, Karen,” ujar Ray. “Memiliki segalanya tanpa harus khawatir akan apapun,”


“Terima kasih,” sahut Karen, ikut tersenyum meski hatinya perih. “Kuharap kamu juga menemukan kebahagiaanmu,”


Kamala berjalan cepat meninggalkan kampus, ketika secara cepat Eros menarik tangannya menjauhi kerumunan mahasiswa yang sedang bergerombol. Eros membungkam mulut Kamala, membawanya ke belakang gedung yang kosong.


Kamala terus meronta, melawan dan memberontak sekuat yang dia bisa, tapi tenaga Eros tentu jauh lebih besar. Lelaki itu memaksa Kamala untuk masuk ke dalam gudang kosong yang ada di sana, yang sudah tak pernah diperhatikan dan dipakai lagi.


“Ssstt,” seru Eros, menyuruh Kamala untuk diam.


“Tolong!” Kamala berteriak, namun Eros sudah menutup rapat gudang itu. Dia buru-buru mengikat mulut Kamala dengan kain yang entah kapan dia dapatkan.


“Mala, tenang, tenang,” Eros berkali-kali mengelus wajah Kamala, menyuruhnya untuk diam.


Kamala yang panik terus-terusan menggeleng dengan tangisan yang membludak. Dia berontak ketika Eros kini juga mulai mengikat kedua tangan Kamala.


“Mala, aku tahu kamu pasti merindukanku,” ucap Eros, terus mengelus wajah Kamala.

__ADS_1


“Ayo kita pergi jauh dari sini, kemana pun, hanya kita berdua,”


Kamala meronta, dengan mulut dibekap dan dua tangan terikat kuat. Dia terus menangis, dalam hati menyesal karena telah jauh dari pengawasan Ray.


Lalu Eros mengeluarkan sesuatu, yang tampak seperti sebuah obat, karena setelah dia dekatkan benda itu ke hidung Kamala, wanita muda itu seketika jatuh tak sadarkan diri. Meski kewalahan, Eros mati-matian berusaha membopong Kamala menuju mobilnya yang terparkir di depan gudang.


***


“Jam berapa Kamala selesai kelas?” tanya Karen, setelah dia memutuskan untuk berbincang lebih lama dengan Ray sambil menunggu Kamala keluar kelas.


Ray mengecek jam di tangan. “Harusnya sudah selesai,”


“Coba kamu hubungi dia,” saran Karen.


Ray buru-buru membuka ponsel untuk menghubungi Kamala, tapi tak ada jawaban. Ponselnya aktif, tapi tak diangkat bahkan hingga sepuluh kali Ray mencoba.


Melihat kecemasan di raut Ray, Karen pun ikut bertindak. Dia segera berlari menuju kelas yang terakhir dihadiri Kamala, bertanya ke semua mahasiswa yang berada di sekitar. Tapi mereka semua menggeleng, tak tahu kemana Kamala pergi. Ada beberapa orang yang mengatakan jika Kamala telah keluar kelas sejam yang lalu, karena perkuliahan selesai lebih cepat.


Maka Karen dan Ray merunut kejadian itu, dan mendapati jika sejam yang lalu dia dan Ray masih mengobrol di parkiran mobil Karen. Seketika firasat Ray memburuk.


“Apakah dia cemburu padaku?” tebak Karen.


Ray ingin menggeleng, namun melihat sikap dan perkataan Kamala pada Ray, membuatnya sedikit setuju dengan tebakan Karen. Maka dia bergegas lari menuju mobilnya sendiri, dan Karen yang merasa bersalah ikut membuntuti Ray di belakang.


“Aku ikut, Ray,” pinta Karen.


Karena kalut, Ray tak peduli meski kini Karen telah masuk dan duduk di kursi samping mobilnya.


Entah harus mulai dari mana, tapi Ray yakin ada sesuatu yang tidak beres. Dugaan buruk Ray mengarah pada Eros, yang bisa jadi membawa Kamala pergi. Tapi, lebih daripada kecemasan Ray atas Kamala, ada satu hal yang lebih mengkhawatirkan sekarang.


Tanpa mereka sadari, Martin memergoki Karen yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam mobil Ray, dengan kedua matanya sendiri. Dia mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku tangannya memutih, hidung kembang kempis, dan mata bergetar hebat tanda amarahnya telah naik mencapai ubun-ubun. Martin sangat murka, dan yang ada di pikirannya saat ini hanyalah membunuh Ray White.

__ADS_1


__ADS_2